Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-44 Cinta diwarung jagung bakar


__ADS_3

Semakin sore hujan turun semakin lebat, awan sangat hitam dan petir terus menggelegar. Mobil Sean melewati jalanan berbukit yang berkabut, selain jalanan yang berbelok belok, kabut yang tebalpun membuat jalanan tidak terlihat.


“Mobilnya Pak Sean kelihatan tidak?” tanya Pak Deni pada supirnya.


“Tidak Pak, kabut sangat tebal, mobil lain juga menjalankannya merayap, padahal sudah memakai lampu buat kabut masih tidak jelas, garis tengah dijalan saja sampai tidak terlihat,” kata supir.


Sean menjalankan mobilnya dengan pelan, selain jalanan naik turun dan berbelok belok, kabut itu benar-benar menutupi penglihatan.


“Kenapa hari ini hujan sangat lebat?” tanya Sean.


“Kau bisa melihat jalan?” tanya Lorena.


“Masih bisa, tapi jalan sangat licin, dan kabut tebal menutupi kendaraan yang ada didepan kita,” jawab Sean.


“Santai saja bawa mobilnya pelan, yang penting selamat,” ucap Lorena.


Sean kembali focus menjalankan mobilnya. Tiba-tiba handphonenya berdering, Sean menyalakan handsfreenya.


“Ya,” ucap Sean.


“Pak, kita tidak bisa lewat,” kata pak Deni.


“Kenapa?” tanya Sean


“Ada pohon tumbang, jadi kita tidak bisa lewat,” jawab pak Deni.


“Nanti aku kirimkan pesan,” ucap Sean. Dia tidak bisa bicara banyak ditelpon nanti Lorena curiga. Telponpun ditutup.


“Ke kampungmu masih ajuh?” tanya Sean.


“Masih jauh, soalnya kita tertunda cukup lama,” jawab Lorena.


Sean tidak bicara lagi, mobil masih melaju pelan dijalanan yang berbelok dan menanjak. Setelah melewati jalanan sejam kemudian Kabut terlihat mulai menipis, hujan juga mulai reda.


Lorena melihat ke sisi jendela, dilihatnya warung warung dipinggir jalan yang berjualan jagung bakar disepanjang jalan.


“Kalau makan jagung bakar hujan-hujan begini sepertinya enak,” ucap Lorena, memandang warung-warung itu.


“Kau benar, apa kau mau kita mampir beli jagung bakar?” tanya Sean.


“Boleh, perutku langsung lapar,” jawab Lorena sambil memegang perutnya.


Sean menjalankan mobilnya dengan pelan, dia mencari cari warung yang nyaman untuk disingggahi. Sebenarnya dia tidak pernah makan atau jajan di warung warung begini, tapi demi gadis disampingnya merasa senang, dia rela melakukan apapun.


Dilihatnya deretan warung yang ada di pinggir jurang itu, dari situ mereka bisa melihat ke lembah, tapi karena hari masih sore jadi tidak akan melihat lampu lampu di perkampungan atau di jalanan.


“Nah disini saja,” ucap Sean, menghentikan mobilnya, disalah satu warung yang kosong pembeli.


Lorena segera turun saat mobil Sean berhenti. Dia langsung saja berlari ke warung karena hujan masih turun, meski tidak sederas tadi.


“Mau jagung bakarnya,” kata Lorena pada penjual jagung bakar yang  duduk duduk di warungnya karena tidak ada pembeli. Lorena berdiri dekat pembakaran jagung.


Sean mematikan mesin mobilnya, dilihatnay gadis itu mengusap usap bajunya yang sedkit basah karena kehujanan.  Sean melirik ke belakang, tidak ada payung di mobilnya, kalaupun mau mencari jaket atau apa..matanya terhenti pada blazer tebalnya yang panjang yang tergantung di jok belakang. Diambilnya blazer tebal itu, Lorena pasti kedinginan fikirnya, apalagi bajunya agak basah.


