
Keesokan harinya…
Lagi-lagi Sean sarapan pagi sendirian. Dia tidak banyak bicara, langsung makan saja. Si wanita itu benar-benar marah rupanya, baguslah, batinnya.
“Nona minta diantar sarapannya di kamar saja,” lagi-lagi Pak Roby laporan.
“Siapa yang nanya?”gerutu Sean dalam hati , tanpa menjawab perkataan pak Roby. Lagian Pak Roby kenapa harus lapor segala tentang wanita itu.
Sesampainya di kantor, Sean lagi-lagi harus dihadapkan pada berkas pendaftar kontes yang menumpuk.
“Sam! Aku kan sudah bilang, aku tidak mau melihat formulir ini lagi!” teriak Sean dengan kesal, menoleh pada Sam yang menyimpan berkas-berkas itu.
“Kau tetap harus melihatnya! Yang hari kedua wanitanya lebih cantik-cantik dari yang pertama, coba kau lihat saja,ini juga hasil aku sortir,” kata Sam.
Sean tampak memberengut tidak bicara, langsung duduk di kursinya.
“Kau kenapa?” tanya Sam, melihat teman juga atasannya itu bermuka masam.
“Wanita itu benar-benar menjengkelkan. Dia tidak makan pagi, tidak makan malam,” keluh Sean.
“Apa? Wanita tidak makan pagi, tidak makan malam, maksdunya apa?” tanya Sam, kebingungan.
“Iya wanita di sebelah kamarku itu. Dia marah, tidak mau makan dimeja makan lagi, memangnya aku peduli, dia makan mau dimana kek, masa bodoh,” jawab Sean.
Sam tampak memijat-mijat keningnya, tidak peduli tapi marah-marah, apa maksudnya itu?
“Ya sudah kenapa harus pusing, ayo lihat formulirnya. Besok kita mulai wawancara,” kata Sam. Sean dengan terpaksa melihat salah satu berkas itu.
“Apa ini?” tanya Sean, membelalakkan matanya, saat melihat berkas ditangannya. Lalu mengambil lagi berkas yang lain. Diapun menatap Sam.
“Ini wanita mantan-mantanku ikutan kontes juga?” tanya Sean.
“Iya,” jawab Sam, mengangguk.
“Kenapa kau terima?” tanya Sean.
“Ya aku fikir barangkali ada yang kamu mau CLBK,” kata Sam.
“Waktu aku pacaran dengan mereka, aku tidak pernah tau apa aku mencintai mereka atau tidak. Tidak ada yang bertahan lama pacaran denganku, hanya kencan beberapa kali sudah putus. Kau tahu sendiri kan dari dulu seprti itu,” keluh Sean.
“Ya aku kan cuma berusaha membantumu menemukan wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta, barangkali sekarang kau akan terpikat dengan mantan-mantanmu, mereka cantik-cantik kan, dari keluarga kaya raya lagi, mereka sempurna,” jawab Sam, sambil duduk di sofa.
“Aku tahu mereka cantik, tapi aku tidak betah sama mereka,” keluh Sean, sambil menyimpan berkas itu, kemudian mengambil berkas baru.
“Bosan!” keluhnya, belum juga dibaca, dia simpan lagi berkas itu di atas meja.
Terdengar suara pintu diketuk. Beberapa pejabat di perusahaannya sudah ada dipintu.
“Masuk,” ucapnya, lalu menoleh pada Sam.
“Bawa saja berkasnya, tolak semua mantan-mantanku itu,” perintah Sean.
Sam langsung berdiri menatapnya. Kepalanya semakin pusing saja mencarikan calon buat Sean.
“Lebih baik aku bekerja daripada mengurusi wanita,” keluh Sean.
“Apa lagi wanita yang bikin repot itu,Ih,” gerutunya lagi.
Sam hanya memandangnya tidak mengerti, lalu mengambil semua bekas itu keluar dari ruangan Sean.
Sean kembali sibuk dengan pekerjaannya bersama beberapa pejabat penting di perusaahannya tadi. Karena sam masih sibuk dengan persiapan kontesnya, jadi dia tidak ikut rapat kali ini, hanya Bu Devi Sekretarisnya saja yang menggantikannya. Hingga tidak terasa hari sudah siang.
