
Earlangga menatap Valerie.
“Kau sangat mirip dengan gadis grabfood itu, tapi tentu saja berbeda karena gadis grabfoofd itu terlihat sedikit bodoh,” kata Earlangga, membuat Valerie terbelalak kaget, pria itu menjelekkannya.
“Kau bisa memeriksaku,” kata Earlangga pada Dokter Egi.
Valerie mencibir, dasar orang kaya ngomong seenak jidatnya saja.
Earlangga naik ke tempat tidur dan berbaring. Dokter Egi menoleh pada Valerie yang mengeluarkan catatan pemeriksaan pasien lalu mendekati Earlangga akan memeriksa tensinya.
Eralangga mengulurkan tangannya yang langusng di tensi oleh Valerie.
“Kau sangat mirip dengan gadis grabfood itu,” ucap Earlangga. Valerie tidak menjawab, masa pria itu tidak bisa memebdakan kalau dia gadis grabfood itu? Diapun mengerjakan pekerjaannya, lalu mengisi form yang dia bawa tadi dan berdiri tidak jauh dari Dokter Egi.
“Bagaimana dengan makannya, apa ada yang menyebabkan alergi?” tanya Dokter Egi.
“Tidak, hanya makanannya sangat aneh,” jawab Earlangga. Valeri mencibir dalam hati pria ini benar-benar sok, makan khas tanah kelahiranya saja dibilang aneh, lama kelamaan pria ini semakin belagu saja.
Dokter Egi memeriksa kulit tangan Earlangga yang memerah.
“Kau hanya tidak terbiasa dengan iklim disini, kalau lama tinggal disini nanti juga tubuhmu akan bisa beradaptasi,” kata Dokter Egi.
Earlangga mengangguk.
“Kau juga demam,” kata Dokter Egi.
“Aku kehujanan,” jawab Earlangga.
“Sedikit flu juga,” lanjut Dokter Egi.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Lewat telpon kau tidak memberitahu kalau kau juga demam, jadi aku tidak membawa persediaan obat itu, nanti Valerie yang akan mengantarkannya kemari,” kata Dokter egi.
Valerie menoleh pada Dokter Egi.
“Nanti kau antarkan beberapa resep obat yang ada di klinik,” kata Dokter Egi.
“Baik Dok,” jawab Valerie.
Earlangga hanya diam saja.
“Untuk menghentikan ruam kulit ini, aku sudah menyiapkan obat suntik,” kata Dokter Egi.
Begitu mendengar suntik, Earlangga langsung berseru dan bangun.
“Tidak, tidak, aku tidak mau disuntik!” teriaknya.
“Kenapa?” tanya Dokter Egi, kebingungan menatap Earlangga yang kini berubah pucat.
“Aku takut jarum suntik,” jawab Earlangga.
Mendengarnya hampir saja Valerie terkikik, dia segera menutup mulutnya.
“Eh kenapa kau menertawakanku?” hardik Earlangga pada Valerie.
__ADS_1
“Maaf,” ucap Valerie, mencoba untuk tidak tertawa, ternyata pria ini pobia jarum suntik.
“Pakai obat lain saja, jangan disuntik,” kata Earlangga.
“Tapi efek yang cepat lewat suntiknya,” ucap Dokter Egi.
“Bener begitu?” tanya Earlangga. Dilihatnya Valerie menyiapkan jarum suntik, dia sudah meringis saja melihatnya.
“Tidak akan terasa, seperti digigit semut,” kata Valerie mengacungkan jarum suntiknya, rasanya puas melihat pria yang mengatainya bodoh itu tampak pucat melihat jarum suntik.
“Apa aku memang harus disuntik?” tanya Earlangga.
“Kalau tidak, ruam-ruam itu akan kembali muncul,” kata Dokter Egi.
“Baiklah, tapi pelan-pean saja,” pinta Earlangga, dengan keringat mulai membasahi keningingnya, membuat Valerie ingin tertawa, pria jutek itu takut disuntik.
Valerie mendekati Earlangga akan meraih tangan kiri pria itu tapi Earlangga mengulurkan tangan kirinya.
“Kau menyuntiknya ditangan kiri saja, aku tidak mau tangan kananku pegal,” ucapnya.
“Baik Pak,” jawab Valerie, pasiennya benar-benar rewel, mau disuntik saja milih milih. Terpaksa Valerie duduk di tempat tidur berhadapan dengan Earlangga yang mengulurkan tangan kirinya, wajah tampannya terlihat semakin pucat saja.
Valerie menggulung lengan kaos Earlangga lalu menyiapkan jarum suntik. Hanya melihat jarum itu saja sudah membuat pria itu meringis, tangan kanannya tiba-tiba memeluk punggungnya Valerie.
“Sudah?” tanyanya, sambil memejamkan matanya.
“Belum,” jawab Valerie.
“Kenapa lama sekali?” keluh Earlangga. Dia merasakan Valerie mengusap-usap kuitnya dengan sesuatu yang terasa dingin.
“Benar-benar seperti anak-anak,” batin Valerie, mulai akan menyuntikkan jarum suntik itu.
“Tahan nafas,” ucap Valerie, mendengar aba-aba itu semakin membuat Earlangga takut saja, dia semakin menguatkan pelukannya.
“Awas ya kalau terasa sakit, aku tidak mau kau bekerja untukku lagi,” kata Earlangga pada Valerie.
“Tidak akan sakit. Tahan nafas,” ucap Valerie.
