Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-75 Menyusuri kebenaran


__ADS_3

Earlangga tidak sabar menunggu jawaban dari Valerie. Wanita hamil itu malah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Valerie, tolong jawab petanyaanku!” kata Earlangga, sekali lagi. Jantungnya seakan berhenti berdetak menanti jawaban Valerie.


Dia merasa bingung saat butiran airmata itu menetes satu persatu dipipinya Valerie.


“Apa benar gadis itu kau?” tanya Earlangga lagi, dengan pelan.


Valerie akan menjawab pertanyaan Earlangga tapi Darren mendahuluinya.


“Heh heh! Sudahlah tidak perlu kau jawab. Sudah jelas jelas malam itu aku yang tidur denganmu, mungkin gadis lain yang bersama Earlangga!” potong Darren, menoleh pada Valerie.


“Ayo kita pergi!” Darren menarik tangan Valerie.


“Darren! Aku sedang bicara dengan Valerie! Darren!” teriak Earlangga.


Dia terkejut saat Darren tiba-tiba menarik tangan Valerie sebelum menjawab pertanyaan darinya. Darren menarik Valerie keluar dari ruangan itu yang masih dengan memakai baju pasien.


“Darren! Tunggu Darren! Aku belum selesai bicara!” Earlangga segera mengejar Darren. Setelah dekat, tangannya langsung meraih tangan kanannya Valerie, sedangkan tangan kirinya ditarik oleh Darren.


“Darren kau tidak boleh membawa Valerie pergi!” teriak Earlangga lagi.


Tapi Darren tidak menghiraukannya, dia malah menarik tangan Valerie lebih keras lagi, sampai-sampai Valerie hilang keseimbangan, hampir terjatuh menabrak Darren.


“Hati-hati Darren! Kau menyakiti istriku!” bentak Ealrangga. Kalau bukan khawair Darren menyakiti Valerie, tangan Ealrangga sudah terasa panas ingin memukul preman itu.


Melihat sikap Darren seperti itu, Earlangga terpaksa melepaskan tangannya Valerie, tapi kakinya terus mengikuti langah Valerie jangan sampai di lengah membuat Valerie disakiti Darren. Teman-teman Darrenpun segera mengikuti mereka.


Earlangga mempercepat langkahnya menyusul Darren dan segera menarik tangannya Darren supaya melepaskan tangannya Valerie.


“Lepaskan Darren!” teriak Earlangga, mencoba melepaskan tangan Darren dari tangan Valerie. Tidak dihiruakannya mereka sudah jadi pusat perhatian orang orang yang ada disekitar lorong rumah sakit itu.


“Sebenarnya maumu apa?” teriak Erlangga lagi, dia benar-benar hilang kesabaran kesal pada Darren.


Darren menghentikan langkahnya dan menatap Earlangga.


“Valerie akan tinggal bersamaku,” jawab Darren.


“Tidak bisa! Dia istriku! Kau tidak bisa seenaknya membawanya!” maki Ealrangga.


“Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti aku akan tetap membawanya!” ucap Darren, akan beranjak tapi Earlangga menghalangi langkahnya.


“Darren, aku harus mendengar jawaban Valerie! Aku ingin tahu benar bukan dia yang bersamaku? Kau tidak bisa seenaknya mengaku-ngaku dan membawanya pergi begitu saja!” kata Earlangga, sambil menoleh pada Valerie.


“Valerie!  Jawab pertanyaanku, apa gadis itu kau? Gadis yang kunodai malam itu kau? Aku ingin tahu jawabanmu, biar pria brengsek ini mendengarnya juga!” tanya Earlangga.


Darren tampak kesal, bisa-bisa dia dimarahi lagi oleh Ny.Grace kalau tugasnya gagal, tapi dia tidak berbuat apa-apa, dia juga ingin tahu apa jawaban Valerie.


Earlangga menatap Valerie dengan tidak sabar dan jantung yang berdebar kencang. Dia faham, mengatakan hal itu disaat orang-orang memperhatikan mereka itu akan sangat memalukan bagi Valerie.


Valerie kembali menatap kedua matanya Earlangga, diapun mengangguk.


“Iya, aku gadis itu. Dan bayi ini adalah bayi pria itu,” jawab Valerie. Matanya kembali memerah, dia sangat berat mengatakannya, karena ada penderitaan yang kembali dia rasakan.


“Jadi…benar itu kau, kau tidak sadarkan diri malam itu dan kau pergi saat aku belum bangun?” tanya Earlangga, memastikan.


Ucapan Earlangga terdengar begitu lirih, dia merasa bersalah dan malu telah menodai gadis yang sekarang menjadi istrinya dan membuatnya hamil diluar nikah. Apalagi mengingat awal-awal penolakannya pada Valerie dan bayinya. Dia sungguh merasa berdosa.


