
Di ruang kunjungan para napi itu lagi-lagi Nisa menangis didepan ayahnya.
“Kenapa lagi?” tanya ayahnya dengan kesal, sambil menatap putrinya yang terus saja menangis sesenggukan.
“Rencana kita gagal, aku tidak berfikir kalau dirumahnya Sean dipasang cctv, aku ketahuan membawa makanan untuk Lorena,” jawab Nisa.
Pak Tedi menatap putrinya.
“Kau benar-benar ceroboh!” bentak Pak Tedi.
“Sean datang ke rumah dan mengancamku akan memasukkanku ka penjara. Aku sangat takut!” kata Nisa disela isaknya.
“Kenapa tidak terfikirkan olehku kalau dirumahnya ada cctv?” keluh Pak Tedi lagi.
“Aku benar-benar kalah sekarang. Aku juga tidak mau jatuh miskin yah. Aku malu dengan teman-temanku. Semua teman-teman menjauhiku karena ayah dipenjara. Ibu juga sudah mengeluhkan soal keuangan keluarga kita yang menipis,” ucap Nisa, sambil menghapus airmatanya, dia sudah mulai tenang sekarang.
Pak Tedi memegang-megang kepalanya yang terasa pusing.
“Jadi bayi itu masih selamat?” tanya Pak Tedi.
“Iya, Lorena sempat dirawat dirumah sakit karena dia makan buah itu walaupun sedikit, tapi bayinya bisa diselamatkan,” jawab Nisa, membuat Pak Tedi diam.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Nisa.
“Kalau Sean mempunyai rekaman cctv, itu sangat membahayakanmu, kau tidak perlu melakukan apa-apa lagi aku khawatir dia benar-benar akan memasukkanmu ke penjara,” jawab Pak Tedi.
“Jadi, aku benar-benar kalah sekarang? Sekarang aku juga sudah tidak popular lagi, gara-gara ekonomi kita semakin terpuruk, aku tidak bisa bebas shoping lagi,” keluh Nisa.
“Aku harus bisa keluar dari penjara ini secepatnya,” kata Pak Tedi.
“Bagaimana caranya? Uang kita semakin habis untuk mengurus pembebasan ayah yang sepertinya tambah sulit lagi,” ucap Nisa.
“Sean bukan tandingan kita, dia memiliki uang dan kekuasaan,” keluh Pak Tedi.
“Jadi ayah akan mendekam dipenjara bertahun-tahun?” tanya Nisa.
“Sepertinya begitu karena hukuman bagi orang yang mengerti hukum itu lebih berat. Kita harus menjual aset-aset yang kita miliki agar ayah bisa terus melakukan banding dan banding supaya masa tahanan bias berkurang,” jawab Pak Tedi.
“Sudah aku bilang aku tidak mau miskin!” teriak Nisa.
__ADS_1
“Kau mau melihat ayahmu membusuk dipenjara? Kau fikir mudah berhadapan dengan keluarga Joris?” bentak Pak Tedi merasa kesal dengan sikap manjanya Nisa.
“Jadi Sean tetap akan mendapatkan warisannya, dan kita benar-benar jatuh miskin? Sudah tidak bisa menikah dengan Sean, warisannyapun tidak bisa kita dapatkan,” keluh Nisa.
Pak Tedi tidak bicara lagi, dia menggeram dalam hati, dia merasa dendam dengan semua yang terjadi padanya.
Sejak kedatangan Nisa itu, Pak Tedi sangat gelisah, dia terus berfikir di dalam penjara, seperti yang dirasakan Nisa, dia juga tidak terima dengan kekalahannya. Apalagi dampak yang terjadi karena dia dipenjara. Jelas jelas dia tidak akan bisa mendirikan firma hukum lagi, jangankan itu, untuk melanjutkan jadi pengacara saja tidak mungkin. Hidupnya benar-benar hancur, semua gara-gara Sean. Sean yang seenaknya saja memasukkannya ke penjara tanpa ampun, padahal apa sulitnya menikahi putrinya. Putrinya tidak kalah cantik dengan Lorena, putrinya juga sehat dan bisa memberikan keturunan.
Dan bayi itu, bayi itu akan segera lahir, akan menjadi jembatan turunnya semua warisan kakeknya Sean.
Pak Tedi tersenyum sinis. Dia sudah tidak bisa menjadi anggota Tim pengacaranya keluarga Joris itu artinya saat penyerahan warisan itu dia tidak akan mendapatkan uang sepeserpun, padahal kekayaan yang akan diberikan jumlahnya sangat banyak, tentu saja jasa yang akan dibayarkan juga sangat besar dan itu akan membuatnya kaya raya. Tapi gara-gara Sean memasukkannya ke penjara, kesempatan itu hilang musnah.
