Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH 62 Dua hati yang resah


__ADS_3

Valerie melihat ke rumah bagian belakang, dia mencari Bu Asni, yang biasanya jam segini sedang sibuk menyiapkan makan malam dibantu pelayan yang lain, tapi ternyata Bu Asni tdak ada didapur. Diapun terus pergi kerumahnya Bu Asni dan mengetuk pintunya.


“Bu! Bu!” panggil Valerie.


Tidak berapa lama pintu itupun terbuka, Bu Asni menatapnya keheranan.


“Kau mencariku?” tanya Bu Asni, menatap Valerie.


“Bu, ada yang ingin aku bicarakan!” jawab Valerie.


“Soal apa? Masuklah!” kata Bu Asni, membuka pintu rumahnya dengan lebar.


Valerie langsung meraih tangannya Bu Asni dan mengajaknya duduk di kursi yang ada diruangan itu.


“Bu, ada yang mengirim pesan padaku kalau dia ayah dari bayiku!” kata Valerie dengan terburu-buru, sambil menatap Bu Asni.


“Apa? Kau serius? Bukankah itu bagus?” tanya Bu Asni.


“Masalahnya aku takut Bu,” ucap Valerie.


“Takut apa?” tanya Bu Asni.


“Aku takut pria itu bukan pria yang baik,” jawab Valerie.


“Kau tidak akan tahu dia pria yang baik atau tidak kalau aku tidak bertemu dengannya,” kata Bu Asni.


“Orang itu mengajak bertemu besok,” ucap Valerie.


“Kau akan menemuinya?” tanya Bu Asni.


“Entahlah, kadang aku ingin tahu seperti apa ayah dari bayiku tapi aku juga takut menyadari kalau pria itu sangat asing bagiku, aku sudah memutuskan untuk membesarkan bayiku sendiri,” kata Valerie sambil mengusap perutnya.


Bu Asni menatap gadis itu yang sudah di anggapnya seperti putrinya sendiri.


“Tapi daripada kau penasaran, lebih baik kau bertemu dengannya, kalau benar itu ayah dari bayimu, katakan kalau kau tidak ingin menjalani hubungan apapun dengannya, kau ingin membesarkan anakmu sendiri. Tapi jika pria itu terlihat pria yang baik, tidak ada salahnya kau merubah keputusan, karena walabagaimanapun manusia hidup berpasangan, kau akan lebih bahagia bila hidup bersama pria yang mencintaimu,” tutur Bu Asni panjang lebar.


Valerie menatap Bu Asni lagi lekat-lekat.


“Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Bu Asni.


“Aku..justru aku merasa takut..” jawab Valerie.


“Takut soal apa lagi?” tanya Bu Asni tidak mengerti.


“Aku takut berpisah dengan Pak Earlangga,” jawab Valerie membuat Bu Asni terkejut.


“Kau takut berpisah dengan Pak Earlangga?” tanya Bu Asni.

__ADS_1


“Iya, dia sangat baik, dia pria yang baik, dia perhatian padaku dan bayiku,” jawab Valerie sambil tersenyum, matanya berbinar-binar saat menyebut nama itu. Tapi tidak dengan reaksi Bu Asni, dia menggelengkan kepalanya.


“Kau tidak boleh jatuh cinta padanya,” kata Bu Asni.


“Aku tahu,” jawab Valerie, sambil menunduk.


“Ny.Grace tidak menyukaimu, hidupmu tidak akan mudah jika memilih bersama Pak Earlangga,” ucap Bu Asni.


Valeriepun terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Bu Asni, dia tidak boleh jatuh cinta pada Earlangga.


“Dia pria yang sangat baik,” ucapnya. Bu Asni mengangguk.


“Aku juga sadar Pak Earlangga berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku hanya wanita biasa yang sedang hamil, tidak seharusnya dia yang kena getahnya. Aku tetap harus pergi setelah bayi ini lahir dan semua terungkap kalau bayi ini bukan bayi Pak Earlangga,” ucap Valerie dengan nada lirih, sedih mengatakannya tapi itulah kenyataan yang harus dijalaninya.


“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Bu Asni.


“Aku akan menemui pria itu, aku ingin tahu seperti apa dia. Ibu benar, aku sudah memutuskan untuk menjalani kehidupanku dengan bayiku nanti, aku akan mengatakan hal itu pada pria itu jika sudah bertemu nanti,” jawab Valerie.


Bu Asni mengangguk tanda setuju.


“Ayo kembali kerumah utama, Pak Earlangga pasti mencarimu, apa dia sudah pulang?” kata Bu Asni.


“Dia baru pulang,” jawab Valerie, sambil bangun dari duduknya begitu juga dengan Bu Asni karena dia harus melanjutkan menyiapkan makanan untuk Earlangga sesuai menu yang sudah dituliskan Valerie dalam daftar menu.


Merekapun pergi kerumah utama.


Earlangga menoleh saat mendengar Valerie menutup pintu kamar itu lagi.


“Kau keluar rumah dengan pakaian tipis begitu tidak menggunakan jaket,” keluh Earlangga.


“Aku cuma sebentar,” jawab Valerie, sudah mulai mencoba akrab dan tidak kaku jika berbicara dengan Earlangga.


“Kau ada acara besok?” tanya Earlangga.


“Tidak,” jawab Valerie, berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk disana.


Earlangga kembali mengalihkan pandangannya ke luar lewat jendela lagi, dia sedang memikirkan untuk datang ke tempat janjiannya Valerie dengan pria itu. Meskipun dia tidak tahu apakah Valerie akan datang ke tempat itu atau tidak.


Malam itu, tidak ada yang bicara, Earlangga maupun Valerie sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hingga saat mereka tidur, Valerie hanya membolak balikkan badannya tidak bisa terlelap, dia membayangkan seperti apa pria yang akan ditemuinya besok.


