
Pria itu terus berjalan kearah Ny.Grace pergi. Dia bingung ternyata Ny.Grace menghilang. Diapun mencari kemana perginya Ny.Grace. Tiba tiba terdengar suara yang berbicara di dalam sebuah ruangan.
“Jadi sudah kau urus semuanya?” tanya suara wanita, pria itu mengenali itu suara Ny.Grace.
“Iya Nyonya, semua sudah sesuai instruksi Nyonya,” jawab seorang pria.
“Jadi dimana bayi itu?” tanya Ny.Grace.
“Bayi itu keracunan air ketuban Nyonya, masih di incubator, kita masih perlu merawatnya sampai dia benar-benar sehat,” jawab suara pria.
“Baiklah kau urus bayinya, nanti aku ambil,” ucap Ny.Grace.
“Oh iya bagiaman tes DNA nya?” tanya Ny.Grace, kemudian.
“Bayinya benar putranya Mr. Earlangga,” jawab Suara pria itu.
“Berarti benar bayi itu putra cucuku,” gumam Ny.Grace.
“Benar Nyonya,” jawab suara pria.
“Baiklah, aku ingin bayi itu sehat, pastikan tidak ada masalah apa-apa dengan bayi itu,” kata Ny.Grace.
“Baik, Nyonya,” jawab suara pria.
“Oh iya, siapa bayi yang meninggal itu? Bagaimana kau bisa mendapatkan bayi meninggal itu?” tanya Ny.Grace.
“Sebenarnya ini diluar rencana, karena kebetulan ada tuna wisma yang melahirkan bersamaan dengan Mrs. Earlangga, juga mengalami keracunan air ketuban dan karena kurang perawatan selama ibunya hamil, daya tahan tubuhnya lemah dan meninggal, bayinya diserahkan ke rumah sakit untuk mengurusnya. Dan kebetulan lagi Mr.Earlangga mengira itu bayinya,” kata suara pria itu.
Ny.Grace terdiam, ternyata bayi itu bayi seorang tunawisma, baguslah, berarti tidak ada masalah, semua berjalan lancar.
“Oke. Aku sudah mentransfer uang donasi untuk rumah sakit ini dengan jumlah besar. Aku senang bekerja sama dengan rumah sakit ini,” kata Ny.Grace.
“Terimakasih Nyonya,” jawab suara pria.
“Sekarang aku ingin melihat bayi itu,” ucap Ny.Grace.
"Baiklah, mari Mrs," ucap pria itu.
Mendengar suara derit kursi, pria yang sedang menguping itu langsung bersembunyi.
“Gila! Semua rencana nenek itu! Tidak menyangka dia sangat tega melakukannya! Hemm… kasihan sekali Valerie kalau terus tinggal dirumah itu. Tapi bagaimana caranya supaya Valerie mau keluar dari rumah itu?” gumamnya.
Saat Ny.Grace dan pria itu akan lewat kearahnya, pria itu buru-buru bersembunyi lagi, dilihatnya mereka menuju ruangan bayi-bayi yang dilahirkan itu.
Pria itu ingin mengikutinya tapi tidak bisa, karena ruangan itu tidak begitu jauh dari sana dan dia tidak sempat bersembunyi lagi.
Ny.Grace melihat bayinya Earlangga yang sedang tertidur itu dengan beberapa alat bantu. Diapun tersenyum. Bayi itu sangat tampan.
“Kau mirip ayahmu, cucuku yang susah diatur itu. Tanpa tes DNA pun orang bisa melihat kau bayinya Earlangga,” gumamnya.
Meskipun dia bisa berbuat tega begini, tapi dia juga menyayangi cucunya hanya saja dia tidak suka dengan cara berfikirnya Earlangga. Karena menurutnya Earlangga tidak menjaga nama baik keluarga besarnya yang selama ini dia jaga.
“Beberapa hari lagi bayinya sudah bisa dibawa pulang,” kata pria itu.
“Dia sudah lebih baik?” tanya Ny.Grace.
