Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-30 Masa masa tidak di rumah kontrakan


__ADS_3

Sore ini Sean sedang minum teh dengan seorang wanita paruh baya. Sebuah tabloid tampak berada ditangan wanita itu. Pak Deni berdiri tidak jauh dari mereka. Bukan Pak Deni saja, ada beberapa orang yang juga berdiri tidak jauh dari mereka.


“Bagaimana kabarmu?” tanya wanita itu sambil menutup tabloidnya dan disimpannya diatas meja. Kini matanya tertuju pada pria muda di depannya.


“Aku baik,” jawab Sean, diapun menatap wanita di depannya itu. Sudah cukup lama dia tidak melihat wajahnya, sudah berbulan bulan yang lalu.


“Aku dengar kau membuat kontes untuk mencari calon istrimu,” ucap wanita itu yang tidak lain ibunya Sean.


“Iya,” jawab Sean mengangguk.


Ibunya Sean menatap putranya itu dengan pandangan menyelidik.


“Kau juga tinggal dengan seorang wanita di rumah kontrakan,” lanjut ibunya.


Sean tidak menjawab. Merekapun diam beberapa saat.


“Kau menyukai wanita itu?” tanya ibunya kemudian.


“Dia hanya peserta kontes,” jawab Sean.


“Kalau hanya peserta kontes, tidak baik kau tinggal serumah dengannya,” kata ibunya. Sean menatap ibunya.


“Dia hanya akan tinggal selama kontes saja, kami tidak ada hubungan apa-apa, kau jangan khawatir,” ucap Sean.


“Kira-kira berapa lama lagi acaramu itu?” tanya ibunya Sean.


“Aku belum tahu, aku juga sangat sibuk,” jawab Sean, pendek.


Susasana kembali hening. Sean tidak banyak bicara juga dengan ibunya, seakan-akan pertemuan ini hanya sebuah obrolan bisnis yang sangat kaku, tidak ada canda tawa yang hangat antara ibu dan anak, mungkin karena memang mereka jarang sekali bertemu sehingga jarak semakin menjauhkan mereka.


“Bukankah kau memiliki banyak pacar, kenapa harus ada kontes segala? Kontes hanya membuang buang waktu saja,” ucap ibunya Sean.


“Aku ingin mencari wanita yang benar-benar cocok denganku,” jawab Sean.


“Ya terserah kau saja, aku hanya mengingatkan, jangan terlalu lama, saat usia 30 tahun kau harus sudah punya keturunan, pastikan wanita yang kau pilih itu bisa cepat memberi keturunan. Jangan sampai kau mendapatkan wanita yang tidak subur, itu akan sia-sia,” kata ibunya Sean lagi.


Mendengar perkataan ibunya, membuat Sean teringat sesuatu, benar, dia lupa kalau diusia itu dia bukan saja harus sudah menikah tapi juga punya keturunan, bagaimana cara mengetes untuk mengetahui kalau calon pemenang kontes itu harus subur? Tiba-tiba kepalanya langsung berdenyut denyut, dia tidak mengerti kalau soal itu. Apakah dia harus melakukan tes kesuburan pada peserta kontes? Sepertinya dia melewatkan hal ini, dia harus membicarakannya pada Sam.


“Kau juga, buat apa kau tinggal di rumah kontrakan kecil? Kau tidak terurus, kau bahkan menukar posisimu dengan Sam?” tanya ibunya Sean.


“Itu urusanku,” ucap Sean.


“Ya baiklah, terserah kau saja. Yang penting usia 30 kau sudah menikah dan mempunyai keturunan,” jawab ibunya Sean dengan tegas.


Kepala Sean rasanya semakin berat saja, sudah mencari istri begitu susah, ditambah dengan harus mempunyai keturunan. Dalam waktu sesingkat itu apa  dia bisa mempunyai keturunan? Kenapa wasiat kakeknya itu begitu memberatkannya? Dia sudah tidak butuh warisan lagi, warisan itu malah membuatnya semakin susah saja.


“Hari ini kau ikut denganku ke beberapa Negara. Ada beberapa perusahaan kakekmu yang membutuhkan persetujuanmu,” ucap ibunya.


Sean tidak menjawab. Dia sudah merasa bosan dengan rutinitas pekerjaannya. Sebenarnya dia ingin santai saja di rumah. Santai di rumah? Serius? Di rumah sini atau di kontrakan? Rumah sebesar ini hanya dirinya sendiri penghuninya, yang lain hanya orang-orang yang bekerja untuknya, benar-benar hidup yang sangat sepi. Di kontrakan? Wanita itu selalu membuat keonaran dan membuatnya pusing. Tapi beberapa hari ini tidak pulang ke rumah kontrakan dia jadi bertanya-tanya, wanita itu sedang apa ya?


