
Lorena berjalan memasuki ruangannya saat seorang agdis menyerbunya, berlari dan memeluknya.
“Lorena! Kapan kau datang? Aku sangat merindukanmu! Handphonemu mati kau tidak bisa dihubungi, aku sangat khawatir!” seru Laura. Diapun melepas pelukannya lalu menatap Lorena dari atas sampai bawah.
“Coba aku lihat, aku kurang apa disana? Sepertinya kau baik-baik saja,” ucap Laura.
“Tentu saja aku baik-baik saja, menurutmu setelah aku kecopetan dan rumah kontrakan ditempati orang lain, aku akan terlantar begitu?” semprot Lorena.
“Apa? Apa maksudmu kecopetan dan rumsh kontrakan ditempati ornag lain?” tanya Laura.
Lorena duduk di kursi diikuti Laura.
“Katakan padaku, apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Laura.
“Kau menghancurkan hidupku, Laura!” jawab Lorena.
“Menghancurkan hidupmu? Apa maksudmu?” tanya Laura, dia tidak mengerti dengan kata-katanya Lorena.
“Aku kecopetan, mobilku ada dikantor polisi dan rumah itu, ternyata rumah itu sudah ditempati orang lain! Kerjamu sangat mengecewakan!” ucap Lorena.
“Kau kecopetan?” tanya Laura.
“Iya, uang dan identitasku hilang,” jawab Lorena.
“Terus bagaimana kau bisa mengikuti kontes itu tanpa identitas?” tanya Laura.
“Aku memakai identitas sementara menggunkan alamat rumah kontrakan itu, kebetulan pemiliknya asisten Presdir itu!” jawab Lorena.
“Waah kebetulan sekali, tapi tunggu, tunggu, bagaimana mungkin rumah kontrakan itu ditempati orang lain?” tanya Laura.
“Aku sudah membayar biaya kontrakannya,” lanjut Laura, sambil mengeluarukan handphonenya menelpon seseorang.
“Pak, saya Laura, mau cek rumah yang saya kontrak, Grand Valley nomor 63 apakah ada yang menempati?” tanya Laura.
“Sebantar saya cek dulu,” jawan seseorang disebarnagitu.
“Rumahnya masih atas nama Lorena,” jawab petugas di developer di Grand Valley itu.
Laura menoleh pada Lorena.
“Apa maksudmu rumahnya ditempati orang lain? Rumah itu masih atas namamu,” tanya Laura, setelah telpon dittututp.
“Tidak mungkin, aku kesana rumahnya sudah diisi orang lengkap dengan pelayan-pelayannya,” ucap Lorena.
Laura mengernyitkan dahinya.
“Petugas itu tidak mungkin berbohong,” kata Laura.
“Jelas jelas…apa maksudmu tadi Grand Valley nomor 63?” tanya Lorena.
“Iya nomor rumahnya no 63,” ucap Laura.
“Tunggu-tunggu,” Lorena mengeluarkan identitas dirinya yang menggunakan alamat ruamh kontrakannya Sean, disana tertulis Grand Valley nomor 36.
“Apa ini?” tanya Laura, langsung saja merebut kartu identitas sementara itu.
“Gand Valley nomor 36? Kau salah, nomornya kebalik kau nomor 63,” kata Laura, sambil menatap Lorena.
Lorena terkejut lalu berubah bermuka masam.
“Jadi aku salah rumah? Pantas saja waktu itu Sean sangat marah dan mengusirku,” kata Lorena.
“Sean? Siapa Sean?” tanya Laura.
“Itu asisten Presdir Samuel yang sedang mengadakan kontes itu, jadi dia benar-benar pemilik rumah itu?” kata Lorena.
“Jadi kau tinggal dirumah asistennya Presdir? Wah apakah dia tampan?” tanya Laura.
Ditanya begitu Lorena membayangkan wajahnya Sean.
“Sangat tampan,” jawab Lorena.
“Sangat tampan? Jangan-jangan kau malah jatuh cinta padanya!” tebak Laura.
“Tidak, tidak begitu!” elak Lorena.
“Benar?” tanya Laura, mendekatkan wajahnya ke wajahnya Lorena.
“Benar!” semprot Lorena.
“Biasa aja kali, ketakutan amat, jangan-jangan benar kau menyukainya!” tebak Laura. Lorena langsung mencubit pinggangnya.
“Sekarang dia ada dirumahku,” jawab Lorena.
“Apa? Ada dirumahmu?” tanya Laura, terkejut.
