Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-40 Mengejar Lorena pulang kampung


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sean sudah berdandan rapih, dia ada di ruang makan untuk sarapan. Hanya saat sarapan saja dia bisa bertemu dengan Lorena. Tapi gadis itu belum datang juga ke ruang makan. Bahkan saat makannya sudah mau habis saja Lorena belum masuk juga ke ruang makan.


Sean menoleh pada Pak Roby yang tumben tidak memberikan laporan padanya.


“Pak Roby, dia kemana? Ko belum turun juga untuk sarapan?” tanya Sean.


“Nona Lorena akan pulang kampung,” jawab Pak Roby.


“Apa?” Sean benar-benar terkejut mendengarnya.


“Yang benar? Dia pulang kampung?” tanya Sean, sangat terkejut. Kemudian didengarnya suara deru mobil diteras.


“Itu sepertinya taxinya sudah mau berangkat,” jawab Pak Roby.


Sean langsung beranjak dari kursinya dan berlari meninggalkan ruang makan. Tidak, tidak bisa, Lorena tidak boleh pulang kampung, bagaimana kalau Lorena tidak kembali lagi dan tidak ikut kontes? Dia akan dibuatnya patah hati. Pokoknya Lorena tidak boleh pulang kampung!


Saat Sean sampai teras, taxi itu sudah melaju keluar gerbang. Sean mencatat nomor taxi itu dalam hati. Diapun langsung berlari ke mobilnya, disana supirnya sedang melap mobilnya.


“Mana kunci mobilnya!” teriaknya sambil mengulurkan tangannya. Pak Supir tampak bingung.


“Kunci mobil cepat!” teriaknya lagi, Pak Supir buru-buru memberikan kunci mobil dengan wajah kebingungan.


Sean mengambil kunci mobil dan segera masuk ke mobilnya, dijalankannya  mobilnya untuk mengejar taxi itu. Sampai pagar dia menghentikan mobilnya.


“Pak! Taxi tadi kearah mana?” tanya Sean pada satpam.


“Ke kanan Pak,” jawab satpam. Sean terus mengendarai mobilnya  belok kearah kanan. Tapi kemudian dia menepuk jidatnya, tentu saja ke kanan karena menuju jalan ke kota itu belok kanan. Saking paniknya dia tidak bisa berfikir dengan jernih.


Damian mengingat-ingat nomor taxi itu. Ternyata setelah memasuki jalanan besar, banyak kendaraan dia jadi kebingunan menyusul taxi yang ditumpangi Lorena.


Diapun menelpon pemilik perusahaan taxi.


“Aku minta rute yang digunakan taxi nomor ini!” ucapnya pada permilik perusahaan taxi itu. Diantara pengusaha –pengusaha, siapa yang tidak mengenal siapa Sean, dengan waktu hanya beberapa menit, Sean sudah mendapatkan rutenya.


“Taxinya menuju keluar kota jadi pasti memasuki jalan tol,” gumamnya.


Sambil dipandu dari pemilik taxi itu dia mengikuti taxi yang dipakai Lorena.


Mobil Sean mengikuti alur masuk jalan tol. Berkali-kali handpohonenya berdering, tapi Sean mengabaikannya. Ah dia tidak peduli dengan pekerjaannya yang tidak pernah habis habisnya. Yang difikirkannya sekarang adalah jangan sampai Lorena pulang kampung dan tidak kembali lagi, bagaimana dengan nasib dirinya?


Pak Deni dan Bu Devi sampai kebingungan karena Sean tidak datang ke kantor, sedangkan tamu-tamu dari luar negeri itu sedang menunggu acc darinya.


Sean memasang handsfree  ke telinganya.


“Aku sedang keluar kota!” ucapnya pada Pak Deni.


“Apa Pak? Keluar kota?” tanya Pak Deni, terkejut.


“Aku ada urusan, kau kerjakan saja yang bisa kau handle, aku sedang sibuk!” ucap Sean lalu mematikan telponnya.


Pak Deni hanya menatap hanphonenya yang mati.


“Bagaimana?” tanya Bu Devi.


“Pak Sean sedang keluar kota,” jawab Pak Deni.


“Keluar kota kemana? Kalau tandatangan kan tidak bisa diwakili Pak,” kata Bu Devi.


“Ya sudah, kita telpon lagi Pak Sean, kita akan menyusulnya keluar kota, nanti bertemu ditempat yang Pak Sean tentukan saja,” kata Pak Deni. Bu Devi langsung mengangguk.


Saat sedang bingung begitu datanglah Sam.


Pak Deni langsung menarik tangan Sam masuk ke ruangannya Sean.


“Ada apa?” tanya Sam tidak mengerti.


“Kau tahu apa yang terjadi dengan Pak Sean?” tanya pak Deni.


“Maksudnya apa?” tanya Sam.


