
Sean menatap Lorena yang masih senam pagi membelakanginya. Dilihatnya handphone yang tergeletak di kursi. Diambilnya handphone itu lalu dimatikan. Lorena yang sedang senam pagi menghentikan gerakannya karena bunyi music senam itu berhenti.
Lorena membalikkan badannya, diapun langsung berteriak dan menutup wajahnya.
“Aaaaaw!” teriaknya dengan kencang, masih dengan menutup mukanya dengan kedua telepak tangannya.
“Apa? Kau berteriak teriak tidak jelas!” bentak Sean, dia kesal dengan tingkah wanita itu, begitu melihatnya langsung saja menutup wajahnya seperti melihat hantu saja.
Sean berjalan mendekat.
“Stop! Stop! Jangan mendekat!” teriak Lorena lagi, satu tangannya terulur ke depan, matanya mengintip diantara jari-jari yang menutup matanya.
“Tidak tidak!” ucapnya lagi sambil kembali merapatkan jarinya.
“Kau kenapa? Memangnya aku hantu?” bentak Sean, semakin kesal.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sean, menatap Lorena yang masih menutup mukanya dengan sebelah tangan kirinya, tangan kanannya masih terulur ke depan Sean.
Sean melihat tangan yang terulur itu yang memberi tanda stop, kemudian di tepuknya tangan itu.
“Apaan sih ini?” bentaknya.
“Jangan mendekat!” teriak Lorena lagi.
“Kau ini sangat aneh! Aku bukan hantu! Aku Sean! Sean!” balas Sean jadi ikut berteriak karena tingkah Lorena yang menyebalkan itu.
“Aku juga tahu kau Sean! Tapi aku minta kau pergi secepatnya dari hadapanku!” teriak Lorena lagi.
“Kau ini kenapa? Berteriak teriak tidak jelas, senam pagi dengan music yang berisik mengganggu tidurku, apa kau tidak tahu aku banyak pekerjaan! Kau membuat pagiku sangat suram!” gerutu Sean.
“Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu, aku minta kau pergi sekarang juga!” Lorena masih berteriak, membuat Sean semakin kesal.
Sean berjalan semakin mendekat.
“Stop! Stop! Jangan mendekat!” teriak Lorena lagi. Tangan kanannya kembali terlurur kearah Sean.
“Kau ini!” gerutu Sean kembali menepis tangan kanannya Lorena lalu tangan kiri Lorena yang menutup wajahnya langsung ditariknya.
“Jangaaaan!” teriak Lorena, tangan kanannya akan menutup wajahnya lagi karena tangan kirinya masih dipegang Sean. Melihat Lorena menutup wajahnya dengan tangan kanannya, Sean menarik tangannya Lorena lagi, sampai gadis itu berada dekat dengannya.
“Tidaaaak!” teriak Lorena sambil memejamkan matanya. Melihat tingkah Lorena membuat Sean semakin kesal saja.
“Sudahlah, jangan kecentilan begitu! Kau bertingkah konyol lagi!” gerutunya. Kedua tangannya masih memegang tangan Lorena. Gadis itu masih memejamkan matanya.
“Kau masih juga tidak mau melihatku?” tanya Sean. Lorena menggeleng.
“Buka matamu!” ucap Sean. Lorena menggeleng lagi.
“Kau serius tidak akan membuka matamu?” tanya Sean. Lorena menggeleng lagi.
“Aku bukan hantu, aku Sean, Sean,” kata Sean lagi meyakinkan Lorena, dia fikir karena Lorena terkejut melihatnya yang tiba-tiba ad di rumah itu jadi dia bersikap begitu.
“Aku tahu,” jawab Lorena sambil memejamkan matanya. Badannya sangat dekat dengan tubuhnya Sean, karena pria itu belum melepaskan kedua tangannya.
“Cepat buka matamu!” kata Sean.
“Tidak mau,” jawab Lorena, menggeleng masih dengan memejamkan matanya.
“Mau sampai kapan kau tidak akan membuka matamu?” tanya Sean, masih dengan nada ketus karena kesal.
“Sampai kau pergi!” jawab Lorena.
“Huh dasar, cepat buka matamu!” kata Sean.
“Apa maksudmu memaksamu membuka mataku?” tanya Lorena.
“Ya supaya kau bisa melihatku,” jawab Sean.
“Apa? Melihatmu? Tidak! Aku tidak mau!” teriak Lorena sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Kau ini, macam-macam saja! Memangnya kau tidak mau melihatku? Cepat lihat aku!” tanya Sean.
“Tidak, ternyata kau pria yang sangat mesum, untung aku tidak jatuh cinta padamu, aku akan menyesal nantinya,” kata Lorena.
“Kau sangat menjengkelkan. Hanya disuruh melihatku saja kau mengatai aku mesum, bagaimana kalau menyuruh yang lain?” gerutu Sean.
“Apa? Yang lain? Tidak, tidak, aku tidak mau!” teriak Lorena.
“Hiiii, cepat buka matamu, lihat aku!” kata Sean.
