Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-11 Earlangga mencari gadis yang bersamanya semalam


__ADS_3

Earlangga menoleh kearah pintu yang terbuka.


“Bu! Bu Riska! Tolong Bu! Ada yang pingsan!” teriak Earlangga.


Bu Riska langsung belari menghampiri dan terkejut saat melihat Earlangga sedang memeluk gadis yang mengirim makanan itu, diapun mencibir.


“Modus, nyari perhatian,” batinnya.


“Tidurkan di sofa saja Pak,” kata  Bu Riska, berjalan mendekat.


Earlangga menganggkat  tubuhnya Valerie di baringkan di sofa.


“Ambilkan minyak angin atau semacamnya,” kata Earlangga.


Bu Riska terbengong, ternyata tinggal diluar negeri juga tahu kalau yang pingsan diberi minyak angin.


“Cepat!” kata Earlangga, dia berjongkok disamping tubuhnya Valerie. Bu Riska cepat-cepat mengambilnya di kotak P3k dan berikan pada Earlangga.


Earlangga langsung menciumkan minyak angin itu sambil menyibakkan rambut yang menutupi wajah gadis itu lalu dirapihkannya kesamping, dibukanya juga satu kancing paling atas kemeja seragam itu supaya yang pingsan tidak merasa sesak.


 Earlangga terkejut saat melihat dada atas dan leher gadis itu terdapat beberapa tanda kemerahan, hatinya langsung saja merasa tidak nyaman, kenapa tanda itu malah mengingatkankannya kejadian semalam.  Mungkin malam itu dia melakukan apapun pada tubuh gadis itu, keringat dingin langsung muncul dikeningnya, masalah ini benar-benar menghantuinya. Sungguh dia pria yang tidak bertaggung jawab.


Earlangga buru-buru menutup kembali kemeja gadis itu jangan sampai bekas-bekas itu terlihat, sangat tidak nyaman kalau Bu Riska melihatnya, meskipun yang melakukannya mungkin pacarnya gadis itu.


Bu Riska lagi-lagi mencibir, dia tidak suka dangan tingkahnya Valerie yang menurutnya hanya modus saja cari-cari perhatian pemilik perusaahan itu.


“Nanti juga siuman Pak, biar saya yang menunggunya,” kata Bu Riska.


Earlangga tidak menjawab, diapun bangun dan memberikan minyak angin pada Bu Riska.


 “Bapak makan saja, makan siangnya sangat telat,” kata Bu Riska.


Earlangga melihat kotak makanan itu.


“Kau urus dia sampai siuman, aku makan diruang meeting dengan ayahku,” kata Earlangga, sambil beranjak meninggalkan ruangan itu dan membawa kotak makanan itu.


Setelah beberapa lama barulah Valerie siuman, dilihatnya  sekretaris itu duduk di sofa didekatanya.


“Kau kenapa? Tidak ada kerjaan pingsan di kantor orang? Kau sengaja mau menggoda Presdir?” tegur Bu Riska.


Valerie memegang kepalanya, dia bingung kenapa sekretaris itu malah menghardiknya.


“Maksud ibu apa? Aku tidak melakuan apa-apa,” kata Valerie sambil menurunkan kakinya ke lantai.


“Sudah jangan beralasan, kau pura-pura pingsan dan dipeluk Pak Earlangga, modus yang murahan,” hardik Bu Riska.


Valerie terkejut mendengarnya, mana dia tahu kalau dia dipeluk oleh pria itu? Dia hanya merasakan kepalanya pusing dan tidak ingat apa-apa.


“Aku minta maaf, aku akan segera pulang,” jawab Valerie sambil merapihkan pakaian dan rambutnya, lalu melihat kertas di meja itu.


“Biar aku yang tanda tangan!” kata Bu Riska, sambil bangun mengambil kertas itu keluar dari ruangan itu, kemudian masuk lagi sambil menyodorkan kertas itu pada Valerie.

__ADS_1


“Sebaiknya kau cepat pulang,”  kata Bu Riska.


