Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-29 Pulang ke rumah


__ADS_3

Sean membawa mobilnya memasuki pekarangan halaman rumah kontrakannya. Dia turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu buat Lorena. Sikap pria ini sangat manis. Lorena benar-benar melupakan kalau dia sebenarnya seharusnya makan malam dengan Sam. Dia benar-benar sudah lupa pada Sam.


Sean kembali menutup pintu mobilnya. Mereka berdiri berdua saling tatap. Lorena benar-benar merasa canggung bingung harus bersikap bagaimana pada Sean. Makan malam ini sangat memberi kesan yang berbeda.


“Kau tidak masuk?” tanya Lorena, seakan-akan mereka sudah pergi berkencan dan Sean mengantarnya pulang, padahal itu adalah rumahnya Sean.


“Tidak, aku ada urusan lain,” jawab Sean.


“Oh…” ada nada kecewa dari suara Lorena.


“Apa kau pergi lama?” tanya Lorena lagi.


“Ya bisa jadi,” jawab Sean, menatap Lorena. Kenapa ditatap Sean kali ini rasanya beda ya, tatapan itu serasa menyentuh masuk ke dalam hati, tembus ke dalam dada menusuk jantungnya, membuat Lorena serba salah.


“Aku pergi. Selamat Malam,” ucap Sean, lalu dia kembali masuk ke mobil mewahnya itu. Lorena hanya bisa mengangguk, menatap mobil itu melaju meninggalkan rumah itu.


“Malam, Daaah,” ucapnya setelah mobil itu pergi. Tangan kanannya melambai lesu. Tangan kirinya segera menepuk tangan kanannya.


Terdengar suara pintu di buka. Pak Roby sudah menyambutnya di pintu itu.


Lorena buru-buru berlari menemui pak Roby.


“Pak Roby! Kau lihat itu kan?” tanya Lorena.


“Lihat apa?” tanya Pak Roby keheranan.


“Sean,” jawab Lorena.


“Iya, kenapa?” tanya pak Roby, sambil matanya melihat ke arah luar, dilihatnya diluar sepi.


“Sean sangat berbeda!” kata Lorena.


“Berbeda? Sama saja,” jawab pak Roby sambil menutup pintu.


“Pak Roby ini bagaimana? Dia sangat berbeda, dia sangat tampan malam ini, mobilnya juga keren! Apa kau tidak lihat saat tadi datang? Kau juga melihatnya kan? Dia sangat tampan!” seru Lorena dengan bersemangat.


“Saya tahu Pak Sean tampan, dari lahir juga tampan,” jawab Pak Roby dengan serius.


“Aah Pak Roby ini becanda! Dia sangat berbeda. Rasanya aku tidak mengenalnya! Aku sangat gugup makan malam dengannya, serasa kencan saja!” kata Lorena masih berapi-api.


Pak Roby mengerutkan keningnya tidak mengerti. Menurutnya Sean biasa-biasa saja, karena memang kesehariannya begitu, hanya saja sekarang tinggal dirumah yang lebih kecil.


Lorena menjatuhkan dirinya duduk di sofa.


“Dan ternyata Sean juga mencari calon istri Pak!” seru Lorena lagi.


Pak Roby hanya diam saja. Untuk urusan itu dia tidak mau ikut campur.


“Nona melamar untuk menjadi calon istrinya?” tanya Pak Roby.


“Mmm tidak, dia tidak membuat kontes apa-apa. Aku juga tahunya dari orang yang mengenalnya,” jawab Lorena, wajahnya berubah memberengut.


“Sungguh, dia sangat berbeda. Rasanya sangat aneh aku sering bertengkar dengannya,” ucap Lorena.


Pak Roby masih tidak bicara. Dia masih berdiri mendengarkan ocehannya Lorena.


“Apa kalau Pak Sean mengadakan kontes, nona mau ikut juga?” tanya pak Roby, akhirnya bicara.


Lorena yang menyandarkan kepalanya ke sofa melirik pak Roby.


“Entahlah, masa aku harus ikut semua kontes,” keluh Lorena lalu bangun dari duduknya.


“Katanya dia tidak akan pulang beberapa hari karena harus bekerja keluar kota,” kata Lorena sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Pak Roby hanya mengangguk. Tentu saja pak Roby tahu kalau Sean pulang ke rumahnya.


Di dalam kamar Lorena tidak bisa tidur. Kenapa wajah Sean malah muncul terus dibenaknya? Apa dia menyukai pria itu? Tidak mungkin! Sean adalah temannya bertengkar, mana mungkin dia menyukianya?


