Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-42 Kata ‘sayang’ pertama


__ADS_3

Tiba-tiba Pak Roby berseru pada tamu yang baru datang.


“Pak Brian! Selamat datang! Hei hei siapa lagi gadis cantik yang kau bawa ini? Kau benar-benar keterlaluan, ini sih seumuran dengan putrimu!” seru Pak Roby sambil melihat kearah pintu masuk, sambil melepaskan pelukannya pada Earlangga dan menghampiri tamu yang baru datang.


Earlangga juga menoleh kearah pintu begitu juga Valerie. Dia sempat melihat kebawah, tangan Earlangga sama sekali tidak melepas pegangannya, diapun menatap wajah tampan pria itu. Apakah kalau Earlangga terus-terusn bersikap begini dia akan jatuh cinta pada pria ini?


Siapa yang mampu menolak daya tariknya? Membayangkanpun tidak memliki pacar, bukan pacar lagi tapi suami setampan dan setajir ini, rasanya kalau dia menyukai Earlangga pasti akan bertepuk sebelah tangan karena banyak wanita yang pasti lebih cantik dan menawan yang akan memanjakan Earlangga. Valerie menghela nafas panjang.


Saat melihat kearah pintu, dia terkejut melihat siapa yang bersama tamu yang baru datang itu, Jeni!


“Pak Roby, kau keterlaluan, ini benar-benar putriku, Jeni!” jawab Pak Brian sambil tertawa, diapun berpelukan dengan Pak Roby.


Jeni tersenyum pada Pak Roby, tiba-tiba matanya melihat pada sosok pria tampan yang bersama Pak Roby.


“Earlangga!” gumamnya tapi dia berubah kecut saat melihat siapa yang bersama pria tampan itu, bekas perawat ayahnya, Valerie. Moodnya langsung berubah menurun, sebal dia apalagi melihat Earlangga yang memegang tangan Valerie, semakin iri saja melihatnya, sedangkan dia masih jomblo harus mengejar-ngejar cowok tajir  makanya datang ke pesta ini.


“Ini..” Pak Brian menoleh pada Earlangga dan mengerutkan keningnya.


“Ini Pak Earlangga, cucunya Ny.Grace, dia sekarang yang memegang perusahaan,” kata Pak Roby.


“Halo Pak Earlangga! Kita baru bertemu, aku sangat senang, watu itu kau menikah aku tidak bisa datang, maaf,” kata Pak Brian sambil mengulurkan tangannya pada Earlangga yang menerima uluran tangannya dan bersalaman.


Brian menoleh pada Valerie. Apa ini yang kata anaknya perawat mertuanya.


“Kau istrinya?” tanya Brian.


“Benar, ini istriku,” Earlangga yang menjawab, sambil tersenyum, bahkan tangannya yang menggenggam tangan Valerie diangkat dan dipegang oleh tangan satunya.


“Senang berkenalan denganmu,” kata Pak Brian.


Jeni langung saja menyela.


“Ayah, masa ayah tidak tahu, dia itu bekas perawat kakekku,” kata Jeni dengan keras, membuat suaranya begitu nyaring diruangan itu membuat orang-orang yang mendengarnya menoleh kearah mereka.


“Benarkah?” Brian pura-pura tidak tahu.


“Benar Pak, saya perawat Pak Tedi,” kata Velerie, dia fikir kenapa dia harus malu? Perawat juga pekerjaan yang bagus.


“Sekarang istriku jadi perawat pribadiku,” lanjut Earlangga membuat semua orang tersenyum. Earlangga menoleh pada Valerie dan tersenyum. Senyum yang menurut Valerie begitu indah. Pria ini berusaha melindunginya.


“Benarkan sayang?” tanya Earlangga. Apalagi ditambah dengan kata sayang, rasanya dia terbang kelangit ke tujuh. Pria itu memenggilnya sayang. Hatinya begitu bahagia.


“Wah pengantin baru, masih malu malu dan lagi mesra-mesranya,” ucap Pak Roby sambil  tertawa.


Bukan itu saja tiba-tiab Earlangga mencium keningnya Valerie. Cup! Bibir itu menepel lembut dikeningnya Valerie, membuatnya serasa ingin pingsan saja wajahnya langsung memerah, mendapat kecupan dikeningnya.


Jeni semakin cemberut saja melihat sikap mesranya Earlangga, hatinya semakin sebal dan iri saja.


“Ayo silahkan,siahkan duduk!” seru Pak Roby mempersilahkan tamu-tamunya.


“Earlangga!” panggil seseorang, membuat Earlangga menoleh.


