
Valerie menjajari langkahnya Earlangga masuk ke supermarket itu. Dia harus berjalan cepat karena kaki pria itu langkahnya begitu lebar.
Dari saat masuk supermarket itu banyak mata yang memperhatikan mereka. Terutama pada Earlangga, kerena postur dan tampangnya tidak seperti kebanyakan orang yang datang ke supermarket itu. Pria itu lebih cocok disebut turis daripada orang pribumi.
Mata Valerie mencari-cari letak rak susu ibu hamil.
“Nah disana rak susunya,” kata Earlangga, menunjuk arah rak susu sambil berjalan kearah rak susu itu, Valerie mengikutnya. Ternyata dekat rak itu ada beberapa sales berdiri dekat rak susu menawarkan susu-susu prodak yang mereka jual dengan berbagai merk.
“Siang Pak, Bu, anda mencari susu untuk bayi berapa tahun?” tanya salah satu sales, melirik pada Earlangga.
“Bukan tahun,” jawab Earlangga.
“Berapa bulan? Bayinya tidak dibawa?” tanya sales itu.
“Bukan, bayinya belum lahir,” jawab Earlangga.
“Oh, maaaf,” kata sales itu menoleh pada Valerie.
“Hamil berapa bulan Pak?” tanya sales.
“Bukan aku yang hamil, istriku yang hamil,” jawab Earlangga, kenapa salesnya bertanya terus padanya? Wajahnya langsung ditekuk.
“Maksud saya istrinya hamil berapa bulan?” ralat sales itu sambil tertawa, ternyata pria tampan ini sangat sensi.
Earlangga menoleh pada Valerie.
“Kau hamil berapa bulan?” tanyanya.
“6 minggu,” jawab Valerie.
“Oh dibawah 6 bulan ya, ibu bisa menggunakan susu ibu hamil yang ini, ada berbagai rasa,” kata sales itu lalu dari mulutnya keluar jurus jurus promosinya, menjelaskan jenis-jenis rasa susu pada Valerie, bahkan minta nomor ponselnya untuk menilai kepuasan pelanggan.
Earlangga hanya memperhatikan. Sales itu bicara terus menerus tidak henti-hentinya, membuatnya merasa pusing mendengarnya.
Valerie menoleh pada Earlangga.
“Kau mau susu itu?” tanya Earlangga.
“Aku ingin susu yang tidak membuat mual,” jawab Valerie.
“Ibu boleh coba yang ini saja,” sales itu menunjukkan susu yang lainnya.
Valerie diam saja, dia belum pernah minum susu ibu hamil jadi tidak tahu rasanya.
“Kenapa?” tanya Earlangga.
“Aku tidak tahu jenis rasa apa yang tidak membuat mual,” jawab Valerie.
“Kalau begitu beli saja semua rasa, nanti dirumah dicoba satu-satu,” kata Earlangga.
“Itu kebanyakan, sangat boros,” keluh Valerie.
Earlangga menoleh pada sales itu.
__ADS_1
“Aku beli semua rasa,” kata Earlangga.
Sales itu langsung memasukkan susu itu ka dalam keranjang. Valerie menatap susu- susu itu, berapa jumalah yang harus diai bayar? Meskipun Earlangga sudah menggajinya tapi uangnya sebagian dibayarkan pada Nella bekas dia meminjam uang untuk biaya kuliahnya.
“Kau mau membeli apa lagi?” tanya Earlangga.
“Tidak ada,” jawab Valerie, sebenarnya dia lapar, tapi membeli susu beberapa dus saja sudah sangat menguras tabungannya.
“Kau serius tidak mau membeli apa-apa lagi?” tanya Earlangga.
“Tidak,” Valerie menggelengkan kepalanya.
“Kata ibu kau harus makan, jadi kau mau makan apa?” tanya Earlangga lagi.
Valerie tidak menjawab, ternyata Earlangga menawarinya karena ingat perkataan ibunya.
Akhirnya mereka pergi ke kasir tidak membeli apa-apa lagi.
Saat dikasir, Valerie membuka dompetnya dengan enggan, beberapa dus susu begitu banyak, bibirnya cemberut saja karena uangnnya akan cepat habis, Earlangga sih yang malah nyuruh membeli semuanya.
Saat Valerie mengulurkan uangnya beberapa ratus ribu, ternyata kasir sedang memberikan struk dan kembalian pada Earlangga.
“Pak,” ucap Valerie, terkejut karena Earlangga membayar belanjaannya, dai tidak tahu harus berkata apa karena pria itu yang membayarinya membali susu. Belum tangan pria itu langsung mengambil kantong belanjaan. Valerie hanya mengikutinya keluar dari antrian kasir itu.
“Pak, ini uang susunya,” kata Valerie sambil memberikan uang yang ada di tangannya.
“Kau simpan saja,” jawab Earlangga.
“Terimakasih Pak,” ucap Valerie.
“Benar tidak ada lagi yang ingin kau beli? Aku mau ke kantor. Kau pulang dengan supir,” kata Earlangga.
“Tidak ada Pak,” jawab Valerie, saat mereka menuju pintu luar, mereka berpapasan dengan seseorang.
