
Earlangga sedang berada diruangannya, saat Bu Riska memberitahukan ada tamu yang tidak dikenal memaksa ingin menemuinya.
“Maaf Pak, ada tamu tapi bukan reknan bisnis kita,” kata Bu Riska.
Valerie yang seharian ini menemani Earlangga, bangun dari duduknya dan menatap pria itu.
“Aku akan berjalan-jalan di luar, bolehkah?” tanya Valerie, dia tidak mau mengganggu kerjaannya Earlangga.
Earlangga menatapnya.
“Iya tapi jangan jauh-jauh, disebelah kantor itu ada kantin karyawan, kau bisa melihat-lihat barangkali ada yang mau kau makan,” jawab Earlangga, lalu menoleh pada Bu Riska.
“Iya ada banyak makanan disana, yang menjual buah-buahan juga ada,” kata Bu Riska.
Valerie mengangguk, lalu meraih tasnya dan keluar dari ruangan itu.
“Siapa tadi?” tanya Earlangga menatap Bu Riska.
“Namanya Pak Darren,” jawab Bu Riska membuat Earlangga terkejut.
“Apa? Darren?” tanya Earlangga, dia keheranan kenapa Darren datang ke kantornya segala? Tau dari mana alamat kantornya? Ada apa?
“Bagaimana Pak?” tanya Bu Riska.
“Suruh dia masuk,”jawab Earlangga, dia ingin tau apa yang akan disampaikan oleh Darren.
“Baik Pak,” jawab Bu Riska, lalu keluar dari ruangan itu.
Earlangga menutup berkas-berkas yang sedang dibacanya, menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Bu Riska, tunggu!” panggil Earlanggaa, membuat Bu Riska menoleh.
“Tolong temani istri saya, jangan kembali sebelum tamu saya pulang, kau mengerti?” perintah Earlangga.
“Baik Pak,” jawab Bu Riska, sambil kembali keluar ruangan itu.
Banyak pertanyaan muncul dibenak Earlangga kenapa Darren datang ke kantornya. Buat apa pria itu mencarinya? Jangan sampai Darren bertemu dengan Valerie, atau Darren akan tahu kalau dia sudah menikah dengan Valerie.
Tidak berapa lama ada sosok yang mengetuk pintu ruang kerjanya yang terbuka. Pria yang ada dibenaknya sudah berdiri dipintu.
Darren masuk sambil melihat seisi ruangan itu.
“Ternyata kantormu sangat bagus,” ucap Darren dengan gayanya yang sombong.
__ADS_1
“Kau mau apa kemari?” tanya Earlangga.
“Aku sedang membutuhkan uang,” jawab Darren.
“Apa? Uang?” tanya Earlangga, tersenyum sinis.
“Sepertinya ada yang aku lewatkan kemarin, dan aku rasa uang dari dompetmu itu kurang banyak,” jawab Darren, sembil duduk di sofa dengan menopang salah satu kakinya, dan kedua tangannya direntangkan disandaran sofa.
“Apa maksudmu kurang? Lebih dari 3 juta uang yang kau ambil,” kata Earlangga dengan kesal.
“Ada yang lebih mahal dari itu,” jawab Darren.
“Aku tidak mengerti, apa maksudmu?” tanya Ealrangga, semakin sebal saja pada tingkahnya Darren.
“Sepertinya…ada yang istrimu itu tidak ketahui,” kata Darren, membuat Earlangga terkejut, ternyata Darren tahu dia sudah menikah.
“Kau ini bicara apa? Daripada kau mengacau dikantorku, lebih baik kau keluar!” usir Earlangga.
“Kau tenang saja aku akan keluar dan bertemu istrimu,” jawab Darren, membuat Earlangga cemas apa yang sebenarnya diketahui Darren.
“Jangan bertele-tele apa maksudmu?” tanya Earlangga.
“Aku tahu istrimu itu Valerie. Sangat aneh kalau kau menanyakan gadis dimalam itu sedangkan yang kau tanyakan adalah istrimu sendiri,” jawab Darren, menatap Earlangga dengan tajam.
“Valerie tidak tahu kalau kau yang menodainya malam itu kan? Kau masih merahasiakannya,” ucap Darren, membuat Earlangga terkejut.
“Kalau dia tahu, kau tidak akan mencari informasi ke club, atau kau ragu siapa bayi yang dikandung Valerie itu? Jangan-jangan bayi itu bukan anakmu?” kata Darren.
“Kau sok tahu,” umpat Earlangga, hatinya semakin gelisah saja.
“Aku rasa Valerie akan sangat senang kalau aku memberitahunya soal ini, dan aku rasa dia juga akan senang dia jadi tahu siapa yang menodainya malam itu, iya kan?,” tanya Darren sambil tersenyum dengan santai.
“Setelah kejadian itu dia bertanya padaku, siapa pria yang bersamanya malam itu, sekarang sudah terbuka, dia tidak tahu kau menidurinya,” kata Darren diakhiri dengan tawanya.
Wajah Earlangga langsung saja memerah, dia kesal bukan main pada Darren.
Darren bangun dari duduknya, berjalan mendekat ke meja kerjanya Earlangga.
“Aku kesini hanya untuk mengajakmu kerjasama, itu bagus bukan? Aku bisa mengerti kau tidak ingin Valerie tahu kau pria yang menodainya saat dia tidak sadarkan diri. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Valerie kalau tahu semua itu. Ironis sekali jika dia tahu suaminya yang menodainya. Dia pasti akan membencimu,” kata Darren mulai memprovokasi.
