
Rumah bercat putih itu sangat megah tapi begitu sepi. Seorang pria tampan berkulit putih, berbadan tinggi tegap menggunakan stelan jasnya tampak berjalan terburu-buru menuju lantai bawah sambil mengancingkan salah satu lengan kemejanya.
Setelah turun, dia menghentikan langkahnya didekat sebuah dinding yang terpajang foto keluarga. Ayah-Ibunya, kakek-nenekny dan buyutnya.
“Pak Aldric, mobil sudah siap,” terdengar suara seorang pria paruh baya menghampiri pria muda itu yang dipanggilnya dengan nama Aldric.
“Ayah-Ibu di London, Kakek-Nenek di Paris, dan buyut sudah meninggal. Rumah ini sangat sepi,” ucap Al, masih menatap foto keluarganya itu.
“Karena banyak perusahaan yang diurus,” kata pria paruh baya itu.
“Kau benar Pak Priyo, seperti sudah menjadi kutukan penghuni rumah ini, harus bergelut dengan banyak pekerjaan,” keluh Al.
“Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan keluarga Joris,” kata Pria yang dipanggil Pak Priyo itu.
“Baiklah kita berangkat meeting sekarang, kalau aku memenangkan proyek itu kita langsung lihat lokasi,” kata Al.
“Kita akan langsung melihat lokasi itu? Lokasinya sangat jauh diluar kota,” jawab Pak Priyo.
“Tidak masalah, lagipula aku pulang juga tidak ada yang menungguku dirumah,” kata Al sambil berjalan keluar rumah.
“Kecuali kalau Pak Al cepat menikah dengan Non Inara,” kata Pak Priyo.
“Entahlah, aku pacaran lama dengannya tapi aku tidak kefikiran untuk menikah. Dia itu sangat manja, aku tidak tahu apa dia akan menjadi istri yang baik nanti, aku ingin wanita yang seperti ibuku yang lemah lembut dan penyayang, Nenekku juga sangat manis,” ucap Al, terus berjalan ke mobilnya. Disana supir sudah menunggu didalam mobil mewah yang berukuran lebih panjang dari mobil lain pada umumnya.
“Pak Al masih bebas memilih, pasti banyak yang bersedia menjadi istri Pak Al,” kata Pak Priyo.
AL hanya diam saja tanpa senyum tanpa ekspresi, dia segera, masuk ke mobilnya diikuti Pak Priyo.
Tidak berapa lama mobil itu meninggalkan rumah megah itu. Meluncur dijalan raya yang sangat padat karena ini jam-jam masuk kerja.
Sekitar satu jam kemudian sampailah disebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
Begitu Al turun, tampak beberapa orang yang sampaipun menyapanya, eksekutif- eksekutif muda yang terlihat sangat intelek dan berkharisma.
“Sekarang pengumuman pemenang tendernya! Aku yakin paling ujung-ujungnya kau yang dapat,” kata salah satu pria itu.
“Tentu saja semua orang sudah tahu seperti apa kerajaan bisnisnya keluarga Joris,” kata Al berbangga, diikuti tawa teman-temannya.
Saat mereka akan masuk ke gedung itu, bersamaan dengan datangnya beberapa pria muda lagi .
“Seperti ada yang sedang berbagi,” ucap pria-pria itu, matanya langsung tertuju saja pada Al.
“Tentu saja, karena semua orang sudah yakin aku yang akan memenangkan tendernya, seperti biasa,” kata Al.
“Hah! Tapi tidak menurutku. Karena harus ada saatnya kau kalah,” kata pria muda itu.
“Kau benar Rendra, seharusnya aku sesekali memberikan bantuan pada peruhasaan lain yang ingin mendapatkan tender proyek itu,” kata Al, lalu berjalan masuk ke gedung diikuti yang lainnya.
“Kau sabar, kita akui saja memang perusahaan Joris dari dulu turun temurun sangat kuat di dunia bisnis,” kata temannya Rendra.
“Huh, tapi aku tidak suka, dia terus yang menang! Aku sudah menyombongkan diriku pada ayahku, kalau aku akan memenangkan proyek ini, barulah ayahku akan memberikan perusahaannya padaku. Kalau sekarang Al lagi yang dapat, semuanya akan gagal,” kata Rendra, dengan wajah masam, lalu diapun masuk ke gedung itu.
Seperti yang sudah semua yang hadir perkirakan kalau pemenang tender proyek diluar kota itu adalah perusahaannya Joris. Tentu saja semua orang langsung memberi selamat pada Al.
