
Lorena pulang diantar Laura, dia langsung berbaring didalam kamarnya. Dia masih sedih dan shock dengan kejadian dipesta itu. Laura menyelimutinya.
“Apa kau ingin aku temani?” tanya Laura.
Lorena menggeleng.
“Baiklah kalau begitu aku pulang,” kata Laura. Lorena mengangguk, diapun mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Akhirnya Laurapun keluar dari kamarnya dan pulang ke rumahnya diantar tunangannya.
Di dalam mobil Sean bersandar ke jok, dia merasa badannya sangat tidak nyaman.
“Pak, kita langsung ke rumah sakit ya, Pak Deni tidak akan membiarkan kondisi Bapak seperti ini,” kata karyawannya. Sean hanya mengangguk, diapun dibawa ke rumah sakit oleh karyawannya.
****************
Pagi ini Lorena tidak cepat-cepat bangun, kejadian semalam membuatnya tidak bersemangat, dia hanya membuka selimutnya dan tersadar kalau dia masih menggunakan jas pemilik pria bertopeng itu. Disentuhnya jas itu, sepertinya jasnya sangat mahal, karena terasa begitu halus jenis kainnya.
Lorena membayangkan pria bertopeng itu yang sudah menolongnya. Ternyata pria itu bukan Henry, jadi siapa pria itu? Dia belum berterimakasih padanya.
Lorenapun bangun turun dari tempat tidurnya lalu melangkah menuju cermin meja riasnya. Dipandangnya dirinya dalam cermin itu, dia tersenyum badannya tenggelam dalam jas itu. Diingat-ingat lagi wajah pria itu, kenapa dia merasa mengenalnya? Suaranya mengingatkannya pada seseorang tapi dia tidak tahu siapa.
Setelah berlama-lama di cermin, Lorena melepas jas itu dan disimpan di kursi, tidak dilihatnya label jas yang ada didalam kerahnya yang bertuliskan Sean Joris, diapun segera masuk kekamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapih, barulah dia keluar dari kamarnya.
“Pak Firman, apa kau melihat Sean?” tanya Lorena.
“Pak Sean tidak pulang ke rumah,” jawab Pak Firman.
“Tidak pulang ke rumah?” tanya Lorena terkejut.
“Iya, semalam temannya membawa kopernya,” jawab pak Firman.
“Membawa kopernya? Kenapa?” tanya Lorena terkejut.
“Pak Sean dirawat,” jawab pak Firman.
“Di rawat?” tanya Lorena, semakin terkejut.
“Temannya bilang dirawat dimana? “tanya Lorena lagi.
“Tidak,” jawab pak Firman.
Lorena terus berfikir, dikota ini ada rumahsakit yang bagus, dia yakin Sean pasti dirawat disana. Dia bisa melihat bagaimana rewelnya temannya Sean yang bernama Pak Deni itu, pasti tidak akan sembarangan memasukkannya ke rumah sakit.
Tanpa basa-basi lagi Lorena segera pergi ke rumah sakit itu.
Di rumah sakit, Pak Deni sedang menemani Sean yang ada ranjang pasien dengan posisi ranjang yang dinaikkan ke posisi duduk.
“Aku tidak mau berlama-lama disini,aku sudah baik sekarang,” kata Sean, dia memang merasakan tubuhnya lebih segar setelah semalaman tidur dengan nyenyak karena minum obat dari Dokter.
Terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu yang terbuka itu.
Sean dan Pak Deni menoleh kearah suara.
“Sam! Masuklah!” kata Sean pada pria yang baru datang itu.
“Kenapa kau jadi begini?” tanya Sam sambil menghampiri. Semalam dia mendapat informasi dari Pak Deni kalau Sean terlibat perkelahian dalam keadaan sakit dan sekarang dirawat, jadi dia menyusulnya ke kota ini.
Sam duduk dikursi dekat ranjang pasien itu. Pak Deni tidak bicara apa-apa, dia hanya keluar dari ruangan itu.
“Katakan padaku, apa yang terjadi? Kenapa perlajanan cintamu jadi seperti ini?” tanya Sam.
“Aku hanya tidak mau dia berkenalan dengan pria lain jadi aku mengikutinya,” kata Sean.
“Repot amat, kau kan bisa bilang ayo kita ke pesta topeng bersama atau kau tembak dia, Lorena sebenarnya aku mencintaimu, aku melakukan semua ini untukmu, beres,” kata Sam.
“Tidak semudah itu,” kata Sean.
“Tidak semudah itu bagaimana? Bilang Aku Cinta Padamu itu sangat gampang, tiga kata Sean, tiga kata, Akuuuu Cintaaaa Padamuuuu,” ucap Sam.