__ADS_1
“Tidak mau!” tolak Lorena
“Lihat aku!” Paksa Sean
“Tidak mau!” teriak Lorena.
“Lihat aku!” Sean juga jadi berteriak.
“Kenapa kau memaksaku melihatmu? Kau mau pamer dada atletismu, perut kotak mu dan dan… haaa…kenapa kau sangat mesum!” teriak Lorena menggeleng gelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu? Pamer dada, perut kotak dan..dan..” Sean mengulang kata-katanya Lorena, tiba-tiba dia menyadari ucapannya itu, pamer dada perut dan..
Sean menunduk melihat pada dadanya, wajahnya langsung memerah, dan melihat kebawah lagi, wajahnya semakin merah padam, ternyata dia bertelanjang dada dan hanya menggunakan kolor pendek polkadotnya.
Semalam sangat lelah jadi dia tidak sempat berganti pakaian tidur, hanya melepaskan pakaian dan langsung tidur. Saat bangun dia buru buru berlari keluar kamar karena terkejut melihat Lorena yang sedang senam, jadi dia lupa mengambil mantel tidurnya.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” bentak Sean, dia benar-benar merasa malu. Dengan spontan dia melepaskan tangan Lorena dengan cepat sampai gadis itu kelihangan keseimbangan dan terjatuh ke rumput.
Sean pun segera cabut, berlari masuk kedalam rumah dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan kolor pendeknya.
Lorena merasakan pantatnya sakit gara-gara di lepas Sean begitu saja.
“Dasar pria tidak bertanggung jawab, melepaskan tanganku sampai jatuh, pantatku sakit sekali!” gerutunya masih terduduk dirumput hijau sambil mengusap usap pantatnya.
Sean masuk ke dalam rumah tertemu dengan Mr.Velix yang membawakan mantel tidurnya.
“Mantel anda, Sir,” ucap Mr. Valex. Sambil membentangkan matel panjang itu.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau aku tidak berpakaian?” gerutu Sean.
“Sebenarnya tadi saya mau bilang hanya anda sudah berlari keluar,” jawab Mr.Velix, sambil memakaikan mantel itu ketubuh atletisnya Sean.
Sean menalikan tali mantel dipingganggnya, matanya menoleh kearah jendela belakang. Apa dia bisa langsung menemui Lorena sekarang? Wajahnya pasti masih merah, bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana dalam menemui gadis itu, pantas saja gadis itu berteriak teriak tidak mau melihatnya, sangat memalukan.
Setelah menenangkan diri sebentar, Seanpun keluar dari ruangan itu, menebalkan mukanya menemi Lorena.
Dilihatnya gadis itu masih duduk di rumput. Lorena menoleh ke arahnya, dia melihat Sean sudah menutup dirinya dengan mantel panjang.
“Bantu aku bangun!” teriak Lorena, sambil mengulurkan tangannya pada Sean.
“Bangun saja sendiri,” ucap sean.
“Bertanggung jawab untuk apa?” tanya Sean dengan ketus.
“Kau melepaskan tanganku membuatku jatuh, sekarang pantatku sakit,kau harus bertanggungjawab,” jawab Lorena sambil mengusap usap pantatnya lagi.
Sean melihat gerakannya Lorena yang mengusap usap pantatnya.
“Untuk apa aku bertanggung jawab dengan pantatmu? Memangnya aku harus mengusap usap pantatmu?” gerutu Sean.
Lorena mencabut rumput disampingnya dan dilempar kearah Sean.
“Siapa yang menyuruhmu mengusap pantatku?” bentak Lorena.
Sean bergerak mundur menjauh dari lemparan rumputnya Lorena.
“Aku juga tidak mau mengusap pantatmu, usap-usap saja sendiri, kurang kerjaan,” gerutu Sean, lalu dia meninggalkan Lorena dan duduk dikursi taman belakang itu. Duduk menumpangkan satu kakinya, menatap Lorena yang masih di rumput.
“Ternyata kau pria yang menyebalkan! Aku hampir saja menyukaimu! Dan aku menyesal!” teriak Lorena.
“Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku!” teriak Sean dengan kesal.
Lorena memajukan kedua tangannya kearah Sean sambil memicingkan matanya, dan mengepalkan jari-jari tangannya, giginya mengegretuk.
“Heuuuuuh!” geramnya semakin kesal. Ingin sekali dia menjambak jambak rambutnya Sean.
Pria itu malah acuh saja dengan kekesalannya.
Mr.Velix datang bersama seoang pelayan yang membawakan minuman. Pelayan itu menyimpan satu set teko dan dua cangkir di meja dekat Sean duduk, lalu menuangkan teh hangat pada dua cangkir kosong tadi.
Mr.Velix menoleh pada Lorena yang masih duduk di rumput.
“Apa anda perlu bantuan, Miss?” tanya Mr.Velix.
“Iya, tolong bantu aku!” jawab Lorena sambil mengangguk.
