Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-38 Earlangga mengidam


__ADS_3

Beberapa hari kemudian…


Earlangga masuk ke kamarnya, dia sudah mulai terbiasa melihat Valerie makan buah buahan di malam hari sebelum tidur. Bukan duduk di sofa, tapi wanita itu  selalu duduk diatas tempat tidur, padahal dia sudah mengatakan  supaya tidak mengotori tempat tidurnya.


“Aku kan sudah bilang jangan makan buah diatas tempat tidur,” kata Earlangga, sambil naik ke tempat tidur.


“AC nya terlalu dingin buatku kalau duduk di sofa,” jawab Valerie. Biasanya Earlangga akan marah dan kesal, tapi tidak kali ini, dia membiarkan wanita itu makan diatas tempat tidurnya.


“Tapi kau rapihkan lagi bekasnya, jangan mengotori tempat tidurku apalagi meninggalkan bekas,” kata Earlangga, sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Iya, Pak, nanti saya rapihkan,” jawab Valerie.


Earlangga mengganjal kepalanya dengan beberapa bantal supaya lebih tinggi, dia melihat kearah televisi yang sedang ditonton Valerie.


Beberapa hari lalu dia sudah bertanya pada Valerie, siapa pria yang menghamilinya, dia tetap tidak mau bicara.


Malam itu dia berkata pada Valerie.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” katanya waktu itu, dia benar-benar serius dengan apa yang akan ditanyakannya.


“Apa?” tanya Valerie.


“Kenapa kau tidak mau mengatakan siapa yang menghamilimu? Pacarmu itu siapa? Kenapa kau menutupi identitasnya?” tanyanya.


Gadis itu malah menatapnya sebentar lalu menunduk, melihat lagi majalah yang ada gambar bayi-bayi itu, wajahnya langsung saja muram, berubah memerah. Melihatnya membuat Earlangga merasa tidak nyaman, sepertinya memang Valerie tidak siap bercerita apapun sampai detik ini.


“Ya sudahlah kalau kau tidak mau bicara, kita tidur saja,” ucapnya waktu itu,mengakhiri percakapan mereka.


Seperti sekarang ini, setiap melihat Valerie, setiap kali juga dia penasaran siapa pria yang menghamilinya. Apa Valerie tidak mau pria itu bertanggung jawab atau pria itu yang tidak mau bertanggungjawab?


Earlangga menghela nafas panjang. Sebenarnya dia sangat dirugikan oleh Valerie, tapi terus terusan memarahinya juga sudah tidak ada gunanya, dia sudah menikah dengan gadis itu, yang penting dia harus menjaga nama baik keluarganya saja dulu.


Diliriknya Valerie duduk bersila sambil makan buah dan menonton acara televisi sangat serius. Melihat wanita itu seperti enak sekali makan buahnya, membuatnya jadi tergiur. Earlangga bangun dan menggeser duduknya kedekat Valerie.


“Apa jeruknya sangat enak?” tanya Earlangga, karena  banyak sekali kulit jeruk yang sekarang ada di dalam sebuah kantong plastik diatas sebuah meja kecil dipasang di tempat tidur.


“Kau mau coba?” tanya Valerie, memberikan sebuaah jeruk yang sudah dikupasnya.


Earlangga membuka mulutnya, dia membayangkan akan seenak yang dilihat saat Valerie memakannya, tapi ternyata jauh dari bayangannya.  Jeruk itu sangat asam, dia langsung terbatuk-batuk dan memuntahkannya sambil menutup mulutnya, lalu turun dari tempat tidurnya berlari ke wastafel yang ada di kamar mandi dan membasuh mulutnya.


“Jeruk itu sangat asam kau memakannya?” teriaknya, sambil keluar dari kamar mandi.


“Tidak asam, malah menyegarkan,” kata Valerie.


“Kau harus dibawa ke Dokter! Indra perasamu harus diperiksa, pasti ada kesalahan pada lidahmu,” teriak Earlangga lagi, sambil menghampiri kembali ke tempat tidur, tapi dia menghentikan langkahnya.


“Kenapa?“ tanya Valerie melihat gelagat tidak baik.


“Aku ingin muntah,” jawab Earlangga, sambil buru-buru masuk kekamar mandi.


Valerie hanya mendengar Earlangga muntah-muntah saja. Diapun segera menyimpan jeruknya dimeja dan turun menghampiri ke kamar mandi.


“Bapak kenapa? Sakit?” tanya Valerie.

__ADS_1


“Kenapa aku merasa mual?” gumam Earlangga sambil keluar dari kamar mandi.


