Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-60 Ungkapan cinta Sean


__ADS_3

Lorena menatap pria yang sedang memeluknya itu, begitu juga dengan Sean. Suara anjing-anjing itu sudah mulai berkurang, hanya ada beberapa gonggongan kecil yang tidak terlalu terdengar.


“Kenapa?” tanya Lorena.


“Apa?” tanya Sean, pandangannya tidak bisa lepas dari wajah cantik Lorena yang diterangi bulan di malam itu.


“Kenapa apa?” gumam para peserta dibelakang Sean, saling pandanga. Karena gongongan anjing sudah mulai reda, mereka bisa mendengarkan ada dua orang yang sedang berpelukan dan berbicara.


Sam memiringkan kepalanya, juga peserta yang lain melihat dari samping dua orang yang beperlukan itu.


“Kenapa kau melakukannya?” tanya Lorena.


“Melakukan apa?” Sean balik bertanya.


Para peserta semua menajamkan pendengaran mereka supaya bisa mendengar apa yang dua orang itu bicarakan.


“Kau kan pria bertopeng itu?” tanya Lorena.


Sean terdiam beberapa saat. Para peserta langsung kasak kusuk.


“Pria bertopeng?” mereka bertanya-tanya.


“Pria bertopeng!” gumam mereka saling pandang.


Sean masih menatap Lorena.


“Kau sudah tahu jawabannya,” jawab Sean.


“Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kau datang ke pesta itu dan kau tidak menyangkal saat aku mengira kau adalah Henry, kau diam saja, kenapa?” tanya Lorena, yang juga masih menatap wajah tampan itu.


“Aku…” Sean menghentikan bicaranya. Semua hening mendengarkan.


“Aku tidak mau kau berkenalan dengan Henry,” jawab Sean.


“Jadi itu alasannya?” tanya lorena.


“Iya,” jawab Sean.


“Tapi kenapa? Kenapa kau tidak suka aku berkenalan dengan Henry? Kau juga tidak mengatakan kalau kau adalah Sean, kenapa?” tanya Lorena.


“Karena aku..sebenarnya aku…” Sean menatap mata Lorena lekat-lekat, dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya.


“Cepat katakan Sean, katakan aku cinta padamu,” Sam berbisik di belakang Sean. Dia merasa kesal karena Sean lama sekali bicaranya.


“Karena aku tidak mau kau berkenalan dengan Henry,” ulang Sean.


Sam yang medengarnya dibelakang jadi kecewa. Peserta ikut mendengarkan dan mereka juga ikut deg-degan ingin tahu apa yang akan diucapkan Asisten Sean pada Lorena.


“Iya kenapa? Katakan padaku,” tanya Lorena.


“Karena aku..sebenarnya aku…” Sean menarik nafas panjang, kembali memantapkan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya.


Lorena menunggu dengan tidak sabar begitu juga dengan para peserta yang lainnya.


“Karena aku…” Sean menarik nafas panjang lagi.


“Karena aku…” Kata-kata Sean terhenti saat ada suara menjerit dibelakangnya.


“Aw!” jerit seorang peserta.


“Aw!” ucap Sean. Diapun terdiam kenapa malah itu yang keluar dari bibirnya?


Sam menoleh kearah yang menjerit tadi, matanya melotot kesal.


“Maaf pak presdir, kau menginjak kakiku!” kata Indri, ternyata Indri yang berteirak.


Sam yang tadi melotot pada Indri, melihat kakinya dan benar saja, kakinya sedang menginjak kaki Indri.


“Oh maaf,” ucap Sam, sambil mengangkat kakinya. Indri cemberut sambil memegang kakinya yang terinjak oleh Sam.


Lorena masih menatap Sean.


“Kau belum mengatakannya,” kata Lorena.


Sam mendekatkan mulutnya ke kepala Sean.


“Cepat bilang aku cinta padamu,” ucap Sam.


Sean menghela nafas panjang lagi, dia mengumpulkan lagi keberaniannya untuk mengungkapkan cintanya.


“Karena aku cin…” lagi-lagi perkataan Sean terpotong, saat sebuah sinar menyorot pada mereka diikuti teriakan, membuat Sean menghentikan kata-katanya.


“Hei! Apa kalian tersesat?” teriak orang-orang itu, semua mata melihat kearah mereka.


Sinar senter menyorot pada Sean dan Lorena yang berpelukan, merekapun tersadar dan melepas pelukannya.


Sam kecewa melihatnya, ternyata Sean belum menyatakan cintanya pada Lorena.


“Kau lambat sekali,” gerutu Sam.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba Sean menarik lagi Lorena dan memeluknya dengan erat.


“Karena aku mencintaimu, Lorena!” ucapnya dengan lantang. Lorena yang terkejut karena Sean memeluknya lagi dan mendengar apa yanag dikatakannya semakin membuatnya terkejut.