Mr.Velix segera mendekat dan membantu Lorena bangun. Gadis itu kembali mengusap usap pantatnya yang sakit.
“Ternyata lebih manusiawi Mr. Velix,” ucap Lorena sambil duduk dikursi sebrangnya Sean.
__ADS_1
“Kalau begitu sukai saja Mr.Velix,” ucap Sean, menyebalkan.
Lorena langsung mencibir pada pria itu, yang mengambil cangkir minumnya dan menyeruput teh panasnya.
Lorenapun mengambil satu cangkir yang ada di meja lalu meminumnya perlahan.
“Sedang apa kau disini?” tanya Sean, masih menikmati tehnya.
“Aku ada pekerjaan dengan Ny.Grace,” jawab Lorena.
“Pekerjaan? Pekerjaan apa?” tanya Sean sambil menoleh pada Lorena.
“Kau tidak perlu tahu, ini urusan pribadiku dengan Ny.Grace,” jawab Lorena. Dia tidak memberitahu kalau dia akan tampil di acara ulang tahun putranya Ny.Grace.
Kalau melihat Sean ada di rumah ini, berarti ada kemungkinan putranya Ny,Greace itu adalah Presdir Samuel. Pantas saja Sean berpenampilan wah karena dia sepertinya diperlakukan baik oleh keluarganya Presdir Samuel.
“Ngomong ngomong kemana Presdir Sam? Dia pasti sedang keluar kota dengan Ny.Grace. Terus kenapa kau tidak ikut dengan Presdir Sam?” tanya Lorena.
Sean menoleh pada Lorena, kenapa dia lupa lagi kalau dia itu pura-pura jadi asistennya Sam. Jadi Lorena sampai sekarang masih berfikir dia adalah asistennya Sam.
“Buat apa kau menanyakannya? Kau rindu ingin bertemu dengannya?” tanya Sean, kenapa dia merasa tidak suka Lorena selalu mengingat Sam.
“Kau kan asistennya, tentu saja setiap melihatmu aku akan teringat pada Presdir Sam,” jawab Lorena.
Sean tidak menjawab lagi.
“Kau bicara apa saja dengan ib..maksudku Ny,Grace,” tanya Sean, hamper saja dia menyebut ibu.
“Hanya pekerjaan saja. Ny Grace akan memberikan kejutan yang special buat Presdir Samuel,” jawab Lorena.
“Kejutan buat Presdir Samuel?” tanya Sean.
“Iya, Presdir Samuel putranya Ny. Grace kan? Makanya kau tinggal disini? Presdir Samuel akan ulang tahun besok,” kata Lorena.
Sean terdiam lagi, ternyata Lorena berfikir ibunya adalah ibunya Sam. Diapun menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Jadi sementara kau akan tinggal disini?” tanya Sean.
“Iya,” jawab Lorena.
“Kapan Presdir Samuel pulang? Aku akan pulang lusa. Beberapa hari lagi lomba dimulai lagi kan?” tanya Lorena.
Sean tidak menjawab. Karena kesibukannya, dia lupa kalau dia sedang melangsungkan kontes.
“Kau masih tetap ikut kontes?” tanya sean.
“Iya, aku ingin nanti aku pulang kampung aku pulang dengan calon suamiku,” jawab Lorena.
Sean menoleh lagi pada Lorena.
“Kau benar-benar serius ikut kontes hanya untuk mendapatkan seorang saumi?” tanya Sean.
“Iya, aku berdoa semoga dari kontes ini aku mendapatkkan jodohku, aku tidak mau patah hati lagi,” jawab Lorena, sambil menunduk, wajahnya terlihat sedih.
“Kau patah hati?” tanya Sean.
Lorena mengangguk.
“Semoga Pak Sam juga tipe pria yang bertangung jawab, kalau dengan kontes ini dia tidak mungkin ingkar kan? Itu akan mencoreng nama baiknya,” ucap Lorena.
Sean memberengut lagi, kenapa jadi Sam lagi yang dibahas?
“Modus!” ucap Sean tiba-tiba.
“Modus? Apa maksudmu bicara beigtu?” tanya Lorena, menatap Sean.
“Kalau Presdir tidak kaya, kau juga tidak mungkin mau kan ikut kontes ini,” jawab Sean dengan sinis.
“Kenapa kau bicara begitu? Aku benar-benar mencari calon suami, meskipun materi itu jadi pertimbangan tapi yang terpenting adalah Presdir benar-benar jodohku, itu saja,” kata Lorena, dengan nada kesal, kenapa Sean jadi sinis begitu?
Lorena kembali menoleh pada pria disebrangnya itu.
“Kau ini kenapa? Kau cemburu pada Presdir Sam?”tanya Lorena, membuat Sean menatapnya.
“Cemburu? Apa maksudmu cemburu? Buat apa aku cemburu pada Sam?” tanya Sean dengan nada tidak suka.
“Tapi kau seperti cemburu,” ucap Lorena, masih menatap Sean. Pria itu buru-buru memalingkan mukanya mengalihkan pandangannya ke arah taman.
**************
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen