Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-30 Dua hati yang resah


__ADS_3

Seharian ini Valerie mengurung dirinya dikamar. Dia hanya mencatatkan menu buat Earlangga dan diberikan pada Bu Asni, juga obat yang di siapkan di piring kecil dititipkan pada  Bu Asni untuk diminum Earlangga.


Dia tidak ingin bertemu Earlangga apalagi pria itu terlihat sangat marah tadi, dia masih ingat tatapan benci pria itu karena apa yang dia lakukan, dia sudah mempertaruhkan masa depannya Earlangga.


Meskipun Valerie merasa ada kemiripan tubuh bagian belakang Earlangga dengan pria yang menodainya itu tapi dia tidak bisa membuktikan kalau Earlangga yang menghamilinya. Bisa saja memang bule-bule yang lain yang menyentuhnya, seharusnya dia tidak langsung pergi waktu itu supaya bisa melihat wajah pria itu, tapi karena shock yang terfikirkan adalah pergi secepatnya dari tempat itu.


Benar kata Pak Sean kalau dia bisa tes DNA saat bayi itu lahir. Ya, dia akan tahu bayi ini bayinya Earlangga atau bukan setelah tes DNA nanti, jadi tidak ada jalan lain selain menunggu.


 Sebenarnya mau ini anak  Earlangga atau bukan sama saja, justru lebih baik kalau bukan anaknya Earlangga, jadi dia tidak akan terikat dengan keluarga ini lagi, dia memang tidak pantas berada dalam keluarga ini. Siapa sih dirinya? Dia hanya pekerja di rumah ini, dia tidak pantas buat Earlangga, apalagi mendampinginya sebagai istrinya.


Airmata kembali menetes dipipinya.


Malam semakin larut…


Valerie duduk dipinggir jendela yang tertutup, hanya gordennya yang terbuka.


Bu Asni mengetuk pintu kamar itu.


“Masuk,” kata Valerie, menyandarkan kepalanya  ke jendela, dengan menekuk kedua kakinya diatas kursi.


Bu Asni menatap gadis itu yang terlihat  masih bersedih.


“Kau sudah seharian mengurung diri di kamar, makanlah, kau belum makan dari siang,” kata Bu Asni.


 “Aku tidak lapar Bu,” jawab Valerie. Pandangannya hampa menatap keluar kekegelapan malam.

__ADS_1


“Jangan begitu, kau harus ingat kau sedang hamil, bayimu perlu makan,” kata Bu Asni.


“Aku tidak menginginkan kehamilan ini Bu, aku tidak mau mengandung bayi yang aku tidak tahu siapa ayahnya, mungkin  ayahnya orang jahat, mungkin ayahnya pria beristri, mungkn, mungkin hal burak lainnya,” ucap Valerie, penuh dengan rasa putus asa, airmata kembali menetes dipipinya.


“Tidak begitu sayang, jangan berfikir begitu. Bayi itu bukan bayi pria itu saja, tapi dia hidup dalam tubuhmu jadi bayi itu adalah milikmu, kau harus menyayanginya,” ucap Bi Asni, sambil duduk dipinggir tempat tidur menatap gadis itu yang sedari tadi tidak mau menatapnya, matanya sudah terlihat bengkak karena menangis terus.


 Valerie hanya diam mendengarkan.


“Kau tidak akan tahu mungkin jika sudah besar nanti bayi itu akan menjadi bayi kebanggaan buatmu, kau harus semangat sayang, sayangilah bayimu jangan fikirkan ayahnya,” lanjut Bu Asni, masih menatap Valerie yang menatap keluar dengan tatapan kosong.


 “Justru kau harus berjuang dan bersemangat, kita tidak tahu kebaikan apa yang akan terjadi nanti. Mungkin sekarang kau akan merasa terpuruk, sedih, bingung, tapi nanti disaat bayi itu lahir, kau akan merasakan bagaimana bahagianya menjadi ibu. Melihat bayi kita tumbuh sehat, kau akan lupa siapa ayah bayi itu karena bayi itu akan memberikan kebahagiaan pada ibunya,” hibur Bu Asni.


Valerie menoleh pada Bu Asni dan mencoba tersenyum.


“Terimakasih Bu, selama ini ibu sudah banyak membantuku,” ucapnya.


“Aku juga merasa bersalah jadi melibatkan Pak Earlangga Bu, dia marah padaku, dia membenciku sekarang,” kata Valerie.


“Aku juga faham kondisi Pak Earlangga, dia terpaksa menikahimu. Tapi aku yakin setiap kebaikan akan mendapatkan kebaikan lagi suatu saat nanti. Apakah karirnya akan semakin maju, atau kebahagiaan lainnya,” ujar Bu Asni.


“Ibu dengar sendiri kan apa yang di katakan Pak Earlangga? Dia ingin kebebasan bersama gadis lain meskipun dia sudah menikahiku atau mungkin dia akan menikah lagi saat aku masih menjadi istrinya,” kata Valerie.


“Iya Ibu dengar,” jawab Bu Asni.


“Meskipun itu adalah haknya apalagi dia tidak menghamiliku, tapi rasanya sedih saja mendengar perkataan itu, serasa aku ini wanita yang tidak berharga Bu,” ucap Valerie kembali menunduk, airmatanya jatuh ke atas lututnya.

__ADS_1


“Kenapa aku harus mengalami hal sepahit ini? Kenapa aku tidak bisa merasakan  cinta seperti gadis gadis lain, bisa mencintai dan dicinta oleh kekasihnya? Kenapa justru kehormatanku direnggut pria yang tidak aku kenal dan aku juga menikah dengan pria yang tidak menginginkanku, kenapa nasibku seperti ini?“ keluh Valerie. Airmata semakin banyak jatuh ke lututnya.


Bu Asni tidak menjawab, dia berjalan mendekat dan memeluk Valerie.


Di atas balkon, Earlangga berdiri bersandar ditiang penyangga sambil melipat kedua tangannya di dadanya, menatap langit yang terang oleh sinar bulan waktu itu tapi tidak seterang hatinya. Hatinya sangat gelap dan suram, dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan seperti ini. Dia harus menikahi gadis yang tidak pernah disentuhnya, apalagi gadis itu sedang hamil sekarang. Kenapa dia harus bertanggungjawab pada kehamilan yang bukan dia pelakunya? Semua ini benar-bena tidak adil baginya.


Terlintas dalam benaknya awal pertama bertemu dengan Valerie, dia juga menyukai parfum yang di pakainya mengingatkannya pada gadis yang di nodainya malam itu makanya dia meminta Valerie menjadi perawatnya.


Tapi ternyata wanita itu tidak sepolos dan selugu perkiraannya, gadis itu malah menjebaknya dengan kahamilannya. Sekarang terpaksa dia harus menikahinya, dan harus menunggu sampai bayi itu dilahirkan baru bisa melepasnya.


Kenapa harus menunggu bayi itu lahir segala? Jelas-jelas bayi itu bukan bayinya. Gadis itu benar-benar sudah menjebaknya, bisa saja memang semua ini sudah direncanakan oleh Valerie, ternyata dia sengaja menjeratnya dengan kehamilan ini dan terpaksa harus menikahinya.


 Bagaimana dengan nasib gadis yang dinodainya? Dia telah melakukan  kesalahan pada gadis itu tapi dia malah harus bertanggungjawab pada gadis lain. Sungguh tidak adil.


Bisa saja gadis itu juga mengalami hal yang sama dengan Valerie, hamil karenanya, tapi sampai detik ini tidak ada yang mencarinya meminta pertanggung jawabannya. Dan jika gadis itu suatu saat datang, dia lebih pantas bertanggung jawab pada gadis itu daripada pada Valerie.


Tiba-tiba mata Earlangga menoleh kearah rumahnya Bu Asni, dari kejauhan terlihat ada cahaya disebuah jendela, gadis itu pasti gadis itu.


Earlanggapun masuk kedalam kamarnya mengambil teropong dan meneropong kearah rumahnya Bu Asni. Benar saja, gadis itu sedang dipeluk oleh Bu Asni.


“Benar-benar modus, mencari simpati orang lain,” keluh Earlangga, hatinya menggeremet kesal pada Valerie. Dia yang tadinya simpati pada gadis itu kini berubah jadi benci, ternyata gadis itu hanya ingin menjebaknya saja. Benar-benar memuakkan, batinnya, lalu menurunkan teropongnya.


Lihat saja ibunya, ibunya begitu membelanya dan tidak mempercayai perkataan putranya sendiri, benar-benar acting yang luar biasa. Pura-pura akan pergi segala dari rumah ini, padahal itu semua rencananya untuk membuat simpatik.  Dalam kondisi seperti ini, mana mungkin keluarganya melepasnya begitu saja, orang-orang akan semakin mencemoohnya dan mengira keluarganya sengaja mengusirnya, semua akan semakin kacau. Dia benar-benar menyesal sudah memperkerjakan Valerie dirumahnya.


Earlanggga beranjak masuk kembali ke kamarnya dan menutup jendelanya juga gordennya. Dia ingin tidur, tidur yang nyenyak dan begitu bangun semua ini hanyalah sebuah mimpi.

__ADS_1


Tapi keinginan Earlangga tidak terkabul, karena WO yang dihubungi Pak Sobri sudah sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Valerie.


********


__ADS_2