
Ny. Grace sedang ada di ruang kerjanya saat ponselnya berbunyi.
“Halo!” sapa Ny. Grace.
“Nyonya, saya mau melaporkan hasil penyelidikan,” lapor informan yang sudah ditugaskan Ny. Grace, beberapa hari yang lalu.
“Bagaimana hasilnya? Kau bekerja sangat lambat,” keluh Ny.Grace.
“Maaf Nyonya, karena saya kesulitan mendapatkan informasi,” jawab informan itu.
“Sudah katakan saja hasilnya apa?” tanya Ny.Grace.
“Saya sudah mengerahkan orang-orang saya untuk menyelidiki dari saat Pak Earlangga tiba ke ibukota. Ada suatu kejadian Nyonya,” jawab informan itu.
“Kejadian? Maksudmu kejadian apa?” tanya Ny. Grace.
“Lebih tepatnya keributan Nyonya,” jawab informan.
“Kau sangat bertele-tele,” keluh Ny. Grace.
“Ada keributan di sebuah club malam Nyonya,” jawab informan itu.
“Tunggu! Jelaskan sejelas-jelasnya,” kata Ny.Grace tidak mengerti.
“Dihari kedatangan Pak Earlangga ke ibukota bersama temannya, mereka terlibat keributan dengan pria-pria disebuah club malam,” jawab informan itu.
Ny.Grace terdiam. Dia ingat saat Earlangga baru datang itu dia bersama teman bulenya itu mengatakan kalau mereka dikerjai preman-preman disebuah café dan mobil sport Earlangga juga diambil preman-preman, bahkan Earlangga sampai pulang pagi waktu itu. Tunggu! Pulang pagi!
“Tunggu! Hubungannya dengan bayi yang dikandung Valerie itu apa? Aku menyuruh kalian menyelidiki siapa ayah bayi itu, bukan menyelidiki cucuku!” kata Ny, Grace.
”Justru semua itu ada kaitannya Nyonya,” jawab informan.
“Teruskan!” perintah Ny.Grace, tidak sabar.
“Ada yang melihat Pak Earlangga bermalam dengan seorang wanita yang pingsan entah karena mabuk atau apa. Kalau dari ciri-cirinya, sebenarnya belum jelas apa wanita itu istri Pak Earlangga yang sekarang atau gadis yang lain. Tapi ada kemungkinan bayinya memang bayinya Pak Earlangga,” jawab informan itu.
“Kau ini bagaimana, belum jelas istri Earlangga tapi kemungkinan bayinya, yang benar kalau memberi informasi! Membingungkan!” maki Ny. Grace.
“Karena dari hasil penyelidikan istri Pak Earlangga tidak memiliki pacar, Nyonya,” jawab informan.
“Apa kau tidak bisa memastikan siapa gadis yang bersama Earlangga itu?” tanya Ny.Grace.
“Kalau dari ciri-ciri mengarah pada istri Pak Earlangga, tapi karena cahaya temaran tidak begitu jelas wajahnya, hanya ciri-ciri rambutnya sama,” jawab informan.
“Kalau rambut sih pasti banyak yang sama,” kata Ny. Grace.
“Apalagi Earlangga baru pulang ke negri ini, dia tidak ada teman wanita disini,” lanjut Ny.Grace.
“Ada saksi?” tanya Ny. Grace, memastikan.
“Pak Earlangga menanyakan arah jalan pulang pada seorang bodyguard club malam. Waktu itu Pak Earlangga membawa gadis yang tidak sadarkan diri dengan ciri-ciri model rambut seperti istri Pak Earlangga, juga bertubuh langsing,” jawab informan.
__ADS_1
“Earlangga mabuk?” tanya Ny.Grace.
“Iya Nyonya, Pak Earlangga dan temannya bertaruh minuman dengan beberapa pemuda di club,” jawab informan itu.
“Jadi Earlangga mabuk membawa gadis yang tidak sadarkan diri, bermalam disana?” Ny. Grace memastikan lagi.
“Benar begitu Nyonya,”jawab informan.
“Ciri-ciri wanita itu memiliki rambut panjang seperti Valerie?” tanya Ny.Grace lagi.
“Benar nyonya, juga bertubuh langsing, hanya wajahnya tidak jelas karena wajahnya tertutup rambut dan cahaya juga temaram,” jawab informan.
Ny.Grace terdiam. Kalau Earlangga bermalam dengan Valerie, kenapa mereka tidak saling kenal? Meskipun mabuk pasti Earlangga mengingat sesuatu juga Valerie.
“Ada yang melihat mereka pulang bersama?” tanya Ny.Grace.
“Tidak Nyonya! Kata satpam, Pak Earlangga pulang bersama temannya tanpa membawa wanita, mereka hanya bertiga naik taxi,” jawab informan
Ny. Grace terdiam, kalau mereka saling kenal, tentu saja kejadiannya tidak akan seperti ini. Atau bisa jadi Valerie sadarkan diri dan mengenal Earlangga atau sebaliknya tapi mereka pura-pura tidak mengenal? Sangat membingungkan.
“Ada yang ain?” tanya Ny.Grace.
“Untuk istrinya Pak Earlangga tidak ada catatan punya pacar siapapun dalam waktu dekat ini. Hanya kejadian di club itu,” jawab informan.
“Meskipun begitu kalau tidak melihat wajahnya dengan jelas wanita itu Valerie atau bukan tetap harus dipastikan, kalau cuma dari rambut dan tubuh langsing, banyak yang memiliki ciri seperti itu,” kata Ny. Grace.
“Kau yakin Valerie tidak punya pacar?” tanya Ny. Grace, kemudian.