“Iya saya akan pulang, maaf sudah merepotkan,” ucap Valerie, sambil bangun dan menerima kertas itu lagi lalu mengikuti Bu Riska keluar dari ruangan itu.


Sore harinya  Valerie pulang dengan lesu. Dia benar-benar merasa lelah.


“Kau sangat pucat, apa kau sakit?” tanya Bu Asni, dia kembali ke rumahnya sebentar dari rumah majikannya di sebelah untuk menyiapkan makanan.


“Aku hanya kelelahan Bu, hari ini aku dapat pekerjaan di sebuah Resto, mengirim ngirimkan pesanan online,” jawab Valerie.


“Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya kau istirahat, kau terlihat sangat pucat nak,” kata Bi Asni.


“Kalau aku sudah mendapatkan gaji, aku akan membayar sewa aku menumpang disini Bu, atau aku bisa pindah mencari kos kosan,” ujar Valerie.


“Sudah tidak usah, kau kumpulkan saja uangnya untuk biaya kuliahmu, Disini kos kosan juga sangat mahal, gajimu akan habis untuk membayar sewa saja,” kata Bu Asni.


Valerie menatap Bu Asni dengan haru dia sangat bersyukur Bu Asni memberikan tumpangan kepadanya.


“Terimakasih ibu sudah baik padaku,” ucap Valerie.


“Sudahlah jangan difikirkan, cepatlah istirahat, aku merasa khawatir kau sangat pucat,” kata Bu Asni.


Valeriepun mengangguk dan segera masuk ke kamarnya sedangkan Bu Asni pergi kerumah majikannya di sebelah.


Valerie menyimpan bungkusan baju Earlangga itu yang akan dicucinya, dia tidak bisa ke Loundry karena dia harus menghemat uangnya karena masa ujian dia harus selalu ke kampus, diapun berfikir untuk mencuci pakai tangan saja.


Valerie bergegas ke kamar mandi, dia ingin cepat-cepat mandi dan beristirahat. Di dalam kamar mandi dia menatap sebagian tubuhnya di cermin di atas wastafel, memang benar kata Bu Asni, dia sangat pucat, dilihatnya banyak tanda-tanda bekas kepemilikan di tubuhnya  menandakan dia memang disentuh pria itu.


Airmata kembali menetas dipipinya, dia ingin bekas-bekas itu cepat hilang, melihatnya membuat hatinya begitu sakit. Sudah hidupnya yang susah ditambah mendapat kejadian seperti ini, semakin membuatnya terpuruk saja sendirian di tengah-tengah ibukota yang besar ini


Kalau Valerie sore hari pulang kerumah Bu Asni, tidak dengan Earlangga. Dia menjalankan mobilnya dengan lesu, hatinya merasa tidak tenang sejak kajadian itu. Rasa penasarannya pada gadis yang dinodainya semakin kuat, meskipun dia tidak tahu jika dia bertemu dengan gadis itu apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan menikahinya? Bagaimana kalau gadis itu gadis biasa saja, dan dia juga tidak mencintainya, apakah dia akan tetap menikahinya? Tentu saja neneknya akan menentangnya jika menikah dengan sembarangan gadis.


Diapun membelokkan mobilnya menuju club malam itu yang tentu saja kalau sore masih tutup. Earlangga turun dari mobilnya menghampiri satpam yang berjaga di gerbang.


“Pak,ada yang mau saya tanyakan,” katanya pada satpam itu setelah turun dari mobilnya.


“Boleh Pak, mau bertanya apa?” tanya satpam itu.


“Bapak tahu pria muda yang nge-geng bergerombol dengan temannya yang semalam?” tanya Earlangga.


“Yang tadi malam? Banyak Pak, Bapak  mau mencari siapa?” tanya satpam itu.


“Saya juga tidak tahu namanya,” kata Earlangga, dia berfikir mungkin gadis yang dibawa pria yang merampas mobilnya itu yang bersamanya. Tapi menemui pria berandal seperti itu lagi akan ada masalah baru.


Dia juga bingung, kira-kira siapa yang melihatnya bersama seorang gadis?


