
Earlangga menjalankan mobilnya menuju kantornya, mobilnya itu melewati club malam yang masih tutup. Dia agak pelan menjalankan mobilnya saat melewati gedung itu. Valerie menoleh pada bangunan itu yang langsung mengingatkannya pada kejadian itu, dia bingung apa benar tidak ada seorangpun yang melihatnya bersama dengan pria malam itu? Mau sampai kapan teka-teki ini terjawab? Diliriknya Earlangga yang sedang menyetir, Valerie tidak bisa membayangkan jika pria itu Earlangga yang menjadi suaminya sekarang tapi tentu saja itu tidak mungkin.
“Saya mau berterimakasih,” kata Valerie.
“Terimakasih untuk apa?” tanya Earlangga.
“Terimakasih karena Bapak mau menikahiku,” jawab Valerie.
“Kau tahu alasannya apa. Kalau tidak terpaksa aku tidak akan menikahimu,” kata Earlangga.
“Walaubagaimanapun saya berterimakasih,” ujar Valerie.
“Aku harap bayi itu segera lahir dan kita bisa membuktikan kalau bayi itu bukan bayiku,” kata Earlangga lagi.
“Iya, saya minta maaf atas semua ini,” ujar Valerie.
“Sudahlah, semua sudah terlanjur. Kau turun dikantorku, nanti kau pulang bersama supir,” ucap Earlangga.
“Iya,” jawab Valerie.
Saat mobil melewati lokasi itu Valeriepun berfikir, tidak ada salahnya dia mencari lagi informasi siapa ayah bayinya. Dia juga merasa bersalah karena jadi Earlangga yang bertanggungjawab menikahinya, bahkan dia mau membelikannya susu ibu hamil.
Sesampainya di kantornya Earlangga, Valerie turun dan mencari mobil yang membawanya bersama supir tadi, sedangkan Earlangga masuk ke dalam gedung. Tiap kali melihat punggungnya Earlangga tiap kali itu juga mengingat pria itu. Valerie menggelengkan kepalanya. Akhirnya diapun pulang bersama supirnya.
Saat diperjalanan, Valerie mendapat sebuah telpon. Diapun menganggkatnya ternyata dari rumah sakit.
“Halo! Ya saya Valerie,” jawabnya.
“Benarkah? Jadi saya diterima bekerja? Ya ya bisa, saya akan datang besok,”serunya lagi, hatinya sangat senang mendapatkan berita itu, itu artinya karirnya sudah mulai ada didepan mata. Dia harus bisa mandiri, apalagi nanti dia akan membesarkan bayinya seorang diri, dan dia harus persiapan jika Earlangga menceraikannya.
********
“Bu, aku senang akhirnya aku mendapatkan pekerjaan, aku bisa langsung bekerja besok,” kata Valerie pada Bu Asnii saat sudah kembali pulang kerumah dan sedang menyiapkan makan malam untuk Earlangga.
Lega rasanya orangtua Earlangga dan neneknya pergi lagi ke luar negeri, rumah ini kembali sepi, setidaknya tidak ada Ny.Grace yang selalu menghardiknya.
Ny. Grace yang ada dalam fikirannya Valerie juga sama sedang memikirkannya, dia baru tiba ke rumahnya di Paris dan sedang ada tamu diruang kerjanya.
“Ada pekerjaan untukmu,” kata Ny.Grace.
“Siap Nyonya!” ujar pria itu.
“Aku ingin kau cari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh istri cucuku,” kata Ny, Grace, sambil memberikan sebuah foto pada pria itu.
Pria itu menatap foto Valerie yang ada ditangannya sekarang, lalu pada Ny.Grace.
“Kenapa?” tanya Ny.Grace.
“Tentu saja ayahnya cucu Nyonya bukan,” kata pria itu.