Sean keluar dari mobilnya dengan blazer panjang ditangannya, diapun buru-buru berlari ke arah warung.


Lorena menoleh ke arahnya.


“Kau mau rasa apa?” tanya Lorena.


Sean tidak menjawab, dia hanya mengulurkan blazernya pada Lorena.


“Pakai ini, kau basah,” ucapnya. Lorena menatap blazer itu, lalu diraihnya.


“Terimakasih,” ucapnya sambil memakainya. Kemudian dia melihat pada dirinya. Diapun tertawa.


“Kenapa?” tanya Sean.


“Bajumu sangat besar, tanganku tidak kelihatan,” ucap Lorena sambil memperlihatkan kedua tangannya yang menghilang di dalam lengan blaxer itu.


“Iya itu memang ukuran besar, biasanya kupakai kalau cuaca sangat dingin,” ucap Sean, menatap gadis itu, senang rasanya gadis itu memakai bajunya, meskipun kebesaran tapi gadis itu terlihat selalu cantik dimatanya.


Si penjual jagung menyalakan pembakaran jagung.


“Kau mau rasa apa? Ada macam-macam rasa,” tanya Lorena pada Sean.


“Asal jangan pedas,” ucap Sean.


“Aku sudah menebaknya,” jawab Lorena.


“Kau tau?” tanya Sean.


“Tentu saja aku masih ingat kau kepedasan makan seafood itu,” jawab Lorena sambil tertawa, Sean jadi tersenyum, ternyata Lorena masih ingat kejadian itu.


“Silahkan diminum tehnya masih panas,” kata seorang wanita yang baru datang sepertinya istri dari penjual jagung yang sedang membakar jagung itu.


“Ya terimakasih,” ucap Lorena, tapi mereka masih berdiri saja didepan warung itu, dekat perapian terasa lebih hangat.


“Kalian baru menikah?” tanya si ibu warung itu.


Membuat Sean dan Lorena terkejut.


“Kita belum menikah,”jawab Lorena, setelah bicara seperti itu dia terkejut seharusnya tadi bilang kami cuma teman bukan belum menikah, kalau belum menikah berarti akan menikah, memang dia akan menikah dengan Sean? Kan lucu kalau ikut kontes menjadi istri Presdir tapi menikahnya dengan asistennya.


Sean hanya tersenyum melihat wajah Lorena yang jadi memerah.


“Masudku kami hanya…” Lorena mau menjelaskan tapi Sean memotong.


“Aku mau minum teh nya, mumpung masih panas,” ucap Sean sambil masuk ke warung lesehan itu, dia tidak mau Lorena meralat perkataannya, dia senang dengan kata-kata belum menikah yang artinya mereka akan menikah. Seanpun duduk dibawah menghadap meja yang di atasnya sudah ada dua cangkir teh panas.


Sean menoleh kearah lembah, lalu dia memanggil Lorena.


“Kemarilah, lihat kesini,” panggil Sean.


Lorena langsung menoleh kearahnya.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Kemari!” ajak Sean lagi sambil berdiri.


Akhirnya Lorena masuk ke warung lesahan itu dan menghampri Sean.

__ADS_1


“Kau lihat?” tanya Sean.


“Lihat apa?” tanya Lorena.


“Kalau malam hari dibawah pasti akan banyak lampu-lampu, itu yang kau maksudkan?” tanya Sean.


Lorena menatap ke pemandangan di depannya itu. Ada perkampungan juga beberapa ruas jalan yang terlihat mengular.


“Kau benar,” ucap Lorena.


“Karena sekarang belum malam, tapi sebentar lagi malam pasti lampu-lampu diperkampungan itupun akan menyala semua,” ucap Sean.


Lorena hanya mengangguk. Sean menoleh kearah Lorena.


“Kau mau melihatnya?” tanya Sean.


“Tapi ini kan belum malam,” jawab Lorena.