“Iya Nyonya,” jawab Dokter itu.
Nyonya Grace tersenyum melihat bayi itu. Dia senang tidak khawatir lagi keturunan keluarga Joris akan musnah, meskipun dia tidak suka dari siapa bayi itu dilahirkan, tapi yang penting sudah pasti kalau dia punya keturunan dari Earlangga.
Mengingat Earlangga, dia kesal lagi, sudah bayinya dinyatakan meninggal juga ternyata masih begitu menyayangi Valerie, membuatnya semakin gerah saja.
“Mrs, bayinya belum diberi nama,” kata pria itu.
__ADS_1
Ny,Grace melihat pada tulisan yang menempel itu, hanya ada nama orang tua bayi, belum ada namanya.
“Akan diberi nama siapa?” tanya pria itu.
Ny.Grace tampak berfikir, mau dikasih nama apa?
“Namanya Al, Aldric Stepanov,” jawab Ny.Grace, senemunya karena dia tidak pernah menyiapkan nama apa buat bayinya Earlangga. Lagipula Jordan sudah diberikan pada bayi yang meninggal itu, tidak mungkin dia memberi namanya Jordan lagi.
“Baiklah, Aldric , nanti dituliskan namanya,” jawab pria itu.
Ny.Grace mengangguk mengiyakan.
Tidak berapa lama, Nyonya Gracepun pulang dari rumah sakit itu, kembali ke rumah Earlangga.
“Ibu sudah darimana?” tanya Lorena saat melihat ibu mertuanya datang dengan wajah yang sumringah.
“Aku hanya ada beberapa urusan saja,” jawab Ny.Grace.
Dilihatnya kearah sofa ruang tamu, ternyata ada Earlangga dan Valerie juga Sean, yang menatap kearahnya.
Melihat tatapannya Earlangga dan Valerie, langsung saja membuat hatinya merasa terpojok karena walau bagaimanapun dalam hatinya dia mengakui telah membuat kesalahan ini.
“Aku mau istirahat,” ucap Ny.Grace, berjalan beberapa langkah lalu menoleh pada keluarganya.
“Besok kita pulang, aku tidak mau kita berlama-lama disini,” kata Ny.Grace.
“Tapi Bu, Valerie belum sehat benar,” jawab Lorena.
Ny.Grace menoleh pada Valerie.
“Kalau kau mau tinggal di London lebih lama, silahkan saja, Earlangga banyak pekerjaan disana, lagi pula mau apa tinggal disini?” kata Ny.Grace lalu membalikkan badannya keluar dari ruangan itu.
Sean menoleh pada Valerie.
Valerie menoleh pada Earlangga yang juga menatapnya.
“Aku masih berat meninggalkan Jordan,” ucapnya.
“Baiklah, kita tinggal disini beberapa hari lagi,” kata Earlangga, sambil tersenyum dan mengusap rambutnya Valerie.
“Kalau begitu ayah dan Ibu juga nenek pulang besok. Kalau Valerie sudah merasa sehat baru kalian pulang,” ujar Sean.
“Baik ayah,” jawab Earlangga, lau menoleh pada istrinya yang menunduk saja, pasti Valerie merasa sedih lagi.
Earlangga langsung menarik bahunya Valerie supaya bersandar ketubuhnya lalu memeluknya.
Lorena dan Sean terdiam melihatnya, mereka juga sedih kehilangan cucu mereka, tapi mau bagaimana lagi? Takdirnya memang seperti itu, Jordan hanya sempat dilahirkan dan tidak bisa hidup lebih lama lagi dengan orang tuanya.
Sean berdiri menghampiri Lorena meninggalkan tempat itu.
Dilantai atas, Ny.Grace melihat Earlangga memeluk Valerie, semakin kesal saja, Eaarlanga bukannya marah kerena Valerie tidak bisa menjaga bayinya dnegan baik malah terlihat semakin perhatian, diapun segera pergi ke kamarnya.
