
Tok tok tok! Terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk!” kata Sean.
Seseorang masuk, Sean hanya menatapnya sebentar kemudian kembali membaca berkas ditangannya sambil duduk bersandar di kursi kerjanya.
“Katanya kau sakit, tapi kata Bu Devi kau sudah masuk kerja pagi ini, sangat mengherankan,” kata pria yang datang itu ternyata Sam.
Sean tidak menjawab, dia focus membaca berkas itu.
Terdengar lagi suara pintu diketuk.
“Masuk,” ucap Sam.
Seorang pria berumur masuk ke ruangan itu, Sam menoleh dan menyapanya.
“Ayah,” sapa Sam. Mendengar Sam menyebut nama ayah, membuat Sean menoleh kearah yang datang.
“Selamat pagi,Pak,” sapa Pak Deni, ayahnya Sam.
“Ada apa?” tanya Sean kembali menatap berkasnya.
“Ada kabar bahwa Nyonya mengetahui kalau ada wanita yang tinggal bersamamu,” jawab Pak Deni.
“Itu pasti informasi dari Vanessa kan?” tanya Sean, kini menyimpan berkas yang dibacanya dan menatap Pak Deni.
Pak Deni mengangguk.
“Jadi siapa wanita itu? Pacarmu?” tanya Pak Deni.
“Bukan, dia peserta kontes,” jawab Sean.
Pak Deni menoleh pada Sam.
“Sudah sampai mana kontes itu?” tanya Pak Deni.
“Baru juga awal lomba,” jawab Sam.
“Kenapa lambat sekali?” keluh Pak Deni.
“Seharusnya dari kemarin sudah lomba berikutnya, gara-gara dia sakit, minta ditunda, eh dia masuk kerja sekarang,” jawab Sam.
“Kau sudah sembuh sekarang?” tanya Pak Deni, menatap Sean.
“Sudah,” jawab Sean.
“Sebaiknya kau pulang ke rumah utama. Kalau tinggal dirumah kontrakan, kau tidak terurus,” kata Pak Deni menatap Sean, mengkhawatirkan putra majikannya itu.
“Tidak apa-apa aku baik-baik saja,” ucap Sean.
“Iya ayah, lagipula kontesnya juga baru dimulai, nanti juga kalau sudah mendapatkan pemenangnya Sean kembali ke rumah utama. Jangan sampai kontes ini menjadi gagal,” kata Sam.
“Ya sudahlah terserah kalian. Yang perlu kalian ingat. Saat usia 30 harus sudah menikah dan punya keturunan, jadi harus bertindak cepat,” kata Pak Deni.
Sam dan Sean terdiam.
“Ya sudah saya permisi, Pak,” kata pak Deni. Mengangguk pada Sean lalu keluar ruangan.
Sam menoleh pada Sean.
“Bagaimana ini? Kontes harus dipercepat, setelah kau menikah kau harus buru-buru punya anak juga, jadi istrimu harus langsung hamil,” kata Sam.
“Semua ini benar-benar membuatku susah,” gerutu Sean.
“Ya kau pilih acak saja wanitamu. Kau punya banyak pacar tinggal pilih, kau nikahi, lalu punya anak beres,” kata Sam.
“Beres bagaimana? Aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai,” gerutu Sean.
“Terus bagaimana dengan kontes itu? Tidak ada satu kandidat pun yang kau lirik,” keluh Sam.
“Entahlah, semua ini sangat membuatku tertekan,” keluh Sean.
“Ada undangan pernikahan dari Martin,” Sam mengulurkan sebuah kartu yang tadi dipegangnya, kartu pernikahannya Martin, teman mereka saat kuliah.
“Martin menikah?” tanya Sean, menerima kartu undangan itu.
“Iya,” jawab Sam.
__ADS_1
“Kapan?” tanya Sean, sambil membuka undangan itu.
“Nanti malam,” jawab Sam.
“Nanti malam? Kenapa kau tidak memberitahuku kemarin kemarin?” keluh Sean.
“Aku sibuk jadi lupa, tempat resepsinya lumayan jauh, jadi kau harus pulang lebih awal biar tidak kemalaman,” jawab Sam.
“Kita berangkat jam berapa?” tanya Sean.
“Aku ada acara keluarga dulu nanti sore, jadi aku dari rumah saudara langsung kesana, tidak bisa pergi bersamamu. Kau berangkat sendiri saja nanti kita bertemu di resepsinya Martin,” kata Sam.
“Ya baiklah,” ucap Sean.