“Pak Sean tiba-tiba keluar kota, mengabaikan meetingnya dengan tamu tamu dari luar negeri padahal dia yang minta tamu-tamu itu datang, ada apa sebenarnya ini? Pasti ada sesuatu yang membuatnya begitu!” kata Pak Deni, menatap Sam.


“Keluar kota? Tiba-tiba?” tanya Sam. Sam mengusap-usap keningnya, dia juga bingung.


“Iya!” jawab Pak Deni.


Sam langsung menelpon Sean yang masih mengendarai mobilnya di jalan tol.


“Ada apa?Aku sedang sibuk!” Teriak Sean, dia melihat ada taxi yang dipakai Lorena di kejauhan.


“Kau ke luar kota kemana?” tanya Sam.

__ADS_1


“Aku tidak tahu!” jawab Sean.


“Tidak tahu? Yang benar saja! Kemana arah ke luar kota itu?” tanya Sam kebingungan.


“Aku tidak tahu Lorena akan kemana. Katanya dia pulang kampung jadi aku menyusulnya, dia keburu naik taxi, jadi aku mengejarnya!” jawab Sean.


Mendengar jawaban Sean membuat Sam geleng-geleng kepala.


“Ya ampun, Sean!” gerutunya.


“Sudah jangan menggangguku, nanti aku kehilangan jejak taxinya!” kata Sean sambil mematikan telponnya.


“Halo! Halo!Sean!” Teriak Sam.


“Bagaimana?” tanya Pak Deni.


“Dimatikan!” jawab Sam.


“Dia akan ke kota mana?” tanya Pak Deni lagi.


“Dia juga tidak tahu,” jawab Sam.


“Ko bisa begitu?” tanya Pak Deni lagi kebingungan.


“Dia sedang jatuh cinta!” jawab Sam.


“Apa? Apa hubungannya jatuh cinta dengan keluar kota?” tanya Pak Deni lagi semakin bingung. Sam tidak menjawab, dia keluar ruangan itu.


Setelah berjam jam taxi berada di jalan tol, akhirnya taxi itu keluar juga dari jalan tol, mobil Sean mengikutinya tidak jauh jauh dari belakangnya. Dia juga sempat melihat ada Lorena didalam taxi itu.


Sekarang taxi itu sudah berjalan di jalan raya biasa. Sean segera membunyikan klakson mobilnya.


“Nona, mobil dibelakang mengklakson terus, apa kau mengenalnya?” tanya supir Taxi.


“Mengklakson terus?” tanya Lorena.


“Benar,” jawab supir taxi.


Lorena menoleh kearah belakang, dan benar mobil dibelakang itu terus membunyikan klakson. Lorena mengerutkan keningnya, bukankah itu mobilnya Sean? Kenapa dia ada di daerah sini?


“Hentikan mobilnya Pak!” pinta Lorena. Taxipun segera berhenti. Diikuti mobilnya Sean.


Lorenapun turun dari taxi. Sean juga sama.


Ditanya seperti itu membuat Sean bingung, masa dia harus bilang pada Lorena kalau dia mengejarnya? Itu akan menjatuhkan harga dirinya, nanti Lorena mengira dia pria tukang penguntit lagi.


“Aku kebetulan ada pekerjaan di daerah sini, aku sedang mencari alamat seseorang,” jawab Sean berbohong.


Lorena tediam meskipun agak bingung, kebetulan sekali bertemu Sean di luar kota.


“Kau mau kemana?” tanya Sean.


“Aku mau pulang kampung. Kontesnya kan ditunda cukup lama, jadi lebih baik aku pulang dulu,” ucap Lorena.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kau ikut mobilku saja?” tanya Sean. Handphone yang ada di sakunya terus saja berdering, diapun melihat siapa yang menelpon, ternyata Pak Deni.


“Halo!” sapanya.


“Bapak ada dimana? Kita akan menyusul, sebutkan saja tempatnya dimana, sekalian berkas berkasnya kita bawa,” ucap Pak Deni.


Sean mengerutkan keningnya, dia bingung harus janjian dimana dengan Pak Deni dan rekan-rekan yang lainnya. Dia juga tidak tahu daerah sini.


“Nanti aku kabari,” ucap Sean lalu telponpun ditutup.


Sean menatap Lorena.


“Bagaimana kalau kau pulang kampung aku antar?” tawar Sean.


“Nona! Kilometernya jalan terus!” teriak Pak supir taxi melongokkan kepalanya keluar jendela.


“Nanti aku bayar!” jawab Sean.


Lorena menatap Sean.


“Maksudmu kau akan mengantarku pulang kampung?” tanya Lorena.


“Iya!” jawab Sean, mengangguk.


“Kau kan sedang sibuk katamu kau sedang mencari orang,” ucap Lorena.