“Ya, Nyonya, karena dia sibuk merawat seorang yang lumpuh dan struk Nyonya,” jawab informan.
“Baik Nyonya, saya akan melanjutkan penyelidikan,” kata informan itu, telponpun ditutup.
Ny, Grace bersandar disandaran kursi kerjanya itu, membuat kursi itu begerak beberapa kali. Dia masih mencerna infromasi dari orang suruhannya. Jadi ada kemungkinan bayi Valerie adalah bayi Earlangga tanpa mereka ketahui. Sungguh luar biasa, tanpa mengenal bisa dipersatukan dalam pernikahan.
Jadi ini masalahnya, Earlangga mabuk tidak menyadari berhubungan dengan gadis yang tidak sadarkan diri itu. Kalau Earlangga pulang sendiri, bisa jadi gadis itu mengenalnya, tapi kenapa Valerie juga menyangkal itu bayi Earlangga? Kalau dia mau menjebak Earlangga seharusnya dia mengaku ngaku bukan malah menolak. Jadi dia juga tidak tahu pasti itu bayi Earlangga atau bukan. Baguslah, itu akan memudahkan mereka bercerai.
Tapi bagaimana jika benar gadis yang bersama Earlangga iu adalah Valerie? Itu artinya bayi yang dikandung Valerie itu adalah bayi Earlangga. Bagaimana kalau itu benar bayi Earlangga? Apakah dia harus mengakui bayi itu?
Tentu saja tidak, Earlangga sangat tidak pantas beristrikan Valerie. Masih banyak gadis yang lain yang sesuai. Ini hanyalah sebuah kesalahan, tidak seharusnya Earlangga memperpajang pernikahannya. Earlangga butuh seseorang yang sesuai yang akan mendampinginya, tidak sekedar dengan gadis yang bisa memberinya anak.
Ny.Grace menghela nafas panjang. Dia sangat tidak suka Earlangga hanya menikahi seorang perawat pribadinya. Apalagi mereka tidak saling cinta, tidak seharusnya mereka bersama. Earlangga tidak boleh sampai jatuh cinta pada Valerie.
******
Di rumah Brian…
Terdengar suara ketukan dipintu saat Brian sedang ada diruang kerjanya.
“Masuk!” jawab Brian.
Pintupun terbuka, ternyata Jeni yang masuk.
__ADS_1
“Ayah ada yang ingin aku bicarakan,” kata Jeni
“Soal apa?” tanya Brian menatap putrinya.
“Kapan ayah punya acara dengan rekan-rekan bisnis ayah?” Jeni balik bertanya sambil duduk dikursi disebrang ayahnya.
“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Brian menatap Jeni.
“Aku ingin berkenalan dengan pria tampan yang tajir, super tajir yang melebihi suaminya bekas perawat kakek,” jawab Jeni.
“Apa? Ha ha ha…” Brian malah tertawa.
“Aku serius, aku ingin menikah dengan pria tampan yang tajir, yang melebihi Earlangga,” jawab Jeni.
“Earlangga? Keluarga Joris? Kau mengenalnya?” tanya Brian.
“Dia suaminya Valerie, bekas perawat dirumah. Gengsi dong masa aku kalah oleh perawat?” jawab Jeni.
”Tapi kalau kau mencari pria muda tampan yang lebih kaya dari Earlangga, itu tidak ada,” jawab Brian.
“Maksud ayah?” tanya Jeni.
“Earlangga itu sangat kaya, dia mewarisi kekayaan kakek buyutnya, dia cicit satu-satunya. Sampai ada tim khusus pengacara yang mengatur peralihan warisan pada ayahnya dulu, termasuk kakekmu itu. Dan seluruh warisannya jatuh pada cicitnya,” jawab Brian.
“Pantas ibu menyebutnya bayi kaya,” kata Jeni.
“Iya, karena warisan turun bersamaan dengan kelahirannya,” ujar Brian.
“Jadi Earlangga pria muda tampan yang paling kaya?” tanya Jeni dengan kecewa.
“Ya ada yang lain juga, tapi kalau yang kau sebutkan itu, Earlangga itu paling tampan, dia blasteran dari Inggris, Belanda dan Perancis,” jawab Brian.
“Pantesan dia lebih mirip turis, teman-temannya juga waktu itu berkulit putih,” ujar Jeni.
“Nanti malam ayah diundang oleh rekan bisnis yang mengadakan tunangan putranya, kau ikut saja kau bisa berkenalan dengan pria-pria kaya disana,” kata Brian,membuat Jeni sumringah.
“Tentu saja aku ikut!” serunya.
“Ya sudah kau bersiap-siap nanti malam,”ujar Brian.
“Kalau begitu aku minta uang,” kata Jeni.
“Uang? Buat apa?” tanya Brian.
“Aku butuh modal, aku perlu ke salon,membeli gaun dan sepatu. Ayah harus ingat jangan cuma memberikan uang pada pacar-pacar ayah saja, ini putrimu juga ingin tampil cantik, tidak malu apa dikatai orang nanti kalau anaknya tidak cantik?” kata Jeni.
“Ya ya aku akan memberimu uang,” ucap Brian, dia mengeluarkan kartu dari dompetnya, tapi tiba-tiba Jeni mengambilnya.
“Hai jangan diambil!” teriak Brian.
“Ah pada anak sendiri saja pelit,” gerutu Jeni, lalu keluar dari ruangannya dengan membawa kartu itu.
__ADS_1
Brian merasa kesal, tapi ternyata dia tidak bisa marah, kalau putrinya bisa mendapatkan pria kaya juga itu akan bagus untuk bisnisnya.
************