
Malam itu Valerie terus saja menangis, dia sungguh berputus asa. Meratapi sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Kejadian yang selalu dicobanya untuk dilupakan malah kembali muncul, dengan rasa yang begitu sakit. Perlahan tubuhnya terjauh ke lantai, meringuk dipojok tembok itu. Tidak dirasanya dinginnya lantai itu. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Hanya airmata yang tidak berhenti menetes dipipinya.
Semakin hatinya bertekad untuk mengiklaskan kejadian itu semakin terasa sakit yang menusuk nusuk jiwanya. Bagaimana dia bisa dengan mudah mengiklaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Bagaimana dia akan berani menikah dengan pria baik jika dirinya sendiri tidak suci? Valerie kembali menangis sesenggukan dikamar yang terasa semakin dingin. Meratapi sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
***********
Keesokan harinya…
Perlahan Valerie membukakan matanya, udara terasa lebih hangat dari sebelumnya. Dia agak terejut saat melihat langit-langit yang terdapat lampu hias tidak seperi berada dalam kamarnya. Disadarinya dia berbaring diatas sofa degan selimut tebal menyelimuti tubuhnya. Tidak jauh dari tubuhnya ada perapian yang menyala.
“Kau sudah bangun?” terdengar suara seorang pria. Valerie menoleh kearah suara itu, pria itu sedang berdiri menatapnya. Pria yang dilihatnya semalam berenang di kolam renang villa itu.
“Kenapa aku ada disini?” tanya Valerie.
“Disini lebih hangat. Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di lantai kamarmu, jadi aku memanggil Dokter dan memindahkanmu kesini supaya tubuhmu lebih hangat,” jawab Earlangga.
Valerie menatap wajah itu, terlintas dibenaknya saat melihat punggung pria itu, hatinya kembali bertanya-tanya apa benar pria itu adalah Earlangga? Bagaimana jika benar? Apakah dia harus mengatakannya? Apakah pria itu akan mengakui telah menodainya? Bagaimana kalau ternyata tidak? Terus apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa dia akan menuntut dinikahi? Tidak, tidak semudah itu dinikahi oleh Earlangga. Sudah terlihat jelas bagaimana over protectifnya Ny. Grace pada gadis yang dekat dengan Earlangga.
Earlangga duduk dibawah sofa di dekat Valerie. Tangannya mengulur menyentuh tangannya Valerie dan mengusapnya.
“Tanganmu sudah lebih hangat,” ucapnya.
Valerie melihat tangannya yang digenggam pria itu. Rasa sedih kembali menyelimutinya. Dia kembali bertanya apa benar pria itu adalah Earlangga? Bagaimana cara dia membuktikannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau pingsan dilantai? Kata Dokter kau hanya sedikit terguncang, kau lelah,” kata Earlangga. Kini tangannya masuk kebalik selimut menyentuh ujung kaki Valerie.
Valerie merasakan tangan kokoh itu menyentuh kakinya.
“Kakimu juga sudah hangat,” ucap Earlangga.
Valerie tidak menjawab, dia hanya menatap pria itu yang tidak sungkan untuk menyentuhnya. Jika benar pria itu adalah Earlangga, apakah Earlangga akan bersikap perhatian pada gadis yang dinodainya? Atau malah sebaliknya pria itu akan menjauh darinya karena takut dimintai pertanggungjawaban.
Earlangga membetulkan selimutnya Valerie lagi.
“Kau perawatku tapi malah aku yang merawatmu,” kaluh Earlangga.
“Saya minta maaf. Bapak harus minum obat,” ucap Valerie, mencoba bangun tapi Earlangga menahannya.
“Tidak perlu, aku sudah minum tadi. Kau istirahat saja,” kata Earlangga. Diapun bangun dan membetulkan bantalnya Valerie, merapihkannya supaya Valerie tidur dengan nyaman. Tangannya mendorong bahunya Valerie suapaya tetap berbaring.
Saat pria itu membetulkan bantalnya, Valerie bisa melihat lebih dekat wajahnya, wajah tampan itu. Apakah dia harus senang ternyata kalau terbukti pria yang menodainya adalah pria setampan ini? Tidak, tentu saja tidak, dia tidak tahu wajah tampan itu berperilaku baik atau tidak. Semalam pria itu bersama seorang wanita, mungin dia juga akan menganggap menodai seorang gadis itu adalah biasa. Hati Valerie kembali teriris dan bersedih.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kata Dokter kau sedang stress. Apa temn-temanku itu mengganggumu berlebihan?” tanya Earlangga, menatap wajah pucatnya Valerie.
__ADS_1
Valerie tidak menjawab. Dia ingin tahu cara untuk membuktikan kalau pria yang menodainya adalah Earlangga, tapi dia belum mendapatkan caranya. Dia tidak mungkin harus melihat bagian belakang Earlangga seluruhnya tanpa memakai pakaian.
“Saya minta maaf, saya malah merepotkan Bapak,” kata Valerie.
“Tentu saja, kau harus dipotong gaji,” ucap Earlangga, sambil mendekati perapian dan mengulurkan tangannya menghangatkannya.
“Apa Bapak tidak ikut meeting hari ini?” tanya Valerie.
“Kalau kau sakit begini mana bisa aku meninggalkanmu?” jawab Eerlangga tanpa menoleh.
Valerie tersenyum mendengarnya, sampai detik ini, dia menilai Earlangga adalah pria yang baik. Kalau dia pria yang baik tentu saja kejadian itu tidak akan pernah terjadi, atau mungkin pria yang menodainya itu bukanlah Earlangga. Dia tidak mungkin membuat sayembara untuk melihat punggung pria diseantero negeri.
