Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-34 Belajar menjadi suami yang baik


__ADS_3

Ruang makanpun sekarang menjadi ramai. Biasanya hanya Earlangga saja sekarang ada Sean, Lorena dan juga Ny.Grace.


Valerie menyiapkan makanan buat Earlangga, menu Earlangga memang khusus karena sebagian masih makanan menu dari luar yang biasa Earlangga makan. Valerie memilah makanan yang tidak membuatnya alergi.


Untung Bu Asni sangat pengertian, hari ini memasak tidak terlalu banyak aroma daging, atau Valerie akan muntah muntah lagi.


“Kau bekerja hari ini?” tanya Sean pada Earlangga.


“Iya ayah,” jawab Earlangga.


“Ayah akan berangkat lagi mengurus pekerjaan di Luar negeri, pernikahanmu kan sudah beres,” kata Sean.


Lorena menoleh pada Valerie yang hanya menyiapkan makanan dan obatnya Earlangga.


“Kau tidak makan, sayang?” tanya Lorena,menatap Valerie.


“Tidak Nyonya, saya sedang tidak ingin makan,” jawab Valerie.


“Kau ingin makan apa bilang saja pada Earlangga, biasannya memang ibu hamil susah makan,” kata Lorena.


Earlangga terkejut mendengar perkataan ibunya.


“Kenapa aku harus mengurusi makannya Valerie? Aku saja makannya dia yang urus,” kata Earlangga.


“Bukan begitu sayang, kau bisa mengajak Valerie mencari makanan yang dia mau. Ibu hamil suka tidak nafsu makan, tapi tetap harus makan karena ada bayi yang harus diberi makan,” ujar Lorena.


Earlangga tidak menjawab, dia hanya makan saja, kepalanya semakin pusing saja sekarang harus mengurusi makannya Valerie segala.


“Dan jangan lupa kau haruss ke supermarket,” kata Lorena.


“Ke supermarket? Buat apa?” tanya Earlangga menatap ibunya.


“Kau temani Valerie membeli susu ibu hamil. Kau pilih-pilih susu rasa apa yang dia suka  bisa tanya-tanya ke sales susu disana. Kalau bisa beli susu yang bagus biar ibu dan bayinya sehat,”jawab Lorena.


Tidak bisa terbayangkan pusingnya kepala Earlangga, tugasnya bertambah harus menemani Valerie membeli susu ibu hamil juga.


“Dia kan bisa beli sendiri, aku banyak pekerjaan,” tolak Earlangga.


“Iya, jangan membebani Earlangga dengan pekerjaan- pekerjaan  kecil, urusan pekerjaannya lebih besar daripada membeli susu,” kata Ny.Grace.


“Aku hanya mengarahkan Earlangga supaya menjadi ayah yang baik,” ujar Lorena.


Earlangga menatap ibunya.


“Iya iya nanti aku sempatkan membeli susu,” ucap Earlangga dengan ketus dan terakhir makannya.


“Aku berangkat duluan, Ayah, Ibu, Nek,” ucap Earlangga, sambil beranjak, mencium ibunya lalu ayahnya dan terakhir neneknya, diabaikannya Valerie yang ada duduk disampingnya karena sudah memberikannya obat.


Lorena terdiam melihat putranya berangkat tanpa menyapa istrinya. Tapi diapun tidak bicara apa-apa. Valerie hanya membereskan makan dan obatnya Earlangga. Dia berusaha untuk tidak sakit hati, dia harus terbiasa kalau dia hanyalah perawatnya Earlangga bukan istrinya meskipun mereka sudah menikah.


“Kau ada kegiatan apa hari ini?” tanya Lorena pada Valerie yang sedang menutup tempat obat.


“Saya akan melamar pekerjaan di rumah sakit, Nyonya,” ajwab Valerie.


“Kau mau melamar pekerjaan? Sedang hamil begini?” tanya Lorena menatap Valerie.


“Iya Nyonya,” jawab Valerie.


“Kalau mau kau bisa bekerja di rumah sakit yang bekerjasama dengan keluarga Joris,,” kata Lorena, lalu menoleh pada suaminya.


“Kau bisa membantunya kan sayang?” tanya Lorena pada Sean.


“Tidak tidak, tidak boleh,” tiba-tiba Ny. Grace memotong.


“Kenapa Bu?” tanya Lorena pada Ny. Grace.


“Kita akan malu kalau dia bekerja jadi perawat disana, cari tempat lain saja,” kata Ny, Grace, lalu menatap Valerie.


