Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-41 Ke pesta


__ADS_3

Siang ini Valerie datang ke kantornya Earlangga untuk membawakan makan siang. Saat melihat gadis itu dipintu, Earlangga tidak protes lagi karena Valerie sudah tidak menggunakan baju seragam perawatnya lagi.


Bu Riska masuk ke dalam ruangan dan melirik Valerie sebentar lalu pada Earlangga.


“Pak, jangan lupa nanti malam ada undangan dari Pak Roby, acara pertunangan putranya,” kata Bu Riska sambil mengambil berkas.


“Baiklah,” jawab Earlangga, lalu mengeluarkan ponselnya menelpon temannya.


“Kau datang ke acaranya Pak Roby?” tanya Earlangga pada temannya.


“Kau bersama istrimu? Ya sudah,” Earlangga menutup ponselnya. Dia melakukan panggilan lagi.


“Kau datang ke acaranya Pak Roby?” tanya Earlangga.


“Kau bersama pacarmu? Oke,” jawab Earlangga.


Sudah beberapa teman ditelponnya mereka datang ke acaranya Pak Roby sudah berpasangan. Earlnggapun menghela nafas pendek, datang sendiri ke undangan sangat tidak nyaman apalagi


rekan yang lain mengajak pasangannya, dia tidak mungkin sering bersama teman-temannya


karena mereka pasti akan sibuk dengan pasangannya.


“Makanannya sudah siap Pak,” kata Valerie, berdiri dekat meja menatap Earlangga.


Earlangga menoleh pada Valerie, terdiam sesaat seperti sedang berfikir.


“Kau kerja pulang dari rumah sakit jam berapa?” tanya Earlangga.


“Pukul  6 sore Pak,” jawab Valerie.


Earlangga tidak bicara lagi, dia bangun dari duduknya menghampiri ke meja ynag sudah penuh oleh menu makan siangnya. Diapun duduk dikursi itu dan mulai makan siangnya. Valerie duduk dikursi lain, hanya diam menunggu, Pekerjaan yang sudah biasa dilakukannya. Dia hanya mengotak atik ponselnya sambil menunggu dan tanpa ada yang bicara.


Setelah dari kantornya Earlangga, Valerie kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Hingga sore tiba.


“Kau sudah membuat laporan hari ini? Aku sudah selesai, aku pulang duluan ya.” kata Maryam, perawat yang bekerja dirumah sakit yang sama dengan Valerie sambil meraih tasnya.


“Ini sedikit lagi,” jawab Valerie sambil tersnyum dan menyelesaikan pekejaannya.


Tiba-tiba Maryam datang lagi.


“Ada apa?” tanya Valerie.


“Ada tamu tuh,” jawab Maryam.


“Tamu? Tamu siapa?” tanya Valerie.


“Aku juga tidak tahu, sepertinya aku baru melihatnya. Mungkin pasien yang akan komplen,” jawab Maryam.


“Masa sih?” tanya Valerie.


Maryam malah tertawa.


“Tapi aku dikomplenin cowok setampan itu sih aku mau. Sering-sering saja pasiennya komplen biar bertemu terus haha..” ucap Maryam.


“Tamunya laki-laki?” tanya Valerie terkejut.


“Iya, tuh di ruang tunggu,” jawab Maryam.


Valerie menyimpan kertas yang baru selesai diisinya, diapun mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu, hatinya bertanya-tanya siapa yang bertamu padanya?


Dicarinya ke ruang tunggu yang tidak jauh dari ruangan itu, dia terkejut saat melihat tamu yang mencarinya.


“Pak, kau mencariku?” tanya Valerie terkejut.


“Val! Duluan ya!” seru Maryam tiba-tiba melewati mereka sambil melambaikan tangannya.


“Iya!” jawab Valerie.


Earlangga bangun dari duduknya.


“Ini sudah jam pulang kan?” tanya Earlangga sambil melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 6.30.


“Iya,” jawab Valerie.


“Ayo!” ajaknya  dan tanpa menunggu jawaban dari Valerie, Earlangga sudah berjalan duluan keluar rumah sakit itu. Valerie mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan kedatanganya Earlangga, diapun mengikutinya.


Pria itu terus berjalan menuju parkiran, beberapa petugas medis yang berlalulalang tampak memperhatikan, Valerie hanya tersenyum saja jika ada yang menyapanya. Rasanya begitu aneh semua orang memperhatikan mereka.


Tentu saja yang jadi daya tarik adalah pria yang berjalan didepannya, kehadiran Earlangga sangat menarik perhatian karena dia tidak seperti orang pribumi umumnya, apalagi saat menuju mobil mewahnya yang terparkir dihalaman parkir.


