
Dikantornya Sean terlihat bersemangat, wajahnya sumringah, senyum terus mengembang di bibirnya. Tidak ada lagi wajah kusut dan lelah. Dia terlihat friendly dengan siapun karyawan yang dijumpainya.
“Siang Pak,” sapa satpam.
“Siang,” jawab Sean. Yang baru masuk ke loby dan langsung disambut oleh pak Deni dan beberapa karyawan penting.
Satpam itu begitu bahagia mendapat jawaban dari Presdir Sean, biasanya Presdir itu hanya lewat tanpa senyum, dia akan berjalan bergegas diikuti karyawan-karyawan pentingnya, biasanya dia sangat kaku dengan orang-orang disekitarnya. Tidak dengan hari ini, mendapat jawaban salam dari Sean, serasa mau naik pangkat saja, satpam itu langsung merapihkan seragamnya dan berdiri tegak.
“Siang Pak,” Sapa receptionis.
“Siang,” jawab Sean, membuat receptionis yang masih muda-muda itu tersenyum senang, jarang-jarang Presdirnya menjawab sapaan mereka.
Begitu juga dengan sapaan karyawan lainnya yang berpapasan dengan Sean. Meskipun dengan banyak orang penting yang mengikuti Sean berjalan di lorong-lorng ruangan yang menuju ruangannya, Sean selalu menjawabnya, membuat suasana hati para karyawannya bahagia meskipn dalam hati bertanya-tanya ada apa dengan Presdir mereka yang berubah drastis jadi sangat ramah.
Sam sudah berdiri di dekat pintu ruang kerjanya Sean, saat dilihatnya teman juga atasannya itu datang dengan karyawan-karyawannya. Dia keheranan melihat sikap Sean yang menjawab setiap sapaan karyawannya.
“Dia benar-benar sakit,” gumam Sam.
“Siapa yang sakit?” tanya Sekretrasinya Sean, menoleh pada Sam.
“Aku agak sakit,” jawab Sam, sambil menatap Sean yang juga menatapnya.
“Siang Pak,” sapa sekretarinya Sean itu, Bu Devi.
“Siang Bu,” jawab Sean. Bu Devi langsung melirik pada Sam, merasa keheranan dengan sikap Sean hari ini.
“Siang pak,” sapa Sam.
“Siang! Sam kau ke ruanganku,” perintah Sean.
“Baik Pak,” jawab Sam.
Sean masuk keruangannya dengan orang-orang yang dibelakangnya itu termasuk Sam dan Bu Devi.
Setelah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan keperluan mereka masing-masing, di ruangan itu tinggal Sean dan Sam.
Bu Devi menyimpan banyak berkas bertumpuk diatas meja. Biasanya Sean akan terlihat serius, tidak dengan sekarang. Dia menandatangani berkas itu dengan penuh semangat dan wajah yang ceria. Senyum tidak lepas dari bibirnya, terlihat sekali kalau dia sedang bahagia.
“Awas nanti kau salah tanda tangan!” seru Sam, sambil menurunkan posisi duduknya supaya bisa lebih santai.
“Ya tidak lah, aku membacanya sekilas,” jawab Sean.
“Sekilas? Jangan sekilas, harus teliti, itu bukan uang kecil Sean!” seru Sam lagi.
“Kau usil saja,” gerutu Sean, lalu menoleh pada Sam.
“Kalender gimana? Kapan selesainya? Kau pasang di ruanganku dan kamarku,” tanya Sean, menatapnya dengan serius, seakan-akan membuat kalender itu lebih penting dari berkas yang dia tandatangani.
“Lagi proses cetak,” jawab Sam.
Sean kembali melihat berkasnya dan melanjutkan menandatanganinya sesuai dengan tanda pada post it yang sudah dipasang oleh Bu Devi.
Tiba-tiba dia kemnali menatap Sam.
“Sam!” panggilnya.
“Apa?” tanya Sam menoleh pada Sean.
“Lorena kan sudah memberikan nomor hpnya padaku, apakah aku bisa menelponnya atau krim SMS?” tanya Sean.
“Apa? Kau tanyakan itu padaku? Kau ini Presdir, Sean, masa masalah seperti itu kau tanyakan? Kalau Lorena memberikan nomor telponnya itu artinya dia mengijinkanmu menelponnya atau mengirim SMS,” jawab Sam, sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
“Aku bukan tidak mengerti itu, tapi kan tidak apa-apa gitu ya aku SMS atau menelpon, kira-kira dia terganggu tidak?” tanya Sean, kebingungan.
“Sean, Sean, kau benar-benar seperti orang yang baru pacaran saja. Pacarmu dari remaja begitu banyaknya, bukan tidak ada pengalaman sama sekali tentang pacaran!” keluh Sam.
