Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-46 Earlangga masih mencari identitas ayah si bayi


__ADS_3

Selama bekerja, Valerie bingung dengan apa yang ditawarkan oleh Nyonya Grace. Apakah ini suatu kabaikan atau keburukan? Valerie tidak tahu apakah yang menghamilinya pria baik atau tidak? Atau malah yang sudah beristri. Tentunya kalau ayah bayi ini bukan pria baik dan sudah beristri lebih baik bayinya diberukan pada Ny.Grace, tapi walaubagaimanapun bayi ini aldah bayinya. Tapi…ayah bayi ini bisa saja orang jahat, atau pria yang tidak pernah akan ditemukan identitasnya. Kalau begitu lebih baik diberikan pada Ny. Grace.


Huh! Valerie bingung dengan semua ini. Kalau diberikan pada Ny.Grace apakah dia ibu yang tidak baik? Tidak bertanggung jawab? Tapi kalau bersama Ny.Grace bayi ini akan diberi nama. Daripada tes DNA ternyata Ealangga bukan ayahnya terus Ny.Grace mengusirnya bersama bayi ini. Bayi ini akan hidup tanpa ayah dan akan dicemooh teman-temannya.


Lagi-lagi Valerie menghela nafas panjang. Tiba-tiba ada yang mengetuk ngetuk meja membuat Valerie menoleh kearah suara, ternyata Maryam lagi.


“Ada apa?” tanya Valerie.


“Ini sudah sore, kau tidak pulang?” tanya Maryam.


“Nanti sebentar lagi,” jawab Valerie.


“Tidak boleh sebentar lagi, tuh pangeranmu yang kemarin sudah menunggu,” ucap Maryam


“Pangeran yang kemarin? Maksudmu apa?” tanya Valerie, tidak mengerti.


“Pria tampan itu, dia datang lagi. Sepertinya dia keluarga pasien yang komplen, tapi komplen yang terselubung,” ucap Maryam sambil tersenyum.


“Kau ini bicara apa sih? Earlangga maksudmu?” tanya Valerie.


“Oo si tampan itu namanya Earlangga?” Maryam manggut-manggut.


Valerie terdiam mau apa Earlangga datang lagi ke tempat kerjanya.


“Jangan biarkan dia menunggu lama, gadis gadis yang melihatnya mulai pedekate, nanti dia kegaet sama gadis lain, copetan buruan kesana,” kata Maryam.


“Kau sangat cerewet,” keluh Valerie.


“Aku serius, kau lihat saja, sekarang saja dia sedang ditemani dua gadis bercakap cakop di ruang tunggu, menunggumu terlalu lama,” kata Maryam.


Earlangga bersama gadis gadis? Entah kenapa ada rasa yang tidak nyaman muncul dihati Valerie mendengar Earlangga bersama gadis gadis.


Valerie buru-buru pergi ke ruang tunggu, ternyata benar, ada dua orang gadis yang menemani Earlangga entah itu siapa, mungkin yang sedang berobat.


Saat melihat kedatangannya, Earlangga langsung berdiri, begitu juga dua orang gadis itu.


“Sudah waktunya pulang kan?” tanya Earlangga pada Valerie sambil melirik jamnya.


“Iya,” jawab Valerie, sambil melirik dua gadis yang berdiri dikanan dan kirinya Earlangga.


“Ini istriku,” kata Earlangga pada gadis gadis itu. Valerie tidak mengerti apa maksudnya Earlangga bicara begitu pada mereka. Yang pasti merkapun pergi dengan wajah yang cemberut. Sepertinya sudah ada acara goda menggoda kalau begitu, benar kata Maryam, suaminya ini sangat tampan pasti akan banyak gadis gadis yang


menyukainya.


Apa termasuk dirinya? Tidak, benar kata Ny,Grace, jangan sampai dia jatuh cinta pada Earlangga karena dia akan sakit hati jika waktunya tiba terbukti memang bayinya bukan anak Earlangga, dia harus pergi dari rumah itu.


“Hei, kau kenapa?” tanya Earlangga ,melihat wajah Valerie yang tiba-tiba jadi murung.


“Tidak, tidak apa-apa,”jawabnya.


“Benar?” tanya Earlangga.


“Aku hanya heran saja kenapa gadis-gadis itu bersama Bapak?” tanya Valerie.


“Mereka hanya mengajak ngobrol,” jawab Earlangga.


“Ooh, terus kenapa Bapak kesini lagi? Ada undangan lagi?” tanya Valerie.


“Bukan, aku akan mengajakmu makan malam,” jawab Earlangga.


“Makan malam?” tanya Valerie.


“Iya, aku mau coba makan di restaurant yang kamu dulu delivery pesanan dari ibuku itu,” ucap Ealrangga.

__ADS_1


“Oh Resto Samin?” tanya Valerie.