Earlangga membukakan pintu mobilnya.

__ADS_1


“Masuk,” ucapnya sambil menatap Valerie yang berjalan ketinggalan dibelakangnya.


“Kita akan kemana Pak?” tanya Valerie.


“Masuk,” perintah Earlangga tidak menjawab pertanyaan Valerie.


Akhirnya Valeriepun masuk dan Earlangga menutup pintu mobilnya. Velerie melihat ke isi mobil itu, dia belum pernah berada satu mobil dengan Earlangga apalagi dengan mobil semewah ini.


Pria itu tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Valerie menoleh dengan tanda tanya, tapi sepertinya pertanyaannya tidak akan terjawab, Earlangga menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit itu.


“Kita akan kemana Pak?” tanya Valerie, saat mobil itu melaju bukan kearah jalan pulang.


“Kita ke butik,” jawab Earlangga.


“Ke butik? Buat apa Pak?” tanya Valerie.


“Membeli gaun,” jawab Earlangga.


Valerie diam lagi, membeli gaun? Gaun siapa? Tapi kalau dia bertanya nanti dikiranya cerewet, akhirnya Valerie diam saja.


Sampailah mereka disebuah butik. Earlangga turun duluan, sedangkan Valerie masih diam saja di dalam, dia bingung mau apa ke butik.


Tiba-tiba pintu disebelahnya terbuka.


“Ayo!” ajak Earlangga sambil memegang pintu. Meskipun bingung, Valerie turun dari mobil itu.


Brugh! Earlangga menutup pintu mobilnya.


Selanjutnya Valerie hanya  mengikuti langkahnya Earlangga memasuki butik.


“Pak Earlangga!  Tumben tidak menyuruh orang,Pak?” sapa wanita itu yang menghampiir mereka.


“Apa ada yang dibutuhkan?” tanya wanita itu lagi, sambil menoleh juga pada Valerie dan tersenyum.


“Carikan gaun malam yang bagus buat istriku, tapi cepat ya, sudah malam,” kata Earlangga, sambil melirik pada Valerie.


Perkataannya membuat Valerie bingung. Gaun? Untuknya?


“Ditunggu sebentar, saya ambilkan yang coock,” kata wanita itu, melihat Valerie dari atas kebawwh membuat perhitungan kira-kira gaun apa yang cocok. Kemdian diapun akan beranjak tapi dipanggil oleh Earlangga.


“Tunggu Bu Tina!” serunya.


“Apa Pak?” tanya wanita  yang dipanggil Bu Tina itu.


Bu Tina menoleh lagi pada Valerie, istrinya Earlangga itu belum terlihat sedang hamil.


“Baik Pak,” jawab nya lalu masuk kedalam sebuah ruangan.


“Sekalian sama sepatu dan tasnya,” kata Earlangga.


“Baik Pak, “ jawab Bu Tina.


Valerie menoleh pada Earlangga.


“Bapak membelikan gaun untuk saya?” tanya Valerie.


“Iya,” jawab Earalangga.


“Buat apa?” tanya Valerie.


“Temani aku ke pestanya Pak Roby,” jawab Earlangga.


“Ke Pesta?” tanya Valerie tidak mengerti. Earlangga berjalan menuju kursi tunggu.


“Saya belum mandi Pak, saya juga tidak menggunakan parfum,” kata Valerie, dia tidak pede kalau harus menemani ke pesta dalam kondisi belum mandi tidak bermake-up juga tidak menggunakan parfum.


“Saya juga tidak suka bermake-up Pak,” kata Valerie.


Earlangga menatap wajah Valerie yang pucat, dia juga baru sadar kalau gadis itu menggunakan make up hampir tidak terlihat.


“Secukupnya saja,” jawab Earlangga.


 Valerie terdiam dia memang tidak pede, masa dia mau ikut dengan Earlangga ke pesta?


“Bu Earlangga, silahkan!” panggil Bu Tina, tiba-tiab muncul di ruangan itu.


Valerie menoleh kearah suara, sepertinya ini adalah panggilan pertamanya dipanggil Bu Earlangga.


“Kita coba gaunnya disini, Bu,” kata seorang wanita yang membawa beberapa gaun ditangannya. Valeripun mengikutinya.


Earlangga hanya menunggunya disana dengan tidak sabar, dia tidak suka harus menunggu-menunggu segala.

__ADS_1


Tidak berapa lama Valerie keluar sudah memakai gaunnya lengkap dengan sepatunya. Dengan perasaan yang tidak menentu dia menghampiri Earlangga yang sedang menunduk sibuk dengan ponselnya.


“Pak!” panggil Valerie.


Earlngga pun menoleh dan matanya terhenti menatap Valerie.


