Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-61 Pesaing buat Lorena


__ADS_3

Pagi ini peserta semua berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pengumuman pemenang dan kelanjutan lomba. Setelah itu mereka akan bersiap-siap untuk pulang. Tentu saja grupnya Lorena lolos meskipun tidak mendapatkan piala kemenangan.


Lorena berbaris bersama grupnya Indri, berderet dengan barisan-barisan grup yang lainnya.


Lorena melihat Sean baru keluar dari tenda, sepertinya pria itu baru bangun, dan tentunya Sean belum mandi juga. Meskipun belum mandi pria itu selalu terlihat tampan dan harum. Harum? Lorena pernah berdekatan saat pria itu belum mandi, dan ternyata memang tubuh pria itu tercium harum, sepertinya dia menggunakan parfum yang sangat mahal, jadi tubuhnya harum seharian.


Tidak terlalu didengarnya apa yang dikatakan panitia, Lorena  tidak peduli siapa yang menang, dia hanya memperhatikan pria itu yang mendekati panitia, berdiri disamping  sang Presdir Sam, yang terlihat sangat segar dan tampan. Tentunya Sam sudah mandi, entah mandi dimana, begitu juga panitia yang lain, meskipun banyak juga yang belum mandi.


Ternyata bukan Lorena saja yang memperhatikan gerak-geriknya Sean. Diantara semua yang matanya tertuju pada Presdir Samuel, ada sepasang mata yang juga memperhatikan gerak geriknya Sean.


Gadis yang berdiri dibelakangnya, mendekatkan kepalanya ke telinga gadis yang di depannya.


“Nisa, kau lihat Presdir Samuel selalu tampan memakai pakaian apapun,” kata gadis itu.


“Kau menyukainya? Ambil saja,” jawab gadis didepan itu yang bernama Nisa.


“Mana mungkin aku mengambil jatahmu? Aku hanya bisa mengaguminya saja. Lagipula aku kan sudah punya pacar, kau malah memaksaku mengajak ikut kontes ini. Masa aku harus bersaing denganmu?” gerutu gadis itu.


“Aku serius, Sam buatmu saja Bela,” kata Nisa.


“Kau ini, kita sudah sejauh ini ikut kontes, kau membiarkan Presdir Sam begitu saja padaku? Benar-benar tidak bisa dipercaya,” kata Bela.


“Karena aku tahu Presdir yang sebenarnya,” jawab Nisa, sambil tersenyum, matanya masih memperhatikan Sean yang matanya mencari-cari barisannya Lorena. Dia mengagumi pria tampan itu. Dia rela mengikuti kontes konyol ini hanya untuk mendapatkannya.


“Apa maksudmu Presdir sebenarnya?” tanya Bela, terkejut.


Nisa malah tersenyum, tidak menjawab pertanyaannya Bela, tapi senyumnya berubah kecut saat melihat Sean menoleh kearah barisannya Lorena.


“Nisa, ceritakan padaku, pantas saja aku curiga kau mengajakku kontes ini, mengajakku bersaing mendapatkan Pak Sam, sangat aneh,” kata bela.


Terdengar panitia menutup pengumumannya, untuk lomba berikutnya akan dinformasikan selanjutnya.


Nisa membubarkan diri seperti yang lainnya. Peserta berebutan menuju tenda masing-masing untuk bersiap-siap akan pulang.


Bela menghalangi langkahnya Nisa, menatap temannya itu.


“Katakan padaku, jangan ada yang disembunyikan lagi! kita kan bersahabat dari saat  sekolah dulu, apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu, semua aku tahu, kecuali kontes ini. Kau mengajakku ikut kontes ini bersaing denganmu itu sangat tidak masuk akal! Kita sudah mengikuti kontes sampai detik ini tapi kau belum becerita padaku,” kata Bela, menatap Nisa.


“Kau menyukai Presdir Samueal kan?” tanya Nisa.


“Iya, ya meskipun  sebenarya aku punya pacar, tapi mendapatkan Presdir Samuel itu sangat menarik, selain tampan dia juga kaya,” jawab Bela.


“Ya kalau begitu ambil saja,” kata Nisa, kembali melangkahkan kakinya.


“Kau serius?” tanya Bela menjajari langkahnya Nisa.


“Tentu saja aku serius,” jawab Nisa.


“Kau sangat mengherankan, aku tahu kau tidak mungkin memberikan apa yang kau miliki untuk orang lain,” kata Bela.


“Aku memang tidak memberikan apapun padamu,” ucap Nisa.

__ADS_1


“Tidak bagaimana? Itu sih, Presdir Samuel? Buat apa capek-capek ikut kontes kalau kau memberikan Presdir


Samuel padaku?” tanya Bela.


“Karena sebanarnya bukan dia yang mencari istri,” jawab Nisa.


“Tunguu, tunggu, apa maksudmu bukan dia? Jadi siapa yang mencari istri?” tanya Bela tidak mengerti.


“Sean, Sean Joris, tepatnya Presdir Sean Joris,” jawab Nisa. Bela terbelalak kaget.


“Asisten Sean?” tanya Bela.


“Dia bukan Asisten, dia Presdir yang sebenarnya,” jawab Nisa.


“Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Bela. Langkah mereka semakin mendekati tenda.


“Ayahku pengacara keluarga kakeknya Sean. Dia akan mendapatkan warisan kakeknya 100 persen saat berumur 30 tahun dan syaratnya Sean harus sudah menikah dan punya anak, makanya dia membuat kontes ini, dia mencari istri untuk mendapatkan warisan itu,” jawab Nisa, membuat Bela terkejut bukan main. Dia menghentikan langkahnya. Saat melihat Nisa kembali memberi jalan meninggalkannya, diapun berlari mengejarnya.