“Aku tidak tahu namanya. Ibu yang merekomendasikannya. Tidak ada salahnya kita coba makan disana, aku sedang ingin makan diluar,” kata Earlangga.


“Ya sudah.  Boleh kita kesana,” kata Valerie.


“Ayo!” ajak Earlangga, berjalan duluan, Valeriepun mengikutinya berjalan disampingnya. Sesekali melirik pria yang bertubuh tinggi itu, untung saja dia memakai sepatu yang  berhak coba kalau pakai yang teplek rasanya kebanting banget.


“Ngomong-ngomong kau tidak pernah cerita teman dekatmu siapa,” kata Earlangga, saat mereka sudah masuk ke mobinya dan mluncur di jalan raya, waktu itu turun hujan rintik-rintik.


“Teman dekat?” tanya Valerie, dia mengerutkan keningnya kenapa Earlangga bertanya soal itu?


“Iya, biasanya kan suka ada teman dekat,” kata Earlangga.


“Ada sih, cuma belekangan ini aku jarang bertemu dengannya karena sibuk,” kata Valerie.


“Siapa namanya?” tanya Earlangga.


“Namanya Nella, dia kuliah di kedokteran, gedungnya bersebrangan dengan kampusku, kami tidak sengaja berkenalan waktu magang dirumahsakit. Dia juga sudah lulus, dan sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia akan membuka klinik,” jawab Valerie.


“Nella?“ Earlangga mengerutkan dahinya.


“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, kalau tidak salah putrinya asisten ayahku namanya Nella,  dia juga kuliah dikedokteran,” kata Earlangga, dia jadi teringat Nella putrinya Sam, asisten ayahnya dulu.


Earlangga pernah bertemu beberapa kali saja,  dan tidak terlalu mengenalnya. Dia tidak menyangka kalau benar Nella temannya Valerie. Itu artinya dia bisa lebih gampang mengorek keterangan soal Valerie, siapa pacar Valerie itu? Seharusnya tinggal tanya saja pada Valerie, tapi wanita itu tidak mau bercerita kalau soal pria itu.


Apa benar pria itu pergi keluar negeri? Kalau cuma masih kisaran Eropa sepertinya dia juga masih bisa mennyelusuri pria itu. Sungguh dia penasaran dengan pri yang menghamili Valerie. Kalau Valeri tidak punya pacar, kenapa waktu itu dia melihat banyak tanda merah itu? Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan pacarnya Valerie? Sepertinya ada yang disembunyikna Valerie. Kenapa dia merasa tidak suka kalau ternyata Valerie memang punya pacar.


“Nella itu putrinya pemilik Resto tempat aku bekerja,” kata Valerie, membuyarkan lamunannya Earlangga.


“Berarti dia ada direstauran itu sekarang? Aku bingung, waktu kita menikah dia datang kan? Kau tidak bilang dia temanmu,” tanya Earlangga dia semangat bertemu Nella karena ingin tahu siapa pacar Valerie selama ini, tapi dia juga bingung karena tidak tahu kalau Nella itu temannya Valerie.


“Datang, tapi aku juga tidak terlalu memperhatikan,” jawab Valerie.


Earlangapun waktu itu boro- boro mikirin siapa teman siapa, dia and Valerie seperti patung diacara pengantin itu.


“Loh, ini kan dekat kantorku?” tanya Earlangga saat mobilnya memasuki resto itu.


“Memang iya,” jawab Valerie.


“Jadi aku balik lagi ka kantor?” ucap Earlangga yang dijawabb Valerie dengan tawa. Jauh jauh pria itu menjemputnya  ke rumah sakit ternyata makan malamnya di dekat kantornya lagi, sama juga bohong.


Mendengar Valerie tertawa, ada rasa senang dihati Earlangga, jarang sekali gadis itu tertawa, seharian dia selalu murung, lama kelamaman dia semakain merasa kasihan dengan nasibnya perawatnya ini.


Tidak disengaja sebelah tangannya Earlangga spontan mengusap rambutnya Valerie, membuat gadis itu terkejut. Perasaan belakangan ini Earlangga selalu menunjukan sikap yang perhatian padanya. Itu lebih baik daripada pria ini harus terus marah-marah padanya karena melibatkannya dalam kehamilan ini.


Hujan diluar malah makin deras.


“Wah hujannya malah deras,” ucap Valerie, saat mobilnya Earlangga berhenti di halaman Retso yang sudah mulai ramai berdatangan orang-orang yang akan makan malam.


“Coba kau lihat di jok belakang ada payung tidak?” tanya Earlangga.


Valerie melongokkan kepalanya kebelakang, ternyata tidak ada payung.


“Tidak ada,” ucap Valerie.


“Gimana ini? Kemana tukang parkirnya?” gumam Valerie, matanya mencair-cari tukang parkir yang tidak kelihatan.


“Mungkin sedang memarkir mobil yang lain,” jawab Earlangga.