“Bagaimana Pak, cocokkan? Sengaja dipilhkan yang longgar dibagian perut biar tidak sesak,” kata Bu Tina.


Earlangga menatapnya lagi, Valerie terlihat cantik menggunakan gaun itu.


“Oke, bagus,” ucap Earlangga pada Bu Tina, sambil bangun dari duduknya memasakkan ponselnya.


“Ayo!” ajaknya pada Valerie, tanpa banyak bicara lagi langsung keluar dari butiknya.


“Terimakasih,” kata Valerie pada Bu Tina.


“Sering-sering datang  Bu,”kata Bu Tina sambil tersenyum.


Valerie segera mengikuti Earlangga keluar gedung. Diapun masuk ke mobilnya yang segera melaju, tidak ada yang bicara di dalam mobil itu.


“Kita kemana lagi?” tanya  Valerie.


“Kita ke salon,” jawab Earlangga.


“Pak, saya sedang hamil, saya tidak suka bemake-up tebal,” jawab Valerie.


Earlangga tidak menjawab, mobil meluncur menuju sebuah salon, hampir sama dengan yang waktu ke butik. Earlangga langsung disambut seorang pria.


“Dandani isrtriku, make upnya tipis saja, dia sedang hamil, pakai alat make up yang bersih dan tidak membahayakan bayi juga tata rambutnya,” kata Earlangga.


“Baik Pak,” jawab pria itu, langsung menoleh pada Valerie.


“Mari Bu!” ajak pria itu.


Valerie tidak banyak bicara lagi diapun mengikuti langkah pria di salon itu.


Tidak berapa lama dia sudah didandani sedemikian rupa. Earlangga tersenyum melihatnya ternyata Valerie sangat cantik kalau didandani.


“Sudah Pak,  bagaimana?” tanya pria itu.


“Bagus,” jawab Earlangga sambil bangun dari kursi tunggunya, lalu melirik pada Valerie.


“Ayo!” ajaknya dan keluar dari  ruangan itu.


Valerie hanya mengikuti saja, kenapa dia seperti kambing yang dicocpk hidungnya? Kemana- mana ikut saja pada Earlangga. Tapi memang dia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mengikutinya.


Kini mobil Earlangga mulai memasuki sebuah gedung mewah yang tampak ramai.


Lagi-lagi Valerie terdiam dan bingung, apa Earlanggaa benar-benar akan mengajaknya ke pesta ini? Dilihatnya dari dalam mobil itu pria wanita berpasangan  dengan penampilannya yang membawa memasuki gedung itu. Ada rasa minder dalam hati Valerie, merasa tidak pantas datang keacara seperti ini? Menemani Earlangga? Dia merasa orang asing dalam lingkungan ini.


“Ayo!” terdengar Earlangga membukakan pintu mobil.


Valeriepun turun dari mobil itu.


“Ayo!” ajak Earlangga lagi , karena Valerie hanya diam saja mematung, tangannya sudah muai berkeringat, dia merasa tidak nyaman ada disini. Walaubagaimanapun dia bukan istrinya Earlangga.


Earlangga menoleh kebalakang  kearah Valerie yang masih saja mematung. Diapun berbalik menghampiri dan meraih tanganya Valerie, supaya mengikutinya.


“Valerie melihat tangannya yang dipegang Earlangga. Kapan tanganya dipeang begitu? Sepertinya ini baru pertama kalinya tangannya di pegang seperti ini.


“Pak Earlangga! Kau hadir?” terdengar seorng pria berjas memasuki gedung.


“Sepertinya kau tidak sendiri!” kata pria itu.


“Aku bersama istriku!” kata Earlangga. Pria itu menoleh pada Valerie.


“Malam Nyonya,” sapa pria itu.


“Malam,” jawab Valerie,” sambil tersenyum, dia semakin risih saja dipanggil Nyonya segala.


Beberapa pria juga berdatangan menghampri Earlangga dan menyapa. Valerie hanya diam saja, dia bingung dan memang tidak kenal orang-orang itu.


“Pak Earlangga kau sudah tiba! Saya fikir tidak akan datang, karena teman-temanmu sudah datang dari tadi,” kata seorang pria, yang  bertubuh tinggi dan gemuk sambil merangkul Earlangga.


“Iya Pak Roby, maaf saya terlambat,” kata Earlangga.


“Kau datang dengan siapa?” tanya Pak Roby.


“Ini istriku,” jawab Earlangga.


“Oh istrinya! Maaf, saya  hampir lupa  kalau kemarin saya datang juga ke resepsi,” ujar Pak Roby.

__ADS_1


Valerie hanya tersenyum saja mendapat sapaan dari orang-orang yang mengenal Earlangga.


*************


__ADS_2