
Didalam mobil yang dikendarai Romi, Earlangga dan Josh juga Nick tampak berisik dan ramai, ternyata Nella adiknya Romi sangat cerewet. Sepanjang jalan terus bicara, sangat nyambung dengan Josh dan Nick, sedangkan Earlangga masih banyak melamun, dia belum bisa melupakan kejadian semalam.
“Kau sudah punya pacar belum?” tanya Josh.
“Jangan, jangan, Josh modus, dia banyak pacarnya!” kata Nick, sambil medelik pada temannya.
“Aku kan cuma nanya,” kata Josh.
“Sudah!” jawab Nella membuat Josh patah hati, membuat Nick dan Romi tertawa.
“Kalian akan lama disini?” tanya Romi.
“Mungkin beberapa hari lagi, Earlangga berjanji mau mengajak kita ke tempat wisata,” jawab Nick.
“Nanti aku antar kalau kalian mau jalan-jalan,” jawab Romi.
“Bagus itu,” kata Nick.
Earlangga tidak banyak bicara, dia hanya mengangguk-angguk saja. Dia masih memikirkan gadis itu, masalah itu terus menempel di kepalanya, karena dia pada dasarnya bukanlah pria yang suka mempermainkan perempuan.
“Kak, turunkan aku di kampus perawat ya,” pinta Nella.
“Kenapa disana? Fakultas kedokteran kan di depan,” kata Romi.
“Aku ada janji dengan temanku yang kuliah disana,” jawab Nella.
Tidak berapa lama mereka sampai di halaman parkir kampus Keperawatan yang letaknya bersebrangan dengan fakultas kedokteran.
“Aku turun ya, sampai jumpa lagi!” seru Nella sambil turun dari mobilnya dan melambaikan tangannya pada semua orang, mobil itupun melaju meninggalkan kampus itu.
“Rom, antarkan aku ke kantor ayahku,” kata Earlangga.
“Oke!” jawab Romi.
Nella berlari menuju gerbang kampus, ternyata temannya belum sampai, jadi terpaksa dia menunggu, setelah cukup lama barulah dia melihat gadis itu muncul dari sebuah angkutan kota.
“Valerie!” panggilnya .
“Kau sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat,” tanya Valerie, berhenti di depan Nella.
“Tidak,” jawab Nella.
“Kau kenapa? Kau sangat pucat, apa kau sakit?” tanya Nella saat menyadari kondisi temannya.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Valerie. Padahal semalaman itu dia tidak bisa tidur memikirkan apa yang telah terjadi padanya.
“Kau bohong, matamu juga sembab, kau menangis? Ada apa? Cerita padaku,” kata Nella.
“Aku hanya butuh pekerjaan, bagaimana kau bisa mebantuku tidak?” tanya Valerie, menatap Nella.
“Aku sudah keluar dari rumah majikannku tapi gajiku tidak dibayar, padahal aku akan ujian sebentar lagi tapi kalau belum bayar uang kuliah aku tidak bisa mengikuti ujian, ,” lanjut Valerie.
“Gajimu tidak dibayarkan?” tanya Nella.
“Iya,” jawab Valerie
__ADS_1
“Ya sudah, kau bisa meminjam uangku dulu,” kata Nella.
“Tapi bagaimana membayarnya, aku belum mendapat pekerjaan,” ucap Valerie.
“Bagaimana kalau kau bekerja di restaurant ibuku saja, ibuku butuh tenaga untuk delivery makanan online, tapi itu terserah padamu, untuk batu loncatan saja sebelum kau mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus,” saran Nella.
“Kau serius?” tanya Valerie.
“Iya, aku serius. Sekarang kan ujian cuma sebentar, pulang kuliah kita menemui ibuku di resto jadi tidak terlalu sore,” kata Nella.
“Baik, aku mau, terimakasih Nella, kau sahabat yang baik,” ujar Valerie.
“Iya, aku ke kampusku dulu ya, setelah ujian kita bertemu lagi disini,” ucap Nella, lalu meninggalkan Valerie sendiri. Gadis itu tersenyum melihat kepergian temannya, dia merasa lega akan mendapat pekerjaan, semoga ibunya Nella mau menerimanya.
Sepulang dari kuliah, Nella mengajak Valeri datang ke restaurant ibunya.
“Kau serius mau bekerja disini? Tapi aku butuhnya untuk tenaga delivery online saja, apa kau mau? Kendaraan disediaan disini,” tanya Indri, saat mereka berada dikantornya Indri.
“Mau Bu, saya sangat butuh kerjaan ini,” jawab Valerie.
“Baiklah kalau begitu kau bisa mulai bekerja besok,” kata Indri.
“Baik Bu,” ucap Valerie.
Valerie dan Nellapun keluar dari ruangan itu bersamaan dengan bunyi ponselnya Indri.
“Indri aku minta tolong,” kata suara di sebrang.
“Ada apa Lorena?” tanya Indri.
“Oh iya, Earlangga sudah ada disini sekarang?” tanya Indri.
“Iya, dia ada di kantor ayahnya,” jawab Lorena.