Lorena berguling kesana kemari, dia benar-benar gelisah. Rasanya sangat aneh penampilan Sean malam ini. Dia tidak seperti biasanya. Sikapnya juga sangat berwibawa. Atau memeng biasanya juga seperti itu hanya saja dia tidak memperhatikannya? Dia hanya bisa mengganggu pria itu.


Kenapa aku memikirkan dia terus? Apa aku menyukainya? Batin Lorena. Jangan jangan jangan sampai menyukai Sean, bagaimana dengan kontes itu nanti? Bagaimana kalau ternyata malah jatuh cinta pada Sean dan dia juara di kontes itu? Akan sangat merepotkan nantinya, batinnya lagi.


“Sepi juga, dia tidak pulang,” gumamnya. Lalu bangun dari tidurnya, keluar dari kamarnya, berjalan mendekati tangga, menatap ke ruang bawah yang sepi, lalu diliriknya kamar sebelahnya.


Lorena mendekati kamar itu, mengetuk pintu itu berkali-kali, tentu saja tidak ada yang mebukanya karena penghuninya tidak ada. Ditempelkannya telinganya ke pintu itu, sepi. Lorenapun kembali ke kamarnya. Diambilnya biolanya dan memainkan sebuah lagu untuk mengobati rasa gundahnya.


***************


Di rumah Sean…


Terdengar langkah kaki seseorang memasuki ruang tengah yang luas itu.


“Sean!” panggil Sam, saat melihat Sean tiba. Sean menghentikan langkahnya, menoleh pada Sam.


“Kau pulang?” tanya Sam keheranan.


“Iya, untuk sementara aku tidak pulang dulu kesana,” jawab Sean, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai atas. Sam mengikutinya.


“Tumben, ada apa? Apa yang terjadi? Apa makan malamnya sukses?” tanya Sam ingin tahu, ditangannya ada sebuah kertas yang digulung gulung.


“Tidak ada, biasa saja,” jawab Sean. Dalam hati dia merasa senang melihat sikap Lorena yang tampak kebingungan menghadapinya. Sean mendorong pintu kamarnya. Dia langsung membuka jasnya dan menggantungnya di tiang gantungan topi dekat pintu masuk.


Dibukanya kancing lengan kemejanya sambil duduk di sofa. Dia sangat rindu kamarnya ini. Sudah cukup lama dia meninggalkan kamarnya ini.


“Kau akan kembali tinggal disini?” tanya Sam, berdiri menatap Sean.


“Aku tidak tahu. Aku meninggalkan wanita itu dirumah itu sendirian,” jawab Sean, lalu bangun dan mendekati tempat tidur, dia merebahkan tubuhnya disana.


“Kalau kau tidak tinggal di rumah itu, berarti aku harus memutus kontrak rumahnya,” kata Sam.


“Jangan!” seru Sean, sambil bangun dari tidurnya dan menatap Sam.


“Kenapa?” tanya Sam.


“Wanita itu masih tinggal disana, biarkan saja dia tinggal disana,” jawab Sean, lalu kembali berbaring.


“Tapi kalau kau tidak kembali ke rumah itu buat apa masih mengotraknya? Dan Pak Roby, pelayan-pelayan, semua harus ditarik lagi kesini,” kata Sam.


“Jangan, jangan, tidak usah, biar mereka melayani wanita itu. Dia tidak bisa memasak, dia juga tidak bisa mencuci, bagaimana hidupnya tanpa pelayan-pelayan itu,” kata Sean.


“Tapi kan kita yang membayarnya. Pak Roby dan pelayan-pelayan itu dibayar tinggi, sewa rumah itu juga sangat mahal perbulannya,” ucap Sam.


“Tidak apa-apa, aku tidak tega saja kalau wanita itu kesusahan disana,” jawab Sean.


Sam terdiam. Dia sangat bingung dengan sikap Sean yang menurutnya sangat aneh. Kalau dia tidak tinggal dirumah itu kenapa masih harus membayar kontrakan dan semua pelayan tidak boleh ditarik? Kalau untuk Lorena mungkin satu pelyaan juga sudah cukup, fikir Sam.


“Kapan mulai ada lomba lagi?” tanya Sean.


“Seminggu lagi, acaranya aku tunda dulu. Banyak pekerjaan yang harus aku persiapkan,” jawab Sam.


Sean tidak menjawab, dia mencoba memejamkan matanya, muncul dipelupuk matanya bayang-bayang Lorena yang menatapnya dengan keheranan.


Sam mengacungkan kertas yang dia pegang.


“Kau mau lihat hasil kandidat yang lolos kemaren?” tanya  Sam.


“Memangnya kenapa? Ada yang isitimewa?” tanya Sean, membuka matanya menoleh pada Sam.

__ADS_1


“Pesertanya semakin mengerucut,” jawab Sam.


