
Ny.Grace menatap Sean dan Lorena.
“Kalian tidak bisa menikah,” ucap Ny.Grace mengejutkan keduanya.
Sean langsung memutar tubuhnya menghadap ibunya.
“Apa maksud ibu bicara begitu?“ tanya Sean.
“Kau satu-satunya keturunan keluarga Joris, kau tidak bisa mengabaikan soal itu!” kataNy.Grace, lalu menoleh pada Lorena.
“Sayang, bukannya aku tidak menyukaimu, hanya saja kau tidak boleh egois, Sean punya tanggung jawab besar pada keluarganya, terutama katurunan. Apa jadinya kalau dia menikah denganmu dan kalian tidak mempunyai anak? Habis sudah keturunan keluarga Joris, itulah kenapa kakeknya memberi persyaratan harus menikah dan punya anak, karena memang itu yang harus dilakukan Sean, kalau bisa Sean harus mempunyai anak lebih dari satu,” kata Ny.Grace.
Lorena yang mendengar perkataan dari Ny.Grace langsung menciut hatinya, sedih mulai menyelimuti hatinya. Perlahan dia melepaskan pegangan tangannya Sean.
Sean terkejut menyadari tangan Lorena lepas dari tangannya, dia langung menoleh pada Lorena yang terdiam menunduk. Lalu Sean menoleh lagi pada ibunya.
“Seharusnya ibu tidak perlu bicara begitu! Aku mencintai Lorena, aku akan tetap menikahi Lorena!” kata Sean.
“Tidak bisa begitu Sean! Memangnya kau mau seumur hidupmu tidak mempunyai anak? Mungkin sekarang kau masih mengagungkan cinta tapi nanti setelah kalian menikah kalian akan mendambakan seorang anak,” ucap Ny.Grace dengan nada keras.
“Aku bukannya tidak memiikirkan itu, tapi bisa saja kalau kita sudah menikah kita bisa punya anak,” kata sean.
“Harus menunggu berapa lama? Usiamu sudah mau memasuki 29 tahun, kau harus cepat-cepat menikah dan punya anak. Waktumu hanya satu tahun beberapa bulan! Kau sangat terlambat, sayang,” ucap Ny.Grace bersikukuh.
“Aku bukannya tidak mau menikah dan punya anak, aku mau, tapi aku hanya mau menikah dengan Lorena,” kata Sean. Tangannya kembali meraih tangan Lorena dan menggenggamnya dengan erat.
“Aku bukan tidak mengerti, tapi kau harus melihat realita. Lorena tidak sehat, kalaupun mungkin suatu saat kalian punya anak, entah sampai kapan kalian harus menunggunya? Sampai tua? Bisa saja seumur hidupmu kau tidak punya keturunan,” kata Ny. Grace, nadanya semakin tinggi karena kesal Sean memaksakan dirinya sendiri.
Semua perkataannya Ny. Grace semakin menusuk nusuk hatinya Lorena. Dia kembali menarik tangannya dari pegangan Sean tapi Sean kembali menahan tangannya tidak mau melepaskan.
Diapun menoleh pada Lorena dan menatapnya.
“Jangan melepaskan peganganmu dari tanganku,” ucapnya. Lorena menatap Sean dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apa yang ibumu katakan itu benar, kau tidak bisa menikahiku,” kata Lorena.
“Tidak, jangan bicara begitu, aku hanya mau meniakh denganmu,” ucap Sean.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menikah denganmu,”ulang Lorena. Sean kembali menggelengkan kepalanya.
“Tidak, tidak bisa, aku tetap akan menikahimu,” ucap Sean, bersikukuh.
“Sean!” pangggil Ny.Grace. Sean menoleh pada ibunya.
“Lorena benar, kau jangan egois, kau harus memikirkan keluargamu juga, tidak semata-mata untuk warisan, tanpa warisanpun kau tetap harus punya keturunan,” kata Ny. Grace.
“Tidak bisa Bu, aku tetap akan menikahi Lorena bagaimanapun keadaannya, dia tidak sehat bukan keinginannya, kenapa kita harus memvonisnya dengan kejam? Soal anak, kita fikirkan nanti saja,”kata Sean. Membuat Ny.Grace tidak tahu harus bicara apa lagi.
Sean menoleh pada Lorena yag mulai terisak.
“Jangan, jangan meningis, aku akan tetap menikahimu, aku tidak akan meninggalkanmu,” kata Sean, sambil memeluk Lorena dengan erat.
Sean bingung dan sedih, dia tidak mau kehilaangan wanita yang di cintainya. Dengan susah payah dia mencari cinta sejatinya tapi ternyata dia tidak bisa bersama wanita yang di cintainya, dia tidak akan membiarkan itu terjadi, dia tetap akan mempertahankan Lorena.
Ny. Grace menghela nafas panjang, dia hanya memperhatikan Sean yang memeluk dan mencium rambutnya Lorena. Terihat sekali putranya sangat mencintai gadis itu.