“Jangan disamakan, dulu kan aku pacaran hanya beberapa hari putus ganti lagi, tidak ada istimewanya, dan bukan aku yang menghubungi mereka. Beda dengan sekarang, Lorena jantung hatiku,” jawab Sean.
“Ya ya terserah kau saja. Yang pasti kau boleh SMS atau telpon Lorena!” kata Sam, dia bingung serasa mengajari abg yang sedang pacaran.
Sean mengambil handphonenya, dibukanya kontaknya Lorena, lalu dia menoleh lagi pada Sam.
“Sam!” panggilnya.
“Apa?” tanya Sam, tanpa menoleh.
“Aku SMS Lorena mau SMS apa ya?” tanya Sean.
__ADS_1
Mendengarnya membuat Sam menepuk jidatnya.
“Sean! Masa isi SMS saja aku yang harus mengajarimu?” gerutu Sam.
“Aku serius, Sam!” seru Sean, memberengut kesal.
“Sepertinya kalau bukan karena kakekmu yang kaya, kau tidak akan jadi Presdir! Pacaran saja tidak bisa, apalagi tes menjadi bisnisman? Kau tidak akan lulus!” ucap Sam.
“Berisik kau Sam! Kau malah mengejekku,” keluh Sean.
Sam menghela nafas panjang.
“SMS nya ini saja. Hai Lorena, kau sedang apa?” usul Sam.
“Dia sedang bermain biola Sam, masa aku bertanya itu lagi?” keluh Sean.
Sam garuk-garuk kepalanya.
“Kalau begitu, ganti-ganti. Hai Lorena, apa kau sudah makan siang?” kata Sam.
Lagi-lagi Sean menggeleng.
“Tidak, tidak, Lorena itu bermain biola di restaurant, pasti dia makan disitu,” ucap Sean, membuat Sam melongo.
“Itu basa basi, Sean. Pura-pura perhatian begitu,” kata Sam dengan jengkel.
“Aku tidak pura-pura Sam, aku memang peduli padanya,” sahut Sean.
Sam semakin bingung saja, harus bagaimana mengajari Sean.
“Kau miscall saja, atau kirim pesan ping!” seru Sam.
“Kau benar!” jawab Sean, akhirnya diapun miscall nomornya Lorena.
Lorena yang sedang bersiap-siap tampil mendengar handphonenya berbunyi.
Dilihatnya ada nomornya Sean muncul, miscall saja. Diapun mengerutkan keningnya, ada apa Sean menghubunginya? Kenapa hanya miscall saja, bukan menelpon? Akhirnya Lorena menjauh dari tempat pentas itu, menelpon balik Sean.
Sean yang mendengar handphone-nya berbunyi segera dilihtanya siapa yang menghubunginya, ternyata Lorena. Hatinya langsung berbunga-bunga.
“Sam! Lorena menelpon!” serunya. Sam hanya mengganguk, dia pusing dengan tingkahnya Sean, yang seperti baru pertama kali pacaran saja.
“Halo!” sapa Lorena.
“Halo!” jawab Sean dengan pelan, jantungnya langsung berbedar-debar saja mendengar suaranya Lorena, rasanya seperti mimpi kalau sekarang Lorena sudah jadi pacarnya, ternyata suara Lorena lewat telpon sangat merdu tedengar ditelinganya.
“Kau tadi miscall, ada apa ya?” tanya Lorena dengan serius. Hatinya merasa heran karena Sean menghubunginya.
Ditanya begitu, Sean kebingungan, dia tadi miscall mau apa? Diapun menoleh pada Sam dan melambaikan tangannya.
“Sini!” panggilnya pelan sambil menutup ponsel itu dengan tangannya.
“Apa?” tanya Sam dengan suara keras sambil berjalan mendekati Sean.
“Jangan keras-keras,”ucap Sean, masih bersuara pelan.
“Ada apa?” tanya Sam.
“Lorena nanya ada apa aku miscall? Memangnya aku miscall ada apa ya?” tanya Sean.
“Mana aku tahu!” seru Sam dengan keras, dia semakin jengkel dengan tingkahnya Sean yang mendadak seperti bukan seorang Presdir. Benar-benar cinta sudah membuatnya lupa jati dirinya.
“Ssst, jangan keras-keras nanti kedengaran!” kata Sean.
Sam langsung menutup mulutnya.
“Aku harus ngomong apa?” tanya Sean.
“Tanya saja, jangan lupa makan ya,” jawab Sam.
“Kau benar,” Sean mengangguk.
“Halo! Halo!” sapa Lorena. Dia bingung dia malah mendengar percakapaannya Sean dengan Sam.
“Baiklah aku akan bertanya itu,” jawab Sean. Sam mengangguk.