“Nis, tapi aku dengar kasak kusuk kalau Asisten Sean itu menyukai salah satu peserta  bahkan tadi malam Asisten Sean menembaknya,” kata Bela.


“Maka dari itu, sebelum semuanya terlanjur, kau harus membantuku untuk memenangkan kontes ini. Jangan sampai wanita itu yang menang kontesnya. Kalau aku yang menang, mau tidak mau Sean akan menikahiku, kau mengerti kan?” kata Nisa.


Bela mengangguk. Dia tidak menyangka kalau sebenarya Presdir yang asli itu Asisten Sean. Pantas saja Nisa mengajaknya ikut kotes dan membiarkanya berburu Presdir Samuel., ternyata Presdir yang sebenarya adalah Asisten Sean.


Lorena bersiap-siap akan pulang, begitu juga dengan yang lainnya yang sudah duluan pulang. Tiba-tiba seseorang menghampiri tendanya.


Lorena keluar dari tenda dengan membawa tas gendongnya, dia terkejut saat meliaht pria tampan itu sudah berdiri di depan tendanya dan menatapnya.


“Kau pulang ke rumah kontrakan kita kan?” tanya Sean. Lorena tertawa mendengar Sean menyebut ‘rumah kontrakan kita’.


“Tentu saja kemana lagi aku pulang?” tanya Lorena padahal dia ingat kalau rumah kontrakannya yang sebenarnya kosong dan dia sudah tahu kalau dia salah nomor rumah malah menempati rumahnya Sean.


“Kalau begitu kau pulang bersamaku saja, aku juga akan pulang, aku belum mandi,” kata Sean.


“Baiklah, aku pulang denganmu,” ucap Lorena.


“Lorena kau pulang dengan siapa?” tiba-tiba Indri muncul mengagetkan mereka.


“Aku ikut..” Lorena menunjuk sean.


“Oh dengan Asisiten Sean? Bolehkah aku ikut?”tanya Indri, menoleh pada Sean.


“Tidak, tidak, kau sangat tidak pengertian sekali, aku cuma mau berdua dengan Lorena, kau tidak boleh ikut!” larang Sean, dia memberengut kesal pada teman Lorena ini.


Indri langsung menatapnya.


“Kenapa kau begitu membenciku? Dengar ya, kau harus ingat, Lorena belum menjawab ungkapan cintamu itu, dan aku akan membuatnya menolak cintamu itu, jadi berbaik-baiklah padaku,” kata Indri, membuat Sean kesal saja.


“Sean!” terdengar Sam memanggilnya. Sean menoleh pada Sam yang menghampirinya.


“Kau pulang kerumah kontrakan?”tanya Sam, padahal rumah itu sudah dibeli Sean, dia masih menyebutnya rumah kontrakan.

__ADS_1


“Iya, aku mengajak Lorena pulang bersama,” kata Sean. Lalu dia teringat sesuau, diapun menoleh pada Indri.


“Hei, kau ikut Sam saja, jangan ikut denganku, aku tidak mau diganggu!” kata Sean pada Indri dengan ketus.


Mendengar perkataan Sean, Sam jadi terkejut.


Indri begitu sumringah, dia tidak masalah semobil dengan Sam juga apalagi berdua duaan.


Sam menoleh pada Indri, gadis itu terlihat sumringah bersemangat.


“Mm tidak, tidak, aku ada urusan yang lain, aku sendiri saja,” kata Sam buru-buru meninggalkan tempat itu.


Indri langsung mengejarnya.


“Presdir Samuel! Aku ikut! Aku numpang mobilmu! Disini susah mencari taxi,mobilku sedang di bengkel!” teriak Indri, berlari mengejar Sam.


Sean bernafas lega, akhirnya Indri sudah pergi, diapun menoleh kearah Lorena.


“Ayo kita pulang,” ajak Sean.


“Ayo!” ajak Sean, tangannya mengulur kearah Lorena.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Aku yang membawa tasmu,” jawab Sean.


Lorena tersenyum, diapun memberikan ranselnya yang langsung dibawa oleh Sean.


“Terimakasih,” ucap Lorena, merekapun berjalan menuju parkiran.


Sepasang mata yang baru keluar dari tenda itu memperhatikan mereka.


Bela juga keluar dari tenda itu sambil membawa ranselnya.


Dia melihat kearah Nisa lalu pada Sean dan Lorena yang berjalan bersama.


“Kau lihat mereka?” tanya Bela.


“Ya, gadis itu akan patah hati saat tahu aku yang akan menang di kontes itu,” jawab Nisa.


“Tapi Nis, apa menurutmu gadis itu tahu kalau Sean Joris adalah presdir yang sesungguhnya? Sebenarnya dia yang mencari calon istri?” tanya Bela.


“Aku tidak tahu, kita cari tahu nanti. Bisa saja sebenarnya dia juga tahu, masa dia ikut kontes yang didekati Sean, bukan Sam, iya kan?” jawab Nisa.


“Tapi sepertinya kau tidak akan mudah mengalahkannya, dia sangat cantik,” kata Bela.


Nisa langsung memasang wajah masan dan menoleh pada Bela, menatapnya dengan tajam.


“Maaf, maksudku kalau dibandingkan denganmu, kau lebih cantik,” ralat Bela, dia tidak mau temannya itu marah, bisa habis dia diomelinya dan bisa-bisa dikeluarkan dari gengnya.


Kadang dalam hatinya Bela merasa bingung, kenapa dia berteman dengan Nisa? gadis itu sebenarnya sangat congkak, hanya saja berteman dengan Nisa, jadi membawanya ikut populer disekolah kerena banyak pria yang menyukai Nisa.

__ADS_1


*************


__ADS_2