Pak Tedi menggeram kesal. Tapi saat ini sudah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain diam atau Nisa akan terseret-seret masuk penjara, dia tidak mau putrinya sampai ikut dipenjara seperti dirinya, terpaksa dia harus diam saat ini, tapi…tidak dengan nanti. Tidak kalau dia bisa keluar dari penjara, tapi kapan dia bisa keluar? Masa tahanannya lebih dari satu tahun dan itu artinya semuanya telah terlambat, sangat terlambat.
***************
Beberapa bulan kemudian…
Pagi itu Sean sudah mau berangkat bekerja, saat dia mencari-cari istrinya yang tidak ada dikamarnya. Keluar dari dalam rumah barulah dia melihat istrinya yang sedang berjalan-jalan tanpa alas kaki di jalan setapak sekitar halaman rumahnya sambil memegang perutnya yang besar.
Ditatapnya istrinya itu yang juga kebetulan melihat kearahnya. Dia langsung tersenyum melihatnya. Istrinya terlihat cantik dengan perutnya yang besar itu.
“Kau mau berangkat?” tanya Lorena, menghampiri suaminya sambil tersenyum.
“Iya sayang, kau terlihat sangat lelah” jawab Sean, diapun mendekati istrinya, langsung memeluknya dari samping.
“Apa ada tanda-tanda akan melahirkan?” tanya Sean.
“Belum, hanya saja aku merasa sudah sangat berat,” jawab Lorena.
“Semoga lahir dengan selemat, sayangg,” kata Sean, mengusap perut besar istrinya.
“Kapan perkiraan lahirnya?” tanya Sean.
“HPLnya kurang lebih dua minggu-an lagi,” jawab Lorena.
“Berarti sebentar lagi ya,” gumam Sean.
__ADS_1
Lorena mengangguk.
Sean menatap wajah istrinya yang terlihat lebih gemuk. Dia tidak terlalu pusing dengan perubahan fisik istrinya yang gemuk, yang penting istri dan bayinya sehat saja sudah membuatnya senang. Apalagi masa-masa kehamilan yang harus serba protektif karena lemah kandungan.
“Aku senang akhirnya sudah sampai usia Sembilan bulan juga,” ucap Sean, masih mengelus-elus perut istrinya.
“Iya,” Lorena mengangguk, dia ikut-ikutan mengusap perutnya.
“Baiklah sekarang aku akan berangkat. Kalau ada apa-apa tolong cepat-cepat beritahu aku,” ucap Sean, menatap istrinya lekat-lekat.
“Aku terlihat gemuk ya,” kata Lorena.
“Tidak masalah, kau tambah cantik,” jawab Sean, sambil mencium pipi istrinya yang tembem. Lalu Sean menunduk mencium perut besar itu.
“Sayang, ayah berangkat dulu. Cepat lah lahir ayah sudah sangat merindukanmu,” ucapnya. Lorena hanya tersenyum sambil mengusap bahu suaminya.
“Jangan pulang larut,” kata Lorena.
“Tidak, sore juga aku sudah pulang,” jawab Sean, menatap wajah istrinya sebentar lalu mencium keningnya.
“Baiklah aku berangkat sekarang,” kata Sean, melepas pelukannya., istrinya hanya mengangguk. Seanpun berjalan menuju mobilnya, supirnya sudah menunggu didalam mobil. Tidak berapa lama mobilnya keluar meninggalkan rumah itu.
Saat digerbang, mobil itu berpapasan dengan sebuah mobil yang terparkir di sebrang jalan. Mobil hitam dengan kacanya yang hitam pekat. Si pengemudi membuka sedikit kaca mobilnya saat mobilnya Sean sudah berbelok melewatinya.
“Itu target kita?” tanya si pengemudi.
“Iya yang sedang hamil besar itu,” jawab seorang yang duduk disebelahnya.
“Apa kita akan tega melakukannya pada wanita yang sedang hamil tua?” tanya si pengemudi.
“Aku tidak peduli, yang penting uang, itu sudah menjadi pekerjaan kita,” jawab si temannya itu.
“Kapan kita beraksi?” tanya si pengemudi.
“Kita lihat situasi, kira-kira kapan wanita itu keluar rumah,” jawab si temannya.
“Mungkin kalau dia akan melahirkan atau dia akan control ke dokter,” kata si pengemudi.
“Kau benar, jadi kita harus memantau terus tiap hari?” tanya si temannya itu.
__ADS_1
“Kita minta beberapa mobil rental supaya tidak mencurigakan,” jawab si pengemudi yang diangguki temannya itu.
**************