“Hei!” sapa seseorang pada Earlangga, wajahnya langsung cerah saja melihatnya.
Earlangga menatap gadis yang menyapanya itu, tapi tidak bereaksi apa-apa, mengabaikan sapaan itu dan terus berjalan melewatinya, membuat gadis itu kesal apalagi saat melihat Valerie muncul dibelakang pria itu.
“Kau?” dia tampak terkejut dan langsung cemberut.
“Jeni!” panggil Valerie.
Yang sangat terkejut tentu saja seseorang yang bersama dengan Jeni, ibunya Jeni, Nisa. Dia menatap Earlangga mengerutkan keningnya dia merasa pernah melihatnya, tapi dia lupa lupa ingat siapa.
Earlangga merasa tidak kenal dengan gadis itu, merasa tidak perlu meladeninya, dia terus berjalan menuju mobilnya. Mata Jeni melihat kearah kemana pria itu pergi ternyata menuju sebuah mobil mewah, membuatnya semakin terpesona saja. Mobil sport mewah ada di kakaknya dan ternyata dia masih menggunakan mobil mewah lainnya, benar-benar pria yang tajir, hati Jeni semakin tertarik saja.
“Kau?” Nisa menatap Valerie.
“Nyonya!” sapa Valerie, dilihatnya Earlangga sudah berjalann duluan.
“Maaf Nyonya, permisi,” ujar Valerie lalu berjalan menyusul Earlangga.
Jeni semakin sebal saja saat Valerie menyusul Earlangga masuk ke mobil mewah itu.
__ADS_1
“Dia, Valerie? Bersama pria tampan itu, siapa? Kenapa dia bersama pria itu? Pacarnya?” tanya Nisa, kebingungan.
“Bukan pacar Bu, itu suaminya. Valerie menikah dengan pria kaya,” kata Jeni dengan ektus.
“Menikah? Dengan pria kaya?” tanya Nisa, terkejut bukan main.
“Iya, putra dari keluarga Joris,” jawab Jeni, mendengar nama itu disebut semakin membuatnya terkejut lagi.
“Kau serius? Kapan menikahnya? Kenapa aku tidak tahu?” tanya Nisa, melihat mobil yang dinaiki Valerie meninggalkan halaman parker supermarket itu.
“Tadi malam, tadi malam aku datang ke resepsinya dengan Nino itu, ternyata Valerie yang menikah dengan pengusaha kaya,” jawab Jeni.
Nisa terdiam, dia memang sudah tidak ikut acara arisan- arisan istri istri pengusaha lagi! karena suaminya meninggalkannya begitu saja dengan memberi uang yang tidak tentu.
“Keluarga Joris? Dia, dia anaknya Sean Joris?” tanya Nisa menatap jeni, pantas saja dia merasa pernah melihatnya.
“Iya, kenapa? Ibu kenal? Jangan sok kenal, infornasi ini saja tidak tahu, itu tandanya ibu sudah bukan kalangan elit lagi,” kata Jani.
“Ibu memang tidak tahu Sean menikahkan putranya, tapi ibu sangat mengenal mereka. Ternyata si bayi kaya raya itu sudah dewasa,” kata Nisa.
“Bayi kaya raya?” tanya Jeni.
“Iya,” jawab Nisa.
“Wah, pria itu sangat kaya kan Bu? Mobil sportnya yang ada sama kakak,” jawab Jeni.
“Apa? Mobil sport itu milik anaknya Sean Joris?” tanya Nisa.
“Namanya Earlangga Bu,” jawab Jeni.
Nisa terdiam mendengarnya.
“Dia sangat keren kan Bu? Tapi sayang dia sudah menikah dengan Valerie, malah aku dengar Valerie itu sudah hamil makanya mereka menikah,” kata Jeni.
“Valerie hamil? Oleh pria itu? Kau yakin dia hamil oleh pria itu?” tanya Nisa.
“Ya makanya mereka menikah juga Bu,” jawab Jeni.
“Putranya Sean itu tinggal diluar negeri, mana mungkin bisa tiba-tiba menghamili Valerie? Valerie kan tinggal bersama kita, pasti tahu kalau mereka pacaran dulu,” kata Nisa.
Jeni menatap ibunya.
“Maksud ibu Valerie tidak mungkin hamil oleh Earlangga?” tanya Jeni.
“Tentu saja tidak mungkin, mereka pasti baru bertemu, itu artinya Valerie menjebak pria itu untuk menikahinya dengan hamil oleh pria lain,” jawab Nisa.
Jenipun terdiam, apa benar begitu? Valerie memang keluar dari rumahnya belum lama ko bisa tiba-tiba menikah dengan Earlangga dan hamil anaknya? Sepertinya memang Valerie sudah menjebaknya, kasihan Earlangga.
“Ternyata kelakuan Valerie tidak sepolos yang aku kira,” ucap Jeni.
Nisa tampak terdiam, ada rasa dendam yang kembali muncul dihatinya. Hidup keluarganya hancur gara-gara Sean Joris.
“Kasihan Earlangga kalau begitu, menikahi gadis yang hamil oleh orang lain,”gumam Jeni.
__ADS_1
**********