“Kau salah, cucuku menikahinya saat dia sedang hamil, aku curiga perawat itu menjebak cucuku dengan tidak mau menyebutkan siapa pria yang menghamilinya. Jadi aku ingin kau sebar anak buahmu, cari informsi seakurat mungkin siapa ayah dari bayi itu, aku tidak mau menunggu tes DNA, terlalu lama, aku khawatir cucuku malah jatuh cinta padanya, karena bersamanya terlau lama,” kata Ny. Grace.
“Baik, Siap Nyonya,” jawab pria itu.
Tidak berapa lama pria itu keluar dari ruang kerjanya Nyonya Grace.
Lorena yang kebetulan melihat pria itu mengerutkan dahinya, kenapa ada tamu pria pribumi ada di Paris? Sungguh aneh, apa ibu mertuanya sengaja memanggilnya ke Paris padahal mereka baru tiba? Apalagi pria itu menggunakan jaket hitam, tidak seperti rekan bisnis biasanya yang berjas.
“Kau kenapa?” tanya Ny.Grace tiba-tiba juga keluar dari ruangan.
“Tamu siapa Bu?” Lorena balik bertanya.
__ADS_1
“Rekan bisnis baru,” jawab Ny. Grace.
“Mana Sean?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Sedang istirahat,” jawab Lorena.
Ny.Grace tidak bicara apa-apa lagi, diapun segera menuju kamarnya. Lorena juga segera ke kamarnya menemui suaminya.
*******
Valerie masih duduk diruang makan menemani Bu Asni yang menyiapkan makanan. Terdengar suara mobil memasuki halaman.
“Kau tidak menyambut suamimu pulang?” tanya Bu Asni.
“Tidak Bu, aku kan bukan istrinya,” jawab Valerie.
Bu Asni menatapnya, dia merasa kasihan pada gadis itu.
“Kau tidak berusaha mencari lagi siapa pria yang menghamilimu? Siapa tahu kalau pria itu tahu kau hamil, pria itu akan mau bertanggung jawab dan menyayangimu juga anakmu nanti,” tanya Bu Asni.
“Aku bingung harus mencarinya kemana lagi, Darren saja tidak tahu aku malam itu dengan siapa. Kalau pria-pria bule itu aku harus mencarinya kemana?Tidak ada yang mengenalnya,” jawab Valerie.
Earlangga pulang langsung ke kamarnya, disana tidak ada Valerie, kemudian melihat jam di dinding sudah saatnya makan malam. Setelah mandi diapun bergegas keruang makan, seperti biasa Valerie sudah menunggunya disana.
“Malam Pak,” sapa Valerie.
Earlangga tidak menjawab, dia langsung duduk di kursinya.
“Pak, saya mau meberitahu sesuatu,” kata Valerie.
“Apa?” tanya Earlangga memulai makannya.
“Saya dapat pekerjaan dirumah sakit, mulai besok saya bekerja,” kata Valerie.
Valeri mengangguk saja, kini dia menyiapkan obat-obatannya Earlangga.
Setelah itu diapun bangun, mengambil beberapa gelas minuman. Diseduhnya susu berbagai macam rasa di bariskan diatas meja makan.
“Apa itu?” tanya Earlangga.
“Susu yang tadi di beli Pak, saya menyeduhkannya jadi beberapa gelas,” jawab Valerie.
Dia menatap susu susu itu. Begitu juga dengan Earlangga, sedangkan Bu Asni pergi kedapur menyediakan makanan penutup buat Earlangga.
“Coba bagaimana rasanya?” tanya Earlangga.
Valeriepun mencoba susu-susu itu satu-satu.
“Tidak ada yang enak,” jawabnya.
“Meskipun tidak enak, kau tetap harus meminumnya,” ucap Bu Asni saat masuk keruang makan membawakan makanan penutup.
“Iya Bu,” jawab Valerie, sebenarnya Valerie merasa mual tapi ditahannya.
“Maaf Pak, saya keatas duluan,” ucapnya.
Earlangga menatapnya. Istrinya itu segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.
“Kenapa dia?” tanyanya pada Bu Asni yang tidak menjwab, dia hanya melihat Valerie menutup mulutnya dengan tangannya.
