
Darren beberapa saat tertegun menatap Valerie. Wanita itu sudah bertahun-tahun tinggal serumah dengannya, dia sama sekali tidak pernah peduli dengan kehadiran wanita itu saat dirumahnya.
Dia hanya mengenal wanita itu berseragam putih putih merawat ayahnya, bahkan mereka tidak pernah bercengkrama atau bicara sekedar basa basi karena memang dia juga jarang ada di rumah.
“Kau kenapa?” tanya Valerie, melihat sikap Darren yang hanya menatapnya, lalu pandangan Valerie melihat pada baju yang dipakainya.
“Bajunya memang tidak cukup, ini bukan baju hamil,” ucap Valerie.
“Tapi itu lebih baik daripada baju rumah sakit itu,” kata Darren.
“Ya, hanya perutku terasa sedikit pengap,” jawab Valerie.
“Tidak usah cerewet, itu baju satu-satunya disini, nanti kalau ada waktu aku belikan baju,” ucap Darren, lalu mundur dan menutup pintu itu kembali.
Valerie melihat pada bajunya lagi lalu berjalan menuju pintu dan mencoba membuka pintu, dia terkejut saat pintu itu ternyata terkunci.
Dicobanya ditarik pintu itu berkali-kali.
“Darren! Darren! Aku tidak mau terkunci disini!” teriak Valerie, sambil berusaha membuka pintu itu, tapi tidak ada suara sahutan dari luar.
“Kemana dia?” batin Valerie. Tiba-tiba terdengar suara mobil menyala dan meninggalkan rumah itu. Apakah Darren pergi? Inilah saatnya dia kabur.
Tapi saat melihat jendela yang berteralis, harapannya untuk kaburpun sirna, dia tidak bisa kemana-mana. Valeripun kembali duduk ditempat tidur dengan gelisah, sambil mengusap perutnya.
“Sayang, semoga ayahmu cepat membebaskan kita, Ibu tidak mau kita tinggal bersama pria itu,” gumamnya.
Kepalanya teringat pada Earlangga, pria itu pasti sedang mencemaskannya sekarang. Dia bisa melihat sorot mata yang khawatir saat Earlangga melihatnya dibawa oleh Darren.
“Apa kau sedang mencemaskaku?”gumamnya.
Apa yang dibayangkan Valerie tidak salah, Earlangga sangat cemas dikamarnya. Berjalan mondar-mandir dengan bingung. Kemana dia harus menyusul Valerie? Neneknya saja tidak tahu Darren membawanya kemana. Kalau kerumahnya Jeni, rasa-rasanya tidak mungkin, pasti Darren sudah menebak dia pasti akan mencarinya kesana.
Terdengar suara ketukan dipintu.
“Masuk,” ucapnya.
Lorena mendorong pintu kamar putranya saat mendengar suara Earlangga.
“Bu!” putranya itu langsung menatapnya.
“Sudah ada kabar Valerie?” tanya Lorena.
“Belum Bu, aku bingung harus mencarinya kemana? Tapi aku sudah menyuruh orang untuk menanyai keberadaannya, ” jawab Earlangga.
“Kau sudah mencari ke rumahnya?” tanya Lorena.
“Dia tidak mungkin dibawa kerumah, karena polisi juga sedang mengejarnya. Aku takut Valerie dibawa pergi jauh karena untuk menghindari polisi,” jawab Ealrangga.
“Kau harus sabar dan harus yakin kalau Valerie akan ditemukan,” jawab Lorena.
“Valerie dan bayiku,” ucap Ealrangga.
“Bayimu? Sekarang kau yakin bayi itu bayimu?” tanya Lorena.
__ADS_1
“Valerie yang mengatakannya, karena dia hamil oleh pria yang menodaianya di club, dan pria itu kemungkinan aku karena Valerie sebenarnya sudah mengenaliku sejak awal,” jawab Earlangga membuat Lorena terkejut.
“Benar begitu?” tanya Lorena, yang diangguki Earlangga.
Lorenapun terdiam, tiba-tiba saja dia merasa khawatir, khawatir pada Valerie dan bayinya. Bagaimana jika pria itu kabur dari kejaran polisi dalam waktu lama? Valeria akan melahirkan dimana? Keringat dingin langsung saja muncul di keningnya, wajahnya langsung berubah pucat, dia tidak mau Valerie mengalami hal yang sama dengan yang pernah dia alami, melahirkan tanpa kehadiran suami disisinya, bahkan jauh dari rumah keluarga suaminya.
“Ibu kenapa?” tanya Earlangga.
“Tidak apa-paa, Ibu akan kembali ke kamar, hari juga sudah malam, cepatlah istirahat,” jawab Lorena, sambil mengusap lengannya Earlangga. Ditatapnya putra tampannya itu. Kalau melihatnya seperti ini, rasanya dia tidak menyangka bayi itu akan tumbuh dengan sehat dan sudah dewasa sekarang bahkan akan memberinya cucu.
Tidak berapa lama Lorenapun keluar dari kamar Earlangga dan kembali ke kamarnya, ternyata suaminya sudah ada diatas tempat tidur, duduk berselonjor dengan ponsel ditangannya, dia sedang menelpon seseorang.
“Sayang, kau sudah darimana?” tanya Sean.
“Aku menemui Earlangga, katanya belum ada kabar dimana Valerie sekarang,” jawab Lorena.
“Aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya,” jawab Sean, sambil menatap istrinya yang tampak memerah mukanya.
