
Siang itu di dalam ruang meeting kantornya Sean tampak sedang diadakan rapat. Sean keluar dari ruangan itu menuju ruangannya dan bertemu dengan Bu Devi.
“Rapat sudah selesai Pak?” tanya Bu Devi.
“Sebentar lagi,” jawab Sean.
“Kita makan di luar ya Pak? Saya sudah booking tempat di Resto baru Es kelapa si cantik , menu sate dan ikan bakarnya juga enak saya sudah testi. Resto baru Pak, biar tidak bosan,” kata Bu Devi.
“Ya boleh, “ jawab Sean mengangguk, sambil masuk ke ruangannya.
Tidak berapa lama masuk jadwal break, Sean dan para tamunya dibawa Bu Devi ke lokasi yang disebutkan itu.
Sebenarnya lokasinya lumayan jauh dari pusat kota, tapi Resto baru itu terlihat asri dan bersih. Di depannya banyak sekali terpakir motor-motor. Di salah satu pintu malahan terlihat antrian menggunakan jaket gofood.
“Banyak gofood,” gumam Sean.
“Es kelapa si cantik viral oleh gofood Pak, padahal baru beberapa minggu buka sudah antri lagi,” kata Bu Devi.
“Emang enak menunya?” tanya Sean.
“Es kelapa ini dari luar kota Pak cuma buka cabang disini. Kebalik, biasa nya resto asal kota buka cabang di luar kota ini malah sebaliknya. Yang di luar kota itu lokasinya lebih asri Pak ada dipinggiran kebun karet, saya lihat di brosurnya,” ucap Bu Devi.
Mendengar kata kebun karet, Sean tiba-tiba teringat sesuatu. Dia juga pernah ke perkebunan karet tapi tidak ada es kelapa si cantik, disana sepi-sepi saja. Diapun berfikir apa suatu saat dia mencoba lagi pergi ke kebun keret itu? Barangkali Bidan itu menerima pasien melahirkan bernama Lorena.
“Perkebuanan karetnya dimana?” tanya Sean.
“Bapak mau nyoba kesana?” Bu Devi balik bertanya.
“Kapan-kapan kalau aku jalan dengan Sam,” jawab Sean.
“Nanti saya cari dulu alamatnya Pak,” jawab Bu Devi.
“Iya,” jawab Sean.
Merekapun menuju meja yang sudah dipesan Bu Devi.
Sean dan tamu-tamunya menyantap makan siang menu Resto itu.
Dilihatnya ada music-music juga, seorang penyanyi sedang tampil diiringi organ tunggal. Mengingatkannya saat Lorena tampil bermain biola di restaurant tempatnya bekerja.
“Apa ada permainan Biola juga?” tanya Sean iseng saja pada Bu Devi, tidak mungkin Lorena tampil disetiap restaurant.
Sekretarisnya itu langsung bertanya pada pelayan yang datang membawakan menu tambahan.
“Apa ada permainan Biola?” tanya Bu Devi.
“Hanya sesekali saja Bu, pemilik resto ini, hanya kebetulan tadi sudah tampil,” jawab pelayan itu. Bu Devi hanya mengangguk, sedangkan Sean diam saja.
“Ada katanya Pak, hanya sesekali saja, soalnya pemain biolanya pemilik resto ini dan tadi sudah tampil,” kata Bu Devi, menoleh pada bosnya.
“Aku ingin cari angin sebentar,” ucap Sean, beberapa detik kemudian, sambil beranjak keluar dari resto itu. Dia berdiri diteras dengan kedua tangannya masuk ke saku celananya. Dilihatnya kurir gofood masih hilir mudik saja.
Tiba-tiba Sean melihat ada seorang wanita dengan membawa kursi dorong bayinya berteduh dibawah pohon yang dibawahnya dikelilingi rumput taman.
Wanita muda itu menggendong bayi yang ada dikereta bayi itu, bayi itu tampak menangis dan wanita itu mencoba menenangkannya tapi ternyata tidak berhasil. Sean datang menghampiri wanita itu.
__ADS_1
“Kenapa bayinya?” tanya Sean.
“Rewel Pak, mungkin didalam panas dan bosan, jadi saya bawa kesini,” jawab wanita muda itu.
Sean menoleh pada si bayi yang lucu itu dan tersenyum.
Wanita muda itu mencoba menenangkan si bayi.
“Mungkin dia lapar,” kata Sean.
“Iya, coba saya ambilkan dotnya, duh dimana dotnya,” wanita muda itu tampak kesulitan menyibak-nyibak selimut dikereta bayi.
“Biar aku bantu,” kata Sean, dia mencarikan dot yang tertutup selimut, yang lengsung ditemukannya dan diberikan pada wanita muda itu.
Setelah digendong dan diberi dot bayi itu mulai diam sepertinya dia memang tidak mau tidur di kereta bayi.
“Mungkin dia ingin tidur, apa orangtuanya masih makan didalam?” tanya Sean.
“Tidak, Ibunya sedang bekerja didalam” jawab wanita muda itu.