“Aku kesini diantar dia, karena kami sampai larut malam, jadi dia menginap di rumahku, dia juga ada pekerjaan disini beberapa hari, jadi dia akan mengontrak sementara dirumahku, bayarannya aku gratis tinggal dirumahnya di ibukota sampai kontes selesai atau selama aku mau,” jawab Lorena.
“Dia ngontrak dirumahmu? Sangat aneh. Itu artinya Presdir Samuel juga ada di kota ini?” tanya Laura.
Sekatika Lorena tersadar, benar kata Laura, masa asisten Presdir bekerja berpisah terus dengan Presdirnya? Ke luar negeri tanpa Presdir, sekarang keluar kota juga tanpa Presdir, membingungkan.
“Dia tidak dengan Presdir,” jawab Lorena.
“Tidak? Sangat aneh,” gumam Laura.
“Dia punya bisnis sampingan dengan teman-temannya,” jawab Lorena.
“Jadi dia mengontrak dirumahmu sekarang?” tanya Laura. Lorena mengangguk.
“Kau tidak takut dia orang jahat mengijinkan tinggal dirumahmu?” tanya Laura.
“Tidak, aku sudah mengenalnya, dia baik , mengijinkan aku tinggal di rumahnya,” jawab Lorena.
__ADS_1
“Tapi sekarang kau tau kan kalau nomor rumahnya salah, kau bisa menempati rumah kontrakanmu, aku sudah bayar, jadi kau tidak perlu tinggal dirumah asisten Presdir itu lagi,” kata Laura.
Lorena terdiam, benar juga kata Laura, dia punya rumah kontrakan di ibukota tidak perlu tinggal lagi sama Sean, tapi…tinggal sendirian sangat sepi.
“Jadi kau bisa pindah ke rumah kontrakan itu kan?” tanya Laura.
“Iya nanti aku pindah,” jawab Lorena, padahal dalam hati dia tidak berniat pindah kerumah kontrakan apalagi Sean sedang merenovasi rumahnya untuk membuat ruangan les Biola.
“Aku ingin bertemu asisten Presdir itu!” kata Laura.
Lorena menatap saudaranya itu.
“Mau apa?” tanya Lorena.
“Aku ingin tahu saja, katamu dia sangat tampan, setampan apa sih dia? Jarang jarang kau memuji laki-laki,” kata Laura.
“Apa maksudmu bicara begitu? Ingat Anton, ingat Anton!” seru Lorena.
“Aku kesal padanya!” kata Laura.
“Kesal kenapa?” tanya Lorena, menatap wajah Laura yang berubah sedih.
“Aku sedang marah padanya, karena dia terlalu sibuk membuat pernikahan kami tertunda,” kata Laura.
“Aku minta maaf membuatmu sedih,” jawab Lorena.
“Aku kesal dia menunda recana pernikahan kami, seperti tidak serius saja,” ucap Laura.
Lorena terdiam, menatap Laura yang tampak kesal.
“Ngomong-ngomong asisten Presdir itu masih singgle kan?” tanya Laura dengan tersenyum senang.
“Ada apa? Aku curiga padamu!” kata Lorena.
“Aku hanya bertanya saja,” jawab Laura.
Lorena mencibir, pasti Laura ada udang dibalik batu.
“Oh ya bagaimana dengan Presdir Samuel? Dia sangat tampan kan?” tanya Laura.
“Ya, seperti yang di selebaran itu,” jawab Lorena.
“Terus bagaimana saat kau bertemu dengannya, apa ada gelagat dia menyukaimu?” tanya Laura.
“Sepertinya sih begitu, tapi aku tidak tahu sukanya apakah sekedar suka atau gimana. Jujur saja aku belum punya perasaan apa-apa padanya, padahal dia sangat baik orangnya juga ramah, kau juga pasti menyukainya,” kata Lorena.
“Benarkah? Aku jadi penasaran ingin melihatnya. Bagaimana kalau nanti kau ke ibukota aku ikut, aku ingin melihat calon suamimu itu!” kata Laura.
“Calon suami?” tanya Lorena, menatap Laura.
“Ya iyalah calon suami, kalau kau lolos kontes kan kau menikah dengan dia, itu artinya dia calon suamimu,” jawab Laura.
Lorenapun terdiam, benar juga kata Laura. Diapun menghela nafas panjang.
“Katamu kan Presdir Samuel tampan dan baik juga ramah, lama-lama kau juga akan menyukainya kalau tipenya seperti itu,” kata Laura.