Tiba-tiba Sean teringat Lorena. Dia menebak nebak apa yang sedang dikerjakan Lorena tanpa ada dirinya di rumahnya. Apa dia sedang berlari pagi atau sore mempersiapkan fisik untuk outbond? Apa dia senang tinggal di rumah kontrakan sendirian, serasa rumah itu miliknya? Atau…atau apa wanita itu merindukannya?


Dalam benak Sean kembali terbayang saat makan malam, pertemuan terakhirnya dengan Lorena. Gadis itu terlihat sangat gugup dan salah tingkah, apakah wanita itu mulai menyukainya? Apakah dengan tinggal berpisah wanita itu merindukannya? Ada sebuah senyum tersungging di bibirnya.

__ADS_1


“Kau kenapa? Ada yang lucu?” tiba-tiba pertanyaan ibunya membuyarkan lamunannya. Apa yang terjadi? Apakah dia barusan tersenyum? Kenapa dia jadi teringatwanita itu? Aah wanita yang menjengkelkan. Tapi akan lucu bukan kalau Lorena yang mengikuti kontes untuk menikah dengan Sam dan ternyata malah menyukainya? Apa yang kira kira Lorena lalukan jika Lorena malah menyukainya?  Apakah dia akan berhenti mengikuti kontes? Jadi ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis itu. Kadang tingkah gadis itu tidak bisa ditebak. Kadang menjengkelkan tapi kadang juga lucu. Lagi-lagi Sean tersenyum dengan lamunannya.


“Kau tidak sedang jatuh cinta kan?” terdengar lagi suara ibunya.


“Tidak,” jawab Sean terkejut, dia malah membayangkan Lorena padahal sedang bicara dengan ibunya.


“Jangan- jangan kau menyukai gadis di rumah kontrakanmu itu?” tebak ibunya.


“Tidak, aku sedang tidak memikirkan dia,” ucap Sean, berbohong.


“Iya juga tidak apa-apa, dia gadis yang cantik, dia juga berasal…” belum juga ibunya selesai bicara, Sean sudah memotong.


“Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku tidak suka kalau kau ikut campur urusan pribadiku,” ucap Sean dengan ketus. Membuat ibunya terkejut. Dia fikir putranya menyukai gadis yang di kontrakan itu.


“Ibu fikir kau menyukainya, dan ibu tidak keberatan, dia cocok denganmu,” ucap ibunya.


Beberapa waktu lalu saat ibunya mendengar kabar kalau Sean tinggal bersama seorang gadis di rumah kontrakannya, dia menyuruh asistennya untuk menyelidiki siapa gadis itu, dan ternyata tidak disangka-sangka gadis itu putri seorang bangsawan yang kaya raya. Apakah Sean tidak tahu soal itu? Tapi sepertinya putranya tidak mau dia ikut campur urusan pribadinya.


“Aku akan memilih calon istriku sendiri,” kata Sean.


“Ya baiklah, ibu hanya mengatakan dia cocok untukmu, itu saja,” kata ibunya.


“Jangan buang-buang waktumu untuk mencari cari tahu siapapun wanita yang dekat denganku, aku akan mencari calon istriku sendiri,” kata sean.


“Ya baiklah, baiklah. Bagiamana kalau kita berangkat sekarang? Jadwal kita sangat padat,” ucap ibunya.


Sean tidak bicara lagi, dia tika suka ibunya ikut campur soal pribadinya. Dia ingin kelak menikah nanti harus dengan wanita yang benar-benar dicintainya, tidak ada alasan yang lain.


“Kita berangkat sekarang,” kata ibunya sean.


“Baik, Nyonya,” jawab pria itu.


Ibunya Sean bangun dari duduknya diikuti oleh Sean. Beberapa hari ini Sean akan sibuk sekali dengan pekerjaannya.


*************


Di rumah kontrakan.


Lorena sedang memainkan pianonya diruang tengah itu. Beberapa pelayan tampak berjejer melihat dia bermain dengan lagunya. Semua mendengarkan dengan takjub, mereka sangat menyukai permainan  piano ini. Tapi…kenapa lagu yang dimainkan Lorena sangat sentimental? Ada apa? Apakah ada yang sedang bersedih atau sedang kesepian?