“Apa kita akan menunggu disini?” tanya Valerie.


“Tapi diluar hujannya malah tambah besar,” gumamnya lagi, sambil melihat keluar jendela. Valerie terkejut saat melihat ternyata Earlangag sudah ada diluar membuka pintu mobilnya, dengan mengangkat jasnya melindungi kepalanya.

__ADS_1


“Ayo!” ajaknya. Valeriepun akhirnya turun dan langsung berlindung dibalik  tangannya Earlangga yang merentangkan jasnya.


Dia agak terkejut saat menyadari tubuhnya jadi berada di dekat Earlangga, dia mencium bau tubuhnya pria itu, biasanya Valerie akan mual jika mencium bau parfum tapi tidak kali ini. Jantungnya sampai berdebar kencang menyadari posisinya begitu dekat dengan tubuhnya Earlangga.


“Ayo!” ajak Earlangga lagi, menaikkan tangannya yang memegang jasnya lebih tinggi diatas kepalanya Valerie, untuk melindunginya  dari hujan.


Valerie menatap sekilas wajah itu, diapun mengangguk.Kenapa hatinya semakin merasa tidak karuan.Earlangga sering perhatain seperti ini membuatnya takut jatuh cinta.


Earlangga mulai melangkah diikuti oleh Valerie, berjalan agak cepat untuk menghindari hujan yang semakin lebat. Beberapa tetes air hujan mengena ke wajahnya Valerie, setelah merkea tiba di teras restaurant itu, barulah Earlangga menurunkan jasnya.


“Kalau menunggu tukang parkir kelamaan, yang lain juga sudah menunggu dijemput pakai payung,” ucap Earlangga.


Valerie pun melihat kearah parkiran ternytaa benar, tukang parkirnya sibuk menganta jemput yang mau makan.Earlangga melihat wajah Valerie yang basah terkena airhujan. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan melapkannya ke wajahnya Valerie, membuat gadis itu terkejut.


“Biar aku saja,” kata Valerie sambil meraih saputangan yang ada ditangannya Earlangga, dia ingat perkataan Ny,Grace untuk menjauhi Earlangga jangan sampai jatuh cinta padanya kalau tidak mau sakit hati nantinya.


Earlanggapun melepas saputangannya.


“Kau jangan terlalu perhatian,” ucap Valerie.


“Kenapa? Kau sedangg hamil. Wanita hamil membutuhkan banyak perhatian,” ucap Earlangga, membuat Valerie tersenyum dan sebenarnya ingin tertawa mendengarnya.


“Kau cantik kalau tersenyum,” ucap Earlangga, membuat wajahnya Valerie memerah dan menghentikan senyumnya. Setelah itu pria itu pergi begitu saja masuk kedalam restaurant, sangat tidak bertanggungjawab, disanjung-sanjung lalu ditinggalkan.


Valeriepun kembali tersenyum dan mengikuti langkahnya Earlangga masuk kedalam Resto.


Ternyata Earlanga memesan meja kursi yang dekat kaca, jadi mereka bisa melihat hujan diluar.


“Kau pesankan makanan yang watu itu kau kirim padaku,” kata Earlangga.


“Apa menunya? Aku tanya dulu, itu bukan aku yang pesan, tapi Nyonya yang pesan,” kata Valerie.


“Tapi kau pasti ingatkan makanannya,” kata Earlangga.


“Sebentar aku pergi ke dapur ya,” jawab Valerie, diapun  bangun dan pergi ke dapur restoran itu.


Setelah berbicara sebentar, akhirnya dia menemukan menu yang ibu mertuanya pesannkan dulu buat Earlangga.


Saat akan kembali ke tempat Earlangga, dia bertemu dengan Nella yang baru keluar dari kantor ibunya.


“Valerie?” tanya Nella, terkejut tidak menyangka akan bertemu Valerie di Resto ibunya.


“Hai Nella,” sapa Valerie.


“Kau sedang apa disini?” tanya Nella.


“Aku sedang makan dengan Pak Earlangga,” jawab Valerie.


“Hei, kau ini istrinya Pak Earlangga, masa kau memanggilnya Pak,” keluh Nella.


“Memangnya aku harus memanggil apa?” tanya Valerie dengan bingung.


“Kau bisa memanggilnya nama atau kau panggil sayang,” jawab Nella


“Apa? Sayang?”tanya Valerie dengan bingung, mana berani dia memanggil Earlangga sayang?


“Iya dong, dia kan suamimu,” ucap Nella, Valerie hanya tersenyum.


“Earlangga tidak tahu kau itu temanku, dia ingin bertemu dneganmu,” kata Valerie, kemudian.


“Mau bertemu denganku?” tanya Valerie.


“Iya, ayo aku antar menemuinya,” jawab Valerie, tangannya mengulur memeluk pinggangnya Nella.

__ADS_1


Merekapun menuju meja Earlangga duuduk.


***********


__ADS_2