“Ya memang tiga kata, tapi susah untuk mengucapkannya apalagi kalau sambil menatap wajahnya, bibirku tidak bisa berkata apa-apa,” kata Sean. Sam malah tertawa.
“Memangnya kau pacaran selama ini ngapain saja? Bukankah sudah ahli mengatakannya?” ledek Sam.
“Karena ini dengan hati Sam, aku tidak main-main mengatakan Aku Cinta Padamu,” ucap Sean dan dia terkejut saat matanya bertemu mata gadis yang berdiri dipintu sedang menatapnya. Ditangan gadis itu ada sebuah parsel buah. Rasanya dia seperti mengatakan cinta itu pada gadis itu.
“Kau menyatakan cinta pada siapa? Pada Pak Sam?” tanya Lorena terkejut, karena mendengar Sean mengatakan Aku Cinta padamu dan di dalam ruangan itu ada Sam.
Sam dan Sean semakin terkejut mendengarnya mereka saling padang dan bergidik.
__ADS_1
“Tidak mungkin aku mengatakan cinta pada dia!” Tolak Sean, ih dia tidak bisa membayangkan kalau cinta pada Sam.
“Ya kalau memang cinta jujur saja,” ucap Sam sambil tertawa. Tapi suasana malah jadi hening dengan tawa hambar Sam.
Lorena menoleh pada Sam, lalu tersenyum.
“Apa kabarnya Pak Presdir? Kau menjenguk Sean?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sam sambil bangun dari duduknya.
Sean jadi memberengut, dia tidak suka Lorena ramah-ramah pada Sam apalagi masih memanggilnya presdir.
“Kau mau menjenguk Sean?” tanya Sam. Lorena menggangguk, matanya melirik kearah Sean.
“Aku tinggal dulu ya, sepertinya aku ingin ke toilet,” kata Sam.
Lorena mengangguk. Sam mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Sean.
“Ayo tembak dia, tembak,” bisiknya. Sean langsung menoleh kerahnya dengan tatapan tajam. Sam terkekeh lalu pergi dari ruangan itu.
Setelah Sam pergi, mereka saling tatap tapi tidak ada yang bicara beberapa saat.
“M..”
“M...”
Mereka bersamaan akan bicara dan langsung terhenti.
“Kau saja yang bicara,” kata Lorena.
“Kau tahu dari mana aku dirawat disini?” tanya Sean.
“Aku hanya menebak saja, ini rumah sakit terbaik di kota ini,” jawab Lorena.
“Duduklah,” kata Sean.
Lorenapun duduk dikursi bekas Sam duduk tadi, setelah parsel buah itu dia simpan di atas nakas.
“Apa kau lebih baik sekarang?” tanya Lorena, tangannya menyentuh tangan Sean, yang masih terasa hangat. Dia tertegun saat menyentuhnya, kenapa rasa hangat ditangan itu seperti yang dirasakannya saat pria bertopeng itu memegang tangannya. Tangan Lorena mengusap kearah jari-jarinya Sean. Dia masih merasa-rasakan, tapi ah tidak mungkin Sean pria yang bertopeng itu, Sean kan sedang sakit malah ternyata dirawat di rumahsakit.
“Maaf aku tidak tahu kau masuk ruamh sakit, kenapa kau tidak mengabariku?” tanya Lorena.
“Aku kan tidak tahu nomor teponmu,” kata Sean.
“Ada Pak Sam disini apa dia menjemputmu?” tanya Lorena.
Sean mengangguk.
“Kau akan kembali ke kota?” tanya Lorena.
Sean menangngguk lagi, sambil menatap wajah cantik itu. Dia inginnya menuruti kata Sam mengatakan Aku Cinta Padamu itu tapi bagaimana cara mengatakannya? Benar-benar tidak sanggup untuk mengatakannya.
“Kau tadi mengatakakan Aku cinta padamu pada siapa kalau bukan pada Sam?” tanya Lorena.
“Kami hanya bercanda saja,” jawab Sean, berbohong.
“Ooh,” ucap Lorena.
Merekapun terdiam.
“Bagaimana pestanya?” tanya Sean pura-pura tidak tahu.
“Pesta sangat kacau, aku diganggu oleh sepupunya Vera, untunglah ada pria bertopeng yang menolongku tapi aku tidak tahu siapa pria itu, aku belum berterimakasih padanya,” jawab Lorena. Sean hanya diam mendengarkan.
“Kapan kau akan pulang ke ibukota?” tanya Lorena.
“Siang ini,” jawab Sean.
“Siang ini? Kau serius?” tanya Lorena terkejut.
Sean mengangguk. Gadis itu langsung memberengut.