Rendra yang mendapat kabar ini memberengut kasal, dilihatnya dilayar itu dia hanya jadi pilihan kedua pemenang tender. Padahal dia sudah menekan harga serendah mungkin untuk proyek ini.
Dengan sangat berat hati diapun terpaksa menghampiri Al.
“Selamat kau dapat tendernya,” ucap Rendra mengulurkan tangannya. Al segera menerimanya.
“Terimakasih,”jawab Al.
“Kapan kau akan melihat lokasi?” tanya Rendra.
“Sepertinya aku mau langsung kesana,” jawab Al.
“Kau semangat sekali,” ucap Rendra.
“Tentu saja, karena kau tahu, proyek ini akan semakin menaikkan peforma kerjanya perusahaanku,” kaata Al, membuat Rendra semakin panas hati saja.
“Kau benar,” ucap Rendra. Kemudian tendengar suara ponselnya berbunyi.
“Maaf aku keluar dulu sebentar,” kata Rendra, sambil mengeluarkan ponsel disakunya, lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
“Bagaimana? Kau dapat proyeknya?” terdengar sura seorang pria di sebrang.
“Tidak ayah, maaf,” ucap Rendar.
“Dasar anak bodoh! Apa kau tidak tahu itu proyek penting? Itu proyek besar! Apa kau membuat pengajuan harga terlalu mahal?” gerutu orang di sebrang.
“Bukan begitu Ayah, Aldric menang karena harga yang dia tawarkan lebih rendah dari kita,” kata Rendra.
“Kau benar-benar tidak pantas memimpin perusahaan! Tidak ada satupun proyek besar yang kau gol kan! Bagaimana kau bisa menjalankan perusahaan kalau begini terus?” bentak suara disebrang lalu telponpun ditutup.
“Ayah! Ayah Darren! Kau harus memberikan kesempatan lagi!” teriak Rendra, tapi telpon dari ayahnya telah terputus.
Rendra memberengut kesal, dihalaman parkir depan gedung itu.
“Aku harus mendapatkan proyek itu tapi bagaimana caranya?” gumamnya, tangannya memegang kepalanya terus berfikir. Tiba-tiba matanya melihat pada sebuah mobil mewah yang berada di parkiran.
“Mobil si sombong itu!” gumamnya.
Dia teringat tadi kata Aldric dia akan pergi meninjau lokasi setelah meeting ini selesai.
“Sepertinya ada yang harus aku lakukan,” ucapnya sambil tersenyum.
“Maaf Al, aku terpaksa harus melakukan sesuatu padamu. Karena kalau tidak dengan cara ini sampai kapanpun aku tidak akan mendapatkan tendernya dan aku tidak akan mendapatkan apa-apa dari ayahku,” gumamnya lagi.
Diapun melihat jam tangannya lalu menelpon seseorang.
“Oke Bos, kita akan kerjakan secepatnya,” kata suara diseberang.
“Tapi kalian harus hati-hati, jangan sampai meninggalkan jejak,” kata Rendra.
“Oke Bos,” jawab suara diseberang lagi.
Setelah itu, Rendra kembali masuk ke gedung, bergabung dengan yang lainnya.
Jam sudah melewati jam 12 siang, saat meeting itu selesai.
“Pak Al, kita tetap akan berangkat ke lokasi?” tanya Pak Priyo.
“Baiklah,” jawab Pak Priyo.
Setelah bersalaman dengan semua orang, Al dan Pak Priyo keluar dari ruangan itu. Merekapun langsung ke parkiran menuju mobil Al.
“Kita langsung pulang Pak atau ke kantor?” tanya Pak supir.
“Tidak, kita akan ke lokasi proyek di luar kota,” jawab Al.
“Baik, Pak,” jawab Pak Supir.
Tidak berapa lama mobil AL meluncur di jalanan menuju ke arah jalan tol luar kota, untuk meninjau proyek barunya Al diluar kota.
Selama perjalanan tidak ada yang dibicarakan oleh Al dan Pak Priyo. Pria paruh baya itu suka dengan laptopnya sedangkan Al hanya merendahkaa kursinya, bersandar dengan nyaman.
Terdengar ponselnya berbunyi, dilihatnya nama Inara di ponselnya.
“Sayang! Kau dimana? Kenapa kau tidak menelponku?” tanya Inara.
“Aku sedang diperjalanan kelua kota,” jawab Al.
“Kenapa kau tidak memberi tahuku? Lama kelamaan kau mulai jarang menghubungiku, kau sibuk terus,” kata Inara.
“Aku memang sedang sibuk,” jawab Al.
“Padahal ada temanku yang ulangtahun, aku mau mengajakmu kesana,” kata Inara.