__ADS_1
“Pak, bagaiamana kalau kita makan diluar saja?” tanya Bu Devi.
“Ya baiklah,” jawab Sean, mengangguk.
Setelah rapat selesai, Sean, Bu Devi juga pejabat lainnya keluar makan siang ke sebuah restoran.
“Ini restoran baru?” tanya Sean pada Bu Devi, karena dia baru sekarang makan di restoran ini.
“Iya pak, ada sekitar satu bulan. Makanannya enak-enak, layanannya juga cepat. Saya sudah beberapa kali makan disini, bisa jadi rekomen kalau kita menjamu tamu nanti,” jawab Bu Devi, berjalan memasuki restaurant disamping Sean diikuti pejabat yang lain.
“Tempatnya juga bagus, sangat modern,” lanjut Bu Devi.
Sean hanya mengangguk. Begitu masuk, terdengar suara pengiring lagu menyanyikan lagu slow. Di restoran ini disedaikan juga panggung mini untuk para penyanyi menemani tamu makan atau tamu bisa tampil bernyanyi, ada organ tunggal yang mengiringi.
Bu Devi menunjuk meja kursi yang sudah dia pesan untuk mereka duduk semuanya ada tujuh kursi.
Tidak berapa lama pelayan langsung datang membawa hidangan yang sudah dipesan lebih awal oleh Bu Devi lewat telpon saat masih di kantor tadi, jadi mereka tidak menunggu lama untuk mulai makan.
Para pengunjung yang makan siang itu, melihat ke arah panggung mini sambil menyantap makanan
mereka.
“Kenapa penyanyi selalu cantik-cantk ya. Penyanyi café juga cantik-cantik, suaranya bagus bagus,” kata Pak Dion, salah satu pejabat diperusahaannya Sean.
“Iya mereka sangat berbakat,” jawab Pak Erwin, mengangguk.
Sean tidak berkomentar apa-apa, dia hanya menyantap makanannya, dia tidak suka obrolan yang penuh dengan basa basi.
Terdengar suara MC berbicara lewat mic.
“Hadirin, hari ini kami akan mempersembahkan penampilan special dari salah seorang karyawan baru kami. Silahkan!” kata suara MC.
Melihat sosok gadis cantik dengan membawa biola, membuat para tamu yang menyantap makan siang itu tampak antusiaa melihat. Ada juga yang cuek saja, terus menyantap makanannya, seperti yang Sean lakukan. Dia cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
Sean juga mendengarkannya, music yang indah, tapi dia sama sekali tidak memperhatikannya. Apalagi kursi-kursi yang dekat panggung mini tampak penuh jadi pemain biolanya tidak begitu jelas terlihat dari meja Sean.
“Permainannya sangat bagus kan Pak?” kata Bu Devi pada Sean.
“Hem,” jawab Sean pendek.
Terdengar tepuk tangan yang riuh saat pemain biola itu menghentikan musicnya.
Pak Erwin mengacungkan tangannya.
“Bisa reques lagu? Masukkan ke Bill!” serunya.
MC tampak menoleh pada pemain biola itu.
“Bisa, satu lagu lagi, buat Bapak siapa?” tanya MC.
“Pak Erwin,” jawab Pak Erwin, sambil tersenyum senang, juga direspon teman-temannya, yang langsung bertepuk tangan saat pemain biola itu mulai menggesek biolanya lagi.
“Bapak mau reques lagu?” tanya Bu Devi, wanita berkaca mata, berambut pendek sebahu, yang sudah senior diperusaahaannya Sean.
“Tidak,” jawab Sean, ketus. Bu Devi akhirnya diam, dia sudah terbiasa dengan sikap
cueknya Sean.
Music Biola kembali mengalun dengan merdu. Para tamu yang makan siang itu sangat terhibur dengan penampilanya. Lagi-lagi tepuk tangan meriah menggema diruangan itu saat permainan music itu berhenti.
Terdengar MC mengakhiri permainan dari pemain Biola itu.