Sean melihat handphone-nya juga Sam. Mereka langsung terkejut ternyata Sean salah menutup hanphone-nya, ternyata handphone-nya terbalik. Sean saling tatap dengan Sam. Berarti Lorena mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
Wajah Sean langsung saja merah, Sam menahan tawanya. Lorena pasti mendengarkan percakapannya, sangat memalukan.
“Halo! Halo!” terdengar suara Lorena.
“Sean!” panggil Lorena.
“Ya Halo, maaf tadi aku..” ucap Sean tapi Lorena memotong.
“Iya tidak apa-apa. Kau mau bertanya apa? Aku sudah makan atau belum? Aku belum makan, nanti setelah tampil aku makan,” jawab Lorena, dia tahu Sean bingung mau bicara apa dengannya.
“Ya baguslah kalau begitu,” ucap Sean, keringat dingin mulai muncul dikeningnya. Dia sangat gugup dan serba salah.
“Kau juga sudah makan belum?” tanya Lorena.
“Aku? Belum,” jawab Sean, hatinya senang Lorena memperhatikannya.
“Kau juga jangan telat makan. Meskpin kau sibuk, makannya harus tepat waktu, kau kan ada masalah dengan ususmu,” kata Lorena.
“Iya, aku akan akan tepat waktu, aku sudah bilang pada Bu Devi untuk menyiapkan makan siang,” jawab Sean, bicaranya sudah mulai lancar.
Sam melihat Sean serius bicara dengan Lorena mendekati Sean, dan menempelkan telinganya dekat handphone-nya Sean yang menempel di telinga Sean, dia ingin ikut mendengarkan.
Sean melirik temannya itu dengan kesal, diapun menggeser menjauhi Sam.
“Kau pulang jam berapa? Jangan terlalu capek, setelah kau tampil, kau pulang,” kata Sean.
“Iya, aku kan ada jadwal les anak-anak jam 4,” ucap Lorena.
“Oh iya, aku lupa,” kata Sean.
Lagi-lagi Sam mendekat dan menempelkan telinganya ke ponsel Sean. Sean menggeser kakinya menjauh, Sam masih mengikutinya. Sean melirik tajam pada Sam yang mengganggunya.
Diapun menutup ponselnya dengan telapak tangannya.
“Jangan menggangguku, kau mengganggu orang pacaran saja,” gerutunya dengan agak keras, tentu saja Lorena jadi mendengarnya, diapun tertawa.
“Sean, apa Sam sedang bersamamu?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean kembali menempelkan ponselnya di telinganya.
“Ya sudah salam saja buat Pak Sam,” kata Lorena.
“Tidak tidak, tidak boleh, kau tidak boleh menitip salam pada Sam!” cegah Sean dengan nada agak tinggi.
“Kenapa?” tanya Lorena.
“Salammu buatku saja,” jawab Sean.
Mendengar perkataan Sean, Sam langsung mencibir.
“Baiklah Sean, aku mau tampil sekarang, jangan lupa kau makan harus tepat waktu,” kata Lorena, mengakhiri percakapannya.
“Iya,” jawab Sean, lalu pembicaraan merekapun berakhir, telpon ditutup.
Sean menatap ponsel yang masih dipegangnya itu.
“Dah sayang,” ucap Sean.
“Bilang sayangnya tadi, bukan sudah ditutup baru bilang sayang,” gerutu Sam, membuat Sean menoleh kearahnya dengan tatapan tajam.
“Karena kau menggangguku saat aku menelpon pacarku, gajimu ku potong 1 juta,” kata Sean.
“Apa? Kau mau memotong gajiku 1 juta?” teriak Sam sangat terkejut.
“Karena kau ikut ikutan mendengarkan suara Lorena,” kata Sean dengan serius.
“Memangnya kenapa kalau aku mendengarkan suara Lorena?” tanya Sam.
“Tidak boleh, Lorena hanya boleh menelponku saja,” jawab Sean.
“Dih, Sean jatuh cinta tidak perlu gitu-gtu amat, biasa saja,” kata Sam.
“Kau mengejekku lagi gajimu dipotong 2 juta,” ucap Sean.
“Waduh, jangan dong! Iya deh, kau yang jatuh cinta ya terserah kau saja, lebih baik aku keluar dari ruangan ini dari pada kau terus terusan memotong gajiku!” kata Sam, sambil buru-buru keluar dari ruangan itu.
Sean menatap temannya itu keluar ruangan, lalu pada handphone-nya, dia langsung tersenyum, masih terngiang-ngiang ditelinganya suaranya Lorena, sangat merdu, ingin dia melepon lagi, tapi Lorena akan tampil. Tapi tenang saja, nanti malam dia akan kencan dengan Lorena, dia memikirkan kira-kira kencan dimana yang romantis?
__ADS_1
****************