“Tunggu sebentar Pak, aku ambilkan obat masuk angin, tapi…” Valerie tidak melanjutkan bicaranya.


“Tapi apa?” tanya Earlangga.


“Bapak punya alergi, aku tidak bisa memberi obat sembarangan. Harus diperiksa Dokter dulu,” kata Valerie.


“Uoo!” Earlangga kembali merasakan mual yang amat sangat, diapun berlari ke kamar mandi dan kembali muntah. Valerie menyusulnya masuk ke kamar mandi. Dengan cekatan tangannya menyentuh belakang lehernya Earlangga dan memijatnya perlahan.


Ealangga merasakan pijatan lembut di tengkuknya, dia kembali muntah-muntah, rasanya begitu meyakitkan dan benar-benar ingin mengeluarkan apapun yang ada di perutnya.


Dengan sabar  Valerie kembali memijat-mijat tengkuknya. Menyadari semua ini membuat Earlangga terdiam, dia merasa bersalah saat Valerie muntah-muntah dia selalu memarahinya karena menggangu tidurnya, tapi saat dia muntah wanita itu memijatnya dengan sabar.


Valerie mengambil  tisu lalu diberikan pada Earlangga.


Pria itu menatapnya, ternyata begini rasanya mual yang amat sangat, benar-benar tidak tertahankan. Apakah itu juga yang Valerie rasakan saat muntah di dini hari?


“Sepertinya Bapak masuk angin, aku ambilkan minyak angin saja,” ucap Valerie sambil keluar dari kamar mandi itu. Earlangga menatap kepergiannya lalu diapun keluar dari kamar mandi.


Valerie mengambil minyak angin di kotak p3k yang ada diruang keluarga, lalu kembali ke kamar itu.


“Dibuka dulu bajunya,” kata Valerie.


Earlangga menatap wanita itu yang seperti biasa saja mengatakannya. Valerie membuka tutup botol minyak angin yang dibawanya.


Melihat Earlangga diam saja membuatnya mengerutkan dahinya.


“Aku ini perawat, aku terbiasa melihat pria bertelanjang dada,” kata Valerie, karena Earlangga malah menatapnya.


Valerie menatap pria yang sekarang bertelanjang dada itu, wajahnya langsung memerah, ternyata menatap pria yang bertelanjang dada di rumah sakit dengan pria ini bertelajang dada rasanya berbeda.


Kenapa dia merasa malu melihatnya? Wajahnya langsung memerah dan memalingkan muka, membuat Earlangga ingin tertawa. Katanya dia terbiasa melihat pria bertelanjang dada kenapa sekarang wajahnya jadi merah begitu? Bahkan tidak mau melihatnya.


Valerie naik ke tempat tidur lalu duduk didekat Earlangga. Matanya sempat bertemu dengan mata Earlangga.


“Berbalik Pak, saya akan mengoleskan minyak angin ke punggung Bapak,” kata Valerie.


“Iya,” jawab Earlangga, sambil memutar tubuhnya membelakangi Valerie.


Valerie mengoleskan minyak angin ketelapak tangannya, saat akan menyentuhkan telapak tangannya kepunggung Earlangga dia terdiam, bagian tubuh belakang yang telanjang itu kembali mengingatkannya pada pria itu, selalu begitu, membuat tangannya menjadi gemetaran. Kejadian buruk itu pasti terlintas begitu saja dibenaknya.


“Apa aku salah makan tadi? Atau karena gara-gara jeruk asam itu?” tanya Earlangga.


Valerie tidak menjawab, melihat rambut belakang dan punggung itu, membuat tangannya semakin gemetaran, dengan ragu jari jemarinya menyentuh kulitnya Earlangga, membayangkan pria yang memilki punggung seperti ini merenggut kehormatannya dimalam itu, membayangkan tubuhnya bersentuhan dengan kulit yang sedang disentuhnya itu. Dadanya terasa sesak saja, menahan tangis.Tidak di dengarnya apa yang di katakan pria di depannya.


Mata Valerie sudah memerah, kelopak matanya sudah mulai diliputi airmata bening. Seandainya dia tahu siapa pria yang bersamanya itu yang memilki bagian belakang seperti pria yang ada didepannya sekarang, apa yang akan dilakukan pria itu jika tahu dirinya mengandung anaknya?


Earlangga merasakan telapak tangan itu mengusap punggungnya perlahan.


“Kenapa aku merasa pusing juga, padahal aku sudah terbiasa mendengar kau muntah di pagi hari, sekarang tidak terlalu mengganggu tidurku,” ucap Earlangga.