“Satu dua jam lagi malam,” jawab Sean.


Lorena menoleh kearah Sean yang ternyata sedang menatapnya. Apa perasannya saja, kalau pria itu sering diam-diam menatapnya sekarang.


“Kau tidak keberatan menungu malam disini?” tanya Lorena.


“Tentu saja, tidak apa-apa,” kata Sean.


“Itu kan lama,” ucap Lorena.


“Kalau bersamamu tidak akan terasa lama,” jawab Sean membuat Lorena tertawa.


“Belakangan ini kau sangat aneh,” ucap Lorena sambil duduk menghadap teh panasnya. Sean jadi mengikuti duduk di bawah tapi bukan disebrangnya Lorena, tapi disikunya Lorena membelakangi pemandangan lembah itu.


“Aku aneh?”tanya Sean.


“Iya,” jawab Lorena sambil meraih cangkir nya, dia pun meniup teh yang masih panas itu lalu diminumnya sedikit. Seanpun mengikutinya.


“Kau pernah makan disini?” tanya Lorena. Sean menggeleng.


“Kalau kau?” tanya Sean.


“Tidak juga, hanya lewat lewat saja,” jawab Lorena.


Si Bapak penjual jagung bakar membawakan beberapa jagung yang sudah dibakar. Harumnya sangat membuat perut lapar.


“Wah pasti enak sekali,” ucap Lorena, dia langsung mengambil satu dan langsung ditiup-tiupnya, dicubitnya satu biji dan mencoba dimakannya.


Sean menatap jagung yang bertumpuk di atas piring itu. Lalu dia menoleh pada Lorena yang makan satu biji jagung itu.


“Bagaimana rasanya?” tanya Sean.


“Enak, kau tidak pernah makan jagung bakar?” tanya Lorena.


“Kadang ada di restauran juga tapi jarang,” jawab Sean, diapun mengambil satu. Dia menatap jagung itu. Dia tidak pernah makan di warung pinggiran seperti ini, jadi dia ragu-ragu untuk memakannya.


“Makanlah, rasanya sangat enak,” ucap Lorena, sambil mengunyah jagung itu


Akhirnya Sean mencoba memakannya sedikit, dirasakannya ternyata sangat enak, tidak kalah dengan menu menu direstoran, malah ini rasanya sangat alami, jagungnya terasa sangat manis, semanis gadis yang makan jagung disampingnya. Diapun langsung memakan jagung itu.


“Kenapa?” tanya Sean, karena Lorena bersikap seperti itu.


“Ternyata kau lebih lapar dari aku,” jawab Lorena sambil tertawa.


Sean melihat kearah jagung yang dipegangnya, benar ternyata jagungnya sudah habis, diapun tersenyum.  Ternyata jajan di warung pinggiran seperti ini juga enak, meskipun tempatnya dibangun seadanya dipinggir jurang lagi. Bagaimana kalau tiba-tiba longsor? Fikir Sean.


“Sean!” panggil Lorena.


“Apa?” tanya Sean, sambil menyimpan batang jagung yang habis itu. Diapun kembali minum teh panasnya yang sekarang mulai dingin karena cuaca sangat dingin dan masih gerimis.


“Katakan padaku siapa kau sebenarnya?” tanya Lorena. Sean langsung saja batuk batuk.


“Kau kenapa?” tanya Lorena, sambil menepuk bahunya Sean.


“Aku hanya tersedak saja,” jawab Sean. Lorena  buru-buur meberikan minumnya Sean. Lorena merasa curiga Sean suka tersedak begitu biasanya karena ada sesuatu.


“Kau kaget dengan pertanyaanku?” tanya Lorena.


Kini Sean menatap Lorena, dia menimbang nimbang apakah dia harus jujur atau jangan, tapi.. dia harus menjawab apa?


“Biar aku tebak,” ucap Lorena.


“Apa?” tanya Sean.