“Hai, Tomy!’ seru Earlangga, lalu menoleh pada Brian  dan Pak Roby ijin menemui Tomy, dipaun pergi menuju temannya itu yang seumuran dengannya, tidak lupa melirik Valerie supaya mengikutinya, dengan tangan yang masih memegang tangan Valerie.


“Aku baru melihatnya, dia putranya Sean kan? Sangat tampan,” ucap Brian.


“Iya, dia bayi yang memiliki warisan terbesar dalam sejarah di kalangan pengusaha sekitar kita,” kata Pak Roby.


“Benarkah?” tanya Brian.


“Kau tanya saja pada Pak Tedi, Pak Tedi salah satu pengacara yang mengurus warisan itu,” jawab Pak Roby.


“Dia pemilik mobil mewah didepan itu?” tanya Brian.


“Mungkin, aku tidak melihatnya datang, aku tidak tahu ada yang membawa mobil termewah ke acaraku,” jawab Pak Roby.

__ADS_1


“Mobil mewah keluaran baru, limited edition, ada di Luar negeri,” jawab Brian.


“Kalau dia tinggal disini dari dulu mungkin dia sudah jadi rebutan banyak gadis gadis,”


kata Pak Roby.


“Dia tidak tinggal disini?” tanya Brian.


“Tidak, dia tinggal di London, ayahnya bangsawan Perancis,” kata Pak Roby.


“Sepertinya kau banyak tahu,” kata Brian.


“Tentu saja aku tahu, putraku teman barunya saat tiba disini,” kata Pak Roby.


“Putramu yang mana?” tanya Brian.


“Putra kedua, Billy namanya,” jawab Pak Roby.


“Tuh, putraku!” kata Pak Roby sambil menunjuk seorang pria muda yang baru masuk keruangan itu.


“Billy! Billy!” panggail Pak Roby, yang dipanggil langsung menghampiri.


“Ini perkenalkan Pak Brian,dan putrinya,siapa namanya?” tanya Pak Roby.


“Jeni,” jawab Brian.


Billy langsung menoleh pada Jeni, dia tertegun sejenak, dia langsung tersenyum melihat gadis secantik Jeni, jeni juga tersenyum padanya. Billy memang tampan tapi benar kata ayahnya, kalau dikalangan pengusaha muda sepertinya memang Earlangga yang paling kaya. Hemmm. Hati Jeni kembali lesu.


Dilihatnya Earlangga bersama Valerie sedang duduk di sofa yang ditata berkelompok kelompok bersama beberapa temannya.


“Sepertinya aku baru bertemu denganmu, cantik,” ucap Billy, langsung saja merayu.


“Bagaimana kalau aku perkenalkan pada teman-temanku?” tanya Billy.


“Boleh,” jawab Jeni.


Billy mengajak Jeni berkenalan dengan teman-temannya, mereke juga menghampiri sofa yang di duduki Earlangga dan yang lainnya.


Earlangga menoleh pada Valerie yang tampak tidak banyak bicara, diapun tersenyum dan menoleh pada temannya mengobrol lagi dengan temannya.


“Teman-teman, perkenalkan, aku punya gandengan baru!” seru Billy pada teman-temannya. Membuat semua orang menoleh kearah ini.


Valerie melihat Jeni yang berdiri bersama Billy, pria menyebalkan waktu di villa itu.


“Gadis cantik ini putrinya Pak Brian,” seru Billy.


Teman-temannya langsung menyapanya. Jenipun tersenyum. Ada satu yang tidak menyapanya, si bayi  kaya itu, Earlangga. Dia hanya duduk bersandar dengan menopang satu kakinya dan menatapnya tanpa mengucapakan kata sedikitpun meskipun cum hai.


Jeni mencoba tersenyum padanya, tapi pria itu hanya menatapnya sekilas lalu menoleh pada Valerie.


“Apa kau bosan?” tanyanya.


“Ah tidak,” jawab Valerie.


“Kau mau minum?” tanya Earlangga.


“Iya aku sepertinya haus,” jawab Valerie,


Earlangga menoleh pada pelayan yang membawa nampan hilir mudik.


“Mbak tolong kesini!” panggilnya.


Pelayan itu langsung menghampiri dan memperlihatkan minuman di nampannya. Earlangga melihta gelas-gelas itu.


“Tidak ada air putih saja? Istriku sedang hamil,” ucapnya membuat semua orang mendengarnya.

__ADS_1


Pria itu baru menikah kemarin dan tidak malu-malunya mengatakan istrinya hamil.


“Nanti saya ambilkan airnya Pak, ada lagi? Perlu buah tidak?” tanya pelayan itu dengan ramah.