“Aku sibuk,” ucap Al, dan kemudian mendengar omelan yang tidak penting dari Inara, merasa tidak diperhatikanlah dan segala macamnya.
Bener-benar membuat Al pusing. Diapun mematikan ponselnya, dengan wajahnya yang masam.
Pak Priyo menatapnya.
“Kau lihat kan? Dia mengomeliku karena tidak menemaninya ke ulang tahun. Bagaimana kalau dia jadi istriku? Ah tidak-tidak, dia tidak cocok menjadi istriku,” keluh Al.
“Kenapa tidak Bapak putuskan saja?” tanya Pak Priyo.
__ADS_1
“Karena dia itu cantik, dia bisa membawa aura postif jika ditempat umum,” jawab Al.
“Tapi cantik itu tidak menjamin akan menjadi istri yang baik. Hanya cantik saja tidak cukup untuk menjadi seorang istri,” kata Pak Priyo.
“Kau benar, tapi aku harus mencari yang sepertia apa yang cocok jadi istriku? Aku tidak bisa memungkiri kalau aku ini suka gadis yang cantik,” ujar Al.
“Semua pria juga begitu, tapi saat jodoh itu datang, cantik akan menjadi nomor kesekian,” jawab Pak Priyo.
Al hanya tersenyum mendengar perkataannya Pak Priyo dan tidak bicara lagi, dia memejamnkan matanya.
“Aku mau tidur saja, pusing aku memikirkan Inara,” keluh Al.
Pak Priyo tidak bicara lagi, dia melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian, mobil itu sudah melewati jalan tol dan mulai masuk ke jalanan umum.
“Pak, saya akan mengisi bensin dulu,” kata Pak Supir.
“Ya, SPBU masih jauh?” tanya Pak Priyo.
“Di depan ada SPBU,” jawab supir.
“Kita isi bensin disana saja, aku juga mau ke toilet dan membeli beberapa minuman,” jawa Pak Priyo.
Mobilpun berhenti di SPBU. Setelah mengisi bensin, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Jalanan yang mereka lewati sangat terjal, selain naik turun dan berbelok, disebelahnya juga jurang terjal sepanjan jalan.
Setelah melakukan perjalanan bebarapa lama, supir mulai merasakan gejala tidak nyaman pada mobilnya.
“Kau kenapa?” tanya Pak Priyo yang juag merasakan mbil itu terus meluncur kencang saat melewat turunan.
“Mobil tidak bisa direm, Pak,” jawab Pak Supir membuat Pak Priyo terkejut.
“Apa maksudmu tidak bisa direm?” tanya Pak Priyo terkejut.
“Iya, Pak, Remnya blong!” jawab Pak Supir, membuat Pak Priyo terkejut mobil itu terus meluncur cepat diturunan itu.
“Pak Al, gawat Pak!” teriak Pak Priyo, dia mulai cemas.
Al yang baru terbangun langsung bangun dan bertanya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Remnya blong!” jawab Pak Supir.
“Apa?” tanya Al terkejut, diapun dan Pak Priyo melihat ke samping jalan yang ternyata sepanjang jalan itu jurang.
“Pak,saya tidak bisa mengerem mobilnya!” teriak Pak Supir.
“Bagaimana ini?” tanya Al, dia pun sangat kaget.
Mau loncat juga loncatnya kemana? Ke Jurang?
“Pak, cepat keluar! Saya tidak bisa mengendalikan mobilnya!” teriak Pak Supir, membuat semuanya semakin panik.
Tidak ada pilihan lain, Al dan Pak Priyo harus keluar dari mobil itu atau mereka akan ikut jatuh kejurang bersama mobilnya.
Meskipun tahu disamping adalah jurang, mau tidak mau, AL dan Pak Priyo membuka pintu mobil dan langsung loncat, sedangkan mobil itu masih terus meluncur jauh tak terkendali.
Tidak berapa lama mobil yang tak terkendali itu pun jatuh kejurang, entah Pak supir itu selamat atau tidak, hanya beberapa menit kemudian terdengar suara dentuman keras mobil itu diikuti suar ledakan keras.
Duar! Api dan asap langsung mengepul keangkasa.
Al dan Pak Priyo sudah tidak tahu apa-apa lagi, mereka hanya mencoba menyelamatkan diri, tubuh mereka menghantam bebatuan dan pepohonan di jurang yang terjal itu.
***************
Redaers, meskipun dadakan dan belum punya ide, kita lanjutkan saja ya…
Jangan lupa like dan vote nya.
*************
__ADS_1