“Kau punya usaha sampingan selain jadi asistennya Sam,” kata Lorena.


Sean langsung bernafas lega, dia fikir Lorena curiga kalau dia Presdirnya.


“Iya kau benar,” jawab Sean.


Lorena menatap Sean.


“Aku lihat ibumu sangat kaya, kenapa kau bekerja sebagai asistennya Sam? Kau kan bisa mebuat usaha sendiri,” kata Lorena.


Ternyata Lorena masih menganggapnya asistennya Sam.


“Mm aku hanya tidak pede saja, aku lebih baik jadi asisten saja, sambil belajar,” jawab Sean.


“Belajar? Belajar apa?”tanya Lorena sambil menatap Sean, telapak tangannya menopang dagu dan sikunya menyentuh meja.


“Ya belajar bisnis dari bawah,” kata Sean.


“Begitu ya?”


“Iya.” Sean mengangguk.


“Tapi usiamu sudah cukup untuk punya usaha sendiri, sudah usia menikah, iya kan?” kata Lorena sambil tertawa.


Perkataan Lorena mengingatkan Sean tentang rencana awal kontes itu.


“Kau benar, seharusnya aku sudah memikirkan pernikahan sekarang,” ucap Sean.


“Oh iya kau juga sedang mencari calon kan, bagaimana kau sudah menemukan calon istrimu itu?” tanya Lorena.

__ADS_1


Ditanya begitu Sean menjadi bingung menjawabnya. Disebut sudah tapi belum disebut belum tapi sudah.


“Kau kenapa? Seperti bingung begitu? Jangan khawatir, kau kan tampan, aku yakin kau pasti akan segera mendapatkan wanita itu,” kata Lorena.


 “Apa benar aku tampan?” tanya Sean, hatinya senang dipuji oleh Lorena.


“Iya, kau akan dengan mudah mendapatkan seorang gadis, bukankah pacarmu banyak, kau tinggal pilih salah satu beres, kau tinggal menikah,” kata Lorena.


“Tidak segampang itu,” ucap Sean.


“Ah aku tidak mengerti.  Coba kau lihat Presdir  Samuel. Sebenarnya buat apa dia mengadakan kontes-kontes segala? Tanpa kontespun wanita-wanita itu akan bersedia menikah dengannya,” kata Lorena.


Sean diam lagi. Presdir yang kau bicarakan itu aku, Lorena, batinnya.


“Memangnya kau mau menikah dengan Sam?” tanya Sean.


“Ya tidak tahu juga sih,” jawab Lorena.


“Nah itu, katamu gampang, berarti tidak gampang kan,” ucap Sean.


“Iya sih, mungkin Presdir Samuel sangat sibuk jadi dia tidak sempat pacaran,” ucap Lorena.


Sean pun kembali diam. Benar yang dikatakan Lorena dia sangat sibuk sekarang, bahkan Pak Deni dan karyawan karyawannya sampai sampai harus mengikutinya segala demi pekerjaan.


“Sean,” panggil Lorena, dia masih menopang dagunya dengan tangan kanannya dan siku diatas meja.


“Apa?” tanya Sean, menatap gadis itu yang sedang menatapnya.


“Kalau misalkan nanti aku lolos kontes bagaimana?” tanya Lorena.


“Kenapa kau bertanya begitu?Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Sean.


“Aku cuma bertanya saja,” jawab Lorena, lalu pandangannya beralih melihat ke lembah.


“Apa kita akan tetap menunggu sampai gelap?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Sean, dia ikut melihat ke lembah lalu menoleh ke penjual jagung bakar itu.


“Pak, kami akan lebih lama disini, tempatnya aku sewa,” kata Sean, sambil memngeluarkan uang ratusan ribu beberapa lembar.


“Apa ini cukup?” tanyanya pada penjual jagung bakar itu.


Penjual jagung itu terkejut melihat uang ditangan Sean.


