
Hari telah malam, Sean merasa kesal, karena acara pernikahan mereka yang dadakan itu malah berkepanjangan dengan tamu-tamu yang malah semakin banyak, alhasil dia cemberut saja sambil menyalami tamu yang datang.
Lorena yang melihat suaminya cemberut saja jadi ingin tertawa, karena terlihat jelas tampangnya yang kusut.
“Kenapa kau cemberut saja? Apa kau tidak bahagia kita menikah?” tanya Lorena.
“Bukan begitu sayang, aku heran kenapa tamu tidak berhenti juga berdatangan. Aku kan tidak mengundang siapa-siapa,” jawab Sean, berbisik soalnya dia sambil bersalaman juga dengan yang tamu yang hadir yang masih mengantri.
Lorena malah tertawa mendengarnya. Suaminya itu sangat ucu, dia yang ngotot ingin menikah kenapa sekarang malah uring-uringan.
“Tamu-tamu itu relasinya Daddy, sepertinya mereka saling memberi kabar pada temannya yang lain, atau posting di grup teman-temannya Daddy,”kata Lorena.
“Iya tapi ini sudah jam berapa sayang, sudah jam 12 malam, mereka tidak pulang-pulang juga, aku ingin istirahat, aku ingin berdua-dua saja denganmu,” ucap Sean.
Lorena tertawa lagi.
“Setelah acara ini juga kan masih ada hari esok,” jawab Lorena.
“Hemm kelamaan,” keluh Sean, kemudian memiringkan kepalanya ke dekat Lorena.
“Apa?” tanya Lorena.
“Mau kan kau mencium pipiku? Kenapa kau dari tadi tidak mencium pengantinmu ini,?” tanya Sean.
“Ya ampun, kita sedang banyak tamu Sean,” keluh Lorena.
“Cuma ciuman di pipi saja,” bisik Sean. Lorena tersenyum pada tamu yang ada di depannya yang menatap mereka karena Sean memiringkan kepalanya ke dekat Lorena.
Akhirnya Lorena berjinjit sedikit lalu mencium pipi suaminya. Tamu yang ada di depannya tampak menertawakan. Wajah Lorena langsung memerah, lagian Sean macam-macam saja.
Sean tersenyum setelah mendapat ciuman dipipinya. Bibir gadis itu terasa lembut menempel dipipinya.
Tapi ternyata Sean mendekatkan lagi kepalanya dan berbisik.
“Kau cium pipiku satu lagi,” bisiknya.
“Ih malu sama tamu, kau genit,” keluh Lorena, bicara pelan sambil tersenyum lagi pada tamu yang bersalaman dengannya.
Tiba-tiba Sam sudah berdiri disamping Sean.
“Kita akan pulang kapan?” tanya Sam.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Nyonya mencarimu,” jawab Sam.
“Biarkan saja, besok kita pulang,” kata Sean.
“Aku tidur dimana? Aku bersama Indri,” tanya Sam.
“Kau cari hotel lah, tidak mungkin tidur disini,” jawab Sean.
“Itu masalahnya, bagaimana dengan Indri?” tanya Sam, berbisik karena Sean sedang bersalaman dengan tamu-tamu, Sam juga jadi ikut bersalaman.
“Masalahnya dimana?” tanya Sean.
“Aku takut pada Indri, dia sangat agresif,” jawab Sam.
“Ya mau gimana lagi, pembawaannya emang begitu,” kata Sean.
Benar saja, tiba-tiba Indri nyerobot memotong antrian tamu dan langsung mendekati Sam.
“Presdir Sam, aku mencarimu kemana-mana,” serunya, sambil langsung memeluk tangannya Sam. Sean hanya tersenyum melihat Sam yang tampak kesal dengan aksi menempelnya Indri.
“Aku sedang bicara dengan Presdir Sean,” jawab Sam.
__ADS_1
“Malam ini kita akan tidur dimana? Aku sudah mengantuk,” tanya Indri.
“Kau cari hotel saja, kau istirahat duluan, aku masih disini dengan Presdir Sean,” kata Sam.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mencari hotel nanti aku menelponmu,” jawab Indri.