“Ibunya bekerja disini?” tanya Sean lagi.
“Iya, ibunya pemilik Resto ini, Bu Laura,” jawab wanita muda itu.
Sean hanya mengangguk-angguk saja, dia memperhatikan bayi itu yang sesekali matanya melihat kearahnya, diapun tersenyum pada bayi itu. Dia jadi membayangkan apakah bayinya sekarang sudah lahir? Dia harus segera ke perkebunan karet itu, meskipun pesimis tapi hanya ingin mencarinya lagi menanyakan pada bidan itu. Mungin besok kalau tidak sibuk akan mengajak Sam kesana.
Wanita muda itu menatap Sean yang masih menatap bayi itu.
“Namanya Earlangga Pak,” jawab wanita muda itu yang tiada lain Neny.
Sean tersenyum pada bayi itu.
“Bapak sudah punya anak?” tanya Neny.
“Iya, tapi aku tidak tahu bayiku ada dimana sekarang,” jawab Sean membuat Neny merasa sedih.
“Maaf,” ucap Neny.
“Tidak apa-apa,” ucap Sean, setiap mengingat bayinya dia kembali merasa sedih. Hari-harinya terasa begitu hampa tidak ada orang-orang yang dicintainya disisinya.
Dari dalam Resto keluar seorang wanita yang berseragam pekerja di Resto itu.
“Mba Neny! Dipanggil Ibu!” teriak wanita itu.
“Iya sebentar,” jawab Neny lalu menidurkan Earlangga di kereta bayinya.
“Permisi Pak,” ucap Neny, sambil mendorong keretanya Earlangga. Sean hanya mengangguk, melihat sebentar pada bayi itu.
“Bayi yang sangat lucu,” gumamnya, dia senang sekali melihat bayi itu mengingatkannya pada bayinya yang mungkin akan sebesar itu sekarang.
Sean mengeluarkan handphone-nya.
“Sam! Besok pagi antar aku ke perkebunan karet lagi,” kata Sean.
“Kau ingin mencari Lorena kesana lagi?” tanya Sam.
__ADS_1
“Iya, aku ingin kesana saja, aku ingin menemui Bidan itu lagi,” jawab Sean.
“Baiklah, kau dimana sekarang?” tanya Sam yang sedang berada dikantornya.
“Aku sedang berada di Resto Es kelapa si cantik,” jawab Sean.
“Oke, aku mengerjakan beberapa urusan dulu, besok kita ke perkebunan karet,” jawab Sam.
Setelah menutup telpon dari Sam, Sean kembali ke resto itu, di pintu dia berpapasan dengan Neny yang menggendong Earlangga.
“Bayinya belum tidur?” tanya Sean.
“Iya masih rewel,” jawab Neny menghentikan langkahnya.
“Mungkin didalam gerah,” jawab Sean masih menatap bayi itu yang masih merengek.
“Siapa panggilannya?” tanya Sean.
“Earl,” jawab Neny.
“Earl sayang, kenapa kau menangis?” tanya Sean pada Earlangga.
Bayi itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang berair, melihatnya Sean mera sa kasihan tapi terlihat sangat lucu dengan mata hitamnya yang bening kontras dengan kulitnya yang putih.
“Bapak ingin menggendongnya?” tanya Neny.
“Apa boleh? Aku belum pernah menggendong bayi,” jawab Sean.
“Sebentar saja, nanti ketahuan ibu,” jawab Neny.
Sean mengangguk. Diapun mengulurkan tangannya dengan kaku, Neny membantunya.
Kini Earlangga ada dipelukannya Sean. Sean terdiam sesaat, ternyata begini rasanya menggendong bayi. Bayi itu merengek sebentar, Neny menepuk-nepuk kakinya.
“Kau sangat lucu,” ucap Sean, menatap bayi itu yang mulai diam.
Hati Sean serasa tersayat-sayat melilah bayi itu diam dalam gendongannya mengingatkannya pada bayinya. Bayi itu malah anteng padahal dia menggendongnya dengan sangat kaku karena tidak pernah menggendong bayi.
“Bayinya diam,” ucap Sean.
“Dia senang digendong Bapak,” jawab Neny sambil tersenyum. Sean mengangguk.
“Tapi sudah cukup ya Pak menggendongnya, Earlangga mau saya bawa pulang, “ kata Nenny.
“Kalian tinggal dimana?” tanya Sean.
“Grand Valley,” ucap Nenny.
Sean terdiam sesaat itu adalah alamat kontrakannya dulu. Dia hanya tersenyum dan menggangguk.
Neny kembali mengulurkan tangannya mengambil Earlangga.
“Permisi, Pak” ucap Nenny sambil membawa bayinya meninggalkan teras Resto itu.
Sean menatap kepergiannya, dia merasa senang bisa memeluk bayi itu. Dia masih teringat pandangan mata bayi itu yang bening karena sudah menangis, membuatnya semakin merindukan istri dan bayinya.
__ADS_1
Sean menghela nafas sebentar lalu masuk lagi kedalam Resto.
**************