Earlanggapun menahan nafas, tapi hidungnya mencium sesuatu. Bau parfum, dia merasa pernah mencium bau parfum itu. Siapa yang suka memakai parfum seperti itu? Diapun tertegun, bau parfum itu seperti bau parfum gadis itu, gadis yang dia peluk dan dia cium malam itu, Earlangga terdiam. Apa Valerie gadis itu? Tapi parfum tidak satu orang yang memakainya, pasti banyak gadis yang juga memakai parfum itu.
“Sudah Pak,” ucap Valerie, karena Earlangga malah memeluknya terus.
“Sudah?” tanya Earlangga, gara-gara bau parfum itu dia tidak merasakan saat disuntik, diapun melepaskan pelukannya perlahan, matanya menatap Valerie. Menatap wajah itu begitu dekat. Mencoba mengingat-ingat Dalam hati bertanya-tanya apakah dia gadis itu?
Earlangga sudah mencoba melupakan kejadian itu gara-gara mencium wangi parfum itu dia jadi teringat kembali, sangat disayangkan dia lupa wajah gadis itu, sepertinya butuh waktu lama untuk mengumpulkan ingatannya tetang wajah gadis itu, karena dia benar-benar tidak sadar melakukannya.
Ditatapnya wajah yang didekatnya itu, dalam benaknya muncul pertanyaan bagaimana jika suatu hari dia bertemu dengan gadis itu, apa yang akan dilakukannya?
Valerie jadi gugup saat menyadari kalau pria itu malah menatapnya begitu dekat. Buat apa Presdir sombong itu menatapnya begitu lama? Valerie buru-buru bangun untuk menghilangkan rasa gugupnya, diapun merapihkan peralatan kesehatannya.
Earlangga masih memperhatikannya. Bagaimana jika gadis itu hanya gadis biasa? Bukan putri dari pengusaha kaya atau kalangan elit lainnya?
“Untuk obatnya nanti perawat saya akan mengantarnya,” kata Dokter Egi, membuyarkan lamunan Earlangga.
“Baiklah,” jawab Earlangga, kini berubah pendiam, Valerie juga tidak tahu kenapa, apa mungkin karena sudah di suntik mulutnya jadi diam? Mungkin saat nanti dia memberika baju itu dia harus menyiapkan jarum suntik juga biar mulutnya tidak cerewet dan tidak menyuruhnya mencuci bajunya lagi.
__ADS_1
Saat Dokter Egi pamitan juga tidak banyak kata yang diucapkan Earlangga, gara-gara parfum itu membuat suasana hati Earlangga jadi tidak mood.
“Kita akan kemana lagi?” tanya Valerie pada Dokter Egi.
“Kita langsung ke pasien berikutnya saja sambil lewat terus kembali ke klinik, kau antarkan obatnya untuk Pak Earlangga ya,” jawab Dokter Egi.
“Baik Dok,” jawab Valerie. Merekapun meninggalkan rumah itu.
Setelah memeriksa pasien berikutnya di rumahnya, Valerie kambali ke klinik menyiapkan beberapa obat yang tertinggal dan mengantarkannya ke rumah Earlangga sekalian dia pulang.
“Kau datang lagi?” tanya Pak Sobri saat Valerie sudah ada didepan pintu.
“Aku membawa obat buat Pak Earlangga,” jawab Valerie, menunjukkan kantong yang berisi obat.
“Pak Earlangga sudah tidur dan tidak mau diganggu,” jawab Pak Sobri.
“Tidak apa-apa, berikan saja, didalamnya sudah tertulis berapa kali dia harus meminumnya,” kata Valerie.
“Baik,” jawab Pak Sobri.
“Saya permisi Pak,” kata Valerie lalu meninggalkan tempat itu sedangkan Pak Sobri kembali menutup pintunya.
Valerie kembali pulang ke rumah, Bu Asni belum tidur, di sedang menonton televisi.
“Kau baru pulang?” tanya Bu Asni.
“Iya Bu, aku sudah membantu Dokter Egi memeriksa pasien langsung ke rumah pasien,” jawab Valerie.
“Dan ternyata pasiennya Dokter Egi itu peghuni rumah sebelah,” kata Valerie, membuat Bu Asni menatapnya.
“Rumah sebelah?” tanya Bu Asni.
“Iya, Pak Earlangga,” jawab Valerie.
“Kenapa dengan Pak Earlangga?” tanya Bu Asni.
“Dia belum terbiasa dengan iklim disini dia mengalami ruam- ruam di kulitnya juga sedikit demam dan flu,” jawab Valerie, sambil duduk di sofa dekat Bu Asni.
“Pak Earlangga demam sekarang?” tanya Bu Asni.
“Iya,” jawab Valerie.
Bu Asni langsung bangun.
“Mau kemana Bu?” tanya Valerie.
“Menyiapkan sup buat Pak Earlangga, kau kan perawatnya, bisa bantu memastikan Pak Earlangga memakan supnya? Kasihan dia sendirian dirumah, orang tuanya sedang keluar negeri,” jawab Bu Asni.
“Dia sangat manja,” jawab Valerie.
“Pak Earlangga itu memang dari bayi tinggal diluar negeri, dia baru kesini beberapa hari yang lalu, jadi tubuhnya memang belum terbiasa iklim disini,” kata Bu Asni, sambil beranjak dari ruangan itu diikuti Valerie.
Mereka berdua menuju rumah megah itu lewat pintu samping komplek ternyata ada pintu kecil untuk para pekerja masuk ke rumah itu.
***********
__ADS_1