Sam hanya mengangguk.
Indri memiringkan kepalanya melihat Lorena.
“Aku pulang duluan ya, aku lelah, nanti aku kesini lagi,” kata Indri.
“Kau akan mencari hotel?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Indri.
“Baiklah,” jawab Lorena. Dia ingin menawari kamar tamu, tapi sepertinya kamar tamu akan digunakan oleh kerabat yang belum pulang karena datang kemalaman.
Handphone Sam kembali berbunyi.
“Ibumu,” jawab Sam, lalu menjauh dari Sean.
“Ada apa?” tanya Lorena.
“Ibu menelpon, mencariku,” jawab Sean.
Lorena menoleh kearahnya, raut mukanya langsung berubah.
“Kau jangan khawatir, besok ikut bersamaku menemui ibuku,” ucap Sean, menoleh sebentar pada Lorena lalu bersalaman lagi dengan tamu.
Lorena tidak banyak bicara, hatinya mendadak gelisah, apa yang akan terjadi kalau ibunya Sean tahu mereka sudah menikah? Ditatapnya suaminya itu yang sedang tersenyum pada tamu didepannya.
Merasa ada yang memperhatikannya, Seanpun menoleh, matanya bertemu dengan mata istrinya.
“Semua akan baik-baik saja,” ucapnya, tangannya menyentuh pipinya Lorena, mencoba menghiburnya, padahal sebenarnya hatinya juga gelisah, tapi mau gimana lagi? Dia dan Lorena harus menghadapi apapun rintangan didepan. Dia ingin selalu bersama Lorena apapun yang terjadi.
Hari menjelang pagi, saat tamu tamu mulai pergi kekamarnya masing-masing, barulah Sean menuju kamarnya Lorena.
Memasuki kamar yang asing itu, dia melihat kesekeliling. Dilihatnya istrinya itu sudah berbaring berselimut. Dia menghela nafas pendek, ini kan malam pertamanya, kenapa berdua-duan saja tidak bisa? Dilihatnya jam di dinding sudah pukul 4 pagi lebih, dia sduah sangat mengantuk. Sebentar lagi Sam pasti sudah akan mengajaknya pulang, malam pertama yang terlewat begitu saja.
Sean naik ke tempat tidur, mendekatkan wajahnya pada istrinya yang tidur membelakanginya.
“Apa kau sudah tidur?” tanyanya dengan pelan.
Tidak ada jawaban dari Lorena, diapun memberengut, ternyata istrinya sudah tidur. Lagian tamu itu tidak punya perasaan banget pengantin diajak ngobrol semalaman, padahal ini malam pertamanya dengan Lorena. Dia mau membangunkannya tidak tega, istrinya sudah terlelap, dia tidak mau mengganggunya. Akhirnya terpaksa Sean hanya berbaring Sambil memeluk istrinya yang berselimut.
“Sayang, malam pertama kita telah lewat, sekarang sidah pagi,” gumam Sean, sambil menyusupkan wajahnya ke rambut Lorena dan memeluknya dengan erat.
Merasa ada yang memeluknya, Lorenapun terbangun. Dirasakannya tangan itu memeluk perutnya. Disentuhnya tangan itu. Dia juga merasakan wajahnya Sean ada dibelakang kepalanya.
“Kau sudah tidur?” tanya Lorena. Tidak ada jawaban, ternyaya Sean sudah tidur. Lorena membalikkan tubuhnya menghadap Sean, benar saja pria itu sudah terlelap, dia terlihat sangat lelah.
Ditatapnya wajah yang terlelap itu. Rasanya seperti mimpi, pria teman bertengkarnya di kontrakan itu ternyata akan menjadi suaminya sekarang. Diapun mencari posisi yang nyaman untuk tidur dalam pelukannya Sean.
Sinar matahari terasa hangat mengenai wajahnya Sean, dia menggeliat dengan malas dan membuka matanya. Sean agak terkejut saat melihat siapa yang tidur disampingnya. Dia lupa kalau semalam adalah hari pernikahannya, dia tidak terbiasa bangun ada orang lain disisinya.