“Hentikan! Kau ini bicara apa?” bentak Earlangga sambil berdiri, dia sangat kesal dengan perkataannya Darren, justru itu yang ditakutkannya, Valerie membencinya.
Darren berjalan semakin dekat.
__ADS_1
“Soal bayi itu, aku tidak tahu persis apa itu bayi hasil tindakan tidak senonohmu itu atau kau memang pacaran dengan perawat itu? Yang pasti mungkin setelah Valerie tahu siapa kau sebenarnya, dia akan pergi dengan membawa bayimu itu atau mungkin dia akan menggugurkan kandungannya,” lanjut Darren, semakin membuat Earlangga marah.
“Hentikan! Jaga mulutmu!” makinya, hatinya jadi gelisah membayangkan Valerie membawa bayinya apalagi kalau sampai digugurkan, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya.
Darren menghentikan langkahnya tepat di depan Earlangga.
“Valerie itu gadis yang lugu dan polos, dia tidak akan memaafkanmu begitu saja karena kekayaan yang kau miliki, dia idealis, dia akan memilih pergi darimu dari pada menerimamu dengan senang hati. Siapa gadis yang mau mempunyai suami yang sudah berbuat tidak senonoh padanya?” kata Darren, semakin menjadi-jadi membuat hati Earlangga labil dan terpancing.
“Keluar kau! Keluar dari kantorku!” usir Earlangga, sambil berdiri, dia sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Darren malah tertawa, dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, secarik kertas lalu disimpan diatas meja dan disodorkan ke depan Earlangga yang hanya melihat kertas itu tanpa menyentuhnya.
“Itu nomor rekeningku dan jumlah uang yang harus kau transfer. Kau mentrasfer lebih cepat maka rahasiamu akan aman,” ucap Darren.
Earlangga meraih kertas itu dan mengambilnya, dia langsung saja marah.
“Apa ini? Kau gila?” maki Earlangga, setelah membaca angka yang tertera di kertas itu.
“Orang kaya sepertimu, uang segitu tidak ada artinya, daripada kau harus kehilangan istrimu atau mungkin bayimu,” jawab Darren, lalu tertawa.
“Kau brengsek!” maki Earlangga lagi.
“Aku tunggu secepatnya,” ucap Darren lagi lalu keluar dari ruangan itu.
Earlangga kembali duduk dikursinya dengan lesu. Apa-apaan ini? Dia baru saja diancam oleh preman itu! Preman itu memerasnya! Preman itu mengancam akan membocorkan rahasia ini pada Valerie? Ini bisa jadi salah faham antara dia dan Valerie.
Meskipun dia harus bicara jujur pada Valerie, tapi saat ini kondisi kehamilan Valerie sangat lemah, dia terlalu stress, dia sakit sakitan dan badannya semakin kurus, bagaimana kalau terjadi apa-apa pada bayinya? Belum tekanan yang dilakukan neneknya. Dia bukannya takut pada Darren, tapi dia lebih takut lagi kalau Valerie dan bayinya tersakiti.
Earlangga menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya. Dia telah menghancurkan hidupnya Valerie, dia punya kewajiban untuk menjaganya, dia tidak mungkin membiarkan Valerie mendapat kesulitan dari apa yang telah diperbuatnya juga statusnya.
Dilihatnya lagi kertas dari Darren itu, apalah artinya sejumlah uang itu buatnya yang memiliki kekayaan berlimpah, daripada dia harus kehilangan bayinya juga Valerie, dia tidak mau Valerie membencinya, dia belum siap kalau Valerie tahu kejadian itu sekarang yang akan membuat jiwanya memburuk, ini bukan waktu yang tepat, dia ingin kehamilan Valerie terjaga sampai melahirkan nanti.
Dengan terpaksa, Earlangga meraih ponselnya dan menelpon nomor seseorang.
“Tolong transferkan sejumlah uang ke nomor ini,” perintahnya sambil menyebutkan angka yang ada di kertas itu.
Valerie ditemani Bu Riska berkeliling disekitar kantin. Valerie tidak menyangka kalau disamping gedung itu banyak sekali beraneka macam makanan, entah sudah berapa macam makanan yang dia cicipi.
Sekarang dia berdiri di depan penjual sosis bakar, harumnya sangat menggugah selera. Entah sudah berapa tusuk dia memakan sosis bakar jumbo dengan saos dan mayonaisenya sambil menunggu penjualnya membakarnya lagi.
Ada sepasang mata yang memperhatikannya sambil terseyum. Baru sekarang dia melihat wanita hamil itu makan dengan lahapnya. Tidak dihiraukannya kalau kehadirannya menyita perhatian karyawan yang ada di sekitar tempat itu, sebagian ada yang menikmati makanan dikantin, sebagian bersiap-siap akan pulang karena sudah jam waktunya pulang. Mereka keheranan pemilik perusahaan ini yang tidak pernah terlihat batang hidungnya ada dikantin gedung entah untuk urusan apa.
“Pak!” Bu Riska terkejut saat melihat atasannya tiba-tiba ada di disana.
__ADS_1
Valerie yang sedang makan sosis bakarnya menoleh pada Bu Riska, dan dia juga terkejut melihat Earlangga sudah ada disana menatapnya. Valerie langsung menghentikan makannya dan menurunkan sosis bakarnya.
**************