
Makan malam itu terasa hambar bagi Valerie, karena dia tidak menyukai kebersamaannya dengan Darren, hanya karena bayinya dia mau menerima persyaratannya Darren.
“Kau tidak suka makanannya?” tanya Darren, melihat Valerie yang seperti tidak berselera makannya.
“Aku tidak terlalu berselera makan,” jawab Valerie.
“Apa kau sakit?”tanya Darren, tangannya mengulur menyentuh tangannya Valerie.
Valerie buru-buru menarik tangannya dari tangan Darren, membuat Darren kecewa tapi dia masih bisa menerima.
Valerie pun kembali makan.
“Mungkin awalnya akan berat, tapi aku yakin lambat laun kau akan mencintaiku,” ucap Darren.
Valerie menatap Darren.
“Apa benar kau mencintaiku? Rasanya sangat tidak masuk akal,” ucap Valerie.
Darren tersenyum, lalu menjawab.
“Aku tidak tahu awalnya darimana, tapi aku mencintaimu sekarang,” ucap Darren.
Valerie tidak menjawab.
“Kau fikir aku melakukannya semua ini demi uang dari Ny.Grace? Tidak, aku punya banyak uang sekarang,” ucap Darren.
Darren menatap Valerie, dia juga sebenarnya tidak mengerti kenapa dia sekarang merasa tidak rela kalau Valerie tinggal bersama Earlangga.
“Sekarang Ny.Grace sakit tidak bisa berbuat apa-ap, tapi coba kalau nanti dia sembuh, kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Mungkin dia juga akan kembali mengambil Aldric, dan kau, dia sudah menyiapkan berbagi cara untuk menyingkirkanmu,” kata Darren.
Valeripun menatap Darren.
“Kau seharusnya senang aku sudah mengambil bayimu dari Ny.Grace. Kau bisa bersama Aldric sekarang, karena kita akan menikah secepatnya,” ucap Darren.
“Bagaimana kau tahu apa yang dilakukan Ny.Grace pada bayiku?” tanya Valerie.
“Karena aku tidak sengaja mengikutinya saat kau pulang dari rumah sakit, ternyata dia bersekongkol dengan kepala rumah sakit untuk mengambil Aldric,” kata Darren.
Darren terdiam sebentar.
“Aku menunggumu setiap hari sampai masa kau melahirkan,” lanjut Darren, ingin menunjukkan pada Valerie bagaimana perasaannya.
Tidak ada yang dilakukan Valerie, dia tidak banyak bicara, dia hanya menjawab apa yang Darren tanyakan, rasanya tidak nyaman harus makan malam dengan pria selain suaminya, apalagi dia tahu bagaimana gaya hidupnya Darren.
Melihat Valerie yang hanya banyak diam, Darrenpun tidak banyak menuntut, setelah makan, dia mengajak Valerie pulang.
“Sepertinya kau lelah, kita segera pulang saja,” ucap Darren.
Valeriepun mengangguk, dia sangat rindu Aldric, dia ingin selalu menggendong bayi itu. Darrenpun mengajak Valerie meninggalkan restaurant itu.
Diperjalananpun sama, Valerie hanya diam, sebenarnya membuat Darren bosan dan gerah dengan sikap diamnya tapi sekali lagi dia harus menerima karena memang Valerie tidak mencintainya.
“Kau jangan sungkan, buat dirimu nyaman dirumah ini,” ucap Darren saat mereka sudah tiba dirumah.
“Iya,” jawab Valerie, tanpa banyak bicara lagi, diapun menaiki tangga rumahnya Darren.
Pria itu hanya menatapnya dari bawah. Dia tidak akan menyerah begitu saja dia harus sabar menunggunya, lambat laun Valerie akan menjadi miliknya.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribu diluar. Valerie yang baru menaiki tanggapun, menghentikan langkahnya dan kembali turun.
“Ada apa?” tanya Valerie.
“Aku tidak tahu!” jawab Darren.
Diapun menoleh kearah pintu, dan dia terkejut saat pintu itu langsung terbuka dengan lebar. Lebih terkejut lagi saat beberapa anggota polisi lansgung masuk kedalam rumah mengepungnya dan menodongkan senjatanya. Beberapa lagi langsung saja menerobos masuk menaiki tangga.