Sean bangun dari duduknya, dia menatap Sam.


“Ada apa? Ada yang kau fikirkan?” tanya Sam, dia merasa aneh dengan sikanpnya Sean.


“Entahlah,” jawab Sean dia kembali berbaring. Sam semakin bingung saja.


“Apa kau menyukai Lorena?” tanya Sam. Membuat Sean terkejut, diapun kembali duduk.


“Tidak! Aku tidak menyukainya!” sanggah Sean.


“Tapi sepertinya begitu, “ ucap Sam.


“Masih terlalu dini untuk memastikan suka atau tidak,” jawab Sean, dia kembali tidur.


“Tapi menurutku, dia sangat cantik, baik, dia sangat menarik, dia juga pintar,” ucap Sam memuji muji Lorena. Kenapa mendengar Sam memujinya membuat Sean merasa tidak suka.


“Jangan terlalu memujinya! Dia biasa saja!” sanggah Sean.


“Kalau begitu cobalah kau mengenal peserta yang lain. Lama-lama pesertanya akan semakin mengecil, kau akan semakin mendekati siapa yang akan kau pilih nantinya,” kata Sam.


“Besok saja dikantor! Aku mau istirahat sekarang,” ucap Sean.


“Sebelum lomba berikutnya, kita ada acara temu bicara dengan peserta yang masuk seleksi, kau datang ya. Kau harus mau melihat peserta lainnya, jangan sampai kejadian seperti Lorena kemarin terulang lagi. Kau tidak mungkin memberikan wildcard ke semua peserta terus terusan,” kata Sam.


“Iya,” jawab Sean.


Sam menatap Sean sebentar, seseorang masuk ke kamarnya Sean.


“Ada apa Pak Deni? Aku sedang tidak ingin bekerja,” ucap Sean, dia hafal suara langkah pria itu.


“Besok Nyonya akan pulang,” jawab Pak Deni. Sontak Sean terkejut dan bangun dari tidurnya.


“Apa? Ibuku mau pulang besok? Ada apa?” tanya Sean.


“Ada banyak pekerjaan diluar negeri yang membutuhkan persetujuanmu dan tandatanganmu,” kata Pak Deni.


“Kan sudah ada ibuku,” kata Sean.


“Itu dari perusahaan warisan kakek, Pak Sean kan satu-satunya hak warisnya, bukan Nyonya,” jawab Pak Deni.


“Jadi aku harus keluar negeri berapa lama?” tanya Sean menatap Pak Deni.


“Saya belum tahu. Besok kalau Nyonya tiba, kita bicarakan,” jawab Pak Deni.


“Baiklah. Kalian boleh pergi, aku mau istirahat,” jawab Sean.


"Baiklah, selamat malam," ucap Pak Deni.


"Malam," jawab Sean.


Pak Deni tidak bicara apa-apa lagi, dia dan Sam keluar dari kamarnya Sean.


Sean merenung dikamarnya. Kalau dia sibuk ke luar negeri berarti dia akan lama tidak bertemu dengan Lorena. Kenapa dia jadi memikirkan wanita itu terus? Bukankah bagus jauh-jauh dari Lorena artinya dia tidak akan bertengkar lagi dengan wanita itu?


Sean kembali berbaring, diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 10 malam sudah saatnya tidur. Kamar ini terasa begitu sepi. Biasanya dirumah kontrakan itu, Sean akan mendengar suara music Biola yang dimainkan oleh Lorena, meskipun musicnya itu sangat sentimentil, kadang terdengar begitu sedih menyayat hati, kadang terdengar seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tidak terasa ada senyum dibibirnya Sean.


Sejak kapan dia menyukai music? Dari kecil dia benci music. Dia tidak suka jika ada jadwal untuk les music. Diapun bangun dari tidurnya. Berjalan menghampiri sebuah lemari besar. Dibukanya lemari itu. Ada sebuah tas biola disana. Dia tersenyum. Diambilnya tas biola itu. Sudah berpuluh puluh tahun biola itu tidak pernah dipakainya. Ibunya menyuruhnya ikut les music dan membelikan biola itu, sekitar dia usia SD kalau tidak salah.


Sean kembali duduk di pinggir tempat tidur, mengeluarkan biola dari tasnya. Dia mulai menggesekkan sebuah nada, terdengar suara berdecit. Dia memang tidak ahli melakukannya. Ada sebuah lagu yang bisa dia nyanyikan waktu itu. Hanya satu-satunya dan sejak itu dia tidak pernah ikut les biola lagi.


Perlahan dia mulai memainkan biola itu dan mengingat-ingat nadanya, meskipun music yang dihasilkan tidak seindah biolanya Lorena.

__ADS_1


**************


__ADS_2