“Ternyata Pak Sam sangat keterlaluan, kau sakit disuruh bekerja,” kata Lorena.
“Bukan bukan begitu, supaya aku bisa mendapatkan perawatan lebih baik,” kata Sean.
“Oh ya begitu ya,” ucap Lorena dengan pelan.
“Iya,” jawab Sean mengangguk, dia senang Lorena terlihat perhatian padanya.
__ADS_1
“Apa kau mau makan buah-buahan yang aku bawa?” tanyanya, sambil berdiri dan menuju parsel buah yang dia bawa.
“Kau tunggu sebentar ya, aku akan mencucinya dulu,” kata Lorena, dia melihat ada piring kosong diatas nakas, lalu diambilnya diisi dengan beberapa anggur dan jeruk. diapun keluar dari ruanagn itu. Sean menatap gadis itu keluar, bersamaan dengan Sam masuk keruangan itu.
“Mau kemana dia membawa buah-buahan?” tanya Sam.
“Mencuci buah-buahan yang dia bawa,” jawab Sean.
Sam tersenyum penuh arti.
“Hemm rasa rasanya mencium sesuatu…” ucap Sam, berdiri tegak dengan melipat kedua tangan didadanya.
“Mencium sesuatu apanya?” tanya Sean.
“Sinyal sinyal…” ucap Sam.
“Sinyal apa?” tanya Sean tidak mengerti.
“Sinyal sinyal ada yang jatuh cinta,” kata Sam, sambil membalikkan badannya dan dia terkejut Lorena sudah berdiri dipintu lagi.
“Sinyal jatuh cinta,” ulang Sam dengan bingung sambil melirik Sean.
“Apa sinyal jatuh cinta?” tanya Lorena.
“Oh maksudku sinyal hape jelek, aku keluar dulu,” jawab Sam lalu buru-buru keluaru lagi.
Lorena menatap Sean yang mengalihkan pandangannya.
“Kenapa kalian bicara yang aneh-aneh?” tanyanya sambil berjalan mendekati kursi dan duduk disana.
“Cepat sekali kau mencucinya?” tanya Sean.
“Ada kran cuci tangan di depan sana,” jawab Lorena. Tangannya mengambil satu buah anggur, disodorkan ke mulut Sean.
Dengan ragu Sean memakannya.
“Manis kan?” tanya Lorena.
“Manis,” jawab Sean padahal jawaban itu bukan untuk anggurnya tapi wajah gadis yang ada di hadapannya sangat manis.
“Kenapa kau baik padaku?” tanya Sean.
“Kau juga kan baik padaku,” jawab Lorena,.
“Aku bebas makan dirumahmu,” lanjut Lorena.
Sean terdiam, dia inginnya Lorena menjawab karena aku menyangimu, Sean, malah kau juga baik padaku.
“Jadi kau akan kembali ke ibukota?” tanya Lorena lagi.
“Iya,” jawab Sean , kembali makan buah anggur dari tangan Lorena. Gadis itu terdiam.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Tidak kenapa-napa.” Jawab Lorena.
“Kau tetap ikut kontes kan?” tanya Sean.
“Aku tidak tahu, jadwal kontes beberapa hari lagi,” jawab Lorena.
“Bagaimana kalau kau ikut saja pulang ke kota bersamaku?” tanya Sean.
“Mm tidak, mungkin kalau mendekati hari kontes saja,” jawab Lorena.
Sean terdiam, sebenarnya dia takut Lorena tidak ikut kontes lagi, tapi kondisi tubuhnya sedang tidak bagus sekarang, jadi harus kembali ke kota, Pak Deni terus saja merewelinya karena khawatir dengan keadaannya yang tidak terawat.
Lorenapun tidak bicara apa-apa, dia mengupas sebuah jeruk, lalu disodorkan ke mulut Sean. Sean langsung mengunyahnya dan terkejut dengan rasa jeruk itu yang asam.
“Manis jeruknya?” tanya Lorena, menatap Sean yang juga menatap Lorena.
“Manis,” jawab Sean spontan, maksudnya manis buat Lorena, bukan buat jeruknya. Karena terlanjur bilang manis jadi terpaksa Sean memakan jeruk asam itu dan langsung ditelannya.
“Oh kau suka ya, ini makan lagi,” kata Lorena, karena dia melihat Sean langsung menelan jeruk itu. Diapun menyodorkan jeruk asam itu lagi dan dengan berat hati Sean memakannya lagi walapun sebenarnya ingin dimuntahkannya.
***********
Maaf ya kalau banyak typo, tadi sudah diedit ternyata ga ke save jadi ngulang ngedit.
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1
**************