“Hei, hai, ada apa ini?” teriak Darren.
“Kalian tidak bisa seenaknya masuk ke rumahku!” teriaknya lagi.
Dilihatnya dua bodiguard dan satpam sudah dibekuk.
__ADS_1
“Kau dilaporkan atas dasar penculikan dan penyekapan, juga menjadi dalang perampokan yang kau lakukan beberapa hari yang lalu di London,“ jawab salah satu polisi itu.
“Apa?” tanya Darren, terkejut.
“Ini surat penangkapanmu!” seorang pollisi memberikan sebuah surat, tapi Darren bukannya menyerahkan diri, tiba-tiba dia menarik tangan Valerie dengan keras, membuat Valerie dekat dengan tubuhnya dan sebuah pistol ditodongkan ke kepalanya Valerie yang tentu saja langsung merasa shock.
Earlangga yang baru masuk keruangan itu dengan Sean merasa terkejut melihatnya.
“Hei, lepaskan istriku!” teriak Earlangga, tapi tangannya dia tahan Sean.
“Biar polisi yang mengurusnya,” ucap Sean.
“Mundur, atau peluru ini akan masuk ke kepalanya!” teriak Darren, membuat suasana jadi mencekam.
Valerie tampak pucat dan ketakutan, ujung pistol itu menempel di kepalanya.
“Darren, tolong lepaskan aku! Darren, aku takut,” ucap Valerie sambil meringis, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika peluru pistol itu menembus kepalanya, , dia tidak akan bisa melihat Aldric lagi, Adric akan tumbuh tanpa dirinya.
Earlangga semakin panik saja melihat pistol itu menempel di kepalanya Valerie.
“Earl!” panggil Valerie, menatap suaminya dengan tatapan putus asa.
“Sayang, tenang sayang, kau akan baik-baik saja,” ucap Earlangga.
“Darren, tolong lepaskan Valerie! Jangan membuat masa tahananmu lebih berat!” teriak Earlangga.
“Aku tidak peduli! Kau sudah merusak semua rencanaku!” teriak Darren.
Beberapa polisi menodongkan pistolnya juga kearah Darren. Tapi Darren sama sekali tidak terpancing, pistolnya masih menempel dikepalanya Valerie.
Earlangga menoleh pada polisi-polisi itu.
“Tolong hati-hati, aku tidak mau istriku celaka!” kata Earlangga, khawatir dengan keselamatannya Valerie, dia tidak mau kalau sampai Darren mencelakainya.
Darren menarik tubuh Valeri dengan paksa untuk menjadi tamengnya elaru dari rumah ini dan pistol masih tertuju kekepalanya Valerie .
“Earl!” Valerie hanya bisa menyebut nama suaminya, dengan hati yang cemas.
Melihat posisi sandera yang terancam, polisi juga tidak gegabah untuk menembak Darren.
Tiba-tiba Darren menarik Valerie dengan kuat membuat Valerie tersentak kaget dan menjerit kesakitan, maksud Darren dia ingin segera keluar dari ruangan ini tapi tarikannya yang terlalu kuat malah membuat Valerie kesakitan.
“Kau menyakitiku!” teriaknya, membuat Darren terkejut dan lengah, karena diapun sebenarnya tidak bermaksud menyakiti Valerie. Di saat itulah tembakan mendarat ditangan yang memegang pistol dan kakinya Darren.
Dor! Dor! Pluk!
Pistol itu terlepas jatuh ketanah dan tubuh Darren terhuyung karena tembakan yang tiba-tiba itu. Seketika darah segar keluar dari tangan dan kakinya Darren. Pria itupun meringis kesakitan.
Valerie langsung menjerit dan menutup wajahnya, dia merasa ngeri melihat darah itu tececer ke lantai, membuatnya sangat panic dan tubuhnya gemetaran. Untung saja tembakan itu tidak mengenai dirinya.
Para polisi langsung berlari membekuk Darren, sebagian masih menodongkan pistolnya dikhawatirkan Darren masih memiliki senjata yang lain. Tubuh Darren sempoyngan akan terjatuh, segera ditangkap oleh polisi-polisi itu dan meringkusnya.
Earlangga langsung menghampiri Valerie dan memeluknya.
“Sayang,” ucapnya sambil menarik Valerie menjauh dari tubuh Darren yang dibekuk polisi.