“Ya kau benar, kita lihat saja nanti,” ucap Lorena, tapi yang ada dalam bayangannya bukan Sam, tapi sang asisten Presdir, Sean.
“Aku mau menemui Bu Dela dulu , ada banyak pekerjaan yang perlu kau tahu,” ucap Laura, sambil beranjak keluar dari ruangan itu, kemudian dia kembali melongokkan kepalanya.
“Pulang kerja kita bareng, malam ini aku mau menginap dirumahmu, aku ingin mendengar ceritamu!” ucap Laura.
Lorena hanya mengangguk.
***************
Sean seharian bekerja di ruang meeting hotel yang ditempati para karyawannya.
Berkali-kali dia melihat jam tangannya, dia ingin pekerjaannya segera selesai dia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu gadis pujaan hatinya itu.
“Pak Deni, kita akan tinggal disini sekitar 10 hari,” kata Sean.
“Apa? 10 hari?” tanya Pak Deni terkejut, beberapa karyawan penting yang ada diruangan itu menatap Sean penuh tanda tanya.
“Karena aku akan tinggal dikota ini selama 10 hari,” jawab Sean.
Pak Deni mengangguk.
“Kenapa dengan 10 hari pak? Itukan pemborosan dan pekerjaan juga tidak maksimal, segala pekerjaan dikerjaan dengan darurat,” kata Pak Deni.
“Pokoknya kau atur saja biar semuanya mudah, kau tidak perlu khawatir soal biaya, semua aku acc, termasuk uang perjalanan dinas kalian semua, yang penting aku bisa tinggal disini dan pekerjaan tetap berjalan,” kata Sean, menatap Pak deni lalu kepada karyawannya yang ada di ruangan itu.
“Baik Pak,” jawab Pak Deni.
Malam semakin larut, Sean melihat jam di dindingnya menunjukkan pukul 10 malam kurang.
“Aku pulang. Ingat, jam kerjaku hanya sampai jam 10 malam,” kata Sean, sambil bangun dari duduknya.
“Bisa, Pak,” jawab Pak Deni lagi. Seanpun meninggalkan ruangan itu.
Seorang karyawan menatap Pak Deni.
“Pak, apa Pak Sean serius kita akan tinggal dikota ini 10 hari?” tanya karyawannya Sean itu.
“Seperti yang kau dengar, turuti saja perintahnya,” jawab Pak Deni.
“Baik Pak,” jawab semua yang ada diruangan itu.
**************
Di rumahnya Lorena , Laura tidak berhenti mengoceh, dia terus bertanya-tanya soal perjalanan kontesnya Lorena di ibukota.
“Bagaimana kalau aku juga ikut kontes?” tanya Laura.
__ADS_1
“Kontes nya juga sudah berjalan,” jawab Lorena.
“Kalau saja aku tahu pernikahanku ditunda, aku pasti ikut ke ibukota bersamamu waktu itu, aku akan ikut kontes denganmu,” jawab Laura.
“Memangnya kau tidak mencintai Anton lagi?” tanya Lorena.
“Aku kesal, dia sangat sibuk, dan seperti pernikahan kita itu tidak lebih penting dari pekerjaannya, aku jadi ragu dia mencintaiku atau tidak,” jawab Laura.
Lorena tidak bicara apa-apa lagi, dia berbaring menelungkup di tempat tidur sambil membuka majalah.
“Aku mau bikin susu dulu,” kata Laura. Diapun turun dari tempat tidur itu, keluar dari kamar Lorena menuju dapur.
Saat di dapur, Laura mendengar suara mobil berhenti di teras.
“Siapa yang datang?” gumamnya, sambil mengaduk-aduk susunya. Dia tidak segera melihat kedepan, karena tugasnya Pak Firman yang membukakan pintu untuk siapapun yang datang kerumah ini.
“Malam Pak,” sapa Pak Firman pada Sean yang baru masuk ke rumah.
“Malam,” jawab Sean, matanya langsung saja menoleh kearah atas ruangan. Menebak nebak Lorena sudah tidur atau belum.
“Nona Lorena sudah tidur?” tanya Sean pada Pak Firman.
“Sudah ada dikamarnya, tapi sepertinya belum tidur, karena ada nona Laura yang menemaninya,” jawab Pak Firman.
“Laura? Siapa Laura?” tanya Sean.
“Saudaranya nona Lorena, kadang kadang suka menginap disini,” jawab pak Firman.
Sean tidak bicara apa-apa lagi, diapun berjalan memasuki ruangan lain, saat akan menaiki tangga, Laura juga keluar dari dapur dengan segelas susu di tangannya.
Laura langsung saja menghentikan langkahnya saat bertemu dengan seseorang yang akan menaiki tangga. Seorang pria yang sangat tampan, dia sampai terpesona dibuatnya.
Kenapa ada pria setampan itu? Kenapa pria itu ada dirumah ini? Batinnya.
Sean tampak terkejut melihat ada gadis lain dirumah itu,sepertinya itu yang namanya Laura.
“Malam,” sapa Sean sambil tersenyum, lalu dia melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga itu menuju kamarnya.
Laura menatap kepergian Sean tanpa berkedip.
Setelah Sean menghilang, barulah dia pergi keruangan lain, buru-buru dia juga menaiki tangga menuju kamarnya Lorena.
“Lorena! Lorena!” serunya.
“Ada apa? Kau melihat hantu?” tanya Lorena sambil membuka-buka majalahnya.
“Benar aku sudah melihat hantu!” seru Laura.
“Hantu? Hantu apa? Dimana ada hantu?” tanya Lorena, masih tidak memperdulikannya.
“Hantunya sangat tampan,” ucap Laura, sambil mangatur nafasnya yang terengah-engah karena berjalan terburu-buru, hampir saja susunya mau tumpah tadi.
Mendengar kata tampan, membuat Lorena menghentikan gerakannya dan menatap Laura yang menyimpan susunya diatas meja.
“Dia hantu yang sangat tampan,” ucap Laura lagi kemudian duduk dipinggir tempat tidur.
“Kau bertemu Sean?” tanya Lorena.
“Jadi pria itu yang bernama Sean?” tanya Laura, menatap Lorena.
“Iya, sepertinya kau bertemu Sean, dia memang pulang kerjanya malam,” jawab Lorena.
“Ya ampun Lorena, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama!” seru Laura.
“Jangan!” teriak Lorena, sambil bangun dan duduk di tempat tidur menatap Laura.
“Jangan? Kenapa jangan? Kau kan akan menikah dengan Presdir Samuel, kenapa jangan aku jatuh cinta dengan asistennya?” tanya Laura tidak mengerti.
Lorena bingung menjawabnya.
“Jangan-jangan kau juga menyukai asistennya? Begitu? Jadi kau ikut kontes akan menikah dengan Pak Samuel tapi diam-diam kau juga menyukai asistennya? Kau serakah amat, kau harus memilih salah satu,” kata Laura.
“Bukan bukan begtitu, kau kan akan menikah dengan Anton,” kata Lorena.
“Kalau demi pria setampan Sean, aku rela tidak jadi manikah dengan Anton,” ucap Laura.
“Jangan! Jangan, kasihan Anton, kau jangan meningalkannya,” seru Lorena lagi.
Kenapa dia jadi khawatir Laura akan menyukai Sean dan bagaimana kalau Sean juga jadi suka pada Laura? Saudaranya ini juga kan cantik, pasti Sean akan menyukainya. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Lorena menggeleng gelengkan kepalanya, hatinya malah jadi gelisah.
Laura menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Melihat pria tampan seperti dia, rasanya seperti melihat seorang pangeran di film film disney, dia sangat mempesona, dia sempat tersenyum padaku tadi, malam katanya, suaranya juga sangat merdu..aahhah aku benar benar jatuh cinta pada pandangan pertama,” ucap Laura.
“Jangan! Jangan! Jangan jatuh cinta padanya!” seru Lorena.
“Ah kau hanya iri saja,” keluh Laura terus diapun mengahayalkan wajahnya Sean.
Melihatnya membuat Lorena kesal. Kenapa dia merasa tidak rela ada wanita lain yang menyukai Sean, dia tidak suka.
Dia pun mengambil biolanya dan memainkan musicnya. Tidak seperti biasa yang lagunya lagu-lagu sentimental, sekarang lagunya lagu Bit. Dia kesal dia kesal..entah apa yang dia kesalkan. Apa salah kalau ada wanita lain yang menyukai Sean?
Sean berada dikamarnya. Setelah mandi dia naik ke tempat tidur akan tidur, dia mendengar suara music biola, tapi ada yang aneh, bukan music sentimentil yang biasa Lorena mainkan saat mau tdiur.
Seanpun penasaran lalu turun dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamarnya. Dilihatnya disebrang itu kamarnya Lorena yang sudah terutup rapat gordennya, dia tidak melihat siluet bayangan Lorena main biola, dari sana hanya terdengar music biolanya saja yang bit.
Apa gadis itu sedang marah-marah? Batinnya.
******************
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1