Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-97 Pergi ke taman


__ADS_3

Keesokan harinya Ealrangga bangun lebih dulu, dia melihat istrinya tidur dengan berkeringat dan gelisah membolak balikkan badannya.


“Sayang, kau kenapa?” tanya Earlangga sambil memegang tubuh Valerie.


“Valerie!” panggil Earlangga, melihat keringat membasahi wajahnya Valerie, nafasnya juga tersengal-sengal dan dia kembali membalikkan tubuhnya.


“Valerie, bangun!” Earlangga mencoba membangunkan Valerie.


“Valerie, Valerie, bangun!” ulangnya berkali-kali.


 Akhirnya Valerie bangun membukakan matanya.Dia kaget meliaht saat suaminya sedang menatapnya dengan heran.


“Kau kenapa?” tanya Earlangga.


“Aku…” Valerie terdiam lagi, mengerjapkan matanya.


“Aku mimpi buruk,” ucapnya. Dia merasa bermimpi ada yang mengirim pesan kalau bayinya masih hidup.


“Lupakan saja, aku hanya bermimpi,” ucap Valerie, tidak bercerita banyak pada Earlangga. Diapun segera turun dan pergi ke kamar mandi.


Earlangga menatapnya tidak mengerti, Valerie bersikap aneh begitu.


Di kamar mandi, Valerie hanya duduk di toilet dan melamun. Apa benar semalam itu mimpi? Mimpi ada yang mengirimkan pesan bayinya masih hidup? Bagaimana itu bisa terjadi sedangkan Jordan jelas-jelas sudah dimakamkan. Diapun kembali menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkaan fikiran yang buruk dikepalanya.


Tapi kemudian dia terdiam, tapi itu bukan mimpi, jelas-jelas dia membaca pesan itu. Kenapa ada yang memberi pesan seperti itu? Maksudnya apa?


Apa dia harus pergi ke taman itu untuk memastikan apakah pesan itu bohong atau tidak?


Akhirnya Valerie cepat-cepat mandi, daripada dia gelisah tidak jelas, lebih baik dia pergi saja ke taman itu, dia ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu dan maksudnya apa? Tapi ah bagaimana kalau orang itu mau memerasnya? Valerie kembali ragu, tapi kemudian dia melanjutkan mandinya.


Setelah Earlangga berangkat ke kantornya dengan Sean, Valerie mengurus Ny.Grace untuk mandi dan berpakaian, dia juga menyuapinya. Mereka duduk di balkon kamar Ny.Grace.


Valerie menyuapi sambil pandangannya menerawang jauh keluar. Dia masih bingung dengan pergi atau tidak menemui orang pengirim pesan itu. Tapi dalam hatinya penasaran pengirim pesan tahu bayinya meninggal makanya menerornya dengan menulis bayinya masih hidup. Apa ornag itu orang dikenal? Apakah itu ulah Ny.Grace? Tidak mungkin, Nyonya Grace tidak bisa apa-apa sekarang.


Valeriepun menatap Ny.Grace. Sebelum sakit, iya Ny. Grace selalu berusaha menyakitinya tapi sekarang untuk bicara saja tidak bisa, berjalan juga harus dibantu, tangan tidak bisa digerakkan, tidak mungkin Nyonya Grace menyuruh orang untuk menerornya.


“Nyonya, setelah Nyonya istirahat, aku mau keluar dulu sebentar,” kata Valerie, bicara sendiri, karena dia tahu Ny.Grace tidak bisa bicara.


Ny.Grace tidak menjawab, dia hanya menatap wajah wanita yang sedang menyuapinya. Istri cucunya itu mau keluar, keluar kemana? Ah mungkin di mau belanja atau memang ada urusan.


Valerie menoleh pada Ny.Grace.


“Apa Nyonya merasa lebih baik sekarang?” tanyanya.


Ny.Grace hanya mengerjapkan matanya.


