
Beberapa bulan kemudian…
Sean merenung sendiri di ruang kerjanya, sudah berbulan-bulan tidak ada kabar tentang Lorena. Pak Tedi juga tidak bisa dimintai keterangan lagi karena dia juga tidak tahu orang-orang suruhannya menghilang ke Luar Negeri entah ke Negara mana.
Terdengar suara ketukan dipintu.
“Pak Sean!” panggil Sam diluar pintu.
“Masuk!” jawab Sean.
Sam membuka pintu lalu masuk ke ruang kerja Sean, dilihatnya Sean sedang berdiri di dekat jendela menatap keluar.
“Apa kau baik-baik saja?” terdengar suara Sam membuyarkan lamunan Sean.
Pia itu membalikkan badannya menatap Sam.
“Pak Deni tidak mendapat kabar apapun soal istriku?” tanya Sean.
“Tidak,” jawab Sam dengan lesu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh benar-benar bingung. Aku merasa kesepian lebih kesepian dari dulu,” keluh Sean.
“Aku mengerti perasaanmu,” kata Sam, sambil duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya Sean.
“Aku merasa Lorena masih hidup,” ucap Sean.
“Aku harus berusaha untuk menerima kenyataan Sean. Pak tedi tetap mengatakan kalau orang-orang suruhannya telah menghabisi Lorena,” kata Sam.
“Aku tidak mempercayainya kalau belum melihat jasadnya,” ucap Sean.
“Tapi ini sudah berbulan bulan Sean, kalau Lorena masih hidup pasti sudah pulang,” kata Sam.
Seanpun terdiam.
“Kau sudah ditunggu diruang meeting, para pengacara sudah datang,” kata Sam, kembali bangun dari duduknya.
Sean mengangguk, Sam segera keluar dari ruanagn itu diidkuti oleh Sean. Merekapun masuk ka dalam ruang meeting itu.
Tidak seperti biasanya, Ny.Grace juga sudah ada disana, biasanya Ny. Grace jarang datang ke kantornya Sean, dia lebih suka mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya di rumah. Pak Deni tampak sudah berdiri tidak jauh dari Ny.Grace. Beberapa orang sudah duduk melingkar di meja meeting itu.
Sean masuk tanpa Sam. Dia langsung duduk disamping ibunya.
“Kita akan membacakannya sekarang Nyonya?” tanya ketua tim pengacara. Seorang yang duduk disampingnya memberikan sebuah map yang langsung diberikan pada pengacara itu.
“Iya silahkan Pak Agus,” jawab Ny.Grace.
“Kami akan membacanya sekarang,” jawab Pak Agus. Diangguki Ny.Grace.
“Menindaklanjuti surat wasiat sebelumnya, penyerahan seluruh kekayaan akan diberikan pada Pak Sean diusia 30 tahun dengan persyaratan diusia tersebut Pak Sean harus sudah menikah dan memiliki keturunan,” kata Pak Agus. Semua hening mendengarkan.
“Apakah persyaratan itu sudah terlaksana?” tanya Pak Agus.
__ADS_1
“Putraku sudah menikah,” jawab Ny.Grace.
“Mana istri dan anaknya? Kami minta untuk dihadirkan disini,” kata Pak Agus.
“Itulah masalahnya, istrinya Sean sedang hamil besar dan sudah beberapa bulan lalu menghilang tanpa kabar sampai sekarang,” jawab Ny.Grace.
Sean sama sekali tidak bicara, dia tidak peduli dengan warisan itu, dia hanya teringat pada anak istrinya. Dia tidak suka dengan warisan ini, gara-gara warisan ini membuat hidupnya dan Lorena hancur.
“Menurut surat wasiat sebelumnya kalau persyaratan itu tidak terpenuhi maka pemberian warisan itu dibatalkan,” jawab Pak Agus.
Ny.Grace terdiam, dia terpaksa harus menerima semua keputusan yang ada di surat wasiat itu.
Diapun menoleh pada Sean.
“Aku tidak keberatan,” jawab Sean.
“Baiklah kalau begitu aku akan membacakan surat wasiat yang sekarang,” kata Pak Agus.
Temannya memberikan lagi berkas di map yang berbeda.
“Suratnya masih tersegel,” kata Pak Agus, memperlihatkan sebuah surat yang ada di map baru itu.
Sean duduk bersandar, dia benar-benar tidak peduli apa isi dari surat itu. Apalagi kalau surat itu akan memberatkan dirinya, dia benar-benar lebih baik tidak mendapatkan warisan itu. Bahkan kalau bisa di tawar, dia ingin meminta surat wasiat itu dihanguskan, dia hanya ingin hidup bahagia dengan istri dan anaknya.
Pak Agus membuka surat wasiat itu.
“Ini adalah surat yang terakhir,” kata Pak Agus.
Ny.Grace mengangguk dengan lesu, dia kecewa semua warisan buat Sean menjadi hangus.
“Hanya itu isinya?” tanya Ny.Grace.
“Benar!” jawab Pak Agus.
“Jadi Sean tidak akan mendapatkan warisan apapun? Dan warisan yang sudah diberikan akan diambil kembali?” tanya Ny. Grace, membuat Pak Agus mengerutkan dahinya.
“Anda dapat informasi darimana? Pak Joris tidak menuliskan akan mengambil warisan yang sudah diberikan” kata Pak Agus.