“Kalau kurang aku tambah lagi,” ucap Sean, mengeluarkan lagi uangnya.


“Cukup, cukup, disewa semalaman juga boleh,” kata penjual jagung itu, sambil menerima uang itu, dia senang sekali mendapat uang sebanyak itu dalam sehari.


Lorena hanya menatap Sean. Kenapa pria itu begitu perhatian padanya? Dia rela mengeluarkan uang hanya untuk dirinya melihat lampu-lampu di lembah? Bahkan dia mau mengantarnya pulang kampung segala.


“Sean!” panggil Lorena.


“Apa?” jawab Sean sambil menoleh.


“Terimakasih kau sangat baik padaku,” ucap Lorena. Sean hanya mengangguk, dia  senang melihat gadis itu tersenyum padanya.


“Kau pulang kampung berapa hari?” tanya Sean.


“Ya sampai kontes dimulai lagi, sekitar 10 hari,” jawab Lorena.


“Apa?” Sean tersentak kaget.


“Kenapa?” tanya Lorena.


“Tidak Tidak apa-apa,” jawab Sean.


Semula jadwal dia di luar negri itu sekitar 10 hari makanya meminta Sam untuk menunda kontes 10 hari. Kalau sekarang Lorena 10 hari di kampungnya, apa yang harus di lakukannya? Apa dia harus buka kantor di kampungnya Lorena? Atau ngontrak dirumahnya Lorena? Dia tidak mungkin mengantar pulang Lorena terus balik lagi, itu sama


saja  Lorena belum tentu kembali ke ibu kota.  Bagaimana kalau dikampung ada pria yang mendekati Lorena? Ah tidak bisa! Sepertinya dia harus tetap mendampingi Lorena selama dikampungnya, harus memastikan kalau tidak ada seorang priapun yang mendekati Lorena selama di kampungnya.


Terdengar handphonenya berbunyi. Dilihatnya pesan dari Pak Deni kalau pohon yang tumbang sudah disingkirkan dan rombogan Pak Deni menanyakan posisinya dimana.


Sean mengirimkan pesan kalau dia ada di warung jagung bakar, sampai malam tiba.


Pak Deni mengerutkan dahinya.


“Kenapa Pak?” tanya karyawan lain.


“Pak Sean ada di warung jagung bakar sampai malam,” jawab Pak deni.


“Apa? Apa kita akan bermalam dimobil?” tanya karyawan lain.


“Belum tahu, tidak mungkin kita tidur dimobil di daerah yang tidak dikenal. Itu akan rawan kejahatan,” kata Pak Deni.


“Buat apa Pak Sean di warung jagung bakar sampai malam?” tanya karyawan lain.


“Aku juga tidak tahu. Pak Sean tidak pernah makan sembarangan, bisa-bisa dia sakit perut,” ucap Pak Deni


“Pak Sean benar-benar sedang jatuh cinta,Pak,” ucap karyawan lain diangguki karyawan yang ada di mobil itu.


Hari semakin gelap, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, lampu –lampu diperkampungan itu sudah mulai menyala.


Lorena dan Sean duduk berdua menghadap ke lembah.


“Ini sudah mulai gelap, lamu-lampu mulai menyala,” ucap Sean.


Lorena mengangguk, dia tersenyum melihat suasana yang mulai menghitam dan lampu-lamu mulai menyala.


Sean memperhatikan gadis disampingnya itu, ternyata membuat senang Lorena sangat mudah, gadis itu tidak menginginkan hal yang muluk muluk. Hanya melihat lampu-lampu dimalam hari dia terlihat sangat senang. Sean pun bertanya-tanya dalam hati, apakah kalau sering bersama begini Lorena akan jatuh cinta padanya?


***************


Episodenya flat ya readers,semoga tidak bosan. Tidak tahu beberapa hari ini nulis semua novel isinya pada flat semua, kaya yang kurang rasa gimana gitu…


Jangan lupa like vote dan komen


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2