“Hei, apa yang kalian lakukan?” teriak panitia itu masih menyorotkan senter pada yang berkumpul itu.


Lorena bisa dengan jelas melihat wajahnya Sean yang terkena senter panitia yang mendekati mereka.


“Aku cinta padamu,” ucap Sean. Lorena menatapnya tak percaya dengan pendengarannya. Benarkah Sean mencintainya?


Suasansa kembali hening, para peserta terdiam mendengar ungkapan cintanya Sean, senyum mengembamg dibibir mereka, seakan-akan ungkapan cinta itu tertuju pada mereka bukan buat Lorena.


“Aku benar-benar cinta padamu,” kata Sean mengulang lagi.


Sam menoleh pada Indri.


“Kenapa kau tersenyum? Sean mengungkapkan cintanya pada Lorena, bukan padamu,” kata Sam.


“Aku membayangkan Pak Presdir yang mengucapkannya padaku,” ucap Indri membuat Sam melongo.


Lorena masih menatap Sean, dia benar-benar terkejut mendengar pengakuan Sean.


“Kau serius?” tanya Lorena.


“Iya, aku cinta padamu, Lorena,” jawab Sean, mengulang lagi ungkapan cintanya.


Lorena terdiam beberapa saat mencerna ucapannya Sean, kemudian dia bertanya.


“Ada lagi yang ingin kau katakan?” tanya Lorena.


“Tidak, tidak ada,” jawab Sean.


“Kau hanya ingin mengatakan itu? Kalau kau cinta padaku?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Sean.


“Apa kalian baik-baik saja?” tanya panitia yang ternyata sudah tiba didekat mereka. Kemudain melihat pada Sean yang masih memeluk Lorena.


“Apakah ungkapan cinta kalian sudah selesai?” tanya Panitia.


“Sudah,” jawab Sean, sambil melepaskan pelukannya.


Lorena merasa  malu orang-orang sudah berkumpul memperhatikan mereka. Sean melepaskan pelukannya, tapi tidak dengan tangannya,  dia masih menggenggam tangan lorena.


“Pak Presdir! Hari sudah malam, kita kembali saja ke tenda,” kata Pak Yadi.


“Iya, kita kembali ke tenda,” jawab Sam.


“Ya panitia tahu, ada lilin yang mati karena angin cukup kenang, jadi kalian tersesat karena kesalahan panitia, jadi kalian diloloskan,” kata Pak Yadi.


“Hore!! Kita lolos!” teriak Indri diikuti peserta yang lainnya.


“Ya kalian bisa ikut lomba berikutnya,” jawab Pak Yadi.


“Horeee!!” peserta kembali bersorak.


“Ayo kita semua ke tenda,” kata Pak Yadi, yang diangguki Sam, merekapun kembali kearah tadi kembali ke tenda.


Sean masih memegang tanganya Lorena. Mereka berjalan berdampingan.


“Kau belum menjawab apa yang aku katakan tadi,” kata Sean, berjalan sambil melirik pada Lorena.


“Apa yang harus aku jawab? Kau tidak memberikan pertanyaan padaku,” kata Lorena.


“Ya maksudnya aku bertanya juga,” kata Sean dengan bingung.


“Kau bukan bertanya, tapi kau menyatakan, jadi aku tidak perlu menjawabnya,” kata Lorena, membuat Sean melongo. Dia menghentikan langkahnya, sedangkan Lorena berlari bergabung dengan peserta yang lain.


Indri menoleh pada sam.


“Apa?” tanya Sam.


“Pak Presdir Samuel tadi menyatakan cinta?” tanya Indri.


“Menyatakan cinta pada siapa?” tanya Sam.


“Padaku,” jawab Indri sambil cengengesan, lalu belari mengejar Lorena. Sam hanya tersenyum kecut.


Sam menoleh pada Sean yang hanya berdiri sendirian.


“Kau kenapa? Kau kan sudah menyatakan cinta pada Lorena,” kata Sam.


“Tapi Lorena belum menjawab,” jawab sean.


“Menjawab apa?” tanya Sam.


“Dia belum menjawab apakah dia menerima cintaku atau tidak,” jawab Sean.


“Oh iya ya, seharusnya kau juga bertanya tadi, Lorena maukan kah jadi pacarku, begitu,” kata Sam.

__ADS_1


“Iya, aku belum bertanya itu,” jawab Sean dengan lesu.


“Kau tenang saja, masih ada waktu untuk menanyakannya, ayo kita ke tenda, nenti anjing-anjing itu malah mengejar kita,” ajak Sam. Sean tidak bicara apa-apa lagi, merekapun segera mengikuti panitia dan peserta yang berjalan terlebih dahulu.


