
Darren sedang melap mobilnya saat mobil Jeni masuk ke pekarangan rumah itu. Nisa yang sedang berdiri di teras, menatap mobil itu dan mengerutkan keningnya. Saat Jeni turun dari mobilnya barulah dia tahu itu putrinya yang datang.
“Hei, kau dapat darimana mobil sebagus itu?” hardik Darren, saat Jeni menghampiri teras.
“Ku fikir kau sudah tidak tahu jalan pulang, kau menghilang begitu saja,” ucap Darren, kembali melap mobilnya.
“Dari siapa lagi kalau bukan dari ayah,” jawab Jeni.
Darren menghentikan gerakannya dan menatap Jeni.
“Ayah membelikan mobil baru buatmu?” tanya Darren.
“Tentu saja,” jawab Jeni, sembil mendekati Nisa yang menatapnya.
“Aku fikir kau tidak akan pulang lagi kesini setelah bertemu ayahmu. Atau kau diusir ayahmu makanya kau pulang,” kata Nisa.
“Tentu saja aku tidak akan pulang Bu, aku sudah terlanjur betah disana, aku jadi anak orangkaya disana. Seharusnya dari dulu ibu mengatakan kalau ayah itu kaya raya,” ucap Jeni.
“Percuma kaya raya juga, ayahmu tidak akan memberikan ibu uang lebih,” ucap Nisa.
Jeni duudk dikursi yang ada di teras itu dan ikut melihat kakaknya yang mencuci mobil sport Earlangga itu.
“Kau serius, ayahmu membelikanmu mobil itu?” tanya Nisa, sambil duduk dikursi.
“Serius, karena ini adalah modal,” jawab Jeni.
“Modal? Modal apa?” tanya Nisa, menatap putrinya dengan penasaran.
“Modal untuk mendapatkan pria kaya,” jawab Jeni.
Terdengar tawa dari Darren, tapi Jeni mengacuhkannya.
“Kau punya pacar baru lagi?” tanya Nisa.
“Bukan pacar baru, tapi calon,” jawab Jeni.
“Kau tidak ada kerjaan mengejar-ngejar laki-laki terus,” gerutu Darren.
“Setidaknya tidak seperti kakak, apa coba? Cuma nongkrong di club malam dengan teman-temanmu itu,” kilah Jeni.
“Memangnya pria seperti apa yang kau kejar sampai harus membeli mobil baru segala?” tanya Nisa.
“Namanya Earlangga, tuh pemilik mobil mewah itu,” jawab Jeni, membuat Darren menghentikan gerakannya.
“Kau mengincar Earlangga?” tanya Darren.
“Tentu saja, ternyata dia sangat kaya, dia dari keluarga Joris,” jawab Jeni.
“Apa maksudmu dari keluarga Joris?” tanya Nisa, terkejut putrinya menyebut nama itu.
“Iya kata ayah, kakek pernah bekerja mengurus warisannya keluarga Joris,” ucap Jeni.
“Siapa tadi katamu?” tanya Nisa, sontak saja hatinya langsung membara dendam saat mendengar nama keluarga Joris.
“Earlangga, namanya Earlangga, cucunya Ny,Grace,” jawab Jeni.
Nisapun diam.
“Kenapa?” tanya Jeni melihat sikap ibunya itu.
__ADS_1
“Kau mengincarnya? Kau tidak akan bisa masuk ke keluarganya,” jawab Nisa.
“Tidak bisa? Kenapa?” tanya Jeni, menatap ibunya.
“Kalau mereka tahu kau putri ibu, cucu dari kakekmu, mereka tidak akan mengijinkanmu masuk ke keluarga itu,” jawab Nisa.
“Iya tapi kenapa? Kenapa tidak bisa? Earlangga itu sangat tampan Bu, aku menyukainya saat pertama melihat dia dengan mobil itu, apalagi sekarang aku tahu kalau dia sangat kaya, aku semakin terpikat untuk mendapatkannya,”kata Jeni.
“Tentu saja, karena semua ada kaitannya dengan kisah masa lalu. Seharusnya ibu menikah dengan Sean, ayahnya Earlangga itu,” ucap Nisa.
Jeni merubah posisi duduknya dan menatap ibunya dengan serius.
“Ibu mantan pacarnya ayah Earlangga?” tanya Jeni.
“Tidak seperti itu tepatnya, tapi semua gagal karena Sean memilih Lorena yang sekarang jadi ibunya Earlangga. Keluarga mereka juga yang menyebabkan kakekmu dipenjara, sampai mengalami umpuh dan stroke seperti sekarang ini,” ucap Nisa, mengatur nafasnya sebentar lalu melanjutkan lagi.
“Bertahun-tahun kesehatan kakekmu tidak ada perubahan, sampai-sampai kami hampir jatuh miskin dan ibu terpaksa menikah dengan ayahmu karena tidak mau jatuh miskin dan butuh biaya berobat kakekmu,” lanjut Nisa panjang lebar.
Jeni terdiam mendengarnya, begitu juga dengan Darren, dia tidak menyangka kalau ibunya ternyata mengenal bule pemilik mobil ini.
“Kalau begitu aku tidak mungkin diterima dikeluarga Ealangga,” keluh Jeni, wajahnya langung cemberut.
Darren malah menertawakannya.
“Kau cari yang lain saja!” ucapnya.
“Tidak ada yang setajir Earlangga,” ujar Jeni dengan lesu.
Dareen kembali tertawa dan melanjutkan melap mobilnya. Sepertinya dia tidak pedili apapun tentang keluarganya, dia hanya melihat mobilnya.
“Kau bisa masuk ke Keluarga Joris,” kata Nisa.
“Bagaimana caranya? Mereka pasti akan langsung menendangku kalau tahu aku cucunya kekek,” jawab Jeni.
“Dari dulu ayahmu berganti ganti perempuan, kawin cerai tidak jelas, tidak akan ada yang tahu ibu ini salah satu istrinya juga,” lanjut Nisa.
Jeni langsung bersemangat mendengarnya.
“Ibu benar, mereka tidak akan tahu aku cucunya kakek, kecuali..” Jeni tidak menyelesaikan kata-katanya.
“Kecuali apa?” tanya Nisa, menatap putrinya.
“Kecuali perawat itu,” jawab Jeni, kembali mencibir.
“Perawat? Perawat apa?” tanya Nisa, tidak mengerti.
“Valerie, Valerie sekarang sudah menikah dengan Earlangga dan mengandung anaknya!” jawab Jeni dengan keras, membuat Nisa terkejut. Bukan Nisa saja Darren juga langsung menatap Jeni.
“Apa maksudmu Valerie menikah dengan Earlangga?” tanya Darren.
“Iya, perawat itu sudah menikah dengan Earlangga, dia menagaku hamil dan dinikahi,” jawab Jeni.
“Jadi Earlagga itu sudah menikah dengan Valerie?” tanya Nisa.
Dareen terdiam mendengarnya, padahal baru kemarin Earlangga mencari siapa gadis yang bermalam dengannya. Dia menunjukkan fotonya Valerie pada Earlangga dan pria itu bersikap seolah tidak mengenal Valerie, padahal Valerie itu sudah menjadi istrinya, ada apa ini?
Darren terus berfikir keras. Valerie sedang hamil sekarang, jadi sepertinya Earlangga ingin memastikan bayinya Valerie, apa Earlangga ragu status bayi itu? Dareen semakin mengerutkan dahinya tidak mengerti.
Nisa menatap Jeni.
__ADS_1
“Kalau Earlangga sudah menikah, kau tidak akan mudah mendapatkannya, apalagi Valerie mengaku hamil,” ucap Nisa.
“Tenang saja Bu, aku sudah tahu sesuatu,” jawab Jeni.
“Tahu apa?” tanya Nisa.
“Aku yakin Valerie itu menjebak Earlangga pura-pura hamil olehnya,” jawab Jeni. Nisapun terdiam begitu juga Darren.
“Earlangga itu belum lama tinggal disini, Valerie juga masih bekerja disini kan, kenapa tiba-tiba Valerie hamil dan menikah dengan Earlangga? Berarti Valerie hamil oleh orang lain. Aku harus mencari tahu siapa yang menghamili Valerie, atau aku bisa mencarikan pria yang mengaku ayah dari bayi itu, Earlangga pasti akan dengan cepat menceraikannya,” kata Jeni.
“Memang aneh sih, perawat itu belum lama keluar dari rumah ini langsung hamil saja,” gumam Nisa.
“Sebenarnya aku sudah menunjukkan Dokter Dandy pacarnya Valerie, tapi sepertinya tidak berhasil, Earlangga malah terlihat perhatian pada Valerie,” keluh Jeni.
