Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-98 Aldric bayiku


__ADS_3

Valerie menatap Darren.


“Katakan padaku apa maksud perkataannmu? Siapa Aldric Stefanov? Kenapa kau bilang Jordan yang asli?” tanya Valerie.


Darren berjalan mendekatinya, lalu mengeluarkan ponselnya, dan diberikan pada Valerie.


Valerie melihat apa yang ada diponsel itu. Seorang bayi. Siapa bayi itu? Jantungnya semakin berdebar kencang, karena bayi itu mirip Earlangga, apalagi bayi itu sudah berusia lebih dari satu minggu, raut wajahnya sudah mulai jelas tidak semerah saat dilahirkan.


Tangan Valerie langsung gemetaran melihatnya.


“Ap..apa ini Darren? Ba bayi siapa ini?” tanyanya dengan mata yang mulai merah.


Darren pun diam.


“Bayi siapa ini?” teriak Valerie.


“Itu bayimu,” jawab Darren.


“Ba bayiku?” tanya Valerie, terkejut bukan main. Bayinya sudah meninggal dan tiba-tiba saja Darren mengatakan bayi dalam foto itu bayinya.


“Kau jangan bercanda Darren, bayi siapa ini?” teriak Valerie lagi, lalu menatap bayi itu, bayi itu sangat mirip suaminya. Matanya semakin memerah, airmatanya mulai menitik dipipinya.


“Sebenarnya apa yang terjdai? Kau tidak sedang mempermainkanku kan?” tanya Valerie, sambil menatap foto bayi itu dan airmatanya jatuh keatas ponselnya Darren.


Tiba-tiba Darren mengambil kembali ponselnya dari tangan Valerie, membuat Valerie terkejut, dan tangannya akan meraih kembali ponsel Darren tapi Darren menjauhkannya.


“Kau sudah cukup melihatnya,” kata Darren.


“Darren, aku ingin melihatnya lagi,” ucap Valerie, mengulurkan tangannya.


Tapi Darren memasukkannya kedalam sakunya.


Valerie menatap Darren dengan wajahnya yang memerah menahan tangis.


“Darren sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bilang itu bayiku? Tolong jawab,” tanya Valerie.


Darren terdiam, tampak berfikir.


“Kau ingin tahu yang sebenarnya?”tanya Darren.


“Iya, katakan padaku? Kenapa..kenapa bayi itu mirip Earlangga?” tanya Valerie.


“Karena bayi itu memang bayimu dengan Earlangga,” jawab Darren,membuat Valerie semakin shock.


“Kau, kau tidak bercanda kan Darren?” tanya Valerie.


“Aku serius,” jawab Darren, lalu mengambil sesuatu dari sakunya dan diberikan pada Valerie.


Valerie langsung mengambil kertas itu. Sebuah amplop dengan kop surat rumah sakit tempat dia bersalin, cepat dibukanya isi amplop itu lalu dibacanya. Valerie merasakan dia menjadi tidak bisa bernafas saking shocknya, itu adalah hasil tes DNA  Aldric dengan Earlangga. Yang membuatnya heran adalah tanggal tes itu tanggal dia sudah pulang ke rumah.


“Tapi ini, ini tanggalnya tanggal aku sudah melahirkan,” kata Valerie.


“Iya karena surat itu dibuat setelah kau pulang dan bayinya belum diberi nama, karena nama Jordan sudah kau bawa pulang,” jawab Darren.


“Bagaimana kau bisa tahu semua ini? Kau yang melakukannya? Kau menukar bayiku?” bentak Valerie.


“Tenang tenang jangan salah faham dulu,” ucap Darren.


Entah bagaimana campur aduknya perasaan Valerie, antara sedih, tidak percaya,  marah, kecewa, dan rasa senang kalau bayinya masih hidup.


“Jadi yang kau bawa itu bukan bayimu, itu bayi seorang tunawisma yang meninggal dan Earlangga menyangka itu bayinya,” jawab Darren.


“Apa? Darren jangan bercanda, ini hal yang serius,” kata Valerie.


“Tentu saja aku tidak main main. Itu hasil tes DNA nya, Aldric Stefanov,” kat Darren.


“Tapi aku tidak mengenal bayi ini, kenapa bayinya bernama Aldric, siapa yang memberinya nama?” tanya Valerie samakin bingung.


