
Sean dan Earlangga masih menunggu Ny.Grace menghubungi Darren. Tapi tetap saja ponselnya Darren tidak bisa dihubungi.
“Ibu, Ibu yakin tidak menyembunyikan hal lainnya pada kami?” tanya Sean.
“Tidak, aku tidak menyembunyikan apa-apa,” jawab Ny.Grace.
“Ibu tidak sedang berbohongkan?” tanya Sean.
“Tidak, Ibu tidak tahu pria itu membawa Valerie kemana, “ jawab Ny.Grace.
“Aku tidak menyangka Ibu setega itu pada Earlangga,” keluh Sean.
Earlangga tidak bicara apa-apa lagi, sekarang sepertinya Neneknya tidak berbohong, dia benar-benar tidak tahu keberadaannya Darren. Kalau sudah begini harus bagaimana?
***********
Di jalanan…
Darren mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
“Darren, turunkan aku! Aku tidak mau ikut denganmu!” ucap Valerie.
“Sudah janga cerewet!” jawab Darren.
“Aku ingin tahu siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?” tanya Valerie lagi.
“Tidak ada yang menyuruhku, memang aku yang bersamamu malam itu,” jawab Darren.
“Kau masih saja berbohong! Aku sudah yakin kalau pria itu Earlangga!” jawab Valerie.
“Kau merasa yain karena keinginanmu sendiri, karena dia pria yang tampan dan juga kaya, kau tidak mau menerima kenyataan yang sebenanrya, “ ucap Darren, masih saja berkilah, membuat Valerie kesal.
“Pokoknya lepaskan aku!” teriak Valerie.
“Tidak akan, cerewet!” umpat Darren. Dia akan segera menelpon Ny.Grace, dia memikirkan kira-kira berapa uang yang akan dia minta pada Neneknya Earlangga itu.
Darren segera meraih ponselnya dan mengurangi kecepatan mobilnya, bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi, diapun langsung menerimanya.
“Bos gawat! Polisi mengejar kita!” terndengar suara yang bicara di sebrang.
“Polisi?” tanya Darren.
“Iya Bos, orang-orang yang dirumah sakit itu melaporkan kita ke polisi!” jawab orang itu lagi.
Darren melirik kaca spionnya, ternyata selain anak buahnya yang mengikutinya ternyata ada mobil polisi yang membuntuti mereka.
“Sialan!” umpatnya, sambil menambah kecepatan mobilnya. Tapi kemudian terdengar ponselnya berbunyi.
“Ada apa lagi sih?” gerutunya dan kembali mengangkat telponnya.
“Ada apa?” bentaknya pada si penelpon.
“Bos! Polisi mencarimu!” teriak si penelpon.
__ADS_1
“Bos! Sementara waktu kau jangan muncul di club!” kata sipenelpon lagi.
“Polisi sedang melacakmu!” lanjut si penelpon.
“Benar-benar apes!” gerutu Darren, sambil mematikan ponselnya.
Terdengar lagi suara ponselnya berbunyi.
“Apa lagi?” bentaknya.
“Bos, berpencar Bos!” teriak suara penelpon.
Darren langsung melirik ke spion, ternyata sudah ada dua mobil polisi mengikuti mereka.
“Benar-benar sialan ini!” gerutunya, lalu membuka kaca jendela dan langsung melempar ponselnya ke jalanan.
“Apa yang terjadi?” tanya Valerie.
“Diam kau! Berisik!” maki Darren, seketika langsung menancap gas mobilnya pergi menjauh, sampai Valerie terkejut saking kencangnya.
Valerie melihat ke kaca spion, mobilnya temannya Darren ternyata berbelok ke sebelah kiri kemudian mobil polisi langsung mengejarnya.
“Darren sebaiknya kau menyerah saja!” teriak Valerie.
“Diam kau! Jangan ikut campur urusanku!” maki Darren.
“Aku yakin polisi akan menangkapmu!” kata Valerie.