“Ya bawakan juga buah,” kata Earlangga sambil menoleh pada Valerie.


“Kau ingin buah apa?” tanyanya.


“Apa saja,” jawab Valerie.


“Apa saja, semangaka atu anggur juga boleh,” kata Earlangga pada pelayan itu.


Semua mata menatapnya iri! Sebegitu perhatiannya pria itu pada istrinya.


Beberapa istri dan pacar yang juga duduk disana melirik pasangannya, mereka benar-benar iri. Termasuk gadis cantik yang berdiri dengan Billy.


Kenapa perawat itu bisa seberuntung itu? Menikah dengan pria kaya dan begitu perhtian padahal bayinya itu dia yakin bukan bayinya Earlangga.


Jangankan yang lain, Valerie sendiri merasa terkejut, selain selalu memegang tangannya, Earlangga juga sangat perhatian, dia merasa sangat senang.


Billy duduk bergabung dengan temannya begitu juga Jeni. Yang bibirnya tersenyum tapi hatinya menggeremet. Dia melihat satu satu pria yang sedag berada dalam lingkaran sofa itu, lagi-lagi terhenti pada Earlangga, pria itu lebih unggul dari yang lain, selain memiliki mata yang kebiru-biruan, hidung yang mancung, pria itu yang sangat tidak suka menatap wanita, dia hanya berbicara pada teman  prianya.


“Istrimu sedang hamil? Berapa bulan?” tanya Jeni menoleh pada Earlangga.


“6 minggu, berarti sekarang 7 minggu ya sayang,” jawab Earlangga sambil menoleh pada Valerie.


“Iya, 7 minggu,” jawab Valerie.


“Benarkah? Aku dengar kalian baru menikah kemarin ko hamilnya 7 minggu?” tanya Jeni dengan suara yang keras sengaja menarik perhatian orang.


Velerie langsung bermuka pucat, dia merasa Jeni mulai membuatnya malu.


“Kau benar, kami baru menikah beberapa hari yang lalu. Tapi asal kau tahu saja, diluar sana banyak yang bahkan sampai melahirkan juga tidak menikah, biasa saja,” jawab Earlangga.


Jeni sebal mendengar Earlangga seperti membela Valerie, padahal dia bermaksud ingin mengingatkannya kalau bayi itu bukan bayinya Earlangga.


Earlangga menoleh pada Valerie.


“Sayang, aku ke toilet dulu,” kata Earlangga, sambil beranjak.


Pelayan yang tadi memberikan buah yang dipesan Earlangga itu. Valerie langsung tersenyum melihat buah-buahan itu. Suaminya tahu saja kalau dia memang menginginkannya.


Jeni menatapnya dengan sunggingan sinis. Dia kecewa di lingakaran sofa itu tidak ada pria yang tajirnya melebihi Earlanggga, itu artinya dia gagal total, masa dia kalah oleh Valerie, perawat yang digajih orang tuanya, sangat menyebalkan.


Tiba-tiba terbersit ide, dia menoleh pada Billy.


“Bill, aku ke toilet dulu,” kata Jeni,sambil bangun dari duduknya, diapun meninggalkan ruangn itu menuju toilet.


Saat mau keluar dari pintu ruang belakang gedung itu, dia berpapasan dengan Earlangga. Bukan berpapasan, memang dia sengaja menunggu supaya bisa bicara dengan Earlangga.


“Hei!” sapa Jeni, membuat Earlangga menole, diapun segera mendekati Earlangga.


“Aaa apa?” tanya Earlangga.


“Mmm kau sudah tahukan namaku? Namaku Jeni,” kata Jeni sambil mengulurkan tangannya.


“Tadi Billy sudah memperkenalkanmu,” kata Earlangga. Tanpa menerima uluran tangannya Jeni membuat Jeni sebal kembali menarik tangannya.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Jeni.


“Soal apa? Kita tidak saling kenal,” jawab Earlangga sama sekali tidak terlihat terkesima atau merespon tertarik atau gimana, hatinya Jeni semakin sebal, sebal, dan sebal.


“Bagaimana kalau kita duduk dulu disana!” ajak Jeni pada Earlangga, menunjuk kursi-kursi yang ada di dekat pintu itu.


“Sebentar saja, istriku menungguku,” kata Earlangga, Jeni merasa hatinya terbakar, kenapa pria itu begitu perhatian pada Valerie? Kenapa? Padahal gadis itu tidak ada cantik-cantiknya dibandingkan dia, keluhnya.

__ADS_1


************


__ADS_2