
Sampai di rumah, Sean masih memberengut kesal. Dia berjalan menaiki tangga diikuti oleh Lorena. Pas di lorong, Lorena berhenti. Dilihatnya Sean memasuki kamarnya tanpa bicara. Lorena terdiam, dia mulai berfikir serius sekarang. Sepertinya candaannya kali ini benar-benar keterlaluan. Dia merasa bersalah. Kakinya yang tadinya mau ke kamarnya tidak jadi, dia berjalan menuju pintu kamarnya Sean.
Tok tok tok! Pintu diketuk.
“Sean! Aku mau bicara!” kata Lorena. Tidak ada jawaban dari dalam.
“See aan, aku minta maaf, aku bercanda keterlaluan! Aku tidak tau kalau Vanessa saudaramu dan bukan pacarmu! Aku minta maaf!” kata Lorena.
Sean yang ada didalam kamar hanya duduk diatas tempat tidur. Dibiarkannya wanita itu bicara sendiri. Wanita itu benar-benar membuatnya pusing.
“See aan, kau mau memaafkan aku kan?” tanya Lorena.
Sean masih tidak menjawab, membuat Lorena lesu. Sepertinya Sean tidak akan memafkannya. Huh! Dia mengeluh.
Akhirnya Lorena kembali ke kamarnya, karena pintu kamarnya Sean masih tertutup.
************
Disebuah ruangan perkantoran yang luas, tampak seorang wanita berumur yang terlihat masih cantik, duduk bersandar di kursi kerjanya.
“Jadi Sean sudah memiliki pacar tetap sekarang? Dan dia tinggal bersama kekasihnya itu?” tanyanya pada seorang pria.
“Benar Nyonya. Itu yang dikatakan Vanessa,” jawab pria itu yang juga sudah berumur.
“Sekarang usianya belum 30 tahun kan? Dan wasiat itu dibacakan saat dia umur 30 tahun?” tanya wanita cantik itu lagi.
“Benar Nyonya. Sekarang Tuan Muda Sean sedang mengadakan kontes untuk mencari calon istrinya,” jawab pria itu.
“Kalau dia punya pacar buat apa dia membuat kontes itu segala?” tanya Wanita itu yang ternyata ibunya Sean. Pria itu tidak menjawab.
“Seharusnya dia tidak perlu tinggal serumah dengan wanita itu, itu akan mencoreng nama baik keluarga. Seharusnya dia tinggalkan saja wanitanya seperti yang biasa dia lakukan. Wanita itu juga pasti bukan wanita baik-baik, dia hanya akan mengincar hartanya saja,” kata ibunya Sean.
“Tapi bukankah itu bagus Nyonya, Tuan muda Sean akan lebih mudah untuk menikah, dan saat usianya 30 tahun, dia sudah mempunyai keturunan sebelum surat wasiat itu dibacakan,” kata Pria itu.
“Kau benar juga. Sangat sayang kalau warisan itu jatuh kepada orang lain,” ucap ibunya Sean. Pria itu mengangguk.
“Jadi menurutmu apa aku lebih baik menyuruhnya menikah dengan pacarnya itu?” tanya ibunya Sean.
“Begitu juga lebih bagus. Daripada mendapatkan istri dari hasil kontes yang mungkin hanya mengejar hadiah saja, lebih baik menikahkannya dengan pacarnya,” kata Pria itu.
“Coba kau cari tahu siapa wanita itu? Sebenarnya aku tidak mau Sean menikah dengan wanita yang tidak sepadan,aku takut Sean dipermainkan wanita yang hanya mengejar uangnya saja,” kata ibunya Sean.
“Baik Nyonya, aku akan mencari tahu siapa wanita itu,” kata Pria itu.
********************
Sampai keesokan harinya, Lorena tidak melihat Sean sarapan di meja makan. Dia sarapan sendirian dengan lesu. Dia merasa bersalah jika benar membuat Sean dalam masalah. Seharusnya dia tidak mengaku-ngaku menjadi kekasihnya segala. Kalau Vanessa sampai laporan pada ibunya Sean, pasti ibunya Sean akan marah.
Apa dia pindah saja dari rumah ini? Kalau ibunya berfikir macam macam, terus menyuruh Sean menikahinya bagaimana? Masa dia harus menikah dengan Sean? Pria yang selalu bertengkar dengannya tiap hari? Pria usil yang suka menggangunya? Tidak mungkinlah! Benar-benar mimpi buruk.
“Pak Sean tidak sarapan?” tanyanya pada Pak Roby.
“Pak Sean sarapan di kamar saja,” jawab Pak Roby.
“Pak, Bapak tahu kalau wanita itu sepupunya Sean?” tanya Lorena, menoleh pada Pak Roby.