“Kau tahu siapa yang melakukan ini semua?” Darren balik bertanya.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Valerie menatap Darren.


“Ku rasa kau pernah memperingatkanmu,” jawab Darren.


“Maksudmu..maksudmu yang melakukan ini adalah Ny.Grace?” tanya Valerie, ragu-ragu.


“Siapa lagi kalau bukan dia? Dia yang memberi nama Aldric Stefanov,” jawab Darren.


Valerie tersentak kaegt, dia tahu Ny.Grace tidak menyukainya tapi dia tidak menyangka Ny,Grace akan bisa melakukan ini semua. Tega-teganya dia menukar bayinya dengan bayi orang lain yang meninggal? Diapun langsung menunduk menangis tapi kemudian menatap Darren.


“Kau sedang tidak berbohongkan?” tanya Valerie.


“Buat apa berbohong?” tanya Darren.


“Jangan-jangan kau yang melakukan ini semua,” kata Valerie.


“Kau tanya saja pada Ny.Grace siapa yang membuat skenario meninggalnya bayimu?” tanya Darren.


“Ny.Grace sedang sakit, dia mengalami stroke dan tidak bisa bicara,” jawab Valerie.


“Apa? Stroke? Tidak bisa bicara? Baguslah!” kata Darren sambil tertawa.


“Aku masih tidak percaya Ny.Grace tega melakukan ini semua,” keluh Valerie.


“Dari dulu aku sudah bilang kalau kau harus keluar dari rumah itu, Ny.Grace tidak akan menyerah untuk menyingkirkanmu, terbukti kan sekarang,” ucap Darren.


“Dimana bayi itu sekarang? Dia harus kembali padaku” ujar Valerie.


Darren tidak menjawab.


“Katakan padaku, dimana bayi itu? Bagaimana kau bisa tahu semua ini?” tanya Valerie hampir berteriak karena Darren diam saja.


“Bayi itu sudah menjadi anakku sekarang, kau tidak bisa mengambilnya,” kata Darren.


“Apa? Jadi anakmu? Bayiku ada bersamamu?” tanya Valerie.


“Iya,” jawab Darren.


“Tidak segampang itu,” ucap Darren.


“Tidak bagaimana?” tanya Valerie.


“Aku mendapatkan bayi itu dengan susah payah dari tangan orang-orangnya Ny,Grace, aku harus mengintai dirumah sakit tiap hari sampai Aldric bisa pulang,” jawab Darren.


“Tapi itu bayiku buat apa bersamamu? Kau hanya seorang preman yang tidak jelas apa yang kau lakukan!” kata Valerie.


Darren berjalan mendekat.


“Apa kau tidak lihat aku sekarang? Aku sekarang berubah, aku punya rumah punya mobil dan aku memegang sebuah perusahaan, aku sudah berubah,” kata Darren.


“Buat apa kau mengatakan itu semua?” tanya Valerie.


“Artinya aku pantas untuk menjadi ayahnya Aldric,” jawab Darren.


“Darren jaga main-main, kalau kau tahu dimana Aldric berada tolong pertemukan aku, kembalikan dia padaku,” ucap Valerie, dia mulai putus asa.


“Tidak, tidak begitu, dia sudah jadi milkku,” jawab Darren.


“Tapi aku ibunya, buat apa kau mengatakan itu semua kalau kau tidak memberikan bayi itu padaku?” tanya Valerie.


“Tentu saja ada alasannya,” kata Darren.


“Katakan yang jelas,” ucap Valerie.


“Itu artinya kau harus menikah denganku jadi Aldric akan jadi anakmu, anak kandungmu,” jawab Darren membuat Valerie terkejut.


“Apa? Menikah denganmu?” tanya Valerie.


“Tentu saja, aku kan sudah bilang setelah kau melahirkan aku akan menjemputmu, sekarang aku menjemputmu pulang ke rumahku,” kata Darren.

__ADS_1


Valerie semakin terkejut saja mendengarnya.


“Tapi tidak dengan cara seperti ini Darren,” kata Valerie.


“Cara apa lagi? Apa aku harus minta baik-baik dan kau langung mau ikut denganku?” tanya Darren.


“Darren, lelucon ini sangat tidak lucu, kita sudah kenal lama dan kita tidak pernah ada hubungan apa-apa,”  jawab Valerie.