“Bagaimana ya?” gumam Indri, matanya tertuju pada Valerie yang keluar ruangan dengan Nella.
“Valerie, tugggu!” panggilnya sambil melambaikan tangannya pada Valerie, gadis itupun menghentikan langkahnya dan kembali masuk.
“Kau sebutkan saja makanannya apa saja,” kata Indri pada Lorena, sambil menulis di secarik kertas. Tidak berapa lama telponpun ditutup
“ Apa kau bisa kerja sekarang?” tanya Indri pada Valerie.
“Bisa Bu,”jawab Valerie.
“Kalau begitu kau bawa catatan ini ke koki, terus kirimkan ke alamat ini, untuk Bapak Earlangga,” kata Indri.
Valerie menoleh pada Nella yang ada di pintu.
“Selamat bekerja ya, aku mau pulang dulu,” kata Nella.
“Iya, makasih Nel,” ucap Valerie, yang diangguki Nella.
Setelah makanan siap, Valeriepun mengendarai motor khusus pengiriman makanan itu menuju alamat yang sudah dituliskan Indri, sebenarnya tubuhnya sudah lemah, karena kurang tidur dan banyak fikiran tapi dia sangat membutuhkan pekerjaan ini jadi dipaksakannya bekerja.
Tidak berapa lama Valerie sudah sampai ditempat yang dituju, karena gedung itu hanya beberapa blok saja dari Resto Samin.
__ADS_1
“Saya membawakan makanan pesanan untuk Pak Earlangga,” kata Valerie pada Pak Satpam.
“Untuk putranya Pak Presdir?” tanya Pak Satpam.
“Saya tidak tahu Pak, hanya namanya Pak Earlangga,” jawab Valerie
“Kau naik saja ke lantai 22, temui Bu Riska sekretaris Presdir,” kata Pak Satpam.
Valerie mengangguk lalu menuju lift dan buru-buru masuk saat lift ke lantai atas terbuka.
Sampailah Valerie di lantai 22, diapun mencari Bu Riska, sekretaris Presdir.
Dilihatnya di ujung lorong ada meja bertuliskan Riska sekretaris Presdir, diapun segera menghampirinya, wanita berkacamata itu sedang menerima telpon di mejanya.
“Apa?” tanya Bu Riska sambil tangannya menutup ujung telpon.
“Saya mengantar pesanan buat Pak Earlangga,” jawab Valerie.
Bu Riska tampak kebingungan, orang yang di sebrang telpon terus memangilnya.
“Tolong kau bawa ke dalam saja, itu ruangannya,” kata Bu Riska.
Valeripun mengangguk, dan Bu Riska kembali bicara di telpon.
Valerie mendekati ruangan itu lalu mengetuknya beberapa kali.
“Masuk!” terdengar suara jawaban dari dalam. Valerie membuka pintu ruangan itu perlahan, dilihatnya ada seorang pria muda yang tampan sedang duduk di sofa sambil membaca tabloid.
“Siang Pak, saya dari Resto Samin membawa pesanan buat Pak Earlangga,” kata Valerie.
“Apa isinya?” tanya Earlangga, tanpa mengalihkan pandangannya dari tabloid itu. Tadi ibunya menelpon akan mengirimkan makanan untuknya.
“Isinya kurang tahu Pak,” jawab Valerie, dia sebal melihat pria itu sama sekali tidak melihatnya malah sibuk membuka lembaran tabloidnya dan membiarkannya berdiri mematung begini.
“Coba kau buka isinya apa,” kata Earlangga, masih tanpa menoleh.
Valerie semakin sebal saja, baru juga kerja mendapat pelanggan yang cuek seperti ini.
“Saya buka?” tanya Valerie.
“Iya buka isinya apa, aku tidak sembarangan makan,” jawab Earlangga, sama sekali tidak menoleh.
Valerie mengerutkan dahinya kalau tidak sembarang makan terus ini pesanan siapa?
Valerie membuka kemasan tempat makan itu dengan tangan yang gemetar, dia mulai tidak focus merasakan kantuk yang mulai menyerang, dia merasa sangat lelah.
Valerie berjalan mendekati Earlangga, berdiri di sampingnya karena didepan Earlangga ada meja kaca.
“Ini isinya, Pak,” jawab Valerie sambil mendekatkan kotak makan itu ke depan Earlangga bersamaan Earlanggapun menutup tabloidnya akan disimpan di meja dan tangannya jadi menyenggol kotak makan yang Valerie sodorkan hingga menumpahkan isinya dan menotori baju dan celananya Earlangga.
“Kau ini apa-apaan?” teriak Earlangga, melihat bajunya kotor oleh saos dan bumbu berbagai jenis makanan. Dia langsung berdiri menatap Valerie dengan marah.
“Ma, maaf Pak, aku tidak sengaja,” ucap Valerie dengan gugup, sambil menengadah menatap pria itu dengan wajahnya yang semakin pucat karena tidak menyangka makanan itu akan tumpah mengotori pakaian pria itu. Pandangan merekapun bertemu.
************
__ADS_1
Jangan lupa like tiap bab ya...