“Baiklah kalau kau mau bersikukuh mau menikah dengan Lorena,” ucap Ny.Grace, membuat wajah Sean sumringah dan menoleh pada ibunya tanpa melepaskan memeluk Lorena.
Bagaikan disambar petir di siang bolong Lorena mendengarnya, begitu juga dengan Sean.
“Bu, ibu ini bicara apa?” tanya Sean hampir berteriak saking kagetnya.
“Itu adalah cara yang terbaik kalau kau ingin tetap menikahi Lorena, kau harus mau menikah dengan gadis yang lain yang bisa memberimu keturunan secepatnya,” kata Ny.Grace.
Mendengarnya semakin membuat hati Lorena hancur. Dia tidak mungkin mau berbagi suami. Itu sama saja tidak memberinya pilihan selain pergi dari kehidupannya Sean.
Sean menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak setuju, kalau aku bisa menikah dengan wanita manapun, buat apa aku mengadakan kontes segala? Aku hanya ingin menikah dengan gadis yang aku cintai!” seru Sean, pelukan tangan kirinya semakin erat memeluk Lorena.
Lorena bergerak menjauh saja, Sean menariknya lagi kepelukannya.
“Tidak ada pilihan lain Sean, itu konsekuensi yang harus kalian pilih,” ucap Ny.Grace.
Sean menoleh pada Lorena yang menghapus airmata dipipinya.
__ADS_1
“Tidak, sayang, aku tidak mungkin mau melakukan itu, aku tidak mungkin menyakitimu,” ucapnya, sambil tangannya ikut menghapus airmata dipipi Lorena.
Lorena menatap mata yang sedang menatap itu.
“Mungkin memang sebaiknya kita berpisah,” ucap Lorena. Hatinya sangat sedih,, ternyata dia kan kembali patah hati, akan kehilangan pria yang dicintainya.
“Jangan, jangan pernah meninggalkanku,” ucap Sean, menggelengkan kepalanya.
“Tapi itu jalan yang terbaik buat kita, aku tidak bisa menikah denganmu,” kata Lorena, berusaha tegar, dengan perlahan melepaskan tangannya Sean.
“Tidak, jangan pergi!” cegah Sean. Bukan Lorena saja yang sedih, tapi Sean juga. Dia membayangkan hari-ahri yang bahagia setelah kontes, ternyata dengan menemukan gadis yang dia cintaipun kebahagiaan belum berfihak kepadanya.
Ny.Grace menoleh lagi pada Lorena.
“Sayang, aku tidak akan melarangmu untuk menikah dengan putraku kalau kau memang ingin menikah dengan Sean, tapi kau harus sadar kalau Sean membutuhkan keturunan secepatnya, kalau kau mau menikah dengan Sean maka kau harus bisa membiarkan Sean juga menikah dengan gadis yang bisa memberinya keturunan,” kata Ny.Grace.
Lorena tidak menjawab, dibiarkannya Sean yang terus memeluknya.
“Itu terserah padamu, dan Sean juga sama. Kau harus berfikir dengan jernih, kau tidak bisa mengikuti egomu saja, kau harus menikah dengan gadis lain,” lanjut Ny.Grace.
Sean tidak menjawab, dia hanya memeluk dan menciumi Lerena, dia tidak mau Lorena pergi meninggalkannya. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis itu. Dengan susah payah dia mengejar cintanya Lorena, dan sekarang setelah Lorena menerima lamarannya, cinta mereka harus putus ditengah jalan, dia tidak mau kenyataan itu.
“Sean!” panggil Ny.Grace, membuat Sean menoleh pada ibunya.
“Kau boleh mempersiapkan pernikahanmu dengan Lorena, ibu akan mencari gadis yang bisa memberikanmu keturunan, secepatnya,” kata Ny. Grace, lalu bangun dari duduknya, mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu.
Lorena melingkarkan tangannya memeluk Sean, menyadarkan kepalanya didada pria itu. Ternyata usahanya sia-sia, dia mengikuti kontes karena ingin menemukan pria yang benar-benar mau menikahinya, sekarang sudah menemukan malah diberi pilihan sulit.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kau menikah juga dengan gadis lain,” tanya Lorena.
“Aku juga tidak tahu, aku tidak mau menyakitimu, aku tidak mau kehilanganmu, aku sangat mencintaimu,” jawab Sean. Tangannya membelai rambutnya Lorena lalu mencium rambutnya itu.
“Aku juga mencintaimu, Sean,” ucap Lorena, kata-katanya itu semakin membuat Sean sedih, jarang sekali Lorena mengatakan cinta padanya.
“Aku akan mencari jalan keluarnya, kau tetaplah disisiku,” pinta Sean, mengusap punggung Lorena beberapa kali. Diapun berfikir, dia harus menemui sam, barangkali Sam punya solusi untuk masalah ini.
**********
__ADS_1