
Salah satu pria pindah duduknya dia berfikir barangkali wanita itu akan duduk dibangkunya tadi, tapi ternyata wanita cantik itu masuk kedalam warung.
“Kau kemari Nak?” tanya Pak Aping.
“Iya, aku jenuh di rumah. Apakah sudah banyak pembeli?” tanya Lorena, dia melihat meja-meja itu tampak bersih dan kering itu artinya belum ada yang membeli dan dua orang pria itu hanya numpang duduk-duduk saja.
“Belum,” jawab Pak Aping.
“Sayang, kau sudah bangun?” tiba-tiba Bu Yati berseru pada Baby Earl, dia langsung menghampiri dan melihat bayi itu yang masih digendong Lorena.
Dua pria itu langsung menoleh kearah Bu Yati, mereka agak terkejut ternyata wanita cantik itu keluarga yang punya warung.
Lorena menoleh pada dua pria itu yang sedang menatapnya, dengn salah tingkah dan mencoba tebar pesona. Belum juga Lorena bicara, dua orang pria itu mendahului.
“Pak, saya pesan es kelapanya,” kata yang satu begitu juga dengan yang satunya lagi.
Pak Aping langsung bangun dari duduknya dan menyiapkan pesanannya dengan semangat.
Lorena duduk dikursi yang ada diwarung itu.
“Anaknya Pak?” tanya si pria itu, melirik lagi pada Lorena.
“Keponakan,” jawab Pak Aping sambil tersenyum.
“Ooh…” ucap pria itu, bisa ditebak mereka membeli es kelapa bukan karena ingin membeli, tapi ingin berlama-lama berada diwarung itu.
Beberapa menit kemudian datang lagi seorang pria ke warung itu. Matanya tampak tidak berkedip melihat ada wanita cantik di warung itu. Dia langsung melap mukanya yang tampak merah karena kepanasan.
“Saya pesan satu,” kata pria yang baru datang itu. Pak Aping segera membuatkannya. Tidak berapa lama pria itu mendapat pesanannya, selama menunggu matanya sesekali melirik pada wanita cantik yang sedang menggendong bayi itu. Siapa yang tidak betah menatap wajah yang menyejukkan pria itu.
Bahkan saat Pak Aping selesai membuatkan pesananya, pria itu masih sesekali melirik Lorena. Setelah membayar pria itu kembali ke lapangan menonton dengan temannya.
“Kau tahu, ada wanita cantik di warung itu,” kata pria tadi, sambil meminum esnya.
“Wanita cantik? Selama aku bermain bola disini, tidak ada wanita cantik, apalagi perkampungan ini sangat terpecil,” kata temannya.
“Aku serius,” ucap pria itu sambil memberikan es kelapa itu pada temannya.
“Kau mau kemana?” tanya temannya, saat melihat pria itu mau pergi lagi.
“Aku mau pesan lagi, membeli es kelapa,” jawab pria itu membuat temannya bengong diapun menoleh pada temannya.
__ADS_1
“Aku penasaran apa benar ada wanita cantik di warung itu?” kata teman pria tadi itu pada temannya yang lain.
“Coba kita lihat kesana, aku juga jadi penasaran,” ucap temannya yang lain. Merekapun beranjak meninggalkan lapangan bola itu menuju ke warung es kelapanya Pak Aping dan Bu Yati.
Bukan mereka saja, ternyata setelah satu pembeli kembali ke area lapangan bola, berdatangan lagi beberapa temannya yang lain. Mereka jadi penasaran ingin melihat secantik apa wanita penjual es kelapa yang disebutkan oleh temannya itu.
“Seperti model!” kata temannya, membuat yang mendengar semakin penasaran.
Satu, dua, tiga, berangsur-angsur pembeli semakin bertambah satu-persatu berdatangan ke warung itu. Kehadiran wanita cantik di warung es kelapa seakan bonus untuk penonton bola siang ini. Bu Yati dan Pak Aping sampai kewalahan menerima pesanan es kelapa yang tiba-tiba membludak.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Lorena, dia merasa tidak enak hanya duduk-duduk saja disaat banyak pembeli.
“Tidak usah,” jawab Bu Yati, sambil sibuk membuatkan es kepala.
“Ini jadi berapa?” seorang pria mengulurkan uangnya dari tadi tapi belum diterima Bu Yati.
