
Sesampainya di rumah, Sean berpapasan dengan ibunya yang akan keluar rumah. Dia heran karena Sean tidak jadi pergi dengan pengacara -pengacara itu.
“Sebenarnya kau pergi kemana? Kau tiba-tiba saja menghilang. Apa kau sudah tidak tau pekerjaan yang lebih penting?” hardik Ny.Grace.
Sean mendekati ibunya, wajahnya terlihat sumringah karena gembira.
“Ibu seharusnya senang dengan kabarku ini,” kata Sean.
“Kabar apa?” tanya Ny.Grace, saat melihat Lorena juga muncul dipintu dibelakang Sean.
Sean menoleh pada istrinya. Tangannya langsung memeluk pinggangnya Lorena.
“Lorena hamil,” jawab Sean, membuat ibunya terkejut.
Sean mencondongkan tubuhnya akan mencium Lorena lagi-lagi Lorena menutup hidungnya, padahal sewaktu di gendong dia tidak mengeluh bau, kenapa sekarang begitu lagi?
“Kau serius?” tanya Ny.Grace tidak percaya. Menatap perutnya Lorena yang masih rata.
“Kami sudah periksa ke Dotker, Lorena hamil 8 minggu,” kata Sean.
“Bagus kalau begitu, aku senang mendengarnya,” ucap Ny.Grace, matanya langsung berbinar-binar.
“Selamat ya kau akan jadi ibu,” ucapnya pada Lorena, menantunya hanya mengangguk dan tersenyum senang.
“Kau harus menjaga kandunganmu dengan baik, carikan Dokter kandungan yang terbaik, supaya perkembangan janinmu juga bagus,” kata Ny.Grace.
“Iya Bu,” jawab Lorena.
Ny.Grace menoleh pada Sean.
“Aku masih banyak urusan. Kau juga kekantor kan?” kata Ny. Grace.
“Tidak, aku ingin menemani istriku di rumah,” jawab Sean.
Ny.Grace tidak bicara lagi, diapun melangkah keluar dari rumahnya.
Sean menoleh pada istrinya.
“Ayo kau harus istirahat,” ajaknya. Lorena hanya mengangguk.
*************
Malam itu di sebuah restaurant, tampak beberapa gadis berkumpul menyantap makan malamnya.
“Nisa, apa aku tidak salah dengar? Aku dengar ayahmu masuk penjara,” kata Seorang gadis berambut ikal, sambil menyantap makannya, menatap Nisa dengan tatapan sinis.
“Itu hanya kesalah fahaman saja, ayahku di fitnah, aku yakin sebentar lagi ayahku bisa keluar dari penjara, ayahku kan pengacara hebat,” jawab Nisa, dengan hati yang kesal. Bagaimana bisa teman-temannya bisa tahu perihal ayahnya yang masuk penjara.
“Sangat memalukan sekali. Kau tahu kan kita akan reuni tahunan, masa ada kabar ayahmu dipenjara, itu sangat memalukan mencoreng nama baik Tim kita,” kata gadis satunya lagi.
__ADS_1
“Apa maksudmu bicara begitu? Kau fikir karena ayahku dipenjara terus aku jadi tidak populer begitu?” bentak Nisa, mulai terpancing emosi.
Gadis itu akan bicara lagi tapi dipotong oleh Bella.
“Sudah Gita, jangan diteruskan, tidak usah bahas reuni, kita makan saja,” kata Bella. Dia tahu sifatnya Nisa, meskipun dia cantik tapi dia sangat emosional.
Nisa pun diam, dia kesal, dia heran siapa yang membocorkan soal hasil tes palsu itu, sampai-sampai Sean melaporkan ayahnya ke penjara. Kesempatannya untuk menikah dengan Sean gagal sudah, yang ada dia harus berusah mengeluarkan ayahnya dari penjara.
Disaat mereka makan itu, tiba-tiba Nisa melihat beberapa orang wanita memasuki restaurant. Dia seorang yang sangat dikenalnya, Nyonya Grace.
Nisa langsung menghentikan makannya lalu menghampiri Ny.Grace.
“Ny,Grace!” panggilnya sambil tersenyum.
Ny.Grace menghentikan langkahnya begitu juga dengan dua temannya. Ibunya Sean itu menatap Nisa dengan tatapan tidak suka.
“Kau mau apa?” tanya Nyonya Grace.
“Apa kita bisa bicara sebentar?” jawab Nisa.
Ny.Grace menoleh pada teman-temannya yang mengerti, mereka meninggalkannya dengan Nisa berdua.
“Ada apa? Aku sibuk,” tanya Ny.Grace dengan ketus.
“Aku ingin minta bantuanmu untuk membebaskan ayahku,” jawab Nisa.
“Buat apa? Ayahmu memang pantas di penjara, seharusnya kau juga masuk penjara karena sudah sekongkol,” kata Ny.Grace.
“Tidak bisa,” jawab Ny.Grace.
“Meskipun begitu, rencana pernikahanku dengan Sean masih berlaku kan Nyonya? Aku akan memberimu keturunan secepatnya,” kata Nisa.