“Susah kalau begitu Pak, pengunjung setiap malam sangat banyak, apalagi semalam ada acara ulang tahun juga di salah satu satu lantai jadi semalam sangat banyak yang datang.


“Jadi semalam ada yang berulang tahun?” tanya Earlangga.


“Iya, seorang gadis namanya Emili,” jawab satpam.

__ADS_1


Earlanggapun diam, mungkin gais itu gadis yang akan ke ulang tahunnya Emili. Tapi tentunya tamunya pasti banyak, kepalanya semakin pusing saja.


“Baiklah kalau begitu Pak.” Akhirnya Earlangga meninggalkan tempat itu. Apa perlu dia bertanya pada pria yang mengambil mobilnya itu? Dia benar-benar tidak tahu siapa gadis itu.


Pulang kerumah, tampangnya kusut dan lesu. Joch dan Nick mangajaknya bercandapun dia malas meladeninya. Kejadian itu bernar-benar membuatnya stress.


Begitu malam telah tiba, Earlanggapun bermimpi buruk, dalam mimpinya, gadis itu datang dengan membawa seorang bayi yang tidak memakai pakaian, gadis itu berdiri saja diantara asap- asap yang mengelilinginya.


“Siapa kau?” tanya  Earlangga mencoba mendekati gadis itu , dia ingin melihat wajah gadis itu yang tertutup oleh asap putih.


“Siapa kau?” tanya Earlangga lagi.


Gadis itu malah melangkah mundur.


“Tunggu! Jangan pergi!” teriak Earlangga, tapi gadis itu masih saja melangkah mundur.


“Tunggu! Jangan pergi!” teriak Earlangga lagi, kaki gadis itu semakin menjauh, Earlanggapun mengejarnya.


“Tunggu! Tunggu!” teriaknya, diapun terus berteriak-teriak dengan keras dalam keadaan mata tertutup.


“Sayang  kau kenapa?” terdengar suara seseorang membangunkan bahunya. Earlanggapun terbangun dan langsung duduk, mukanya pucat dan berkeringat. Ibunya sudah duduk dipinggir tempat tidur menatapnya, bahkan ada neneknya yan berdiri dipintu.


“Kau mengigau berteriak-teriak sampai kedengaran keluar kamar, ada apa?” tanya Lorena.


Earlangga mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.


“Kau bermimpi buruk?” tanya Lorena.


“Iya Bu,” jawab Earlangga.


“Sepertinya kau banyak fikiran, mungkin kau belum terbiasa dengan situasi di negeri ini,” kata Lorena.


“Iya bu, “ Earlangga mengangguk.


“Apa terjadi hal buruk padamu?” tanya Ny. Grace.


“Tidak Nek tidak ada apa-apa,” jawab Earlangga.


Nyonya Grace tidak bicara apa-apa, kepalanya terus berfikir apa telah terjadi sesuatu saat Earlangga tidak pulang semalam?


“Mungkin hanya mimpi buruk saja Bu,” kata Lorena sambil menoleh pada mertuanya.


“Ya mungkin hanya mimpi buruk,” ucap Ny. Grace lalu meninggalkan kamar itu.


Lorena bangun dan mengambil segelas air yang ada dimeja lalu diberikan pada Earlangga, putranya itu segera meminumnya supaya lebih tenang.


“Mimpi hanya bunga tidur, beristirahatlah, jangan banyak fikiran. Besok kau bisa mengajak temanmu jalan-jalan supaya kau tidak stress, dan terbiasa dengan kota ini,” kata Lorena lagi.


“Iya Bu, aku akan tidur lagi,” jawab Earlangga.


Lorenapun mengangguk lalu keluar dari kamar itu. Earlangga kembali berbaring, bayangan mimpinya itu kembali muncul. Kenapa dia bermimpi seperti itu? Kenapa ada bayi bersama gadis itu, bagaimana kalau gadis itu hamil olehnya? Kepalanya semakin terasa pusing saja.

__ADS_1


***************


Readers maaf ya beberapa hari kedepan akan slow update. Kalian juga pasti sibuk dan tidak sempat membaca novelku. Tapi aku usahain up meskipun katanya sedikit.


__ADS_2