Lorena segera menerima uang itu lalu menoleh pada Bu Yati. Pria itu tampak tersenyum senang saat jemari lentik yang putih itu menerima uangnya. Yang melihat Lorena menerima uang dari pria itu membuat yang akan berbayar langsung berebut saja menghampiri Lorena dan mengulurkan uangnya masing-masing. Tentu saja bukan karena akan buru-buru membayar, tapi meraka ingin melihat lebih dekat si cantik itu.
“Harga es kelapanya berapa?” tanya Lorena, sambil menerima uang-uang dari pembeli. Akhirnya Bu Yati mengijinkan Lorena membantunya.
“Kau menerima uang saja, supaya tidak terlalu capek,”kata Bu Yati. Lorena hanya mengangguk lagipula dia tidak bisa kalau membuat racikan es kelapa.
Pak Aping tampak sibuk membuka kelapa-kelapa baru, bahkan sempat pulang dulu mengambil stok kelapa yang ada di belakang rumahnya.
Baby Earl seperti mengerti kesibukan ibunya, bayi itu tidak rewel, merengek- rengek sebentar lalu tidur lagi. Lorena hanya sesekali saja memberinya ASi di dalam warung kecil yang tertutup, saat pembeli sedang menyantap es kelapanya.
Bangku-bangku yang dari tadi lengang kini begitu penuh, pembelinya banyak yang tidak kebagian tempat duduk rela hanya berongkok di pohon-pohon yang rindang sambil berteduh.
Para pemain bolapun setelah selesai bermian bola meramai-ramai menuju warung.
“Ada yang bantu sekarang?” tanya seseorang pada Pak Aping, matanya melirik pada Lorena.
“Keponakan Pak, dari kota,” jawab Pak Aping.
“Besok jualan lagi?” tanyanya.
“Iya, kenapa?” tanya Pak Aping.
“Anak-anak, minta pertandingan diadakan disini lagi besok,” jawab pria itu.
Tiba-tiba ada seorang pria berjaket hijau menghampiri Pak Aping.
__ADS_1
“Pak, melayani deliveri tidak? Tiba-tiba banyak yang wa saya menanyakan es kelapa Si Cantik,” kata pria itu yangs sepertinya ojeg online yang suka mengantarkan makanan.
“Es kelapa Si Cantik?” tanya Pak Aping, refleks menoleh pada Lorena. Diapun baru tersadar rupanya wanita ini yang menarik pembeli berdatangan membeli es kelapanya.
Pak Aping menoleh pada istrinya yang menghampiri.
“Banyak yang pasan?” tanya Bu Yati pada pria berjaket itu.
“Iya Bu. Banyak yang memesan es kelapa Si Cantik,” jawab pria itu, matanya melirik pada Lorena yang sedang duduk menggendong bayinya.
Pak Aping tampak kebingungan.
“Tapi sekarag sudah habis,” jawab Pak Aping.
“Besok jualan lagi tidak Pak?” tanya gojek itu.
“Jualan,” jawab Pak Aping.
“Kalau begitu saya beritahu dulu custumernya,” jawab Pria itu, sambil mengeluarkan handphone-nya membalas pesan yang ada di ponselnya, kemudian pergi menuju motor yang di parkir tidak jauh dari tempat itu.
“Pak, Es kelapa!” terdengar seorang pria dan wanita yang baru datang menggunakan motornya.
“Maaf sudah habis,” jawab Bu Yati.
Beberapa motor juga berdatangan, sama dengan yang sebelumnya menanyakan es kelapa.
“Maaf sudah habis,” jawab Pak Aping
Bu Yati menghampiri Lorena yang duduk di dekat pintu warung.
“Nak, kau pulang saja, kelapanya sudah habis semua lagipula sudah sore, kasihan bayimu,” kata Bu Yati.
“Baiklah,” jawab Lorena sambil berdiri. Dia berdiri banyak pasang mata yang masih ada diwarung itu langsung mengikutinya. Rasanya tidak bosan-bosannya melihat wajah cantik itu yang bagaikan oase di gurun pasir. Ada wanita cantik diperkampungan begitu menarik perhatian banyak orang.
“Rumahnya dimana?” tanya salah seorang pria pembeli.
“Di sebrang lapang bola,” jawab Bu Yati.
Pria itu mengangguk-angguk entah apa yang dianggukinya.
Lorena segera meninggalkan warung itu sambil menggendong Baby Earl. Hatinya merasa senang melihat jualannya Bu Yati dan Pak Aping laku keras. Setidaknya dia merasa berguna bisa membantu mereka.
__ADS_1
*************