“Dan jangan lupa, kalau kau melamar pekerjaan kau jangan mncantumkan nama keluarga Koris,” kata Ny.Grace.

__ADS_1


Lorena dan Sean menatap Ny.Grace.


“Kenapa begitu Bu?” tanya Lorena.


“Bayinya belum terbukti anaknya Earlangga, tidak perlu menggunakan nama Joris,” jawab Ny.Grace.


“Baik, Nyonya,” jawab Valerie. Sekali lagi dia harus terbiasa kalau dia bukanlah bagian dari keluarga ini.


“Saya permisi Nyonya, Tuan,” ucap Valerie sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Lorena menatap ibu mertuanya ,kenapa ibu mertuanya setega itu.


“Bu, bayi itu memag belum di tes DNA, tapi bagaimana kalau ayi itu benar anaknya Earlangga, kasihan dia,” kata lorena.


“Earlangga saja tidak ngaku menghamilinya, dia juga tidak menuduh Earlangga, berarti emamg mereka tidak ada hubungan apa-apa,” ujar Ny. Grace.


“Itu kan bisa saja Earlangga yang berbohong,” kata Lorena.


“Kau tidak percaya  anakmu sendiri?” tanya Ny.Grace.


“Bukan begitu Bu, kalau soal privasi seperti ini, yang tahu hanya Earlangga sendiri, dia belum tentu mau cerita jujur dengan siapa saja dia kencan,” jawab Lorena.


“Pokoknya sebelum tes DNA itu perlakukan dia biasa saja, tidak perlu dianggap menantu dirumah ini,” kata Ny. Grace.


Lorena tidak bicara lagi, tidak mau berdebat dengan mertuanya.


“Sayang, barang-barang kita sudah siap?” tanya Sean yang sedari tadi mendengarkan saja.


“Sudah, aku beritahu pelayan dulu untuk membawa masuk barang-barang kita ke mobil,” jawab Lorena sambil bangun dari duduknya.


Ny.Grace tampak cemberut, dia bersitegang terus dengan menantunya. Masalahnya bukan bayi itu anak siapa tapi status ekonomi Valerie dan Earlangga yang terlalu jauh. Seanpun bangun mengikuti langkah istrinya.


Setelah Earlangga berangkat berkerja, Valerie kembali ke rumahnya Bu Asni. Dia sibuk di bekas kamarnya itu.


“Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba suara Bu Asni mengagetkannya.


“Kau akan melamar pekerjaan?” tanya Bu Asni.


“Iya Bu,” jawab Valerie, memsukkan map-map itu kedalam tasnya.


“Sebelum makan siang aku kembali mengambil makanan buat Earlangga,” kata Valerie.


“Kau mau pakai apa melamar kerja?” tanya Bu Asni.


“Aku naik umum saja,” jawab Valerie.


“Kau bisa minta antar supir, jadi bisa pulang lebih cepat,” kata Bu Asni.


“Tidak Bu, aku lebih nyaman pakai umum,” jawab Valerie.  sambil kelua dari kamarnya.


“Aku berangkat Bu,” serunya sambil melambaikan tangan.


Bu Asni mematung melihat kepergiannya. Dia merasa kasihan padahal Valerie dinikahi pria kaya tapi tidak bisa menikmati apa yang dimilki suaminya.


Setelah memasukkan beberapa lamaran ke beberapa rumah sakit, Valerie kembali ke rumah, mengambil menu makan siangnya Earlangga baru berangat diantar supir ke kantornya Earlangga.


Bu Riska menatapnya tak berkediap saat datang. Apa dia tidak salah lihat? Perawat itu sudah menikah dengan atasannya tapi datang ka kantor atasannya masih menggunakan baju perawatnya.


“Siang Bu, Bapak ada?” tanya Valerie.


“Ada di dalam, masuk saja,” jawab Bu Riska, dia bingung harus bersikap apa. Perawat itu sekarang sudah menjadi istri bosnya, jadi dia harus menjaga sikap, tapi masih canggung karena serasa masih pengantar makanan itu.


Valerie  mengetuk pintu, terdengar suara Earlangga menyuruhnya masuk.


Saat Valerie membuka pintu, Earlangga menoleh ke arah pintu. Pria itu tampak terkejut dengan kehadirannya, membuat Valerie kaget, bukankah dia juga biasanya memang begitu, tiap hari datang mengantarkan makan siang, hanya beberapa hari saat akan menikah saja semua tugas diambil alih perawat lain.