Sejenak tidak ada yang bicara. Keduanya merasakan tenggorokan mereka yang tersekat tidak bisa berkata apa-apa.


Earlangga akan mulai bicara tapi lagi-lagi Darren mendahuluinya, sambil menoleh pada Valerie.


“Iya kau memang datang ke club itu dan kau tidak sadarkan diri tapi pria yang bersamamu bukan Earlangga tapi aku!” kata Darren dengan kesal.


Earlangga menoleh pada Darren juga dengan perasaan kesal pada pria itu yang terus merusak suasana.

__ADS_1


“Apa buktinya?” tanya Earlangga.


Ditanya begitu Darren memutar otaknya.


“Tentu saja, aku tahu, dia punya tahi lalat dibahunya!” jawab Darren, dia ingat pernah melihat Valerie menggunakan dress model bahu terbuka.


Dijawab begitu Earlangga terdiam, apa dia ingat kalau Valerie punya tahi lalat dibahunya? Dia sama sekali tidak ingat soal itu.


Darren menoleh pada Valerie.


“Benarkan? Apa aku harus mengatakan bagian tubuhmu yang lainnya?” tanya Darren, pura-pura sok mengenal tubuhnya Valerie.


Valerie menatap Darren.


“Apa kau suka mengintipku mandi?” bentak Valerie.


“Tidak, kurang kerjaan aku mengintipmu!” elak Darren.


Earlangga kembali menatap Valerie lekat-lekat, begitu juga dengan Valerie.


“Aku memang tidak ingat tubuhmu, tapi aku hafal bau parfum yang kau pakai malam itu,” ucap Earlangga.


Valerie terdiam. Dia ingat setelah kejadian itu ada banyak tanda merah di leher dan sekitar dadanya, jadi pelakunya memang Earlangga.


“Kalau parfum itu banyak yang pakai bau yang sama, kau tidak bisa tiba-tiba mengira kalau gadis itu Valerie hanya dari parfumnya.  Coba kau datang ke toko parfum, pelayan parfum juga bisa saja pakai parfum yang sama dengan Valerie. Tapi kalau tanda ditubuh baru benar, tidak banyak gadis yang memiliki tahi lalat di bahu,” kata Darren, berusaha meyakinkan. Kalau sampai dia gagal membawa Valerie, bisa-bisa Ny.Grace tidak memberinya uang lagi.


Darren kembali menoleh pada Valerie.


“Ayo Valerie! Jelas-jelas aku yang bersamamu malam itu. Dia saja yang ngaku ngaku. Bau parfum tidak bisa jadi patokan!” keluh Darren, dia kembali menarik tangannya Valerie tapi Valerie menepisnya.


“Aku ingat bagian belakang tubuh pria itu!” ucap Valerie, menoleh pada  Earlangga, membuat Darren terkejut dan menghentikan gerakannya.


Begitu juga dengan Earlangga, dia balas menatap Valerie, dengan jantung yang kembali berdebar kencang.


“Kau melihat…apa? Kau melihat bagian belakang pria itu? Kau melihat tubuhku?” tanya Earlangga.


Akhirnya Earlangga mengerti kenapa Valere tidak mengenali wajahnya karena dia langsung pergi


“Aku shock! Aku takut melihat wajahnya, jadi aku pergi,” lanjut Valerie.


Darren tambah kesal saja mendengar perkataan Valerie.


“Tidak mungkin! Kau sedang bersamaku Valerie, yang kau lihat belakang tubuhku, apa kau tidak percaya? Apa aku harus bertelanjang sekarang supaya kau ingat malam itu?” tanya Darren.


Valerie tidak menghiraukan perkataannya Darren, dia tetap menatap Earlangga.


“Aku melihat belakang tubuh pria itu. Setiap aku melihat punggungmu aku teringat pria itu,” ucap Valerie, kini matanya kembali berkaca-kaca.


Earlangga terdiam, ternyata Valerie mengenalinya, bisa dibayangkan bagaimana tersiksa perasaan Valerie yang menikah dengan pria yang mengingatkannya pada pria yang menodainya.


“Kenapa kau tidak berkata padaku kalau kau melihat punggungku?” tanya Earlangga.


“Aku belum yakin dan aku juga takut salah orang.  Kau akan menganggapku mencari cari alasan untuk menjebakmu supaya menikahimu,,” jawab Valerie.


Earlangga menghela nafas panjang.


“Valerie aku benar-benar minta maaf,” ucap Earlangga, berjalan mendekati Valerie, tapi Darren menghalanginya.


“Dengar, aku tidak peduli dengan cerita kalian! Pokoknya aku akan membawa Valerie pergi. Kalau kau ingin tahu siapa ayah bayi itu, kita tes DNA setelah bayi itu lahir!” kata Darren.