“Apa maksudmu bicara begitu? Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi untuk memberi keturunan pada Sean karena menantuku sekarang sedang hamil,” kata Ny.Grace, membuat Nisa terkejut.
Kesempatannya sudah benar-benar tertutup. Sebelum dia bicara lagi, Ny.Grace langsung meninggalkannya. Nisa terdiam seribu bahasa. Dia benar-benar tidak terima dengan kegagalan ini. Diapun kembali ke meja teman-temannya.
“Kau baru bicara dengan Ny.Grace? Itu ibunya Sean kan? Katamu kau akan menikah dengan Sean, mana buktinya? Calon mertuamu itu bahkan tidak peduli padamu,” kata gadis yang berambut ikal itu.
“Kau salah, Nola! Aku dan Ny. Grace baik -baik saja, dia hanya buru-buru karena temannya sudah menunggunya,” jawab Nisa, berbohong.
“Benar begitu? Jadi kapan kau akan menikah dengan pengusaha kaya itu? Kau koar-koar akan menikah dengan Sean sudah berbulan-bulan yang lalu, aku tunggu undangannya tidak ada juga,” kata Gita mencibir.
“Malah yang aku tahu Sean itu sudah menikah beberapa bulan lalu, ayahku datang ke resepsinya,” jawab Nola.
Mendapat cemoohan dari teman-tamannya tentu saja membuat Nisa semakin kesal. Dia benar benar ingin tahu siapa yang membocorkan rahasia ini. Dilihatnya Bella hanya diam saja. Tiba-tiba muncul dalam benaknya apa mungkin Bella yang membocorkan rahasia ini karena hanya pada Bella dia bercerita soal pemalsuan hasil tes itu.
Tiba-tiba Nisa bangun dan menarik tangannya Bella.
“Kita bicara diluar!” kata Nisa, sambil menarik Bella keluar dari restaurant itu, berhenti didekat halaman parkir.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Bella, sambil menepiskan pegangannya Nisa.
“Apa kau yang membocorkan semua itu?” tanya Nisa.
“Apa maksudmu?” tanya Bella.
“Kau kan yang membocorkan kalau ayahku memalsukan hasil tes itu?”
“Aku tidak tahu apa maksudmu” kata bella.
“Jangan berbohong! Aku bercerita soal itu hanya padamu saja! Awas kau kalau berani macam-macam denganku! Kau akan menyesal!” ancam Nisa.
Bella yang dari tadi menunduk sekarang menatap Nisa dengan tajam.
“Kalau aku yang membocorkannya kenapa? Iya, aku yang memberitahu Lorena soal pemalsuan hasil tes itu,” kata Bella.
“Kau! Jadi Kau penghianatnya?” bentak Nisa, tangannya akan memukul Bella tapi Bella segera menahan pergelangannya Nisa.
“Jangan coba-coba memukulku!” bentak Bella, ini pertama kalinya dia melawan pada Nisa, biasanya dia hanya mengalah saja meskipun tertindas.
Nisa menepiskan pegangannya Bella dengan kesal. Bella yang selama ini menurut padanya kini menentangnya.
“Dasar penghianat!” maki Nisa.
“Iya. Sekarang kau mau apa? Mengeluarkan aku dari tim? Tidak masalah! Aku juga sudah bosan jadi budakmu!” kata Bella, lalu meninggalkan Nisa sendirian di luar.
Bella masuk ke dalam restaurant dan mengambil tasnya, mengeluarkan uang dan disimpan di meja.
“Sekarang aku keluar dari Tim!” kata Bella.
Teman-temannya menatapnya keheranan.
Tidak berapa lama Nisa muncul kemeja mereka.
“Apa? Kau mau keluar dari Tim? Keluar saja! Aku tidak butuh penghianat sepertimu!” maki Nisa.
Bella tidak bicara lagi, dia langsung pergi meninggalkan restaurant itu.
Gita dan Nola Saling padang, lalu menatap Nisa.
“Seharusnya kau yang harus keluar dari Tim, karena namamu sudah tercemar, itu sangat memalukan. Kau seharusnya yang tahu diri untuk mengundurkan diri dari Tim kita,” kata Gita, membuat Nisa kesal bukan main.
Gita dan Nola bangun dari duduknya, menyimpan uang di meja, lalu pergi.
Nisa berdiam diri ditinggalkan oleh teman-temannya. Dia sangat marah, sangat marah. Sudah ayahnya di penjara dia juga dijauhi oleh teman-temannya, dia tidak lagi sepopuler dulu, namanya sudah tercoreng.
Sekarang Malahan Lorena yang beruntung, sudah menikah dengan pria setampan Sean, dia juga sedang hamil, otomatis akan mendapatkan warisan yang banyak dari kakeknya Sean. Benar-benar dia tidak bisa terima, kenapa dia harus kalah oleh Lorena?
Berbagai akal busuk mulai bermunculan dibenaknya. Dia tidak terima dengan kekalahannya.
__ADS_1
*************