********************
Sore harinya…sepulang kerja, Sean sudah bersiap-siapa akan ke resepsi teman kuliahnya, Martin. Saat telponnya berdering nyaring, ternyata Sam yang melakukan panggilan.
“Sean kau akan berangkat sekarang?” tanya Sam.
“Iya,kenapa?” tanya Sean.
“Gawat,” jawab Sam.
“Gawat apa?” tanya Sean.
“Martin mengundang mantan-mantanmu juga, Adinda, Yuniar,Emili, Ester, Rianty, Dewi, Sisil, dan banyak lagi,” seru Sam.
“Apa? Dia mengundang mantan-mantanku? Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Lebih baik aku tidak usah kesana. Akan kacau jadinya, kau tau kan mereka tidak mau aku putuskan,” kata Sean.
“Kalau tidak datang tidak enak sama Martin, aku juga sudah dijalan ini, kita janjian disana,” ucap Sam.
“Ya sudahlah, aku kesana,” jawab Sean dengan kesal.
Sean bingung kalau harus menghadapi wanita-wanita yang menyukainya. Begitu mudahnya dia mendapatkan pacar, sampai tidak terhitung berapa wanita yang dipacarinya, tapi semuanya tidak ada yang bisa bertahan lama dengannya. Dia gampang sekali bosan dengan pacar-pacarnya itu, entah kenapa.
Dia hanya tertarik melihat wanita itu cantik, tanpa dia menyatakan sukapun wanita itu akan bersedia menjadi pacarnya, begitu mudahnya mendapatkan pacar baginya, tapi tidak dengan istri. Dia harus bersusah payah begini mencari calon istri yang benar benar bisa bertahan lama hidup dengannya.
Berkaca dari kebiasaan pacarannya dulu yang gampang putus dan berganti lagi yang baru dengan mudah, tidak mungkin pernikahan juga disamakan seperti itu, tidak ingin dia kawin cerai seminggu sekali.
“Aku pergi ke resepsi temanku,” kata Sean pada pak Roby yang membantunya menyiapkan mobil untuknya.
“Ya Pak,” jawab Pak Roby mengangguk.
“Mungkin pulangnya agak malam, lokasinya lumayan jauh,” lanjut Sean.
“Baik, Pak,” jawab Pak Roby lagi.
Tidak berapa lama Sean menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Jalanan cukup ramai malam ini, Lokasi resepsi itu disebuh hotel berbintang yang ada di perbukitan yang biasa digunakan untuk berlibur keluarga.
Halaman hotel itu tampak sudah penuh dengan kendaraan, petugas parkir begitu sibuk mengatur alur kendaraan. Kini giliran Sean memarkir mobilnya. Dari luar sudah terdengar suara-suara music hiburan.
Baru juga turun dari mobilnya, seseorang memanggilnya.
“Sean!” panggil suara seorang perempuan. Sean menoleh kearah suara itu. Seorang wanita cantik dengan memakai gaun yang indah, berjalan menghampirinya.
“Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu sejak kau memutuskan aku waktu itu,” kata wanita cantik itu. Sean agak pucat bertemu dengan wanita itu, dia mulai dilanda gelisah.
“Kau siapa ya?” tanya Sean, mengerutkan keningnya berfikir keras.
“Adinda, kita pacaran waktu semester 3,”jawab wanita itu ternyata mantan pacarnya Sean. Langsung saja kepala Sean terasa pusing, mana ingat dia dengan wanita-wanita yang dikencaninya? Meskipun semuanya cantik-cantik tapi tidak satupun yang memberi kesan lebih di ingatannya.
“Maaf aku lupa,” ucap Sean.
“Kau bisa saja,aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi disini,” kata Adinda. Sean tidak menjawab, dia benar-benar lupa.
“Kau sendiri?” tanya Adinda, matanya mengedar kesekeliling.
“Aku dengan Sam,” jawab Sean.
“Maksudku pacarmu, kau belum menikah kan? Aku dengar kau sangat sibuk dengan perusuhaanmu, aku yakin pasti kau tidak sempat untuk pacaran,” kata Adinda.
Sean hanya diam tidak menjawab, dia mulai bosan ngobrol dengan Adinda.
“Aku juga masih sendiri,” kata Adinda sambil tersenyum. Sean sudah menduga gelagat gelagat seperti ini, pasti Adinda akan merayunya dan minta balikan lagi.
__ADS_1
“Maaf aku akan menemui Martin di dalam,” elak Sean.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Sean!” Seorang wanita cantik lagi menghampirinya, wajahnya terihat sangat senang begitu melihat pria tampan itu.
Sean terdiam, dia mengingat-ingat siapa wanita itu.