*********
Beberapa hari kemudian…
Earlangga dan Valerie kembali ke tanah air. Meskipun dengan hati sedih karena bayi mereka dimakamkan di London, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena hidup harus terus berjalan, meratapi bayiny pun tidak guna tidak akan membuat bayi mereka hidup kembali.
Bu Asni terus-terusan menangis saat Valerie pulang tanpa bayinya. Mereka bicara dirumahnya Bu Asni.
“Kau yang sabar, Nak,” ucap Bu Asni.
“Iya Bu, meskipun sebenarnya aku masih sangat kehilangan Jordan” kata Valerie, dengan wajah yang mulai sedih lagi.
__ADS_1
“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Jordan bayinya Pak Earlangga kan?” tanya Bu Asni.
“Kami tidak melakukan tes DNA, tidak ada guna juga membuat pembuktian itu karena bayinya meninggal. Tapi itu memang bayinya Earlangga, aku tidak pernah berhubungan dengan pria lain,” kata Valerie.
Bu Asni menatap Valerie yang menunduk itu.
“Kau akan tetap bersama Pak Earlangga?” tanya Bu Asni.
Valeriepun mengangguk.
“Walau tanpa bayimu?” tanya Bu Asni.
“Iya Bu, aku mencintai Earlangga. Selama Earlangga mau menerimaku pada adanya, aku akan selalu disisinya,” jawab Valerie.
“Ibu setuju apapun keputusanmu yang penting kau bahagia,” kata Bu Asni.
“Iya Bu,” jawab Valerie.
Bu Asni langsung memeluknya, begitu juga Valerie, meskipun kedua orang tuanya sudah tidak ada, dia merasakan kasih sayang Bu Asni sudah lebih dari cukup baginya.
“Ternyata kau disini?” terdengar suara yang mengagetkan mereka.
Merekapun melepaskan pelukannya dan menoleh kearah pintu , ternyata Earlangga sudah berdiri dipintu yang terbuka itu.
“Pak Earl!” ucap Bu Asni sambil berdiri.
“Ada apa Bapak kemari?” tanya Bu Asni.
“Aku mencari istriku,” jawab Earlangga, menoleh pada Valerie sambil tersenyum.
“Kau mencariku?” tanya Valerie.
Earlangga mengulurkan tangannya kearah Valerie. Valeriepun bangun dan langsung menghampirinya menerima uluran tangannya.
“Kalau kau tidak capek, aku akan mengajakmu belanja,” kata Earlangga.
“Belanja? Belanja apa?” tanya Valerie.
“Belanja apa saja yang kau mau. Mau pakaian, sepatu, tas, apa saja, perhiasan juga boleh,” jawab Earlangga, lalu menatap Valerie.
“Sebenarnya aku tidak suka menemani wanita belanja, tapi untuk membuat istriku tercinta senang aku rela menemanimu,” kata Earlangga, sambil mencium pipinya Valerie.
Valeriepun tersenyum dan memeluk Earlangga, bahagianya mendengar ucapan manis suaminya.
“Terimakasih sayang,” ucapnya.
“Ha, kau baru menyebutku 'sayang'!” seru Earlangga, tampak terkejut, langsung menatap Valerie yang wajahnya memerah.
Valerie juga langsung menutup mulutnya, keceplosan. Earlangga tertawa melihatnya.
“Aku senang kau mengatakannya,” ucap Earlangga, kembali mencium pipinya Valerie.
“Ayo,” ajaknya, memeluk pinggangnya Valerie, mengajak pergi.
Valerie menoleh pada Bu Asni yang tersenyum, ikut bahagia karena Valerie sudah menemukan pria yang menyayanginya, meskipun harus kehilangan bayinya.
Wanita yang bekerja sebagai koki dikeluarga Joris itu menatap kepergiannya sambil melambaikan tangannya.
************
Jangan lupa likenya di tiap bab….
Readers terimakasih juga bagi yang udah setia, ternyata sampai bab ini masih bisa dapat like 200 an. Aku fikir sudah tidak ada yang ngikut lagi...cos ceritanya kadang membosankan karena tidak dikonsep.
__ADS_1
**************