“Bagus, kita minum obat. Kalau Nyonya ingin pergi ke taman depan, aku panggilkan pelayan lain untuk menemani Nyonya. Aku pergi tidak lama, aku ingin menemui seseorang,” ucap Valerie.


“Setelah urusanku selesai, aku akan cepat pulang, Nyonya harus minum obat yang ke-2,” lanjut Valerie.


Ny.Grace diam saja, mau menemui seseorang? Menemui siapa? Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Valerie membereskan tempat makannya lalu berdiri dan menatap Ny.Grace.


“Nyonya, aku panggilkan pelayan dulu untuk menemani Nyonya,” kata Valerie lalu bangun dan meninggalkan Ny.Grace sendiri di balkon kamarnya. Tidak berapa lama seorang pelayan datang untuk menemaninya.


Valerie pergi ke taman menggunakan taxi. Dia tidak bicara apa-apa pada Lorena. Sesuai dengan pesan itu sendiri dan rahasia. Jadi dia merahasiakan kepergiannya dari siapapun.


“Bu!” terdengar Lorena masuk ke kamarnya Ny.Grace. dilihatnya balkon terbuka. Ny.Grace sedang ditemani pelayan yang ada dirumah ini.


“Kemana Valerie?” tanya Lorena pada pelayan itu.


“Katanya mau keluar sebentar, saya diminta menggantikannya,”jawab pelayan itu.


“Mau kemana dia?” tanya Lorena lagi.


“Tidak bilang, Nyonya,” jawab pelayan itu.


Lorena menoleh pada Ny.Grace lalu berjongkok dan menatap ibu mertuanya itu.


“Ibu Lebih baik sekarang?” tanyanya.


“Ibu terlihat lebih segar, Valerie mengurus ibu dengan baik,” ucapnya lagi, sambil mengusap tangannya Ny.Grace.


Meskipun sakit, Valerie sudah mendandaninya dengan rapih. Sepertinya menantunya itu tahu kalau ibu mertuanya ini sangan perfect dalam penampilan.


“Dia cucu yang baikkan Bu?” tanya Lorena.


Ny.Grace tidak menjawab.


“Semoga ibu bisa melihat kebaikannya, ketulusannya,” lanjut Lorena lagi, lalu bangun dan menoleh pada pelayan itu.


“Jaga Ibu ya, kalau ada apa-apa, aku ada diruang kerja,” kata Lorena, lalu meninggalkan balkon itu.


Ada butiran airmata yang menetes dipipinya Ny.Grace.


“Nyonya kenapa menangis? Ada yang sakit?” tanya pelayan itu kaget melihat Ny.Grace menangis.


“Nyonya minum ya,” ucapnya sambil mengambil minum.


Ny.Grace bukan mau minum, tapi terharu dengan ucapannya Lorena, menantunya benar, istri cucunya sangat baik mau merawatnya dan sama sekali tidak berperilaku buruk padanya meskipun dia tidak bisa apa-apa. Perasaan bersalah semakin menumpuk dihatinya. Apalagi dia kembali teringat bayi itu. Airmata semakin deras membasahi pipinya.


Menantunya juga sangat baik, tapi dia selalu menghardiknya dan membuat mereka bertengkar. Dia benar-benar ibu mertua dan Nenek yang buruk.


****


Taxi yang dikendarai Valerie sudah sampai ditaman. Sekarang sudah pukul 10, itu artinya pemberi pesan sudah tiba di taman itu.


Dilhatnya ke sekeliling, sepi, karena hari ini bukan hari libur.


Valerie berjalan memasuki taman. Si pemberi pesan tidak mengatakan dimana tepatnya akan menemuinya, hanya di taman saja.


Valeriepun terus berjalan menuju air mancur. Disana terlihat lumayan ramai. Ada anak-anak yang bermain juga di sekitar air mancur itu.