Darren masih diam mendengarkan perkataannya Jeni. Berarti memang bisa jadi Valerie hamil oleh Earlangga, kerena kejadian itu saat Valerie masih tinggal dirumah ini.
“Berapa bulan dia hamil?” tanya Darren.
“Earlangga waktu itu bilang 6 minggu 7 minggu, sekitar 2 bulanan mungkin,” jawab Jeni.
Daren kembali diam, benar, bayi nya Valerie itu bayinya Earlangga dan Earlangga mencoba memastikannya makanya mencari informasi di club itu. Kenapa tidak Earlangga bertanya langsung saja pada istrinya itu? Jangan jangan Earlangga takut kalau ketahuan dia yang menodainya dan Valerie marah? Darren tersenyum sinis.
“Pengecut,” gumamnya.
“Apa kak?” tanya Jeni menoleh pada Darren.
“Berisik,” jawab Darren ngeles, dan kembali melap mobilnya.
Darren tersenyum lagi, bukankah ini bagus? Earlangga takut istrinya mengetahui kalau dia yang menodainya, pasti pria pengecut itu menodai Valerie yang tidak sadarkan diri malam itu lalu meninggalkannya jadi Valerie tidak tahu pria yang menidurinya, dasar pengecut, batin Darren. Tapi bagaimana mereka bisa menikah? Ah dia tidak peduli soal itu yang penting dia bisa menebak Earlangga takut perbuatannya diketahui Valerie.
Darren memasukkan lap kedalam ember berisi air. Dia masih memikirkan Earlangga dan Valerie, diapun kembali tersenyum, sepertinya dia bisa mendapatkan uang dari Earlangga. Ini jelas-jelas sudah bisa diprediksi kalau Earlangga takut ketahuan dia yang menodai Valerie sebelum pernikahan. Soal bayi itu bayinya atau bukan yang pasti ada yang dirahasiakan oleh Earlangga dari Valerie, baguslah, ini akan jadi tambang emas baginya.
Nisa menatap Jeni lagi.
“Sayang, tapi kita semua tahu kalau Valerie itu tidak punya pacar,” kata Nisa.
“Bisa saja dulu dia diam-diam pacaran dengan pria lain dan kita tidak tahu. Tidak mungkin dia bisa hamil secepat itu, dia pasti mengaku-ngaku, karena Earlangga juga belum lama pindah kesini Bu, dia tinggal di London,” jawab Jeni.
“Kalau begitu kau harus mencari orang yang mengaku kalau dia yang menghamili Valerie. Kalua kau mencari pacarnya akan sulit dan butuh waktu lama,” kata Nisa.
“Benar begitu Bu,” jawab Jeni.
Nisa tersenyum, akan bagus sekali Jeni bisa masuk ke dalam keluarga itu dan mengeruk kekayaannya sebelum ketahuan, kalua suatu saat mereka tahupun tidak masalah, mereka pasti shock tidak menyangka Jeni adalah putrinya.
“Tapi ingat jangan sampai kau ketahuan kalau kau putri ibu atau rencanamu akan gagal total,” kata Nisa.
“Ibu tenang saja, Ny.Grace tahunya aku putrinya Pak Brian. Dan sekarang aku bekerjasama dengan Earlangga, aku punya banyak alasan untuk selalu bertemu dengannya, dan menyingkirkan perawat itu. Valerie hanya perawat yang pura-pura hamil untuk mendapatkan pria sekaya Earlangga, huh!” ucap Jeni diakhiri gerutuan.
“Aku fikir perawat itu lugu ternyata tidak sepolos yang aku duga,” ucap Nisa.
“Ibu benar, aku kalah langkah dari dia,” kata Jeni, sambil bangun dari duduknya.
“Aku mau istirahat, setelah itu ke salon,” jawab Jeni, lalu masuk kerumah.
Nisa masih melihat Darren menyelesaikan melap mobilnya.
“Kau tidak ingin seperti Jeni, mencari ayahmu, bekerja bersama ayahmu,” kata Nisa.
“Buat apa? Aku sudah punya cara mendapatkan uang banyak tanpa harus bekerja,” jawab Darren, sudah muncul dibenaknya akan menemui Earlangga.
__ADS_1
Nisa hanya mecibir, putranya itu benar-benar pemalas, bisanya hanya bergerombol dengan teman-temannya yang tidak jelas. Diapun mengikuti langkah Jeni, segera masuk kerumahnya.
**********