“Kau kenapa?” tanya Sean.
Lorena menatap suaminya.
“Aku merasa cemas saja, pria yang membawa Valerie itu sedang diburu polisi! Bagaimana kalau pria itu membawa Valerie jauh dalam waktu yang lama?” tanya Lorena.
“Semoga saja pria itu bisa ditemukan secepatnya,” jawab Sean, mencoba menghibur istrinya, tapi Lorena masih terlihat akan menangis.
“Kau kenapa lagi?” tanya Sean, menyimpan poselnya, merubah posisi duduknya.
“Maksudmu apa?” tanya Sean, tidak mengerti.
“Melahirkan tanpa kehadiran suami disisinya,” jawab Lorena.
Mendengar jawaban Lorena barulah Sean mengerti kenapa istrinya besikap begitu. Diapun mengulurkan tangannya, meminta Lorena mendekat.
Lorenapun melangkah mendekati Sean. Tangan pria itu langsung meraih tangannya supaya duduk didekatnya lalu dipeluknya erat.
“Kalau polisi cepat menemukan mereka, hal itu tidak akan terjadi,” kata Sean, sambil mencium pipi Lorena dengan penuh kasih sayang, mencoba menenangkannya.
“Aku hanya merasa khawatir saja, nasibnya akan sama denganku. Aku heran, kenapa Ibu begitu tega memisahkan Valerie dari Earlangga? Apa ibu tidak punya hati? Ibu juga seorang Ibu kan?” keluh Lorena.
Sean mempererat pelukannya, supaya Lorena bersandar kedadanya.
“Iya terkadang ibu bertindak berlebihan,” gumam Sean.
“Bukan terkadang, tapi selalu berlebihan, ibu seringkali memaksakan kehendaknya,” kata Lorena.
Seanpun mengangguk, memang tidak bisa dipungkiri ibunya selalu bersikap otoriter.
Lorena mengangkat wajahnya menatap suaminya, begitu juga dengan Sean menunduk menatap istrinya.
“Terkadang aku fikir Earlangga malah lebih baik tinggal di London. Dia pernah mengalami masa kecil yang buruk, dia juga terpaksa tingagal di London, sekarang sudah pulang, masih saja harus dipisahkan dari anak dan istrinya,” ucap Lorena.
“Aku juga tidak setuju dengan sikap ibu,” ucap Sean.
__ADS_1
“Ibu tidak menyayangi Earlangga. Pantas saja kalau Earlangga selalu ingin kembali ke London,” ucap Lorena.
“Tidak begitu sayang. Aku yakin ibuku sayang pada Earlangga hanya caranya saja yang salah. Masa ibu tidak sayang pada cucunya?” kata Sean.
Tiba-tiba Lorena teringat sesuatu, dia kembali menatap wajah Sean.
“Sayang, apa mungkin Ibu tahu kalau bayi itu bayinya Earlangga jadi berusaha memisahkan Valerie dengan Earlangga? Karena tidak mau Earlangga terikat selamanya dengan Valerie?” tanya Lorena, membuat Sean terkejut.
“Maksudmu ibu sudah tahu lebih dulu kalau bayi itu memang bayinya Earlangga?” tanya Sean.
“Tadi Earlangga bilang kalau ada kemungkinan bayi itu memang bayinya. Dia sudah bicara dengan Valerie soal kejadian di club itu dan Valerie mengiyakan kalau dia sebenarnya mengenali pria yang menodainya itu,” jawab Lorena.
Sean tampak terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu menahu soal kejadian itu.
“Kenapa Earlangga melakukan hal itu? Jadi dia menikahi wanita yang dinodainya di club?” Sean mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Iya,” jawab Lorena mengangguk.
“Untung saja mereka saling menyukai, kalau tidak, semua akan semakin rumit,” ucap Lorena.
“Sebaiknya kita istirahat, ponselnya aku aktifkan menunggu kabar pencarian Valerie,” ucap Sean, kembali memcium pipi istrinya.
“Iya,” ucap Lorena menganggukkan kepalanya.
********
Di Villa yang ditempati Darren dan Valerie…
Hari sudah gelap, Valerie tahu dari luar rumah yang gelap tanpa ada lampu yang menyala, hanya lampu kamarnya saja, itupun dia yang menyalakannya. Sudah cukup lama Darren mengurungnya dikamar itu, entah kemana Darren, apakah dia meninggalkannya atau akan kembali lagi? Bagaimana kalau pria itu meninggalkannya disana sendirian tanpa ada yang mengetahuinya?
Sedang sibuk dengan fikirannya, terdengar suara pintu kamar ada yang membuka. Valerie langsung bangun dari duduknya. Pintu itupun terbuka. Dilihatnya Darren sudah berdiri dipintu itu dengan membawa kantong-kantong ditangannya.
“Kau kemana saja?” tanya Valerie.
Darren tidak menjawab, dia berjalan mendekat lalu melempar kantong -kantong itu keatas tempat tidur.
“Apa ini?” tanya Valerie.
“Pakaianmu,” jawab Darren.
Valerie menatap kantong-kantong itu.
“Begitu banyak?” tanya Valerie.
“Iya, karena kita akan lama tinggal disini sampai kau melahirkan,” jawab Darren.
“Apa?” Valerie sangat terkejut mendengar pernyataan Darren.
*************
Readers maaf ya, aku baru bisa nulisnya sedikit-sedikit.
**************
__ADS_1