“Sepupu jauh dari ibunya. Kalau ayahnya anak tunggal, dan Pak Sean juga anak tunggal,” jawab Pak Roby.
Lorena manggut manggut. Dia malah menekuk siku tangan kirinya diatas meja, dan telapak tangannya menepuk nepuk pipinya sendiri, seperti sedang berfikir.
“Bagaimana kalau ibunya menyuruhku menikah dengan Sean?” gumamya.
“Bukankah itu bagus?” kata Pak Roby yang masih mendengar gumaman Lorena.
“Bagus apanya? Aku tidak mungkin menikah dengan pria usil seperti itu! Kita pasti akan bertengkar terus!” ucap Lorena.
Pak Roby diam saja. Ada benarnya juga, mereka seperti kucing dan anjing yang terus bermusuhan.
“Bagaimana kalau aku pindah saja dari rumah ini?” tanya Lorena.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Pak Roby.
“Daripada aku dinikahkan dengannya! Lebih baik aku keluar dari rumah ini!” jawab Lorena. Pak Roby diam.
“Tapi penghasilanku tidak akan cukup untuk menyewa rumah sebagus ini, aku juga tidak akan bisa menyewa pelayan. Kalau tinggal disini, aku bisa membayarnya nanti setelah kontes selesai,” keluh Lorena. Dia terbiasa hidup senang, kalau ternyata sekarang dia hidup pas-pasan dengan sederhana, itu akan sangat membuatnya menderita.
“Aku tidak bisa pulang kampung, aku terlanjur ikut kontes ini,” ucap Lorena lagi.
Lorena masih terus menepuk nepuk pipinya.
“Dan kucing itu, kenapa kucing itu membawa lari celana dalamnya? Dia tambah marah padaku. Bagaimana kalau kucing itu menjatuhkan celana dalamnya di rumah tetangga dan tetangga itu mempostingnya di medsos? Sean akan benar-benar membenciku, aku merasa bersalah,” keluh Lorena, sambil menelungkupkan kepalanya ke meja.
Pak Roby hanya diam saja, tidak berkata-kata lagi. Dia juga bingung hubungan kedua orang ini seperti itu.
Seorang pelayan wanita menghampiri Lorena.
“Nona, semua detergen berbagai jenis merk sudah ada diruangan mencuci pakaian,” kata pelayan wanita itu.
“Ya baiklah, terimakasih. Aku akan kesana dan mencuci pakaiannya Sean,” ucap Lorena.
Setelah sarapan, Lorena langsung ke ruangan mencuci.
Sean berada dikamarnya dengan bosan, tubuhnya sudah lebih baik sekarang. Mungkin besok dia sudah bisa mulai bekerja. Akhirnya Sean keluar kamarnya. Sama seperti hari sebelumnya rumahnya itu sangat sepi, tidak ada berisik lagi suara wanita itu. Hidupnya terasa tenang dan damai tanpa kehadiran wanita pembuat masalah itu.
Diapun berjalan menuju ruang makan. Dia berdiri menatap showcase melihat buah-buahan disana. Sepertinya dia ingin buah yang segar untuk membuat badannya kembali segar.
Tiba-tiba samar-samar dia mendengar suara tangisan. Diapun menajamkan pendengarannya. Benar, ada yang menangis! Siapa yang menangis itu? Sean akhirnya mencari suara tangisan itu. Makin lama makin dekat suara tangisan itu dari ruang mencuci pakaian.
“Siapa yang menangis di ruang mencuci pakaian?’ fikirnya. Diapun melongokkan kepalanya dan melihat seseorang yang sedang menangis duduk di sebuah kursi pendek, menatap kedua telapak tanannya yang memerah. Diruangan itu penuh dengan baskom baskom rendaman cucian.
“Huhuuu tanganku!” ucap wanita yang menangis itu ternyata Lorena.
“Bagimana ini? Tanganku sangat pedih huhuhu…” Dia terus menangis, mengusap air matanya dengan ujung sikunya.
Sean masuk ke ruang mencuci itu, melihat rendaman cucian itu lalu pada Lorena.
“Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Sean.
“Tanganku, tanganku kena detergen, dan terbakar, merah merah rasanya panas sekali huhuhu…” ucapnya sambil terisak merentangkan kedua telapak tangannya kearah Sean.
Sean melihat tangan Lorena yang merah merah, dalam hatinya Sean bersukur, wanita itu kena batunya juga.
“Kenapa Presdir Sam membuat kontes seberat ini? Huhuhuhu..” keluh Lorena lagi.
Sebenarnya Sean ingin menertawakannya, tapi melihat airmata dipipinya Lorena, dia jadi merasa kasihan.
“Apa sudah kau obati?” tanya Sean.
“Sudah tapi masih terasa panas, huhuhu…” jawab Lorena, masih terisak isak.
