Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH- 5 Tragedi


__ADS_3

Pada permainan awal belum ada seorangpun yang mabuk. Earlangga merasakan kepalanya mulai pusing, dia tidak berbiasa minum-minum seperti ini tentu saja dia akan mabuk, diliriknya lagi gadis yang menelungkup disofa itu, dia merasa tidak tega, dia harus menang supaya gadis itu bisa bebas.


Meskipun kepalanya sudah tidak kuat pusing, dia masih mau menerima tantangan Darren dan temannya.


Josh dan Nick yang memang sudah terbiasa dengan alkohol tentu saja segar bugar, malah ketiga teman Darren sudah mulai mabuk,  membuat Darren kesal. Bisa-bisa mereka kalah dan tidak mendapatkan mobil itu. Dia langsung melirik pada Rendi. Rencana licikpun mulai dibuat.


“Bagaimana nih bos, bule bule itu masih kuat minum!” keluh Rendi.


Darren langsung berwajah merah karena kesal dan marah.


“Mobil itu harus aku dapatkan!” ucapnya.


Tiba-tiba  Rendi berbisik, membuat Darren tersenyum. Dia ingat bungkusan yang dia siapkan untuk temannya, sepertinya terpaksa dia harus mengunakannya atau dia akan kalah.


“Gelas, gelas, gelas!” panggail Rendi pada seorang pelayan yang langsung memberikan 6 buah gelas. Temannya Rendi mengambil gelas-gelas kosong yang ada di meja itu.


Gelas gelas barupun langsung dipegang oleh teman-temannya Darren yang segera mengisinya dengan minuman, tidak lupa tiga buah gelas diberikan sesuatu yang memabukkan lalu diberikan pada Earlangga dan kedua temannya.


Permainan semakin panas, mereka masih terus minum sempai mereka tidak kuat lagi. Earlangga dan teman temannya sudah mulai mabuk dan hilang kesadaran, tentu saja karena Darren memasukkan sesuatu yang membuat mereka lupa diri.


“Gelas baru!” ucap Seorang pelayan memberikan gelas-gelas pada Rendi.


Mendengar suara lemah lembut pelayan itu membut Josh meliriknya. Dia melihat pelayan itu begitu cantik langsung saja tertarik, sambil terbatuk-batuk dan sempoyongan langsung saja bangun.


“Hei Nona cantik! Temani aku!” panggil Josh sambil terus mengikuti pelayan tadi, tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya.


Darren dan teman-temannya langsung menertawakannya. Begitu juga dengan Nick yang ternyata dia sudah mengukiti wanita yang lewat didekatnya.


Earlanggapun tumbang ke sofa. Dareen tersenyum menang, dia mendekati Earlangga dan memeriksa sakunya, diambilnya kunci mobil itu lalu diacungkan pada teman –temannya yang langsung bersorak.


“Kita dapat mobilnya!” seru Darren pada Rendi.


Merekapun beramai-ramai keluar dari club sambil bersorak sorak, sedangkan ketiga temannya yang ikut tantangan sudah mulai mabuk dan berjatuhan ke lantai.


Earlangga memegang kepalanya yang terasa berat, tangannya  menggapai-gapai ke sofa.


“Josh! Nick” panggilnya, dia mencoba bangun mencari teman-temannya. Disentuhnya rambut di sebelahnya.


“Josh! Nick!” panggilnya tanpa sadar.

__ADS_1


Tangan Earlangga membalikkan sosok yang didekatnya itu, sampai tubuh itu jatuh kelantai.


“Josh!” panggilnya, menatap sosok yang kini terlihat wajahnya diantara cahaya yang reman-remang.


“Kau Josh? Nick? Kenapa kalian sangat cantik?” tanya Earlangga yang sudah berada dibawah pengaruh minuman dan obat yang diberikan oleh Darren.


“Nick! Ayo kita pulang! Josh!” panggail Earlangga, sambil menarik tubuh yang tergeletak itu.


“Ayo kita pulang Josh!” Earlangga menarik tubuh itu lagi semakin dekat.


“Kau tidur begini bagaimana kita pulang?” keluh Earlangga, dengan sempoyongan dia memapah tubuh itu supaya bediri tegak.


“Jalan keluar! Jalan keluar!” ucap Earlangga pada seorang bodyguard yang berlalu lalang disekitarnye membawa teman-teman Darren yang mabuk tadi diseret keluar dari club itu.


“Sebelah sana!” tunjuk bodyguard itu.


Dengan langkah yang berat sambil menyeret tubuh yang dikira Josh atau Nick, Earlangga menuju arah yang ditunjuk pria tadi. Langkahnya memasuki lorong lorong diapun kebingungan.


“Josh, Nick, dimana ini?” gumamnya kebingungan, dia mulai terbatuk-batuk dan mumuntahkan alcohol dari mulutnya.


Sepasang pria dan wanita tertawa-tawa keluar dari sebuah ruangan.


“Kepalaku pusing Josh!” gumamnya dan mendorong tubuh itu ke tempat tidur.


Brugh! Earlanggapun jatuh kelantai.


“Josh! Nick!” panggilnya lagi tapi teman-temannya tidak ada yang menyahut.


Tangan Earlanga menggapai-gapai, di temukannya sebuah kaki yang menjuntai diatasnya.


“Kakimu sangat halus Josh! Nick! Kalian mencukur bulu-bulu kakimu?” ucapnya, kembali meraba-raba kaki itu semakin keatas sambil berusaha bangun. Tangannya terus menyusuri kaki itu.