“Tidak sekarang, kau fikir aku mengetahui semua ini begitu saja? Aku setiap hari menunggu waktumu melahirkan, sampai aku mengetahui apa yang dilakukan Ny.Grace. Lagipula akan lebih baik kalau kau keluar dari rumah itu, Ny.Grace tetap akan mengeluarkannmu dari sana,” ucap Darren.


Valerie menatap Darren, dia senang kalau ternyata benar bayi itu bayinya, artinya bayinya masih hidup, tapi kalau dia mengikuti keinginan Darren itu artinya dia harus meninggalkan Earlangga? Dia sudah merasa nyaman menikah dengan Earlangga.


“Kau hanya punya dua pilihan. Jika kau mau menikah denganku kau akan bersama Aldric atau jika kau memilih tetap berada di rumah itu maka lupakan Aldric, anggap saja yang meninggal itu benar-benar bayimu,” kata Darren.


Valeriepun terdiam dalam kebingungan.


Darren langsung beranjak meninggalkan Valerie yang hanya mematung.


Melihat Darren pergi, Valerie segera menyusulnya.


“Darren biarkan aku bertemu dengan bayiku,” pintanya.


“Aku sudah memberimu pilihan, kau tinggal memilih,” jawab Darren.


“Tolong Darren jangan begini, kembalikan Aldric padaku,” kata Valerie, langsung saja matanya kembali berkaca-kaca.


“Kau sudah mendengar perkataanku tadi,” ucap Darren tanpa mau menghentikan langkahnya, dia terus saja berjalan dan Valerie terus mengikutinya.


“Darren!” panggil Valerie. Darren menghentikan langkahnya dan menatap Valerie.


“Tinggal begitu saja, apa susahnya? Aku berjanji kau tidak akan kekurangan apapun jika menikah denganku, kau akan bersama Aldric selamanya,” kata Darren.


“Darren jangan begini, kau tidak mencintaiku,”  ucap Valerie.


“Aku mencintaimu,” ucap Darren, dengan tatapan serius.


Valeriepun kembali diam.


“Darren, kita sudah mengenal lama, aku tahu kau tidak mencintaiku, kau hanya kesal dan …” belum selesai Valerie bicara, Darren kembali pergi.


“Darren! Darren! Aku mohon Darren! Aku ingin bertemu dengan bayiku,” ucap Valerie.


“Aku sudah mengatakan pilihanmu dan aku tidak akan merubah keputusanku,” kata Darren bersikukuh, hingga langkahnya sampai kehalaman parkir lalu dia membuka pintu mobilnya.


“Darren, tolong!” Valerie memegang pintu mobilnya Darren.


Wanita itu menatap Darren.


“Aku ingin melihat Aldric,” ucap Valerie.


Darren tidak menjawab, dia menepiskan tangannya Valerie lalu masuk kedalam mobilnya.


“Darren, aku ingin bertemu Aldric,” ucap Valerie, sambil memukul-mukul kaca mobil Darren.


Darren menyalakan mobilnya tidak menghiraukan permintaan Valerie.


“Darren!” panggil Valerie.


Mobil itu mulai berjalan.


“Darren, Darren tolong Darren, aku ingin bertemu Aldric,” ucapnya dengan airmata yang kini menganak sungai, tapi Darren sama sekali tidak mendengar, dia terus menancap gas mobilnya meninggalkan tempat itu.


Valerie hanya bisa diam melihat mobil Darren yang pergi jauh. Rasanya kakinya tidak menapak ke tanah, tubuhnya begitu ringan melayang, jiwanya begitu hampa, menerima kenyataan yang begitu berat ini.


Kemarin dia sedih kehilangan bayinya. Sekarang bayinya ada kabarnya ternyata dia harus meninggalkan suaminya. Bagaimana mungkin dia harus memilih antara bayi dan suaminya yang sama-sama dicintainya?


Valerie menghapus airmata di pipinya, semua sangat membingungkannya.  Kenapa dia harus menderita seperti ini? Apakah tidak ada kebahagiaan yang akan dimilkinya?


Dia kembali ingat foto bayi itu. Wajah mungil yang lucu itu, dia memiliki hidung mancung seperti Earlangga, sungguh bayi yang sangat tampan, bayinya, itu bayinya, tapi bayinya tidak ada ditangannya, diapun terus menangis, sambil menyusuri trotoar taman, mencari taxi untuk pulang.

__ADS_1


************


__ADS_2