Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-37 Selamat tinggal Paris


__ADS_3

Setelah pesta usai, dan tamu-tamu sudah pulang, Sean juga akan pulang dengan ibunya. Sean menoleh kearah Lorena yang sedang memasukkan biolanya ke dalam tasnya sambil bercengkrama dengan pemain music yang lain.


“Ibu tunggu di mobil,” kata Ny.Grace, seakan tahu kalau putranya akan bicara dengan Lorena.


Sean tidak menjawab, dia menghampiri Lorena.


“Ayo kita pulang,” ajak Sean. Lorena menoleh pada pria itu, terus matanya melirik kearah lain mencari-cari Ny. Grace.


“Ayo,” ajak Sean, menarik tangan Lorena supaya meninggalkan tempat itu. Lorena segera mengambil biolanya mengikuti langkah Sean keluar dari gedung.


Ny.Grace bisa melihat dari kaca jendela kalau Sean menggandeng gadis itu menuju mobilnya.


Sean membuka pintu mobil.


“Ayo masuk,” ajak Sean. Lorena agak ragu-ragu untuk masuk. Bukan karena mobil mewah yang dimiliki Ny, Grace, karena orangtuanya juga memiliki mobil seperti ini, tapi karena ada Ny.Grace didalam, dia merasa tidak nyaman.


“Aku pakai taxi saja,” ucap Lorena.


“Masuklah!” terdengar suara Ny.Grace dari dalam mobil. Akhirnya Lorena masuk ke dalam mobil dan duduk di sebrangnya Ny.Grace. Sean mengikutinya tapi pria itu tidak duduk disamping Lorena, tapi disamping Ny. Grace, membuat Lorena salah tingkah saja. Kenapa dia harus naik mobil yang kursinya berhadap hadapan begini? Keluhnya.


Tidak berapa lama mobilpun melaju meninggalkan gedung itu.


“Pekerjaanmu sangat bagus,” kata Ny,Grace.


“Terimakasih Nyonya,” jawab Lorena, tersenyum dan mengangguk. Sean hanya menatapnya. Lorena merasa salah tingkah, kenapa pria itu malah menatapnya begitu, bikin malu saja.


“Besok kau jadi pulang?” tanya Ny.Grace.


“Iya,” jawab Lorena lagi.


“Passportmu sudah disiapkan Pak Andre,” kata Ny,Grace.


“Iya terimakaih Ny,” jawab Lorena.


“Sean masih lama tinggal di luar negeri, masih ada beberapa negara yang harus dia kunjungi,” kata Ny.Grace, seakan sengaja memberitahu jadwal kerjanya Sean, membuat Sean menoleh pada Ibunya. Kenapa ibunya bicara begitu pada lorena?


Mendengar perkataan Ny.Lorena kalau Sean akan lama tinggal di luar negeri, entah kenapa membuat Lorena menjadi sedih, dia akan sepi tinggal dirumah kontrakan. Diapun menatap Sean tapi Sean menoleh kearah jendela melihat ke luar.


Merekapun tidak ada yang bicara lagi sampai akhirnya tiba di rumah. Lorena langsung masuk ke kamarnya dia merasa tidak nyaman harus bicara dengan Sean atau berbasa basi dengan Ny.Graece, dia disini hanya sebagai seorang pekerja yang menghibur diacara pernikahan putranya.


Di dalam kamarnya Lorena tidak langsung tidur, sebenarnya dia ingin bicara dengan Sean dia masih penasaran apa benar Ny.Grace itu ibunya? Terus kenapa dia bekerja sebagai asistennya Sam? Tapi Lorena tidak mungkin mengajak ngobrol Sean malam-malam begini apalagi ada ibunya, nanti apa kata Ny. Grcae? Nanti dikira dia kegenitan dan ingin merayu putranya.


Kalau difikir-fikir pantas juga Sean dirayu, dari hari ke hari dia terlihat sangat tampan dan semakin romantic. Ada senyum di bibir Lorena. Tapi dia bukanlah gadis genit yang suka merayu pria kaya, lagipula dia merasa lelah ingin tidur saja. Lorena melirik lemari pakaiannya. Besok dia akan pulang, Ny. Grace sudah menyiapkan passport untuknya


Tok tok tok..


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.  Lorena bangun dari berbaringnya dan melangkah menuju pintu. Saat dibuka ternyata Sean sudah berdiri dipintu, membuatnya kaget ada apa sean menemuinya lagi? Apa pria itu sedang merindukannya? Ah itu cuma tebakan dirinya saja, karena pria itu berubah jadi sangat romantis.


“Kau akan pulang besok?” tanya Sean.


Lorena mengangguk.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Aku pulang masih lama,” ucap Sean, menatap Lorena, seakan tidak bosan melihatnya.


“Iya tadi ibumu sudah bilang,” kata Lorena.


Merekapun terdiam.


“Apa lagi?” tanya Lorena karena Sean malah diam.


“Kau berangkat jam berapa?” tanya Sean.


“Jam 9,” jawab Lorena.


“Aku berangkat ke LA lebih pagi, mungkin kita tidak bertemu dulu,” ucap Sean.


Lorena mengangguk.


“Hati-hati di jalan, “ kata Sean.


“Iya, terimakasih,” jawab Lorena.


“Kau akan langsung ikut lomba?” tanya Sean lagi.


“Iya, lombanya kan dua hari lagi,” jawab Lorena.


“Baiklah kalau begitu. Good Luck. Selamat malam,” ucap Sean.


“Malam,” balas Lorena. Sean pun pergi beranjak meninggalkan pintu kamar Lorena.

__ADS_1


Lorena menutup pintu kamarnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara pintu diketuk.


Tok tok tok. Lorena membuka pintunya. Ternyata Sena masih berdiri dipintu itu.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Aku tadi sudah mengucapkan selamat malam belum?” tanya Sean.


“Sudah,” jawab Lorena.


“Oh sudah ya. Selamat malam,” kata Sean.


“Malam,” ucap Lorena. Lalu pintu ditutup.


Tiba-tiba ada suara lagi. Tok Tok Tok.. Lorena mengerutkan keningnya. Kenapa ada suara ketukan dipintu lagi? Lorenapun membuka pintu dan ternyata ada Sean disitu.


“Ada apa lagI?” tanya Lorena.


“Aku sudah mengucapkan selamat malam?” tanya Sean.


“Sudah, tadi kan sudah dua kali kau mengucapkan selamat malam,” jawab Lorena.


“Oh sudah dua kali ya,” ucap Sean.


“Iya,” jawab Lorena mengangguk.


“Ya sudah, selamat malam,” ucap Sean.


“Ya, selamat malam,” balas Lorena.


Pintupun kembali ditutup, Lorena yakin pasti Sean akan mengetuk pintu lagi. Ditunggunya sambil bersandar dipintu itu ternyata tidak ada ketukan di pintu. Lorena jadi penasaran, kenapa Sean tidak mengetuk pintu lagi? Padahal dia inginnya Sean mengetuk pintu lagi berkali kali sampai pagi hihihi…. Setelah menunggu agak lama masih tidak ada ketukan di pintu lagi.


Lorenapun membuka pintunya meskipun tidak ada ketukan, dan dia hampir saja jantungan. Pria itu masih berdiri di depan pintu kamarnya, seperti hantu.


“Kau masih ada disini?” tanya Lorena.


Sean menatap Lorena.


“Selamat malam,” ucap Sean lalu pergi dari depan pintu itu.


“Malam,” jawab Lorena dengan hati bertanya-tanya ada apa dengan sean?


Diapun akan kembali menutup pintu, tiba-tiba Sean kembali muncul.


“Sampai jumpa lagi,” ucap Sean.


“Ya sampai jumpa lagi,” balas Lorena. Sambil tersenyum.


“Pergilah tidur, beristirahat, pagi-pagi sekali kau harus ke LA kan?” kata Lorena.


Sean mengangguk.


“Selamat malam,” ucap Sean.


“Selama malam,” balas Lorena.


Setelah Sean pergi Lorena menutup pintunya. Sekarang sudah tidak ada ketukan dipintu lagi. Lorenapun segera mengganti gaunnya dengan baju tidur, dia langsung naik ke tempat tidur dan tertidur dengan lelap.


Ternyata Sean masih kembali ke pintu kamarnya Lorena. Dia hanya berdiri di depan pintu itu tanpa mengetuknya lagi. Pagi-pagi sekali dia akan pergi dan tidak bertemu dulu dengan Lorena. Dan beberapa hari kedepan dia tidak akan bertemu lagi. Rasanya belum puas melihat wajah gadis itu sampai besok dia berangkat.  Tidak berapa lama, diapun masuk ke kamarnya,dia tidak mau mengganggu istirahatnya Lorena.


Sean duduk di tempat tidur dengan handphone ditangannya. Dia menelpon seseorang.


“Sam!” panggilnya pada orang yang ditelponnya.


“Ya, ada apa?” tanya Sam.


“Kapan lomba dimulai lagi?” tanya Sean.


“Dua hari lagi,” jawab Sam.


“Tunda sampai aku pulang,” kata Sean.


“Memangnya kau pulang kapan?” tanya Sam.


“Sekitar 10 hari lagi atau lebih,” jawab Sean.


“Apa? Yang benar saja? Masa kontesnya diundur lama sekali? Peserta semakin tua! Bisa-bisa kau menikah dengan wanita yang sudah keriput gara-gara konten diulur sangat lama,” protes Sam.


“Aku tidak peduli! Pokoknya tunggu aku pulang baru kontes dilanjut lagi,” kata Sean.


“Kau sangat membingungkan, ingat kau harus cepat-cepat menikah. Nanti tiba-tiba kau 29 tahun bagaimana?” kata Sam.

__ADS_1


“Kau juga harus ingat kalau aku menikah dengan wanita yang bisa menggetarkan hatiku,” ucap Sean.


“Mana aku tahu wanita itu menggetarkan hatimu atau tidak, masalahnya hatiku bukan gitar,” ucap Sam.


“Kau ini malah meledek saja,” gerutu sean.


“Ya sudah aku akan umumkan kontesnya diundur samapai dengan waktu yang tidak ditentukan,” kata Sam.


“Bagus,” ucap Sean.


“Tapi jangan salahkan aku kalau pesertanya berubah jadi tua-tua gara-gara kontes yang kelamaan,” kata Sam.


“Tidak akan, dia tetap cantik,sangat cantik,”ucap Sean, membayangkan Lorena.


“Dia? Siapa dia? Kau menemukan seseorang di Paris?” tanya Sam dengan antusias, membuat Sean terkejut dan tersadar dengan ucapannya.


“Tidak juga,” jawab Sean.


“Nanti bagaimana dengan pemenang kontes? Kau akan beristri dua? Jangan serakah Sean, aku satupun belum punya,” kata Sam.


“Apanya yang dua? Kau ada-ada saja, sudah pokoknya kontes dilanjut setelah aku pulang, kau mengerti?” ucap Sean.


“Ya ya kau kan bosnya, tapi ingat, selama tidak ada kontes kau tetap harus membayar jasa kepanitianku,” kata Sam.


“Ya ya kau jangan khawatir soal itu,” ucap Sean.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan membuat pengumuman kontes buat peserta. Untung kau cepat-cepat menelpon, kau tidak tahu kalau peserta kontes itu banyak dari luar daerah juga, karena ditunda beberapa hari jadi mereka pulang kampung dulu, jadi harus dari awal-awal memberitahu kalau kontes diundur lagi, kasihan kalau yang sudah jauh jauh datang ke ibu kota ternyata kontes diundur,” kata Sam.


“Apa maksudmu pulang kampung?” tanya Sean, tiba-tiba dia teringat pada Lorena.


“Iya, peserta yang dari luar kota pada pulang kampung dulu, bisa jadi di kampung mereka mendapat jodoh,” jawab Sam.


Sean jadi memikirkan Lorena, jangan-jangan nanti Lorena juga ikut pulang kampung dan mendapat jodoh dikampungnya? Sekarangkan Lorena sudah punya uang dan dia bisa pulang kampung. Bagaimana ini? Sepertinya dia harus membuat Lorena tetap tinggal diibukota, apa ya?


“Sean! Sean!” panggil Sam.


“Iya,” jawab Sean.


“Kenapa kau diam?” tanya Sam.


“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Sean.


“Ya sudah, ada hal lain lagi tidak?” tanya Sam.


“Tidak,” jawab Sean. Telponpun diputus.


Sean mendadak jadi gelisah gara-gara Sam mengatakan pulang kampung. Jangan-jangan Lorena akan pulang kampung dulu dan dia belum tentu mengikuti kontes lagi, bagaimana? Tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, apalagi ibunya terus mendampingi sampai urusan di perusahaan warisan kakeknya beres. Kalau dibiarkan kontes berlanjut dia takut Lorena mendapat masalah dan gugur, nanti dia tidak bisa ikut lomba berikutnya.


Pikiran Sean jadi kacau memikirkan Lorena pulang kampung. Pokoknya dia harus membuat Lorena tinggal di ibukota. Seanpun berfikir keras. Tiba-tiba ada ide muncul di benaknya, diapun tersenyum.


 Kesokan harinya…


Lorena sudah mengepak seluruh barang-barangnya dimasukkan dalam koper dan pelayan sudah membawakan kopernya menuju teras.


“Nona Mobil sudah siap mengantar ke bandara,” ucap Mr.velix.


“Terimaksih. Kalau Mr.Sean sudah berangkat?” tanya Lorena.


“Sudah, pagi-pagi sekali dengan Ny.Grace,” jawab Mr.Velix.


“Baiklah kalau begitu, terimakasih,” kata Lorena.


“Selamat jalan nona,” ucap Mr.Velix.


“Sampai jumpa,” balas Lorena. Diapun masuk ke mobilnya. Barang barangnya sudah di masukkan dalam bagasi.


Tidak berapa lama mobil itu berjalan perlahan. Lorena menatap rumah megah itu, entah kapan dia bisa kembali ke rumah megah di paris ini.


Mobilpun mulai menyusuri jalanan yang lebar penuh dengan mobil-mobil yang berlalu lalang. Lorena melihat kearah gedung-gedung yang menjulang tinggi.


“Selamat tinggal, Paris,” gumamnya. Dia bukan sekali saja ke Paris, tapi kesan Paris kali ini sangat lain dengan waktu waktu dulu. Di Paris sekarang meninggalkan banyak hal yang romantis. Mungkin suatu saat nanti dia akan kembali ke Paris dengan seseorang, ya seseorang yang berarti dalam hidupnya.


"Selamat tinggal Paris, yang manis dan romantis," batinnya. Mobilpun terus melaju menuju bandara.


****************


Jangan lupa like vote dan komen


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2