Earlangga berbaring terlentang dengan mata yang tertutup tapi fikirannya melayang kemana-mana. Tapi tidak seperti Valerie yang bolak-balik merobah posisi tidurnya.


“Kau kenapa? Kalau tudur begitu nanti bayinya pusing,” ucap Earlangga, menoleh pada Valerie karena gerakan tubuhnya Valerie berisik, wanita yang tidur disampingnya itu menatapnya.


“Kau tahu darimana bayinya akan pusing?” tanya Valerie, dia jadi ingin tertawa mendengarnya.


“Orang juga kalau mondar mandir akan pusing,” jawab Earlangga menatap wanita itu.

__ADS_1


Valerie tidak bicara lagi, dia hanya tersenyum dan membalikkan badannya membelakangi Earlangga. Tapi beberapa detik kemudian dia Valerie terkejut saat merasakan ada yang membetulkan selimutnya.


“Terimakasih,” ucapnya tanpa menoleh dan membuat dirinya nyaman dibalik selimut. Tidak ada jawaban dari Earlangga hanya Valerie semakin merasa jantungnya behenti berdetak, saat merasakan gerakan dibelakang punggungnya dan sebuah tangan memeluk perutnya. Dia langsung gugup,punggungnya menempel pada sesuatu yang keras, apalagi kalau bukan dadanya Earlangga. Apakah Earlangga sedang memeluknya?


Valerie merasakan salah tingkah, apa yang harus dilakukannya jika Earlangga memeluk begini? Selama tidur dengannya tidak pernah pria itu menyentuhnya macam-macam, selain membetulkan selimut, membetulkan bantalnya tidak ada lagi yang dilakukan Earlangga, tapi kalau ini? Dia memeluknya, bukan dirinya saja yang dipeluk tapi memeluk bayinya juga.


“Kalau aku memelukmu apa kau bisa tidur diam dan tenang?” bisik Earlangga. Suara itu tendengar begitu lembut ditelinganya. Valerie merasakan hidung mancung pria itu menyentuh rambutnya. Dia benar-benar sangat gugup, benar-benar tidak tahu harus bersikap apa.


Dirasakannya tangan itu mengusap perutnya.


“Sepertinya bayinya sudah mulai tertidur,” gumam pria itu lagi. Sikap Earlangga benar-benar membuat Valerie ingin jatuh pingsan saja.


“Iya,” jawab Valerie, dengan bingung, pria itu memeluknya semakin erat.


Tidak ada lagi yang bisa dilakuan Valerie selain diam, diam merasakan hangatnya pelukannya. Dia senang pria itu begitu perhatian padanya, tapi dia juga ingat dia tidak boleh jatuh cinta pada Earlangga.


Tidak berapa lama, usapan diperutnya terhenti, sepertinya Earlangga sudah tertidur. Dengan perlahan Valerie menyimpan tangannya di atas tangannya Earlangga yang ada diperutnya. Bahagia rasanya pria itu memeluknya seperti ini, seperti mendapatkan pelukan dari suaminya sendiri.


Diusapnya perlahan jari-jari kokoh itu, diapun tersenyum.  Setelah itu Valerie mencoba untuk memejamkan matanya, dia akan menemui pria itu besok, dia ingin tahu apa benar pria itu yang menjadi ayah dari bayinya?


Sikap kaku mereka berlanjut sampai keesokan harinya. Earlangga sudah bersiap-siap akan berangkat bekerja, sedangkan Valerie hanya duduk-duduk saja menonton televisi tanpa bicara apa-apa, hanya mulutnya sedang mengunyah kue kue kering yang ada di toples diatas mejanya.


Sesekali Earlangga meliriknya sambil merapihkan baju yang dikenakannya di depan cermin. Valerie sampai detik ini tidak mengatakan akan menemui pria itu, apakah dia benar-benar tidak akan bertemu pria itu?


“Kau tidak akan keluar hari ini?” tanya Earlangga, memastikan lagi.


“Tidak,” jawab Valerie masih terus menonton televisi.


Earlangga kini berdiri menatapnya, dia bertanya-tanya apa benar Valerie tidak akan kemana-mana?


Valerie tidak menghiraukan pertanyaannya Earlangga, dia akan menemui pria itu tapi tidak sepengetahuan Earlangga. Dia akan diam-diam saja menemui pria itu.


“Aku berangkat,” ucap Earlangga.


“Iya,” jawab Valerie tanpa menoleh, masih mengunyah makanan itu, sepertinya tidak akan ada yang bisa mengalihan perhatiannya saat ini.


Earlanggaa terenyum melihatnya, diapun berjalan mendekati Valerie, lalu mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi cubi itu, tidak lupa tangan kirinya menyentuh perutnya Valerie.


Mendapat ciuman yang tiba-tiba sontak membuat Valerie kaget. Dia langsung menghentikan mengunyahnya, matanya menatap televisi tidak berkedip. Apa barusan Earlangga menciumnya? Jantungnya seketika berhenti berdetak.


“Aku berangkat,’ ucap Earlangga, lalu beranjak menjauh.


Valerie masih shock dengan kejadian yang baru saja dialaminya, dia mandapatkan ciuman pagi ini.


“I iya,” jawabnya terbata, tanpa menoleh, tubuhnya mendadak kaku, dan mulutnya mulai mengunyah, dia tidak berani menoleh pada Earlangga, wajahnya langsung merah seperti buah naga.


Brugh! Terdengar pintu itu ditutup. Barulah tangan Valerie menyentuh pipi bekas ciuman itu dan mengusapnya. Pria itu menciumnya! Batinnya. Bibir pria itu terasa masih menempel dipipinya.

__ADS_1


***********


__ADS_2