Terdengar tepuk tangan meriah di ruangan itu saat Lorena mengakhiri permainan musiknya.


Diapun tersenyum pada para pekeja dirumah itu.


“Nona! Kenapa kau tidak menyanyikan lagu yang ceria? Lagu tadi membuatku merasa sedih,” terdengar protes seorang pekerja wanita.


“Aku tidak tahu,” jawab Lorena, sambil bangun dari pianonya. Tanpa ada Sean di rumah ini ko rasanya sangat sepi sekali. Tidak ada orang yang bisa dia ganggu.


“Pak Roby, apa ada kabar dari Sean, kapan dia akan pulang?” tanya Lorena, menghampiri pak Roby yang juga ikut melihat pertunjukannya.


“Belum ada kabar. Pak Sean sedang berada di Luar negeri,” jawab pak Roby.


“Ke Luar negeri?” tanya Lorena.

__ADS_1


“Iya,” jawab Pak Roby.


“Ko aku seperti ingin jalan-jalan ke Luar Negeri,” gumam Lorena.


“Di rumah terus membosankan, meskipun ada jadwal les buat anak-anak, dan bekerja di restaurant, tapi kenapa rasanya begitu bosan ya,” keluhnya lalu berjalan kearah kursi dan duduk disana.


“Mungkin karena pak Sean tidak ada!” celetuk seorang pelayan wanita, dan dia langsung menutup mulutnya saat Pak Roby meliriknya tajam. Di rumah ini tidak boleh ada pekerja yang bergosip atau ikut campur urusan majikan, sudah peraturannya seperti itu, mereka harus bekerja professional, hanya bekerja, harus tutup mata telinga dan mulut tentang hal pribadi majikannya.


Lorena langsung tertawa mendegar celetukan wanita itu.


“Kau benar, tidak ada dia yang bisa aku ganggu!” seru Lorena, membuat wanita itu dan pekerja lainnya tersenyum, dia takut kalau Lorena marah dan Pak Roby menghukumnya.


Tiba-tiba terdengar dering handphonenya Lorena yang disimpannya dalam saku bajunya.


“Halo, Pak Sandy! ” sapa Lorena.


“Nona Lorena, aku harus mengabarkan sesuatu padamu” ucap suara pria disebrang.


“Soal apa ya Pak?” tanya Lorena.


“Soal acara ulang tahun putriku,” jawab suara disebrang itu.


“Iya kenapa?” tanya Lorena.


“Ternyata acara ulang tahun putriku tidak jadi di sini. Putriku ingin acaranya dipindah ke Paris,“ kata pak sandy.


“Oh..” Lorena tampak kecewa, jadwal dia main music diacara ulang tahun putrinya Pak Sandy sepertinya akan dibatalkan.


“ Tidak apa-apa pak kalau dibatalkan juga, saya mengerti,” ucap Lorena.


“Tidak dibatalkan, tapi bagaimana kalau kau ikut tampil di Paris? Putriku sangat ingin kau bermain biola di ulang tahunnya,” kata Pak Sandy.


“Apa? Ke Paris? Aku ikut ke Paris?” tanya Lorena tidak percaya. Meskipun dia sudah pernah ke Paris tapi diundang tampil bermain biola di Paris, rasanya sesuatu yang sangat dibanggakan.


“Iya, semua biaya transportasi dan akomodasi sudah kami tanggung,” kata pak Sandy.


“Ya ya baiklah!” ucap Lorena bersemangat.


“Kita berangkat besok,” ucap Pak Sandy.


“Baik, baik, ya ya…” Lorena pun menutup telponnya, lalu menoleh pada Pak Roby.


“Aku diundang tampil di ultah putrinya Pak Sandy yang ikut les disini, tempatnya di Paris!” kata Lorena pada Pak Roby, sambil bangun dari duduknya.


“Jadi Nona akan ke Paris?” tanya pak Roby.


“Iya, aku akan tampil diultah putrinya Pak Sandy. Kau jaga rumah ya,” jawab Lorena, sambil melangkah meninggalkan Pak Roby yang hanya menganguk. Keningnya pak Roby berkerut, menurut informasi Pak Deni, Pak Sean juga sedang ada di Paris sekarang, fikirnya.


Di dalam kamarnya Lorena membuka lemari pakaiannya dengan bersemangat, dia akan jalan-jalan ke Paris, acara lomba kontes juga belum dimulai, masih ada waktu beberapa hari lagi, jadi dia bisa memanfaatkan waktunya untuk bekerja.


****************


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2