“Siang Pak!” jawab Valerie, dengan bingung melihat tatapan Earlangga yang tidak suka, pria itu menyimpan alat tulisnya dan bersandar di kursinya.


“Ada apa Pak?” tanya Valerie.

__ADS_1


“Kenapa kau kemari? Mana perawat yang kemarin?” tanya Earlangga.


“Pekerjaannya kan sudah saya ambil alih Pak,” jawab Valerie.


“Tapi tidak perlu menggunaka seragam perawat juga. Kau istriku sekarang, jangan bikin malu, apa nanti kata orang?Aku memperkerjakan istriku?” gerutu Earlangga.


Valerie menoleh pada baju yang dikenakannya. Katanya dia jangan sok sokan jadi iatrinya, pakai baju perawat juga salah, jadi yang benar yang mana?


“Kata Bapak, saya jangan sok jadi istri Bapak, saya kan perawat Bapak,” jawab Valerie dengan bingung.


Earlangga bangun dari duduknya.


“Nanti pakai baju biasa saja kalau kesini,” ucap Earlangga.


Valerie diam saja tidak menjawab. Semua aturan Earlangga yang buat, dia hanya bisa menurut saja.


Disiapkannya makan siang buat Erangga. Dia jua mengeluarkan peralatan kesehatannya.


“Apa itu?” tanya Earlangga.


“Saya mau periksa kondisi Bapak. Semalam Bapak kurang tidur karena saya semalam muntah-muntah terus, jadi saya mau periksa tensinya,” jawab Valerie.


Earlangga tidak menjawab, dia bangun dari kursinya dan menuju sofa itu.


Valerie duduk disamping Earlangga, mengulurkan tangannya.


“Apa?” tanya Earlangga masih dengan muka masam.


“Jasnya dibuka dulu,” kata Valerie.


“Kau mau menyuntikku juga?” tanya Earlangga masih dengan nada ketus.


“Tidak,” jawab Valerie, sambil tangannya kembali mengulur membukakan jasnya Earlangga. Ini pertama kalinya dia membuka jas suaminya. Disimpannya jas itu disofa sebelahnya.


Valerie mengulurkan tangannya lagi, Earlanggapun mengulurkan tangannya, Valerie membuka kancing lengan kemejanya Earlangga lalu menggulungnya sampai siku, dan memriksa tensi pria itu.


Earlangga hanya memperhatikan  gadis yang menjadi istrinya itu memeriksanya.


Diapun teringat perkataan ibunya.


“Setelah aku makan, kita ke supermarket,” kata Earlangga , sambil melirik jam tangannya.


“Supermarket?” tanya Valerie, menatap Earlangga.


“Iya, Ibu menyuruhku mengajakmu membeli susu ibu hamil,” jawab Earlangga masih dengan ketus.


Valerie terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Earlangga mau melakukan itu, mengantarnya membeli susu ibu hamil.


“Sambil menunggu aku makan, kau coba searching susu buat ibu hamil yang bagus apa,” kata Earlangga.


Valerie mengangguk sambil  menggulung lengan kemeja Earlangga satu lagi karena dia akan makan.


“Baik Pak,” jawab Valerie menatap sekilas wajah suaminya itu.


Sebenarnya siapa sih yang tidak mengidamkan mempunyai suami yang tampan kaya, perhatian mencintainya, tapi tidak munkin Earlangga akan menyukainya, apalagi menyukai gadis yang hamil oleh pria lain. Sepertinya dia memang di takdirkan untuk tidak boleh jatuh cinta pada pria manapun karena dia pasti tidak akan dilirik pria itu apalagi memiliki anak diluar nikah.


“Bagaimana tensinya?” tanya Earlangga, mengagetkan lamunan Valerie.


“Bapak butuh istirahat yang cukup. Kalau saya mengganggu, takutnya nanti malam muntah muntah lagi, saya bisa tidur dirumahnya Bu Asni saja,” jawab Valerie, sekarang menyiapkan makanan di meja.


“Tidak usah,” jawab Earlangga, membuat hati Valerie senang, diapun tersenyum tapi ternyata ada terusannya lagi.


“Nanti apa kata pekerja kalau kau tidur dirumah pelayan,” lanjutnya.


 Valeriepun diam, meskipun alasannya bukan karena Earlangga perhatian padanya, tidak apalah, yang penting Earlangga tidak keberatan dia tidur di kamarnya.


*********


 

__ADS_1


__ADS_2