Valerie menurunkan tangannya melihat kearah Darren. Darah bececeran dimana-mana. Pria itu kini tidak berdaya ditangan polisi-polisi itu.
Darren menatapnya dengan kesal, Valerie kembali kepada Earlangga, usahanya selama ini untuk mendoakan Valerie benar-benar sia-sia. Dia kesal bukan main, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena polisi memegang kedua tangannya dan membawanya keluar.
Valerie menoleh pada Earlangga, yang sedang memeluknya, menatap suaminya dengan mata yang memerah.
“Earl!” Panggilnya, dengan bibir yang bergetar saat memanggilnya.
Earlangga langsung menarik kepala Valerie supaya bersandar ketubuhnya.
“Semua sudah usai, semua baik-baik saja,” kata Earlangga.
Valerie kembali menatap Earlangga.
“Aku minta maaf,” ucap Valerie.
__ADS_1
“Tidak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku tidak bisa menjagamu,” ucap Earlangga, kemudian mencium keningnya Valerie.
Dari lantai atas terdengar suara-suara beberapa orang polisi, Earlangga dan Valerie menoleh kearah tangga itu.
Ada Surti yang sedang menggedong bayinya dibelakangnya polisi-polisi menggiringnya.
“Bayiku!” teriak Valerie langsung menghampiri Surti.
Seorang polisi menoleh pada Earlangga dan Sean.
“Bayinya sudah ditemukan Pak, pengasuhnya mau dibawa untuk dijadikan saksi,” kata salah satu polisi itu.
“Iya, terimakasih,” ucap Sean.
Surti memberikan bayi itu pada Valerie yang segera menggendongnya.
“Bu, tolong bantu saya, saya tidak tahu apa-apa, saya hanya mengasuh saja,” kata Surti, menatap Velerie.
“Iya, aku akan membantumu,” ucap Valerie.
Surtipun segera dibawa polisi-polisi itu.
Valerie menggendong bayi yang melihatnya dengan tangan yang tidak berhenti menggapai apa saja yang ada didekatnya.
Earlangga menatap bayi itu begitu juga dengan Sean.
Valerie menatap Earlangga dengan mata yang sudah tergenang airmata.
“Bayi kita,”ucapnya dan airmatanya langsung tumpah membasahi pipinya.
Earlangga berjalan mendekati Valerie dan bayinya.
“Bayi kita?” tanya Earlangga.
Valerie mengangguk.
“Aldric Stefanov, Nyonya memberinya nama itu,” ucap Valerie.
Tidak ada kata yang bisa di ucapkan Earlangga, hatinya merasa bercampur aduk antara sedih dan bahagia, tidak pecaya juga shock dengan semua kejadian ini.
Bayinya yang dia kira meninggal itu ternyata bukanlah bayinya, ternyata bayinya masih hidup dan terlihat sangat sehat.
Earlangga menyentuh pipi baby Al.
“Sayang, ini ayahmu,” ucap Valerie pada bayinya.
Bayi itu seperti mengerti, tangannya menggapai-gapai keatas saat Earlangga akan menyentuh jari-jarinya yang mungil.
“Kau sangat tampan,” ucap Earlangga. Dia merasa bahagia melihat buah hatinya.
“Maafkan ayahmu tidak menjagamu dengan baik,” ucapnya, lalu mencium tangan Baby Al.
Seapun berjalan mendekati mereka.
“Ayah senang kalian bisa berkumpul lagi,” ucap Sean, sambil menepuk bahunya Earlangga.
“Ini cucu ayah, Nenek memberinya nama Aldric Stefanov,” kata Earlangga menatap ayahnya.
Sean mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tolong maafkan Nenekmu, sayang,” ucapnya pada Earlangga lalu pada Valerie.
“Terutama kau Nak, maafkan Nenekmu,” kata Sean.
“Aku sudah memaafkan Nyonya, yah,” ucap Valerie.
“Kalau begitu ayo kita pulang, biar nanti pengacara yang akan mengurus ke kepolisian,” kata Sean. Diangguki Earlangga.
Merekapun meninggalkan rumahnya Darren yang seketika menjadi sunyi senyap karena penghuninya dibawa ke kantor polisi.
*************
__ADS_1