“Terus jadinya bagaimana?” tanya Sean, hatinya menjadi luluh melihat Lorena terus menangis.
“Cucianku belum selsai, aku belum tahu hasilnya seperti apa,” jawab Lorena.
“Jadi apa yang harus ku lakukan?” tanya sean. Menatap cucian itu.
“Apa kau bisa melihat handphoneku?” tanya Lorena.
Sean mengambil lagi kursi pendek lalu duduk didekat Lorena, mengambil handphonenya Lorena yang ada di sebuah kursi pendek lagi dekat cucian. Dibolak baliknya handphone itu yang sudah dibungkus plastic transparat, disana ada cara-cara mencuci manual.
“Coba kau baca,” kata Lorena.
“Siapkan air dan beri detergen dengan takaran yang disesuaikan, lalu aduk aduk dan biarkan larut,” baca Sean.
“Sudah kau larutkan detergennya “ kata Sean
“Sudah”
“Masukkan pakaian rendam selama 15-30 menit, apa sudah direndam?”
__ADS_1
“Sudah,” jawab Lorena.
“Ambil pakaian dan simpan di atas penggilasan,” baca Sean, sambil menatap penggilasan. Dia baru melihat dirumah itu ada penggilasan.
“Handphone disimpan dipangkuanku saja, aku yang membacakannya,” kata Lorena.
“Ya sudah kau yang membacanya,” ucap Sean, menyimpan handphone dipangkuan Lorena.
Kemudian Sean kembali berdiri mengulung celana panjangnya sampai betis dan pindah duduknya ke area lantai yang basah. Di depannya sudah ada baskon berisi rendaman cucian.
“Ambil sebuah kemeja yang sudah direndam, pertama-tama lihat bagian kemeja yang kotor
biasanya bagian kerah,” ucap Lorena, membaca artikel.
“Kerah kemejaku tidak kotor,” kata Sean, menyimpan kemejanya diatas penggilasan.
“Ya pura-puranya kotor,” kata Lorena.
“Sikat yang bersih,” lanjut Lorena. Sean mengambil sikat dan menyikat kerah kemeja dengan kaku.
“Kemudian sikat juga bagian ujung lengan dan ujung saku,” baca lorena.
Sean mengerjakannya, menyikat ujung lengan dan ujung saku kemeja.
“Sudah, apa lagi?” tanya Sean.
“Setelah itu dikucek kucek semua,” kata Lorena.
“Bangaimana cara mengucek ngueknya?” tanya Sean.
“Ini ada videonya, kau lihat,” jawab Lorena memutar videonya, diperlihatkan pada Sean dengan memegang ujung plastic bungkus hape itu, karena tangannya masih sakit.
“Nah begitu cara mengucek nguceknya,” ucap Lorena. Sean melihat video itu lalu mempraktekkannya.
“Betul tidak begitu?” tanya Sean. Lorena melihat cara sean mengucek pakaian itu lalu pada handphoennya.
“Ya betul begitu,” kata Lorena. Tiba-tiba Sean berhenti.
“Ada apa?” tanya Lorena.
“Ini kenapa jadi aku yang mencuci?” tanya Sean, menatap Lorena.
“Apa?” Lorenapun menatap Sean.
“Kau kan yang ikut kontes, kenapa jadi aku yang mencuci?” tanya Sean. Lorena pun jadi tersadar. Sean benar, kenapa jadi Sean yang mencuci?
“Bukan salahkau, kau sendiri yang mau mencuci,” kata Lorena.
“Masa jadi aku yang mencuci? Tidak tidak,” keluh Sean.
“Tapi, tapi tanganku sakit,” kata Lorena.
“Ya sudah jangan ikut kontes besok,” Ucap Sean sambil mencuci tangannya dan berdiri.
“Tidak bisa, aku sudah terlanjur sampai disini, mau lanjut,” kata Lorena
“Ya tapi bukan aku yang mencucinya,” kata Sean.
“Sean kau tega padaku? Tanganku sakit, aku ingin melihat hasil cuciannya!” seru Lorena.
“Kau minta bantu pelayan saja, aku tidak mau, kenapa jadi aku yang mencuci?” gerutu Sean sambil keluar dari ruang mencuci itu.
“Sean! Tanganku sakit! Huhu kau tidak mau membantuku?” teriak Lorena, sambil menangis. Tapi Sean sudah menghilang.
Didalam kamarnya dia masih terus menggerutu. Kenapa kalau sedang bersama wanita itu dia seperti orang bodoh? Mau saja disuruh suruh, gerutunya dalam hati. Tapi dia teringat tangan Lorena yang merah-merah itu, dia pasti tidak bisa ikut kontes. Diraihnya handphonenya menelpon Sam.
“Sam, aku masih sakit, lombanya kau tunda sehari dua hari lagi,” ucapnya.
**************
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen