Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-107 Dimana Istriku (part 2)


__ADS_3

Sam menatap Pak Tedi dengan tajam.


“Tidak perlu basa-basi. Katakan apa yang kau inginkan?” tanya Sam, membuat Pak Tedi kembali tertawa.


“Apa yang aku inginkan? Haa..ha,, tentu saja aku ingin bebas dari penjara ini,” jawaban Pak Tedi.


Mendengar jawaban Pak Tedi membuat Sean kembali naik pitam, dia langsung  mendekat.


“Kau ingin bebas? Dangan apa yang kau lakukan kau akan mendekam dipenjara seumur hidup!” bentak Sean.


Sam langsung memalangkan tangannya menahan Sean supaya tidak bersikap anarkis.


Pak Tedi kembali tertawa.


“Aku hanya menjawab apa yang dia tanyakan,” jawab Pak Tedi.


“Katakan dimana Lorena?” tanya Sam.


Pak Tedi menggaruk-garuk kepalanya.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” jawab Pak Tedi.


“Tidak perlu berbohong lagi! Kita akui kau menang sekarang. Katakan dimana Lorena dan kau mendapatkan apa yang kau mau!” kata Sam.


Sean langsung menoleh pada Sam.


“Apa maksudmu? Aku tidak mau mengeluarkan dia dari penjara!” teriak Sean.


Sam mengangkat tangannya kearah Sean memberi kode supaya Sean tenang.


Pak Tedi tampak berfikir-fikir lalu menatap Sam, kemudian pada Sean.


“Aku didalam penjara, bagaimana bisa aku melakukan penculikan?” tanya Pak Tedi.


“Sudahlah tidak perlu berbohong. Kau ingin uang? Berapa uang yang kau inginkan? Keluargamu kesulitan uang kan sekarang? Kami akan memberikannya asal kau kembalikan Lorena dengan selamat!” kata Sam.


Pak Tedi tampak terdiam lagi dan berfikir-fikir.


“Tawaran yang menggiurkan!” kata Pak Tedi.


“Katakan, berapa uang yang kau mau?” tanya Sam.


“Akan aku fikirkan,” jawab Pak Tedi.


“Kenapa kau harus berfikir lagi? Katakan dimana istriku?” teriak Sean sudah tidak sabar. Dia sangat mengkhawatirkan istrinya, apalagi istrinya sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan, hatinya semakin cemas dengan keadaan Lorena dan bayinya.


Pak Tedi malah tertawa lagi, dia terlihat sangat senang melihat Sean semakin frustasi.

__ADS_1


“Jadi benar kau yang merencanakan semua ini?” tanya Sean.


Pak Tedi kembali menggaruk-garuk kepalanya, membuat Sean semakin sebal saja melihatnya.


“Menurutmu?” tanya Pak Tedi, semakin membuat Sean tidak bisa menahan marahnya, dia kembali mendekati Pak Tedi akan memukulnya.


“Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh istriku!” teriaknya, dan langsung menghantamkan tangannya memukul Pak Tedi yang tampak terkejut dengan reaksi Sean dan tidak sempat menangkis membuat Pak Tedi oleng dan terjatuh dari kursi.


Sam langsung menarik tangan Sean.


“Sean, tenanglah!” teriak Sam.


Mendengar suara ribut-ribut, seorang polisi masuk kedalam ruangan.


“Ada apa ini?” tanya Pak Polisi.


“Tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja,” jawab Sam.


“Jangan membuat keributan! Waktu kalian hampir habis,” kata Pak Polisi itu.


“Iya terimakasih,” jawab Sam. Pak polisi itu keluar lagi dari ruangan itu.


Pak Tedi kembali duduk di kursinya dan memegang bibirnya yang ternyata berdarah karena dipukul oleh Sean.


Sam menatap Pak Tedi lagi.


Mendengar perkataan dari Sam membuat Pak Tedi kesal, dia kesal karena Sam mengancam keberadaan putrinya, diapun bangun dan menendang kursi dengan kakinya sampai kursi itu terjungkal ke lantai.


Sam mengendarai mobilnya kembali pulang ke rumah, karena kondisi Sean tdiak memungkinkan untuk kembali ke kantor.


Saat turun dari mobilnya, Sean menatap halaman rumahnya yang seperti biasa selalu sepi. Dalam bayangannya melihat istrinya yang berjalan-jalan sambil memegang perut besarnya dan menatapnya sambil tersenyum. Bayangan itu membuat hatinya sangat sedih, dia sangat mengkhawatirkan istri dan anaknya.


“Ayo kita bicara didalam!” ajak Sam, tanpa bicara lagi Sean mengikuti langkah Sam dengan lesu. Baru juga masuk keruang tamu, dia sudah di hampiri ibunya.


“Sean! Apa yang terjadi? Apa benar Lorena diculik?” tanya Ny.Grace dengan wajah pucat.


“Iya,” jawab Sean.


“Kenapa bisa sampai terjadi hal seperti itu? Siapa yang melakukannya?” tanya Ny.Grace.


“Aku mencurigai Pak Tedi yang melakukannya!” jawab Sean, menatap wajah ibunya yang terlihat cemas.


“Pak Tedi? Bukankah dia masih dipenjara?” tanya Ny.Grace.


“Dia masih dipenjara tapi dia bisa saja menyuruh orang untuk melakukannya!” jawab Sean.


“Kenapa Pak Tedi bisa melakukan itu? Semua gara-gara kamu sendiri!” kata Ny.Grace malah menyalahkn Sean. Mendapat ibunya menyalahkannya membuat Sean menatap ibunya dengan tajam.

__ADS_1


“Kenapa ibu menyalahkan aku?” tanya Sean.


“Tentu saja salahmu, coba kalau kau dari awal menurut kata ibu, menikah dengan Nisa, semua ini tidak akan terjadi,” kata Ny.Grace.


“Bu, siapa Pak Tedi? Kenapa aku harus menuruti kemauannya? Buat apa aku menikah dengan Nisa kalau istriku juga bisa memberiku keturunan?” tanya Sean, kesal pada ibunya.


“Tentu saja jadinya dia merasa sakit hati dan melakukan kejahatan lagi,” jawab Ny,Grace.


“Sudahlah aku tidak mau berdebat!” kata Sean.


“Kita harus menemukan istrimu! Aku tidak mau kehilangan cucuku!” kata Ny.Grace.


“Aku sudah menemui Pak Tedi, aku yakin dia yang melakukannya,” ucap Sean, lalu meninggalkan ibunya yang terduduk dengan lesu di sofa ruang tamu itu.


Sean menoleh pada Sam yang dari tadi masih berdiri mendengarkan percakapan Sean dengan ibunya.


“Ayo Sam!” ajak Sean, sambil melangkah meninggalkan ibunya. Sam mengangguk dan mengikutinya.


Sean memasuki ruang kerjanya bersama Sam. Dia mengambil minum yang sudah tersedia diatas meja kerjanya. Dia merasakan haus yang amat sangat, dia benar-benar gelisah.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Sean, menghabiskan minumannya.


“Kita tanyakan pada ayahku, mungkin tau siapa yang biasanya bermain seperti ini, mungkin ayahku tahu orang-orang yang biasa terlibat didunia hitam,” jawab Sam, yang langsung mendapat anggukan dari Sean.


Sam langsung menelpon Pak Deni.


Terdengar ketukan dipintu yang terbuka membuat Sean menoleh, disana ada supirnya yang tadi berdiri sambil memegang tasnya Lorena.


“Tasnya ibu yang tertinggal di mobil,” kata Pak Supir, lalu mendekati Sean memberikan tas itu yang langsung diterima Sean. Pak Supir itupun kembali keluar dari ruang kerjanya.


Hati Sean semakin terasa kacau saja, berarti dia tidak akan bisa menghubungi Lorena karena pasti ponselnya ada di dalam tasnya itu. Dibukanya tasnya itu dan benar saja, ponsel, dompet, semua ada disana, jadi benar modus penculikan ini bukan perampokan biasa karena barang-barang berharga masih ada di dalam tas.


“Aku sudah menelpon ayahku. Ayahku akan mencarikan data-datanya,” jawab Sam.


“Cari tahu kalau misalkan Pak Tedi menyuruh orang bayaran, kira-kira siapa yang bisa dia bayar, kita bisa membayarnya 10 x lipat dari yang Pak Tedi berikan asal istriku dikembalikan!” kata Sean.


“Aku sudah mengatakan itu,” jawab Sam.


Sean duduk di sofa dengan lesu. Dia tidak menyangka kalau soal warisan dari kakeknya itu akan menjadi boomerang pada dirinya terutama Lorena dan anaknya yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan semua ini.


Dia merasa bersalah sudah membuat Lorena dan anaknya menjadi korban. Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi hal buruk menimpa mereka, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya.


***********


Jangan lupa like di tiap bab


**********

__ADS_1


__ADS_2