
Sebenarnya Darren merasa tidak tega melihat Valerie menangis seperti itu. Tapi dia juga harus memastikan supaya semua berjalan lancar, dia tidak mau kalau Valerie ternyata kabur dan kembali pada Earlangga.
“Darren, tolong aku ingin memeluk bayiku,” ucap Valerie, menatap Darren dengan matanya yang mulai bengkak, dia sungguh-sungguh putus asa.
Darren memanggil seseorang yang segera menghampiri.
“Bawakan surat kuasa dari pengacara dibawah juga balpointnya,” kata Darren.
Orang itupun pergi dan tidak berapa lama datang lagi dengan selemar kertas dan bolpointnya.
Darren mengulurkan kertas itu. Valerie menatapnya.
“Setelah kau menandatangani, pengacara akan mengurus perceraianmu,” ucap Darren.
Tangan Velerie menerima kertas itu, dia merasa berat menandatanganinya, tapi itu jalan yang terbaik untuk bayinya. Dia tidak mau bayinya diasuh orang lain. lalu dia menoleh kearah Jendela, melihat bayinya, dia begitu rindu ingin memeluknya.
Darren hanya diam saja memperhatikannya. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa setega itu, kenapa dia mau melakukan semua ini hanya demi mendapatkan Valerie yang dulu sama sekali tidak menarik buatnya.
Valerie melihat lagi kertas itu, dia sudah meninggalkan Ealangga. Dia sudah memilih bersama bayinya, maka diapun harus menerima perpisahan ini. Tangan Valerie mulai menandatangani surat kuasa itu.
Ditatapnya lagi kertas itu yang kini sudah ditandatanganinya. Lau diberikan pada Darren.
Darren memberikannya lagi pada orang yang tadi, yang segera pergi dari sana.
“Apa sekarang aku bisa bertemu bayiku?” tanya Valerie.
Darren mundur mendekati pintu yang dibelakangnya, diapun mengeluarkan kuncinya dan membuka pitunya.
Valerie langsung saja menerobos masuk sampai mendobrakkan pintu itu, saking tidak sabarnya ingin memeluk bayinya.
“Bayiku!” ucapnya sambil mendekati Surti, tangannya mengulurkan menggendongnya tapi Surti melangkah mundur dan menatap Darren.
“Berikan,” ucap Darren.
Surti melangkah maju dan menyodorkan bayi itu pada Valerie yang segera menggendongnya.
“Bayiku..kau bayiku?” ucapnya dengan bibir bergetar dan linangan airmata yang menggenang di kedua bola matanyya.
“Sayang,” ucapnya, menyentuh jari bayi itu yang menggapai-gapainya.
Valerie mendekatkan wajahnya ke jari-jari mungil itu supaya jika itu bisa menyentuh wajahnya. Lalu diciumnya jari-jari itu. Bayi itu menatapnya..sungguh bahagianya bisa melihat bola mata indah bayinya.
“Sayang, ini ibu,” ucapnya, kini tangannya menyetuh pipi putih Aldric.
Lalu diciumnya pipi bayinya dengan penuh haru.
“Kau senang bertemu ibu, Nak?” tanyanya kembali mencium bayi mungil itu.
Darren menatap pertemuan ibu dan akan itu. Tiba-tiba di sudut ruangan ada yang terisak, membuat Darren menoleh ternyata Surti sedang menangis.
“Kau pergi!” usir Darren. Surti langsung mengangguk dan keluar dari kamar itu sambil menghapus airmatanya.
Darren mendakati Valerie yang sedang duduk dipinggit tempat tidur dewasa sambil terus menciumi bayinya dan mengajaknya bicara.
__ADS_1
“Seharusnya kau berterimakasih padaku,” ucap Darren, membuat Valerie menengadah menatapnya.
“Aku sudah mengambil Aldric dari Ny.Grace, kalau tidak, mungkin selamanya kau tidak akan bertemu dengan bayimu,” kata Darren.
“Tapi kau memisahkanku dengan Earlangga,” ujar Valerie.
“Daripada kau harus keluar dari rumah itu meninggalkan Earlangga tanpa bertemu bayimu juga, lebih baik kau menikah denganku,” kata Darren.
Valerie tidak menjawab, dia memang tidak tahu kalau Darren tidak mengambil bayinya dari Ny.Grace apakah dia akan bertemu putranya lagi atau tidak. Sekarang saja Ny.Grace berusaha menjodohkan Earlangga dengan Jeni.
Valerie kembali melihat bayinya dan menciumnya lagi, hatinya sangat bahagia bisa bertemu, melihat, memeluk dan mencium bayinya.
“Kau boleh tinggal disini dengan bayimu, tapi ingat,” ucap Darren membuat Valerie kembali menatap Darren.
“Kau tidak boleh coba-coba kabur atau kau akan benar-benar berpisah dengan Aldric,” ancam Darren.
