Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-48 Susu ibu hamil


__ADS_3

Saat pulang dari Resto Samin, tiba di rumah mereka berpapasan dengan Ny.Grace yang sepertinya sedang kedatangan tamu-tamu rekan bisnisnya. Ny.Grace sempat melirik pada Valerie yang cepat cepat menunduk, tapi nenek  suaminya itu tidak bicara apa-apa, dia terus mengobrol sambil berjalan bersama tamu-tamunya.


“Banyak tamu,” ucap Valerie.


“Iya, ayo cepat berganti pakaian, kau kehujanan nanti kau sakit,” ajak Earlangga, tangannya menyentuh punggungnya Valerie yang malah memperhatikan Ny. Grace yang juga melirik ke arahnya.


Valerie segera buru-buru pergi, setiap melihat tatapan neneknya Earlangga itu tatapannya seperti mau menerkamnya saja.


“Kau kenapa? Kau takut nenekku?” tanya Earlangga sambil tersenyum, melihat Valerie yang buru-buru berjalan menuju kamar mereka.


“Ah tidak, aku hanya merasa kedinginan ini cepat cepat mau ganti baju,” jawab Valerie berbohong, sambil membuka pintu kamarnya dan langsung ke walk in closet mengambil pakaiannya lalu keluar lagi.


Pria itu malah menatapnya. Tadi tatapan neneknya, sekarang tatapan cucunya, buru-buru Valerie masuk  ke kamar mandi.


Earlangga tersenyum sudah jelas-jelas kalau Valerie itu takut pada neneknya, diapun membuka jasnya dan merasakann ternyata rambutnya juga basah. Diapun berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya.


Tok tok tok.


“Ada apa?” tanya Valerie keheranan, kenapa pintu kamar mandi itu ada yang mengetuk, membuat jatungnya deg degan saja, buat apa Earlangga mengganggu mandinya?


“Aku mau mandi!” teriak Valerie.


“Ambilkan aku handuk!” teriak Earlangga.


Valerie melihat ke sisi kamar mandi itu dan ternyata benar, ada handuknya Earlangga disana. Tapi  dia sudah melepas pakaiannya, bagaimana mungkin memberikannya pada Earlangga?


 Diambilnya handuk itu dan membuka pintu kamar mandinya setengah tertutup, salah satu tangannya terulur dengan memegang handuk. Earlangga menatap Cuma tangan yang muncul di pintu, diapun tersenyum dan mengambilnya, manamungkin dia mengganggu wanita yang sedang hamil?


Setelah mengambil handuk, brugh! Valerie langsung menutup pintu dengan keras,membuat Earlangga bengong. Ada apa dengan gadis itu? Fikirnya. Diapun segera menjauh dari pintu kamar mandi dan melap rambutnya dengan handuk.


Ealrangga duduk di sofa sambil menyalakan televisi dan mengeringkan  rambutnya dengan handuk.


Tidak berapa lama terdengar suara ketukan di pintu kamar.


Tok! Tok! Tok!


Siapa sih? Batin Earlangga sambil berjalan menuju pintu dan masih melap rambutnya yang basah. Saat pintu dibuka disana sudah ada seorang pelayan membawa nampan dengan segelas susu putih.


“Buat Bu Valerie, Pak, disuruh Ny.Grace,” kata pelayan itu seakan mengerti arti tatapannya Earlangga.


Earlangga mengerutkan keningnya, tumben sekali neneknya itu perhatian pada Valerie, ada apa?


“Simpan disitu,” kata Earlangga.


Pelayan itu langsung menyimpannya di meja, lalu keluar lagi dari kamar itu.


Earlangga menatap segelas susu itu, dia heran, tidak ada hujan tidak ada angin neneknya menyuruh pelayan membawakan susu. Eh dia lupa ada hujan ada angin makanya mereka kebasahan karena kehujanan. Hemm tumben sekali neneknya itu perhatian.


Earlangga mendekati meja, lalu menatap susu itu. Neneknya sangat tidak menyukai Valerie gara-gara sedang hamil. Fikiran buruk muncul di benaknya, Earlangga menjadi curiga jangan-jangan neneknya memasukkan Sesuatu dalam susu itu dan ingin menggugurkan kandungannya Valerie.