“Jadi tidak ada penarikan warisan?” tanya Ny.Grace terkejut.
“Tidak ada Nyonya,” jawab Pak Agus.
“Tapi kata Pak Tedi seperi itu,” kata Ny.Grace.
“Pak Tedi? Waktu ada Pak Tedipun kami tidak membaca ada keterangan seperti itu Nyonya. Ini hanya pemberian sisa warisan yang belum diberikan pada Pak Sean. Karena ini surat wasiat terakhir jadi seluruh warisan akan diberikan ditahun ini,” jelas Pak Agus.
Ny.Grace menoleh pada Sean, dia benar-benar kesal pada Pak Tedi yang telah membohonginya. Untung saja dia tidak menikahkan Sean dengan Nisa, bisa-bisa orang itu terus mengadalinya.
“Pak Tedi benar-benar keterlaluan!” gerutunya.
“Jadi bagaimana selanjutnya? Jadi warisan itu tidak diberikan pada Sean?” tanya Ny.Grace.
__ADS_1
“Kalau melihat dari kata-kata yang dituliskan oleh Pak Joris, cucunya tetap akan mendapatkan seluruh warisannya Nyonya,” kata Pak Agus membuat Ny.Grace terkejut.
Tidak dengan Sean dia benar-benar tidak bahagia kalaupun warisan itu seluruhnya jatuh ketangannya. Buat apa semua itu? Warisan itu sudah membuatnya terpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Sean sama sekali tidak mengucapkan kata sepatahpun.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Ny. Grace.
“Kalau Pak Sean sudah menikah dan istrinya sedang hamil, berapa bulan Nyonya?” tanya Pak Agus.
“Seharusnya sudah melahirkan beberapa bulan yang lalu,” jawab Ny. Grace.
“Berarti tidak masalah Nyonya, karena Pak Joris hanya mencantumkan menikah dan punya kerturunan saja, tidak dijelaskan apakah istrinya masih ada, statusnya masih menikah atau sudah berpisah, atau sekarang tidak ada kabar beritanya,“ ucap Pak Agus, menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan bicaranya.
“Yang jelas Pak Sean sudah menikah dan punya keturunan. Dan apakah keturunan nya ini keadaannya masih hidup atau tidak, tidak di jelaskan. Kami hanya butuh surat -surat pernikahan dan bukti waktu lahirannya saja, surat keterangannya bisa dimintakan kepada Dokter kandungan yang biasa control dan bukti-bukti yang lainnya,” kata Pak Agus.
Mendengar penjelasan pengacara, hati Ny. Grace merasa lega.
“Pak Sean, selamat, semua harta peninggalan kakek anda 100 persen jatuh ke tangan anda,” kata Pak Agus, diikuti ucapan selamat dari rekan-rekannya.
“Terima kasih,” ucap Sean.
Dia sama sekali tidak bahagia dengan semua itu, dia hanya ingin istri dan anaknya kembali meskipun dia tidak mendapatkan seluruh warisanpun. Apa yang dimilkinya sudah cukup untuk hidupnya dengan keluarga kecilnya, dia tidak ingin warisan lagi.
“Sayang, warisan jatuh ke tanganmu,” kata Ny. Grace.
“Mungkin satu lagi Nyonya yang perlu diingatkan,” ucap Pak Agus.
“Apa itu?” tanya Ny.Grace.
“Pak Joris hanya meminta supaya melihat makamnya saja,” jawab Pak Agus.
“Baiklah,” jawab Ny.Grace kembali menoleh pada Sean yang tidak bicara sepatah katapun.
“Untuk rincian berkas surat-surat, obligasi, saham, property dan sebagainya akan disiapkan Tim, “ kata Pak Agus.
“Baiklah,” jawab Ny.Grace.
Setelah membacakan apa-apa saja harta kekayan yang akan diberikan pada Sean juga Sean menandatangani beberapa berkas yang dibawa pengacara, para pengacara itupun meninggalkan ruang meeting itu.
Ny.Grace menoleh pada Sean.
“Kau mendapat semua warisan itu, Sean,” kaya Ny, Grace sambil tersenyum.
“Aku hanya ingin istri dan anakku kembali,” ucap Sean sambil beranjak meniggalkan Ny.Grace yang hanya bisa diam mendengarnya.
Sean berjalan keluar dari ruang meeting itu akan kembali keruangannya, dilihatnya sekretarisnya itu sedang makan sesuatu. Bu Devi terkejut saat Sean melewatinya, dia buru-buru menghentikan makannya.
“Maaf Pak, saya makan dikantor! Sudah jam makan siang,” kata Bu Devi, dia merapihkan makanan dimejanya.
Sean melihat pada sebuah makuk bening yang ada di depan Bu Devi, yang langsung cengengesan dan menutupnya dengan penutup wadah bening itu.
“Ini Es kelapa si cantik Pak, saya penasaran saja dengan rasanya. Es kelapa ini sedang viral, jadi saya ingin buru-buru mencobanya. Katanya sudah ada counternya di ibu kota. Kalau Bapak mau kapan-kapan kita kesana,” kata Bu Devi.
__ADS_1
Sean hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi ke ruangannya. Bu Devi hanya menatapnya, dia merasa sedih sejak kehilangan istrinya yang sedang hamil, atasannya sekarang sudah jarang sekali bicara.
**************