Valerie menyusuri punggung itu dengan minyak anginnya, dia sama sekali tidak bicara, airmata terus menetess dipipinya, dia begitu ingin tahu pria yang menodainya, pria yang menghamilinya. Apakah pria yang berbaring itu atau memang ada lagi pria lain yang kemungkinan bule-bule itu?

__ADS_1


Diusapnya seluruh punggung Earlangga, kini jarinya mulai menyenuh lehernya, tangannya menyentuh sebagian rambut Earlangga. Rambut itu rambut yang mirip dengan pria itu seakan akan dia sedang menyentuh pria itu. Apakah dia selamanya akan berada dalam teka-teki ini? Tidak tahu siapa pria yang menghamilinya?


Earlangga merasakan kulit tubuhnya disentuh tangan lembutnya Valerie. Sentuhan itu membuatnya lebih nyaman dan tubuhnya lebih rileks.


“Sudah,” ucap Valerie, sambil menutup botol minyak angin.


“Seharusnya kau memijitku juga, bahuku pegal,” kata Earlangga, merasa sentuhan itu terlalu cepat.


Tanpa protes Valerie memijat bahunya Earlngga dengan kedua tangannya. Earlangga mulai tersadar kalau Valerie tidak bicara-bicara, kenapa dengan dia?


“Ternyata kau pandai memijat,” ucapnya, merasakan bahunya lebih ringan.


Valerie hanya tersenyum tidak juga menjawab.


Earlanggapun diam, meskipun hatinya keheranan kenapa Valerie diam saja dari tadi. Diapun tidak bicira apa-apa.


“Sudah,” ucap Valerie dengan suara hampir tidak terdengar.


Earlangga memutar-mutar bahunya yang terasa lebih baik.


“Seharusnya perutku diberi minyak angin juga,” kata Earlangga, sambil membalikkan tubuhnya, membuat Valerie mendongak menatapnya lalu cepat-cepat menunduk lagi, dia sangat malu melihat dada telanjang di depannya.


Valerie kembali mengoles tangannya dengan minyak angin itu dan mulai menyentuh perutnya Earlangga, sambil menunduk.


Earlangga sempat melihat mata merahnya Valerie tadi, sepertinya habis menangis.


“Kau kenapa?” tanya Earlangga.


Valerie tidak menjawab, dia hanya mengusap perut dan dadanya pria itu.


Earlangga merasalan tangan itu begitu lembut menyusuri kulit perut dan dadanya. Dia membayangkan Valerie mengusap dada-dada pria dirumah sakit. Pasti kesenangan pria-pria yang dirawatnya kalau dipijat begini.


“Kau harus berhenti bekerja,” tiba-tiba Earlangga mengagetkan.


“Apa? Kenapa harus berhenti bekerja?” tanya Valerie, kini menatap Earlangga.


“Pria-pria di rumah sakit itu pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan memintamu memijatnya,” kata Earlangga.


“Aku bukan tukang pijat, buat apa aku memijat pasien?” gerutu Valerie.


Earlanggapun terdiam, Valerie benar, Valerie bukan tukang pijat, dia membayangkannya berlebihan.


“Tubuhmu sudah hangat sekarang,” ucap Valerie, menghentian gerakannya.


Setelah menutup botol minyak angin, diapun langsung turun dari tempat tidur, dan buru-buru ke kamar mandi, mencuci tangannya di wastafel tapi dia menangis sambil mencuci tangan itu. Sebelah tangannya menyenuh perutnya. Kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?


Earlangga turun dari tempat tidur dan mengikutinya ke kamar mandi, tapi di hanya berhenti didekat pintu yang setengah terbuka. Gadis itu menunduk menangis tertahan sambil satu tangannya memegang perutnya.


Earlanggapun diam, dia merasa kasihan, pasti Valerie sangat tersiksa dengan semua ini. Kalau melihat perilaku Valerie beberapa hari ini, dia tidak terlihat tanda- tanda gadis yang agresif atau suka menggoda pria, justru yang dilihatnya gadis itu selalu murung dan menangis. Apa dia ditolak oleh pacarnya?


Bagaimana kalau dia bicara pada Valerie dan membujuknya untuk membantu mencari pria yang menghamilinya itu. Ya. Dia akan membantu Valerie untuk mencari pria yang menghamilinya jika memang pria itu tidak mau bertanggung jawab.


***********

__ADS_1


Readers maaf ya ada alur yang terlewat, jadi loncat, authornya ngantuk, tidur jam 3 pagi, baru ngeuh tadi. Mau revisi, ah ribet menyita waktu, dikasih keterangan di bab selanjutnya saja.


***********


__ADS_2