Masa sih neneknya setega itu? Tapi bagaimana kalau ternyata dalam susu itu ada zat zat tertentu yang menambahkan janin? Bisa bisa Valerie keguguran. Tidak, meskipun bayi itu bukan bayinya, Valerie tidak boleh keguguran, nanti jiwanya juga akan terancam.


Earlangga mengambil gelas susu itu yang masih terasa hangat. Ditatapnya lagi susu itu. Apa dia harus mencobanya untuk mengecek apakah di dalam susu itu ada zat-zat yang membahayakan?


Tanpa fikir panjang lagi, Earlanggapun meminum susu itu seteguk. Dirasa-rasanya, hambar, rasanya tidak ada manis-manisnya. Di minum lagi, masih hambar sama sekali tidak ada rasa. Diminum lagi, masih sama, seharusnya kalau ada zat-zat tertentu pasti akan ada rasa pahit-pahit atau rasa yang aneh. Diapun meminumnya lagi sambil merasa-rasakan susunya.


“Kau sedang apa?” tiba-tiba Valerie muncul sudah mandi dan berganti pakaian, menatap Earlangga yang sedang minum susu.


“Oh ini aku sedang minum susu,” jawab Earlanga, sambil mengacungkan gelas susu itu dan menatap gelas itu, seketika dia terkejut karena susunya hampir habis.

__ADS_1


“Minum susu?” tanya Valerie.


“Iya, pelayan tadi membawakan susu ini untukmu,” jawab Earlangga, lalu menoleh kearah gelas yang dipegangnya, matanyapun terbelalak.


“Kenapa susunya tinggal sedikit?” gumam Earlangga keheranan.


“Apa maksud Bapak? Bapak minum susu ibu hamil? Saya baru tahu kalau Bapak suka minum susu ibu hamil,” kata Valerie.


“Bukan, ini susu untukmu, nenek yang menyuruh pelayan membuatkannya untukmu,” jawab Earlangga sambil menyodorkan gelas itu kepada Valerie.


Wanita itu menatap gelas susu lalu pada Earlangga.


“Bapak minum susuku? Susu ibu hamil?” tanya Valerie, menatap Earlangga.


“Tidak, aku hanya mengetesnya barangkali ada sesuatu di dalamnya,” jawab Earlangga.


Valerie memicingkan matanya.


“Bener begitu? Masa mengetes susu sampai mau habis begini? Bayinya bisa marah susunya dihabiskan olehmu,” ucap Valerie.


Earlangga melihat gelas susu itu, susunya tinggal sedikit.


“Kau benar, kenapa susunya tinggal sedikit?” tanyanya kebingungan.


“Pokoknya aku mau susuku penuh lagi,” kata Valerie.


“Iya , aku panggilkan pelayan untuk membuatkannya,” ucap Earlangga.


“Tidak mau, Bapak yang harus membuatnya, Bapak kan yang menghabiskan susunya! Bapak harus bertanggung jawab,” kata Valerie.


“Masa aku yang buat? Aku tidak tahu cara membuat susu,” jawab Earlanggga dengan bingung.


“Pokoknya Bapak yang harus mebuatnya, itu susu untukku!” kata Valerie hampir berteriak membuat Earlangga terkejut. Kenapa wanita itu berani membentaknya segala?


Waduh, Earlangga kebingungan, ditatap tajam oleh Valerie dengan matanya yang seperti akan menangis, membuatnya merasa bersalah.


“Baiklah, aku akan buatkan,” kata Earlangga, padahal dalam hati dia akan menyuruh pelayan membuatnya.


“Awas ya kala nyuruh pelayan,” kata Valerie.


“Tidak, aku yang akan membuatnya,” jawab Earlangga.


“Saya tidak percaya Bapak mau membautkan susu itu,” kata Valerie.


“Kenapa tidak percaya?  Kau lihat saja aku pasti akan membuatkannya,” jawab Earlangga.


“Aku harus melihatnya kalau begitu,” jawab Valerie.


“Apa?” Earlangga terkejut, kenapa dia harus membuat susu? Tapi diapun tidak bisa menolak, dia segera keluar dari kamar itu diikuti Valerie, mereka menuju ke dapur.


Earlangga mencari-cari dimana susu itu disimpan. Akhirnya ditemukannya kaleng susu dilemari. Diambilnya kaleng itu diatas meja. Dia bingung bagaimana cara membuatnya. Valerie hanya berdiri menatapnya dan memperhatikannya.