Tiba-tiba terbersit difikirannya untuk memastikan bahwa pria itu Earlangga atau bukan, apakah dia harus mengintip Earlangga mandi? Dan melihat bagian belakang pria itu?
“Sejak kapan kau tinggal bersama Bu Asni?” tanya Earlangga.
“Belum lama Pak,” jawab Valerie.
Earlangga merobah posisi duduknya, kini bersila sambil menghadap sofa tempat Valerir berbaring.
“Kita akan pulang kapan Pak?” tanya Valerie.
“Menunggu kau lebih baik,” jawab Earlangga, membuat Valerie terkejut, itu artinya dia akan lebih lama di villa ini dan berdua-dua dengan Earlanggan membuatnya merasa tidak nyaman, setiap kali melihat punggungnya mengingatkan kejadian itu.
“Jangan memaksakan diri, Dokter menyarankan kau istirahat,” jawab Earlangga, langsung bangun, dia berjalan mengambil air minum diatas meja. Saat pria itu pergi, Valerie tidak lepas menatapnya, sedikitpun dia tidak mau melepaskan kesempatan untuk memastikan bahwa pria itu adalah Earlangga atau bukan.
Potongan rambut itu memang mirip Earlangga. Tapi potongan rambut seperti itu tentu saja banyak yang memilikinya, hatinya kembali kecewa, bagaimana dia bisa memastikan kalau ingatannya tidak ada yang bisa memastikan pria itu. Saking takutnyaa dan shocknya dia tidak berani melihat wajah pria itu.
Ponselnya Earlangga berbunyi, pria itu mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan itu. Lagi-lagi Valerie menoleh menatap punggung pria yang menjauh itu.
Airmata kembali menetes dipipinya. Dia sungguh bingung, sangat bingung, jiwanya begitu hampa, dia tidak bisa berkeluh kesah poda siapapun, kecuali pada Dokter Sisil. Dokter Sisil menyuruhnya menunggu satu atau dua buan lagi untuk memastikan apakah kejadian itu akan membuatnya hamil atau tidak. Mengingat semua itu Valerie kembali menangis sesenggukan. Bagaimana kalau dia hamil? Kepalanya terasa berat memikirkan hal itu. Dihapusnya airmatanya yang terus saja mengalir.
“Kau kenapa?” tiba-tiba ada suara Earlangga masuk keruangan itu.
Valerie cepat-cepat menghapus airmatanya. Earlangga berjongkok didekat Valerie.
“Apa ada yang terasa sakit? Perlu aku panggilkan Dokter lagi?” tanya Earlangga, pria itu terlihat sangat khawatir. Tangannya menyentuh pipinya Valerie, menghapus airmatanya.
“Ada yang kau fikirkan?” tanya Earlangga, dia bingung melihat gadis itu terus menangis.
“Tidak, aku baik-baik sjaa,” jawab Valerie, sambil menghapus airmatanya.
Earlangga masih menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
“Sepertinya kita memang harus pulang, cuaca disini terlalu dingin buatmu,” kata Earlangga.
“Kita pulang sekarang saja, apa kau mau?” tanya Earlangga.
“Iya Pak, kita pulang saja,” jawab Valerie, balas menatap mata pria itu.
“Baiklah kita pulang sekarang, aku akan menyiapkan mobil dulu,” ucap Earlangga.
“Terimakasih,” ucap Valerie. Earlangga hanya mengangguk dan bangun dari duduknya, dia segera keluar dari ruangan itu, menyiapkan mobilnya.
Hari itu juga
Earlangga mengantar Valerie pulang. Tentu saja tidak perlu mengantar pulang jauh karena rumah tempat tinggal Valerie ada disamping rumahnya.
Bu Asni sangat terkejut saat Earlangga mengantar Valerir kerumah. Dia langsung memapah Valerie masuk ke kamarnya.
Earlangga melihat isi kamar gadis itu.
“Kamarnya sangat kecil, kau tinggal dikamar tamu dirumahku saja,” kata Earlangga.
“Tidak Pak, tidak usah, aku tinggal disini saja aku akan lebih baik,” jawab Valerie.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Earlangga sambil menoleh pada Bu Asni.
“Cari orang untuk merawat Valerie, biar dia cepat sembuh,” kata Earlangga.
“Baik Pak,”jawab Bu Asni.
“Baiklah, aku juga banyak urusan, kau istirahat saja. Untuk obatku, aku akan meminta Dokter Egi untuk mengirimkan perawat pengganti sementara,” uja Earlangga, sambil menatap Valerie.
“Maaf Pak, aku sudah merepotkan,” kata Valerie.
“Tidak apa-apa, kau istirahat saja,” ucap Earlangga, lalu keluar dari kamarnya Valerie.
Bu Asni menatap Valerie yang duduk dipinggir tempat tidur wajahnya sangat pucat.
“Sayang, kau sangat pucat, apa semuanya baik-baik saja? Beberapa hari ini kau terlihat pucat, kau sakit, kita ke Dokter sekarang,” kata Bu Asni.
“Tidak usah Bu, sebentar lagi aku sembuh, tadi Pak Earlangga sudah memanggil Dokter, aku hanya butuh istirahat saja,” jawab Valerie.
Bu Asni menatap wajahnya Valerie, entah kenapa dia merasa ada yang lain pada gadis itu.
**********
__ADS_1