“Aku akan tetap tes DNA, tapi kau tidak perlu membawanya!” bentak Earlangga.


“Terserah kau suka atau tidak, Valerie besamaku sampai bayi itu lahir baru kita tes DNA!” ucap Darren.


“Bos! Copat kita pergi Bos! Sudah tidak aman!” teriak teman-teman Darren. Ternyata orang-orang yang berkumpul memperhatian mereka semakin banyak.

__ADS_1


Melihat dari dandanan teman-teman Darren saja orang-orang sudah mengenali mereka preman-preman, bahkan ada yag menelpon polisi.


Darren melihat apa yang dikatakan temannya itu benar. Diapun menarik tangannya Valerie dengan keras.


Earlangga akan menyusul tapi teman-teman Darren sudah menghalangi langkahnya.


“Kau tinggal saja disini!” ucap salah satunya, sambil menodongkan benda tajam ditangannya, membuat Earlangga terkejut, ternyata niat Darren benar-benar tidak main-main.


Earlangga akan memaksa menyusul dan melawan teman-temannya Darren meskipun menggunakan senjata, tapi melihat Darren yang menarik tangan Valerie dengan kasar, membuatnya urung melawan, dia merasa khawatir Darren akan lebih kasar lagi dari itu dan akan membahayakan janinnya Valerie.


Akhirnya diapun terpaksa mengalah, tidak bisa berbuat apa-apa melihat Valerie dibawa Darren.


“Valerie! Aku akan membebaskanmu!” teriak Earlangga.


“Awas kau Darren!” makinya lagi dengan kesal.


Melihat Valerie semakin jauh, Earlangga kembali melangkahkan kakinya mengikuti  dibawah kepungan senjata teman-temannya Darren, meskipun senjata tajam itu bisa saja mengenai dirinya, dia tetap berjalan. Dia juga yakin teman teman Darren tidak akan gegabah melukainya tanpa ada yang mengomando, dia hanya harus waspada.


Dilihatnya Darren membawa Valerie sampai ke parkiran.


Beberapa temannya Darren menghalangi Earlangga dengan mendekatkan benda tajam yang mereka bawa ke arah perut Earlangga, supaya tidak mengikuti sampai masuk mobil.


Darren membuka pintu mobilnya. Valerie menoleh pada Earlangga meminta pertolongan. Darren langsung mendorong tubuhnya supaya masuk ke dalam.


Melihat itu membuat Earlangga marah, dia akan bergerak tapi teman-teman Darren menahannya.


“Sudah aku bilang kau daim saja!” bentak salah satu teman Darren itu.


Terpaksa Earlangga membiarkan Darren membawa Valerie dengan hati yang cemas dan merasa bersalah. Setelah mobil itu meninggalkan parkiran, barulah teman-temannya Darren  menjauh dari Earlangga dan berlarian masuk kedalam mobil mereka masing-masing.


Terdengar suara raungan mobil yang kasar dari knal pot yang berasap menghitam ke udara.


“Valerie, kau tunggu aku, aku akan membebaskanmu!” gumam Earlangga, dengan kecewa.


Saat dia akan membalikkan badannya, terdengar suara yang memanggilnya.


“Earl!” teriak suara itu.


Earlanggapun menoleh kearah suara, ternyata Sean baru turun dari mobilnya dan langsung menghampirinya.


“Ayah!” panggil Earlangga.


“Sayang, kenapa kau diluar? Valerie tidak kau tunggu?” tanya Sean.


“Valerie dibawa Darren!” kata Earlangga.


“Apa? Siapa Darren?” tanya Sean kebingungan.


“Pria yang mengaku menghamili Valerie. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba bisa begitu?” jawab Earlangga membuat Sean semakin terkejut.


“Ada yang mengaku menghamili Valerie?” tanya Sean.


“Iya, aku yakin dia disuruh seseorang tapi siapa?” tanya Earlangga.


“Siapa? Apa maksudmu bicara begitu? Kau mencurigai seseorang?” tanya Sean.


Earlangga menatap ayahnya, mengira-ngira siapa yang ingin memisahkannya dengan Velareie. Tidak ada yang berkepentingan soal ini, kecuali… kecuali..


“Nenek!” seru Earlangga, spontan.


“Apa? Apa maksudmu nenek? Nenek tidak mungkin sejahat itu!” kata Sean.


“Aku harus menemui nenek sekarang!” ucap Earlangga, tidak menanggapi perkataan ayahnya.


Earlangga kembali berlari masuk ke dalam rumah sakit untuk mengambil kunci mobilnya diikuti Sean.

__ADS_1


***************


__ADS_2