__ADS_1
“Nona! Bisakah kau kemari?”panggil Pak Erwin sambil mengacungkan tangannya lagi karena tempat duduk mereka lumayan jauh dari panggung mini itu.
Sean menoleh pada Pak Erwin, buat apa Pak Erwin memanggil pemain biola segala. Diapun menoleh pada pemain biola itu yang berjalan menghampiri Pak Erwin. Pandangannya terhenti saat pemain biola itu juga menoleh ke arahnya. Pandangan mata yang beberpaa hari ini menghindarinya. Langsung saja moodnya berubah buruk.
Gadis itupun langsung memberengut saat melihat Sean, dan memalingkan muka pura-pura tidak melihat. Cepat-cepat mendekati pak Erwin.
“Nona, ini kartu namaku, bisakah kau hadir di ulangtahun putriku, lusa, alamatnya ada dikartu itu,” kata Pak Erwin.
Lorena mengambil kartu itu dan tersenyum ramah pada Pak Erwin. Setelah itu tanpa menoleh pada Sean, dia meninggalkan meja itu.
Sean merasa kesal melihatnya. Wanita itu mengacuhkannya, wanita yang menumpang dirumahnya itu mengacuhannya? Yang benar saja! Hatinya benar-benar dongkol.
Awas kau ya, gerutunya. Rasanya baru kali ini dia diacuhkan wanita seperti ini, apalagi wanita itu menumpang gratisan di rumahnya, makan di rumahnya, memakai jasa pelayannya, bayarnya nanti kalau sudah jadi istri Presdir. Mimpi!
Pulang dari makan siang, lagi-lagi suasana hatinya semakin buruk. Masih teringat sikap Lorena yang mengacuhkannya saat dia menghampiri pak Erwin.
“Benar-benar wanita itu akan aku diskualifikasi!” gerutunya, saat tiba diruangannya.
“Siapa?” tiba-tiba Sam bertanya, ternyata dia sedang duduk di sofa mengerjakan sesuatu.
“Wanita itu! Wanita itu mengacuhkanku!” gerutu Sean, sambil membuka jasnya kemudian dilempar ke kursinya.
“Wanita yang mana?” tanya Sam, tidak menegrti.
“Wanita yang mana lagi? Yang tinggal di rumahku, dia melihatku cuek saja,” jawab Sean.
“Melihat dimana?” tanya Sam lagi, dia bingung kenapa Sean uring-uringan terus hari ini.
“Ternyata dia bermain biola di sebuah restaurant yang tadi aku datangi. Dia melihatku dan mengacuhkanku! Dia tinggal dirumahku, berani mengacuhkanku! Aku mau dia didiskualifikasi!” kata Sean dengan ketus.
“Lorena?” tanya Sam.
“Iya, siapa lagi?” bentak Sean dengan kesal.
Sam terdiam, tampak berfikir lagi.
“Tapi dia sudah dijadwalkan wawancara besok,” kata Sam.
“Batalkan! Batalkan! Buang-buang waktu saja mewawancarai dia!” gerutu Sean.
“Kemarin kau bilang mau tau wawancaranya, kau menanyakan jadwalnya padaku, kenapa jadi berubah begini?” gerutu Sam.
Sean duduk di kursinya dengan wajah masam. Sam berjalan mendekat.
“Ya sudah begini saja. Kita lihat wawancaranya besok, nanti baru dikasih keputusan tidak lolos. Kalau tiba-tiba dibatalkan sebelum wawancara, jadi aneh. Bagaimana kalau dia protes dan terdengar oleh peserta lain, nanti orang-orang menganggap kita tidak profesional,” kata Sam.
Sean tampak mencerna ucapan Sam, akhirnya dia mengangguk. Dia juga jadi ingin tahu wawancara besok seperti apa.
Sam tidak bicara lagi, dari hari ke hari kepalanya semakin pusing dengan Sean yang tidak kooperatif. Dia juga tidak mau sampai hasil kontes ini mengecewakan.
*******************
Hari ini 2 epiosde ya
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen di tiap episode
Baca juga karya author yg lain…