Earlangga membaca petunjuk dikaleng itu.


“Ini susunya harus berapa sendok?” gumamnya, sambil mebaca lalu diambilnya gelas yang berisi air hangat, memasukkan susu beberpaa sendok lalu diaduknya.


Valerie masih berdiri menatapnya membuatkan susu.


“Pak Earlangga? Kenapa ada di dapur? Kenapa tidak memanggil pelayan saja?” terdengar suara seseorang wanita masuk keruangan itu dengan kaget.

__ADS_1


Valerie menoleh kearah suara begitu juga dengan Earlangga yang sedang mengaduk susu digelas yang baru dibuatnya.


“Pak Earlangga membuatkan susu buatku,” jawab Valerie sambil tersenyum pada Bu Asni yang baru muncul.


Bu Asni terkejut mendengarnya dan terkejut, buru-buru mendekati Earlangga.


“Pak, biar saya saja yang membuatkan susunya!” serunya, dia merasa tidak enak kenapa majikannya membuat susu sendiri.


“Pak Earlangga tadi menghasilkan susuku Bu, biarkan saja dia yang membuatnya,” kata Valerie.


“Iya, ini susunya juga sudah jadi,” kata Earlangga sambil memberikannya pada Valerie yang sekarang menerimanya.


Bu Asni tampak kebingungan melihatnya. Earlangga menoleh pada Bu Asni, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Valerie itu kan tinggal bersam Bu Asni, kenapa dia tidak bertanya pada Bu Asni siapa pacarnya Valerie? Kenapa baru terfikir sekarang?


Earlangga menoleh pada Valerie yang sedang meminum susu buatannya. Dalam hatinya bertanya-tanya, dia adalah majikan dirumah ini, semua yang dia butuhkan sudah ada pelayan yang menyediakannya, kenapa dia malah mau membuatkan susu untuk ibu hamil ini? Dan dia merasa senang melihat ibu hamil itu minum dengan semangat.


“Bagaimana, enakkan susu buatanku?” tanya Earlangga.


“Hem lumayan,” jawab Valerie, sambil keluar dari dapur itu sambil membawa gelas susunya.


Earlangga menatapnya dengan terbengong-bengong, reaksi ibu hamil itu Cuma begitu, berterimakasih juga tidak. Tapi ya sudahlah, yang penting dia tidak menangis.


“Ada apa dengan susu itu?” tanya Bu Asni.


“Aku menghabiskan susunya,” jawab Earlangga sambil terseyum, apalagi Bu Asni, dia menahan tawa mendengarnya, buat apa Earlangga minum susu ibu hamil?


“Bu Asni!” panggil Earlangga.


“Iya Pak, ada apa?” tanya Bu Asni.


“Valerie tinggal bersama Bu Asni berapa lama?” tanya Earlangga.


“Ad 2 bulanan lebih,” jawab Bu Asni.


“Dua bulan?” tanya Earlangga.


“Iya, ada apa Pak?” tanya Bu Asni.


Earlangga pun berfikir itu artinya Bu Asni pasti tahu siapa pacarnya Valerie, karena saat Valerie pingsan dan ada tanda-tanda merah itu Valerie sudah tinggal bersama Bu Asni, itu artinya Bu Asni tahu siapa pacarnya Valerie.


“Ada yang ingin aku tanyakan Bu,” kata Earlangga menatao Bu Asni dengan serius.


“Soal apa Pak?” tanya Bu Asni.


“Soal…” ucapan Earlangga terhenti saat sebuah panggilan terdengar dipintu.


“Pak Earlangga!” panggil suara itu membuat Earlangga menoleh ternyata Pak Sobri sudah berdiri disana dan menatapnya.


“Ada apa?” tanya Earlangga tidak jadi bertanya pada Bu Asni.


“Dipanggil Ny. Grace!” jawab Pak Sobri.


Earlangga menoleh pada Bu Asni lalu pada Pak Sobri.


“Baiklah aku kesana,” jawab Earlangga, lalu melangkah meninggalkan dapur itu.


Bu Asni terdiam dengan kepergiannya Earlangga.


“Pak Earlangga mau bertanya apa tadi?” gumamnya.

__ADS_1


Bu Asni menoleh pada gelas susu yang kosong itu dan diambilnya lalu disimpan ke tempat cuci piring.


************


__ADS_2