Di dalam tenda para peserta pada kasak kusuk menggoda Lorena.


“Aku tidak menyangka ternyata Asisten Sean mengungkapkan cinta padamu, aku fikir kalian adik kakak makanya tinggal serumah,” kata Indri.


“Apa? Kau dan asisten Sean tinggal serumah?” tanya para peserta lain terkejut. Dan menatap Lorena dengan banyak prasangka.


“Hei jangan menatapku seperti itu, aku mengontrak di rumahnya Sean, bukan tinggal serumah tidak jelas,” kata Lorena, tangannya mengibas-ngibas di depan wajah peserta lain yang menatapnya.


“Oo jadi kau mengontrak dirumahnya asisten Sean?” seru mereka bersamaman. Lorena cepat-cepat mengangguk.


“Ngomong-ngomong kau akan menerima cintanya Asisten Sean tidak?” tanya Indri.


“Memangnya kenapa?” tanya Lorena.


“Ya kalau tidak, asisten Seannya buatku saja,” kata Indri, Membuat Lorena melotot.


“Kau ini tidak teguh pendirian, kau punya pacar, kau suka Presdir Sam, kau juga sekarang suka lagi pada Sean, yang benar saja,” gerutu Lorena.


Terdengar riuh teriakan huu dari para peserta lain.


Lorenapun kembali diam, sebenarnya dia masih kaget dengan ungkapan cintanya Sean, apakah dia harus menerimanya atau tidak?  Tapi Sean juga tidak bertanya apakah dia menerima cintanya tidak atau bertanya mau jadi pacarnya tidak.


“Apa kalian sudah tidur?” terdengar suara pria dari luar.


Indri membuka resleting tenda, melongokkan kepalanya keluar.


Dilihatnya Sean sudah berdiri di depan tenda.


”Ada apa asisten Sean? Kau mencariku?” tanya Indri kepedean.


“Apa Lorena sudah tidur?” tanya Sean.


Mendengar namanya disebut, Lorena melongokkan kepalanya keluar tenda. Dilihatnya Sean sedang berdiri menatapnya.


“Ada apa?” tanya Lorena, menengadah menatap Sean.


“Aku cuma mau mengingatkan supaya kau tidak lupa memakai selimutmu kalau tidur, jangan lupa pakai lotion obat nyamuk dan juga.. selamat malam, tidur yang nyenyak,” kata Sean.


“Huuuuu” terdengar cemoohan riuh dari dalam tenda. Lorena tersenyum mendengarnya. Pria ini semakin kesini semakin manis saja.


“Iya, terimakasih,” ucap Lorena. Sean membalikkan badannya melangkah meninggalkan tenda.


Lorena akan menutup resleting tenda, tiba-tiba Sean berbalik lagi menghampirinya.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Jangan lupa mimpikan aku,” jawab Sean.


“Huuu!!” dari dalam tenda kembali riuh mencemooh.


Ucapan Sean membuat Lorena tertawa.


“Baiklah aku akan memimpikanmu,” kata Lorena sambil tersenyum.


“Selamat malam,” ucap Sean.


“Selamat malam juga,” jawab Lorena, senyum masih mengembang di bibirnya.


Setelah melihat wajah dan senyum Lorena, Sean merasa tenang sekarang, diapun berjalan kembali ke tenda panitia. Ternyata Sam sedang berdiri diluar tenda.


“Kau sudah apa?” tanya Sam yang melihat Sean menghampiri tenda Lorena tadi.


“Aku sudah mengucapkan selamat malam pada Lorena,” kata Sean. Sam langsung mencibir.


“Selanjutnya lomba apa?” tanya  Sean.


“Masih ada outbond, memangnya kenapa?” tanya Sam.


“Outbondnya  ditunda saja, ganti lomba yang lain dulu,” jawab Sean.


“Lomba apa?” tanya Sam.


“Tugasmu kau fikirkan sendiri, pokoknya buat lomba yang romantis," jawab Sean.


“Lomba yang romantis? Lomba apaan?” Sam mengerutkan keningnya.


“Itu tugasmu, aku mau tidur,” kata Sean, sambil masuk ke dalam tenda.


Sam tidak menjawab, fikirannya penuh dengan pencarian ide lomba yang romantis.


Tiba-tiba Sean melongokkan kepalanya menatap Sam.


“Ada apa lagi?” tanya Sam.


“Ingat, aku berpasangan dengan Lorena, tidak dengan yang lain,” kata Sean, sambil kembali masuk ke tenda.

__ADS_1


“Iya aku tahu, kau cinta mati pada Lorena,” ucap Sam dengan kesal, karena sekarang dia pusing memikirkan lomba romantic yang sesuai dengan keinginan Sean.


*******************


__ADS_2