__ADS_1


Dilihatnya ada seseorang yang duduk di kursi dekat air mancur yang luas itu. Apa dia orangnya? Tapi ternyata seorang anak kecil mengahampirinya, lalu pria itu pergi dengan anak kecil itu, ternyata bukan.


Dilihatnya lagi ke sekeliling, ada beberapa orang dewasa disekitar air mancur, mana mungin dia menanyakan siapa yang memberinay pesan, mereka juga tidak ada yang gelagat mencurigakan atau melihat kearahnya, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang bersantai dengan pacarnya mungkin, duduk- duduk sambil melihat ponselnya, ada yang menunggu anaknya berlarian kesana kemari.


Valeriepun akhirnya duduk di kursi  panjang yang kosong itu, memperhatikan orang-orang. 5 menit, 10 menit, 15 menit tidak ada yang datang menemuinya. Dilihatnya jam ditangannya sudah jam 10 lebih 30 itu artinya dia sudah menunggunya 30 menit.


Tiba-tiba ada yang duduk disampingnya. Valerie langsung menoleh dan dia terkejut saat melihat pria itu. Darren duduk dengan menopang kakinya, memasukkn kedua tangannya di sakunya.


“Kau? Darren? Sedang apa kau disini?” tanya Valerie.


“Aku hanya kebetulan ke taman dan melihatmu, jadi aku kesini,” jawab Darren tanpa menoleh.


“Aku tidak mau diganggu, sebaiknya aku pergi,” usir Valerie, moodnya langsung tidak baik saat melihat Darren.


Darren tidak menjawab, dia bersandar disandaran kursi itu dengan nyaman.


Merkapun terdiam beberapa saat. Baik Darren maupun Valerie tidak ada yang bicara.


Valerie melihat jam tangannya sudah lebih dari 30 menit si pengirim pesan itu tidak datang. Diapun bangun dari duduknya, tapi terhenti saat Darren bicara.


“Apa kau suka dengan bunga yang aku kirmkan padamu?” tanya Darren.


Valerie terkejut Darren mengatakan itu, dia pun membalikkan tubuhnya menatap Darren.


“Kau, jadi kau yang mengirimi bunga tiap hari padaku waktu di London? Hei, darimana kau tahu tempat tinggalku di London?” tanya Valerie, keheranan.


“Aku hanya ingin mengirimmu bunga saja, kau suka?” tanya Darren.


“Aku membuangnya,” jawab Valerie.


“Kenapa?” tanya Darren.


“Tentu saja karena kau tidak berhak mengirimiku bunga, buat apa?” gerutu Valerie.


Darren tersenyum mendengarnya, dia sudah menebak akan mendapat perlakuan ketus dari Valerie.


“Sebaiknya kau jangan mengirimiku bunga lagi, selain aku sudah bersuami aku juga tidak suka,” kata Valerie, lalu membalikkan badannya,  beranjak beberapa langkah, tapi kemudian langkahnya terhenti saat Darren bicara.


“Bagaimana kalau aku mengirimmu foto tiap hari?” tanya Darren.


Valerie membalikkan badannya lagi.


“Buat apa? Aku tidak mau kau mengirim apapun padaku!” maki Valerie dengan keras.


Darrenpun diam. Valerie kembali membalikkan badannya, dia harus cepat-cepat pergi dari tempat itu karena bicara dengan Darren membuatnya jadi stress saja.


Tapi kemudian langkahnya terhenti lagi, saat Darren bicara lagi.


“Bagaimana kalau foto bayi bernama Aldric stefanov alias Jordan Emanuel yang asli?” tanya Darren.


Jantung Valerie langsung berdebar kencang mendengarnya. Apa maksud Darren itu? Apa yang mengirim pesan itu adalah Darren? Siapa bayi yang Darren sebut itu? Siapa Aldric Stefanov? Kenapa alias Jordan? Valeriepun membalikkan bandanya lagi menatap Darren.

__ADS_1


*************


__ADS_2