“Tidak, tidak apa-apa,itu nanti bisa di atur,” ucap Sean. Dia berharap Lorena mau menerima tawarannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Sean melambaikan tangannya supaya Lorena mendekat. Meskipun bingung, Lorena mendekatkan kepalanya kearah Sean. Seanpun berbisik.


“Kalau keluar kota dengan taxi itu bahaya, kau pasti tahu berita berita kan kalau ada supir taxi yang berbuat criminal,  dia mengambil harta penumpangnya, kau tidak mau kan terjadi hal buruk seperti itu,” ucap Sean menakut nakuti. Tentu saja Lorena jadi takut mendengarnya.


“Tapi sepertinya supir taxi itu baik,” ucapnya pada Sean.


“Perjalananmu masih jauh kan?” tanya Sean masih berbisik.


“Iya,” jawab Lorena, mengangguk.


“Biasanya supir taxi itu akan mencari tempat yang sepi,” kata Sean. Membuat Lorena bergidik.


“Apa lagi tempatnya jauh, rumahmu masih ajuh kan?” tanya Sean.


“Iya masih jauh,” jawab Lorena.


“Nah lebih aman kalau kau ikut denganku saja, aku akan mengantarmu, kau juga tidak perlu bayar, kalau pakai taxi kau harus bayar mahal,” kata Sean.


Lorena mengerutkan dahinya lagi, difikir fikir benar juga kata Sean, daripada ternyata supir taxi itu berubah menjadi penjahat lebih aman kalau dia ikut sean.


“Ya baiklah kalau begitu, sebaiknya aku ikut denganmu lebih aman,” ucapnya pada Sean. Mendengarnya membuat Sean senang, diapun tersenyum.


Buru-buru Sean menghampri taxinya Lorena. Dia membayar biaya taxinya, karena tadinya trayeknya sampai dengan tujuan, Sean membayarnya full.


“Kau sudah bayar taxinya?” tanya Lorena sambil membuka bagasi mobil mengeluarkan kopernya.


“Sudah,” jawab Sean.


“Nanti aku ganti ya uangnya,” kata Lorena.


“Iya,” jawab Sean, dia tidak bilang pada Lorena kalau dia membayar taxinya full sampai tujuan, nanti panjang lagi urusannya.


Sean cepat-cepat mengambil kopernya Lorena dimasukkan ke bagasi mobillnya.


“Ayo masuklah,” ajak Sean.


Lorena masuk ke mobilnya Sean diikuti pria itu.


“Kau tunjukkan saja arahnya atau kita pakai GPS,” ucap Sean, sambil menyalakan GPS di mobilnya.


“Masih jauh, berjalan jam , bisa seharian ke rumahku,” kata Lorena.


“Ya tidak apa-apa,” jawab Sean, dia benar-benar lega akhirnya bisa mengejar Lorena juga, soal nanti Lorena jadi pulang kampung atau tidak, bagaimana nanti saja, yang pasti dia tidak bisa membiarkan Lorena pulang kampung dan tidak kembali lagi.


Terdengar handphonenya kembali berdering.


“Ya, aku ada di kota.. apa ini?” tanya Sean, celingak celingkuk mencari reklame atau spanduk yang bertuliskan alamat daerah itu, kemudian menyebutkan namanya.


“Sebutkan saja tempat kita bertemu Pak dan sepertinya tamu-tamu dari Luar negeri juga harus ikut, karena kalau ada yang bapak tanyakan saya tidak bisa jawab,” ucap Pak Deni.


“Baiklah kalau begitu kita bertemu dimana ya? Tidak mungkin di warteg atau di restaurant,” ucap Sean seakan bertanya pada diri sendiri.


“Jangan Pak! Masa menerima tamu dari luar negeri di warteg. Cari hotel saja Pak yang ada ruang meetingnya,” kata Pak Deni.


“Baiklah, pasti disini ada hotel terdekat, nanti aku kabari,” jawab Sean lalu telponpun ditutup.


Lorena menatap Sean yang baru menerima telpon tadi.


“Apa? Siapa?” tanya Lorena.


“Mm temanku itu mengajak bertemu, kira-kira hotel terdekat dimana ya? Aku akan bertemu temanku dulu,” kata Sean.


Lorena mengerutkan keningnya.


“Aku juga tidak tahu, kau searching saja mecari hotel yang dekat. Memangnya bertemunya harus di hotel?” tanya Lorena kebingungan.


“Mmm.. iya, dia orang yang apa ya..ya begitulah,” jawab Sean, dia tidak bisa jujur pada Lorena karena Lorena tidak tahu kalau dia benar-benar Presdir.


Lorena malah menatap Sean dengan tatapan curiga.


“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Sean.


“Kau tidak sedang menjualkukan?” tanya Lorena tiba-tiba, membuat Sean terkejut.


*****************


Bersambung ya,  udh 1700 kata tidak cukup satu bab


Jangan lupa like vote dan komen


 

__ADS_1


 


__ADS_2