Valerie tidak menjawab dia sudah tidak tahu lagi apa yang diiningkannya saat ini. karena kebahagiaan yang dia harapkan hanya takdir yang menentukan tanpa bisa dia menolaknya.
“Disini kau tidak perlu melakukan apa-pa, Surti akan membantumu mengurus Aldric,” ucap Darren.
Valerie tidak menjawab, yang penting sekarang dia bisa bersama bayinya, selalu dekat buah hatinya, meskipun dia juga merasa sedih harus berpisah dari Earlangga. Suaminya itu tidak tahu kalau bayi mereka masih hidup.
Darren keluar dari karma itu dan menutup pintunya. Diapun pergi entah kemana.
Terdengar suara langkah mendekati kamar itu, Valerie menoleh kearah pintu ternyata Surti yang membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar itu.
“Saya diminta Pak Darren membantu ibu mengurus baby Al,” kata Surti.
“Terimakasih Surti” ucap Valerie.
“Kau berapa lama menjaga Al?” tanya Valerie.
“Baru beberapa hari Bu,” kata Surti.
Valerie berfikir kalau baru beberapa hari itu artinya hari yang sama dengan Ny.Grace mengalami stroke. Apa ini yang menyebabkan Ny.Grace stroke? Dia tahu kalau bayi itu hilang? Dia merasa bersalah dan mengalami stroke?
Di gerbang rumah terdengar bunyi klakson mobil yang sangat berisik.
“Kau serius ini rumahnya Darren?” tanya Nisa pada Jeni.
“Iya Bu, ini rumahnya, bagus kan?” jawab Jeni.
“Anak itu, sudah kaya tidak bilang-bilang pada Ibu,” keluh Nisa. Lalu dia melongokkan kepalanya lewat jendela mobilnya.
“Satpam! Cepat buka! Lama amat!” makinya pada Satpam.
“Ayah kalau sama kak Darren takut dia, tahu sendiri kak Darren kaya gimana, kasar begitu,” ucap Jeni.
“Bagus juga dia begitu jadi dia dapat harta ayahmu,” kata Nisa.
“Nyonya siapa?” tanya satpam, belum membuka gerbang.
“Aku ibunya Darren! Cepat buka! Mau dipecat?” jawab Nisa.
__ADS_1
Satpampun terdiam sebentar, lalu membuka gerbangnya buru-buru.
Nisa menjalankan mobilnya memasuki gerbang.
“Kakak pakai bodyguard juga di gerbang? Ketat amat,” gumam Jeni.
Nisa tidak menjawab, dia juga melihat dua pria kekar yang berjaga di gerbang itu. Mobilnya terus memasuki pekarangan rumahnya Darren.
Di kamarnya, Baby Al tampak merengek-rengek rewel padahal Valerie sudah memberinya Asi.
“Kenapa ya?” gumam Valerie.
“Mungkin bosan di kamar terus Bu, baby Al senangnya jalan jalan, baru diam,” jawab Surti.
“Apa aku bisa keluar?” tanya Valerie sambil melihat kearah pintu yang terbuka.
“Pintunya tidak dikunci berarti boleh Bu,” jawab Surti.
Valeriepun bangun sambil menggendong Al, ternyata benar, dia mulai diam.
“Kau benar Surti, dia bosan,” ucap Valerie.
“Iya,” sahut Surti lalu mengikuti langkah Valerie keluar dari kamar itu.
Valerie menyusuri lorong lantai atas itu. Dari sana dia melihat kebawah sepi. Diapun menuruni tangga diikuti Surti. Bersamaan dengan suara mobil yang berenti di halaman rumah.
Valerie mendengar suara langkah kaki mendekati pintu dan suara teriakan seorang wanita.
“Darren! Darren!” teriak suara itu.
Valerie dan Surti melihat kearah pintu yang dibuka dari luar.
“Darren!” suara itu masih memanggil Darren. Kemudian pintupun terbuka.
“Darren!” panggil Nisa lagi langsung masuk ke dalam rumah, dan dia langsung menghentikan langkahnya, terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Jeni yang mengikuti dari belakang lebih lebih terkejut lagi, mereka melihat Valerie ada didalam rumah itu sedang menggendong bayi ditemani seorang babysitter.
Valerie juga terkejut dengan kedatangan mereka. Dia tidak menyangka akan bertemu bekas majikannya itu lagi. Tentu saja akan bertemu karena Darren anaknya Ny.Nisa.
“Kau!” Nisa langsung mendekat.
“Kau, sedang apa kau disini?” tanya Nisa, menatap Valerie dari atas sampai bawah, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kenapa kau ada disini?” tanya Jeni, juga keheranan.
“Mulai sekarang Valerie akan tinggal disini,” terdengar suara Darren dan langkah kakinya menuruni tangga.
Nisa dan Jeni menoleh kearah Darren.
“Apa maksudmu dia tinggal disini?” tanya Nisa.
“Karena aku akan menikah dengannya,” jawa Darren.
__ADS_1
Nisa dan Jeni terkejut bukan main mendengar jawaban Darren.
************