Setelah tersadar barulah dia tersenyum, menggeser tubuhya lebih dekat dan menatap istrinya yang juga masih terlelap. Menatap wajah cantik itu. Disentuhnya wajah itu, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya. Akhirnya terhenti saat menyentuh bibir itu. Dia tidak bisa menahan saat dalam dirinya ada dorongan ingin menciumnya. Sean mendekatkan bibirnya ke bibir Lorena lalu menciumnya dengan lembut.
“Aku mencintaimu,” ucap Sean, sambil melepas ciumannya. Dari kemarin dia ingin mencium bibir itu esok harinya baru terlaksana, sungguh penantian yang sangat lama hanya untuk mencium pengantinnya.
Merasa ada yang meciumnya, membuat Lorena terbangun. Dia juga kaget tiba-tiba ada sosok yang berbaring di depannya. Pria tampan itu tersenyum padanya.
“Selamat siang sayang,” sapa Sean.
“Aku kaget kenapa ada kau ditempat tidurku?”tanya Lorena.
__ADS_1
“Kau ini masa lupa, aku suamimu sekarang,” jawab Sean. Lorena menggosok- gosok matanya.
“Iya kau lupa,” jawabnya sambil tersenyum.
“Itu karena semalam harusnya menjadi malam pertama kita,” kata Sean, masih menatap Lorena yang langsung duduk dan menatapnya, lalu menoleh ke jendela, menoleh lagi pada Sean.
“Ternyata sudah siang,” ucapnya.
“Itulah, malam pertama yang terlewat,” keluh Sean. Lorena jadi tertawa mendengarnya. Tiba-tiba Sean berseru, diapun bangun dan berhadapan dengan Lorena.
“Bagaimana kalau sekarang saja?” tanya Sean.
“Sekarang apa?” tanya Lorena, tidak mengerti.
“Malam pertamanya, tidak apa-apa lah, jadi siang pertama,” ucap Sean.
Lorena menatap Sean.
“Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik? Supaya kita cepat punya bayi,” tanya Sean.
“Tidak bisa,” jawab Lorena.
“Lho, kenapa?” tanya Sean, tidak mengerti.
“Aku sedang halangan,” jawab Lorena.
“Ha?” Sean melongo.
Lorena mengangguk.
“Aku sedang datang bulan,” jawab Lorena. Sean langsung merasa lesu.
“Jadi aku harus menunggu? Berapa lama?” tanya Sean.
“Satu minggu,” jawab Lorena.
“Satu minggu? Lama amat,” keluh Sean. Semangatnya langsung hilang. Lorena malah tertawa melihat reaksi Sean seperti itu.
“Apa kau menikahiku yang kau fikir cuma itu?” keluh Lorena.
Sean tersenyum menatap istrinya. Gadis itu selalu terlihat cantik dimatanya. Tangannya mengulur menarik Lorena ke dekatnya dan memeluknya.
“Aku bahagia kita bisa menikah,” ucap Sean, sambil mencium keningnya Lorena.
“Aku juga,” jawab Lorena.
Sean kembali menciumnya.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Lorena.
“Kita pulang ke rumahku, kita temui ibuku,” jawab Sean.
Terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.
Tok tok tok!
“Non! Pak Sam dan istrinya sudah menunggu diruang tamu,” terdengar suara di luar pintu.
Lorena menoleh pada Sean.
“Istrinya,” ucap Lorena. Rupanya asisten rumah tangganya mengira Indri adalah istrinya Sam.
Sean menatap Lorena, mereka saling tatap.
“Kita mandi, kita pulang sekarang,” ucap Sean. Lorena terdiam sebentar, lalu mengangguk. Sean seri mengerti apa yang Lorena fikirkan. Kembali memeluk Lorena.
__ADS_1
“Tetaplah bersamaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” ucap Sean. Lorena balas memeluk Sean dengan erat. Dia percaya Sean tidak akan pernah meninggalkannya.
**********