“Dia merasa mual,” jawab Bu Asni, yang mengerti keadaan Valerie, dia tidak akan enak kalau harus muntah dan didengar oleh Earlangga yang sedang makan.
__ADS_1
Earlangga menatap susu-susu yang tidak habis itu.
“Memangnya tidak enak?” tanya Earlangga. Tangannyapun mengambil salah satu gelas itu dan dicicipinya, diapun langsung batuk-batuk.
“Tenyata memang tidak enak,” kata Earlangga.
Bu Asni jadi ingin tertawa, buat apa juga Earlangga meminum susu itu.
“Apa yang hamil itu akan merasakan mual yang sangat? Valerie muntah-muntah sangat berisik,” kata Earlangga.
“Iya Pak, bahkan mualnya itu tidak tertahankan, dimanapun berada kalau meas mual ya mual, sangat menyiksa,” jawab Bu Asni.
Mendengar penjelasan Bu Asni, Earlangga merasa bersalah karena dia memarahi Valerie karena mengganggu tidurnya.
“Sampai berapa bulan begitu? Selama hamil?” tanyanya, dalam hati dia bertanya-tanya buat apa dia memikirkan soal kehamilan segala?
“Biasanya sampai usia 3 bulan,” jawab Bu Asni.
“Tapi dia mau bekerja besok, apa dia bisa bekerja di rumah sakit? Pasti bau disana,” ucap Earlangga, mengerutkan dahinya, diapun mengambil obat yang harus diminumnya. Earlangga jadi keheranan karena Valerie tidak turun-turun lagi.
Bu Asni tersenyum, ternyata Pak Earlangga perhatian juga pada Valerie.
Saat Earlangga kembali ke kamarnya ternyata gadis itu sedang duduk dipinggir tempat tidur dengan membuka buka sebuah majalah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Earlangga.
“Aku baik-baik saja, maaf aku belum sempat turun Bapak sudah kesini,” jawab Valerie, merasa tidak nyaman dia malah keasyikan melihat majalah itu.
Earlangga melihat sekilas pada majalah yang Valerie lihat itu.
“Apa itu?” tanyanya.
“Ini Pak, majalah tentang kehamilan dan bayi,” jawab Valerie.
Earlangga tidak menjawab, dia pun naik ke tempat tidur lalu berbaring. Dilihatnya Valerie senyum-senyum sendiri melihat tabloid itu. Disana ada banyak gambar bayi-bayi yang lucu. Melihat Valerie yang senyum senyum sendiri, Earlanggapun jadi tertarik, dia yang akan berbaring jadi bangun dan menggeser duduknya disamping Valerie melihat apa yang Valerie lihat.
“Bayi?” tanya Earlangga.
“Iya, mereka sangat lucu-lucu,” jawab Valerie.
Kalau melihat bayi lucu itu, memang rasanya sangat tidak bertanggung jawab orang tuanya kalau tidak menyayanginya. Bayi- bayi itu tidak berdosa, di merasa bersalah sudah ingin menggugurkan bayinya.
“Menurutmu nanti bayimu laki-laki atau perempuan?” tanya Earlangga.
“Aku belum tahu,” jawab Valerie.
“Kalau begitu cepatlah USG biar ketahuan,” kata Earlangga.
Valerie melirik pria itu dan tersenyum.
“Harus menunggu besar baru bisa tahu jenis kelaminnya,” jawab Valerie.
Earlangga terdiam, dia teringat gadis yang dinodainya itu, semoga saja gadis itu tidak sampai hamil, kalau hamil pasti hidupnya sengsara seperti yang dialami Valerie sekarang.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Earlangga.
“Apa?” tanya Valerie.
“Kenapa kau tidak mau mengatakan siapa yang menghamilimu? Pacarmu itu siapa? Kenapa kau menutupi identitasnya?” tanya Earlangga.
Ditanya begitu membuat Valerie terkejut. Dia bingung harus menjawab apa? Apakah dia harus jujur soal kejadian itu pada Earlangga?
__ADS_1
***********