“Ternyata pakaianmu seperti pakaian perempuan,” ucap Earlangga sambil berusaha bangun dan brugh! Tubuhnya terjatuh ke tempat tidur disamping sosok itu, diapun menyentuh bagian tubuh lain sosok itu.


Earlangga mencoba melihat Josh dalam pandannganya yang kabur.


“Kenapa kau sangat cantik? Kau operasi plastic jadi perempuan?” gumamnya. Tangannya masih menyusuri tubuh sosok yang tergeletak itu.


Seorang bodyguard  yang patroli ke lorong itu melihat kamar yang terbuka. Dilihatnya sosok pria bersama seorang wanita diatas tempat tidur diapun menutup pintunya.

__ADS_1


Malam semakin larut, ingatan dan kesadaran Earlangga semakin tidak terkendali. Tangannyaa yang menyusuri tubuh perempuan itu memunculkan bayangan-bayangan wanita cantik bermunculan di benaknya, hasrat laki-lakinya semakin muncul tak terkendali, sudah tidak mengenali siapa yang sedang  bersamanya, dia melampiaskan hasratnya pada sosok yang terbaring tidak sadarkan diri itu.


Beberapa jam kemudian…


Sosok disamping Earlangga mengerang kesakitan dan mulai bergerak-gerak dengan lemah, merasakan kepalanya yang sakit, bukan kepalanya saja tapi juga tubuhnya. Dia merasakan dingin yang sangat menyentuh kulit tubuhnya seakan akan dia tidak berpakaian, dia juga merasakan perih di anatara kakinya. Dia kembali meringis kesakitan.


Dia mencoba bergerak perlahan, tubuhnya terasa gemetaran, membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Terasa lagi hebusan angin dingin ketubuhnya, diapun melipatkan tangannya didadanya, seketika dia terkejut saat merasakan kalau dia menyentuh bagian tubuhnya yang lain.


Dia mencoba untuk sadar dan membuka kan matanya. Saat matanya terbuka dan kesadarannya semakin pulih, diapun berteriak kaget. Dia langsung bangun dengan wajahnya yang pucat, melihat tubuhnya yang tidak berpakaian, bibirnya langsung bergetar saking gugupnya. Melihat sosok pria yang tidur menelungkup disampingnya juga tidak berpakaian.


Bagaikan disambar peting disiang bolong melihat kenyataan yang ada didepannya, apalagi ceceran warna merah disprei yang putih itu sudah cukup jalas menjawab semuanya.


“Tidak, tidak, apa yang terjad?” gumamnya, dengan airmata yang langsung menetes dimatanyya.


Disentuhnya tubuhnya yang tidak berpakaian, diapun menangis. Dilihatnya pria yang menelungkup itu, yang hanya memperlihatkan bagian belakang pria itu. Tidak, dia tidak ingin melihat wajahnya.


“Apa yang telah terjadi padaku?” gumamnya dengan sedih dan diapun menangis sesenggukan menelungkupkan wajahnya  dikedua lututnya yang dilipat.


“Kau berisik,” terdengar suara pria itu bicara.


Gadis itu yang tiada lain adalah Valerie tersentak kaget dan menatap sosok itu. Pria itu mulai bergerak.


Valerie melihat pintu kamar yang tertutup. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Pria  yang tidak dikenal itu telah menodainya. Bagaimana jika pria itu bangun dan memaksanya lagi?


Dengan hati yang hancur dia meraih pakaian yang terumbuk dilantai dan segera dipakainya meskipun dia masih merasakan semua bagian tubuhnya  sakit. Dilihatnya sprei yang kini ternoda itu, hatinya semakin sakit melebihi sakit yang dirasakan tubuhnya.


Dengan langkah perlahan dan tetesan airmata dia keluar dari kamar itu. Berjalan meraba-raba tembok menyusuri lorong, tidak tahu jalan keluar harus kearah mana. Langkah kakinya terasa melayang terbawa perasaan hampa dalam jiwanya.


Akhirnya ditemukan jalan keluar itu, Valerie keluar dari club itu yang masih ramai pengunjung, tapi dia tidak melihat Darren, pria itu telah menyerahkannya pada orang lain telah memperlakukannya seperti sampah. Dicegatnya taxi yang baru saja mengantar pengunjungnya.


Dengan langkah yang lesu Valerie masuk kedalam taxi itu, menyebutkan alamat rumah keluarganya Nisa.


Sesampainya dirumah, Valerie langsung masuk kekamar mandi yang ada di daa dalam kamarnya, duduk dibawah guyuran shower yang membuatnya basah kuyup dengan pakaian yang menempel di tubuhnya.


Gadis itu menangis, meratapi  nasibnya, masa depannya yang hancur ditangan pria yang tidak bertanggungjawab. Seseorang yang tidak dia tahu kenapa pria itu begitu tega menodainya.


Kembali muncul bayangan pria yang tidur menelungkup tanpa berpakaian itu, diapun kembali menangis sejadi-jadinya menyaingi suara derasnya air dishower itu. Tubuhnya terasa sakit, hatinya terasa sakit, jiwa raganya terasa sakit. Dia tidak tahu siapa pria itu, dia tidak mau melihat wajah pria itu tidak mau!


**********

__ADS_1


Readers ..kisah cintanya Earlangga baru dimulai ya...maaf kalau kurang sreg dengan ceritanya, cos belum ada mood untuk melucu dengan kondisinya seperti ini, tadinya ini novel untuk nulis di lapak lain berjudul Dua garis merah.


__ADS_2