“Aku Yuniar, kau lupa? Tega ya kau melupakanku, kita pacaran semester 4,” kata Yuniar. Sean tersenyum jengah. Dia benar-benar lupa.
Adinda langsung memasang wajah cemberut saat Yuniar mendekati Sean.
“Kau datang sendiri atau…” Yuniar menoleh pada Adinda yang mendelik tidak suka pada Yuniar. Sean tidak menjawab. Dia bertanya-tanya Sam sudah sampaimana? Dia sudah mulai kewalahan dengan wanita-wanita ini.
Tampak beberapa mobil lagi berdatangan. Pengendaranya turun dan berjalan menuju pintu loby.
“Sean!”
“Sean!”
“Sean!”
“Sean!” panggil mereka seperti sekelompok fans selebritis.
Wajah Sean semakin pucat. Apa yang harus dilakukannya untuk lepas dari wanita wanita ini? Sean melihat ada juga yang bersama dengan pasangannya dan malah berlari menghampirinya. Bagaimana kalau pasanganya itu tidak suka dan memukulnya?
Saaaam, kemana kau? Teriaknya dalam hati.
“Sean, aku dengar kau masih sendiri,” kata salah satu wanita yang bukan Adinda bukan juga Yuniar, entah siapa namanya.
Sean tidak menjawab. Seorang pria yang baru turun dari mobil segera menghampiri mereka.
“Sayang, ayo kita masuk,” kata pria itu mungkin pacarnya si wanita itu.
“Kau saja duluan, aku ada uruasan sebentar,” jawab wanita itu. Urusan? Urusan apa? Batin Sean.
“Kita pacaran semester 6, masa kau lupa? Kau menghadiahi kalung yang sangat cantik, aku masih menyimpannya sampai sekarang,” kata wanita itu.
Mendengar ucapan wanita itu yang lainnya juga bersuara.
“Aku lebih dulu pacaran dengan Sean, tidak perlu kau sombongkan apa yang dia beri, dia juga menghadiahi aku kalung dan aku masih menyimpannya,” kata wanita yang lain.
“Dia benar, Sean juga menghadiahi aku kalung,” kata yang lain.
Sean benar-benar pusing melihat wanita-wanita itu bicara. Dia sama sekali tidak pernah ingat apa yang pernah dia berikan, karena uang baginya begitu mudah, hanya menghadiahi sebuah kalung sangat gampang baginya, tidak ada yang istimewa dengan semua itu.
Sean mengeluarkan handphonenya akan menelpon Sam. Belum juga dia bicara, pria itu tiba-tiba muncul menyeruak diantara wanita-wanita itu.
“Apa apa ini? Bubar! Bubar!” teriak Sam.
“Sam! Kau dari dulu memang pengganggu!” maki seorang wanita.
“Sudah bubar-bubar, jangan mengganggu Sean. Aku beritahu ya. Semua kalung itu bukan Sean yang membelikannya, tapi aku, jadi tidak usah membangga-banggakan kalung itu. Bubar! Bubar! kalian kesini mau ke undangan Martin kaa, bukan mau mengganggu Sean? Bubar, bubar!” teriak Sam, mendorong wanita-wanita itu supaya menjauh dari tempat itu.
“Dasar kau Sam, kau memang pengganggu dari dulu!” teriak wanita-wanita itu.
Sam menoleh pada Sean.
“Kenapa kau lama sekali?”tanya Sean.
“Jalanan macet, ayo masuk!” jawab Sam, sambil menarik Sean masuk ke dalam ruangan resepsi.
Ternyata wanita-wanita itu tidak bisa dengan mudah meninggalkan Sean, mereka masih mengikutinya masuk ke dalam. Sean benar-benar merasa stress.
“Bagaimana ini? Aku pusing dengan mereka,” bisik Sean pada Sam.
“Kenapa Martin mengundang mereka semua?” gerutu Sean lagi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang penuh sesak. Dilihatnya kursi kursi juga sudah penuh terisi, mata mereka tertuju pada pertunjukan dipanggung band pengiring. Sean pun melihat ke arah pertunjukan itu dan dia langsung terkejut saat melihat siapa yang sedang tampil disana. Lorena dengan biolanya.
*****************
Slow dulu ya readers…3 novel tidak ada yang lucu, author sedang malas menulis, teman-teman pada pindah lapak, nulis sendirian, jadi tidak semangat.
Juga maaf ya kalau episode Billionaire Bride didahulukan karena mau pengajuan banner rekomendasi untuk di beranda.
Kontes belum memenuhi syarat pengajuan karena episode nya masih dibawah 30.
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1