“Kau tidak bisa diam ya?” maki Darren lagi, semakin kencang menancap gas menjauh dari kejaran polisi itu dengan kencang, menyalip-nyalip mobil lain seenaknya.
Diapun keluar dari mobilnya, berjalan memutar kemudian membuka pitu mobil Valerie lalu menarik tangan wanita hamil itu dengan keras.
“Turun!” perintahnya.
“Darren kita akan kemana?” tanya Valerie.
“Kau cerewet, kau ikut saja,” jawab Darren.
Valerie tidak bicara lagi. Dia ingat Earlangga pasti akan mencarinya, pria itu berjanji akan membebaskannya.
Darren membawanya menaiki taxi yang sedang parkir di pinggir jalan dan menyebutkan sebuah bengkel mobil pada supir taxinya. Valerie mencari-cari celah untuk kabur dari pria ini, tapi Darren terus saja memegang tangannya dengan kuat.
Setiba dari bengkel itu, Darren membawa Valerie naik sebuah mobil bekas.
“Darren, kita mau kemana? Kau tidak benar-benar mengajakku kabur kan? Polisi sedang mencarimu!” kata Valerie. Hatinya semakin gelisah saja melihat kelakuan Darren, dia takut Darren membawanya jauh sampai Earlangga tidak bisa menemukannya.
“Sudah aku bilang diam, diam! Terus saja bicara! Berisik!” bentak Darren. Dia sedang pusing karena polisi sudah mulai mencarinya, dan wanita disampingnya malah cerewet saja bicara.
Pria itu kembali menjalankan mobilnya dengan cepat.
Perjalanan mereka sangat jauh keluar kota, Valerie tidak tahu kemana arah tujuannya Darren. Hingga pria itu menghentikan mobilnya disebuah rumah yang terpencil.
“Turun!” perintah Darren, sambil turun dari mobilnya.
__ADS_1
“Kita ada dimana?” tanya Valerie.
“Aku bilang turun! Turun! Atau aku menyumpal mulutmu!” bentak Darren.
Dengan terpaksa Valerie turun dari mobil itu. Dilihatnya kesekitarnya. Disini lebih mirip perumahan tapi dengan lokasi antara satu rumah dengan rumah lainnya sangat berjauhan, seperti villa. Entah rumah siapa ini?
“Ini rumah siapa?” tanya Valerie.
Darren tidak menjawab, dia langsung menarik tangan Valerie supaya masuk ke rumah itu, yang lebih mirip sebuah villa.
“Ini rumah siapa?” ulang Valerie.
“Kau tidak perlu tahu!” bentak Darren, sambil mendorong tubuhnya Valerie supaya masuk ke dalam rumah itu.
Hampir saja dia terjatuh karena dorongan keras itu, Valerie segera berpegangan pada dinding rumah itu. Dilihatnya Darren menutup pintu rumah itu dan menguncinya lalu kunci itu dimasukkan ke dalam sakunya.
Valerie melihat sikap pria itu yang tampak gelisah mondar mandir diruangan itu, lalu menghentikan langkahnya dan menatap Valerie dari atas sampai bawah.
“Polisi sedang mencarimu, sebaiknya kau menyerah saja,” kata Valerie.
Darren tidak menjawab, dia langsaung menarik tangan Valerie dibawanya masuk kesebuah pintu yang ternyata sebuah kamar.
“Buka bajumu!” perintah Darren, membuat Valerie terkejut dan berjalan mundur menjauh dari Darren.
“Darren, apa yang akan kau lakukan?” bentak Valerie, dia takut Darren akan berbuat tidak senonoh padanya.
“Aku sedang hamil!” ucap Valerie.
“Heh, aku tidak bernafsu pada wanita hamil!” bentak Darren, meskipun sebuah makian tapi jawaban itu sangat menenangkan, artinya Darren tidak akan menyentuhnya.
“Ganti baju rumah sakit itu!” kata Darren, sambil membuka sebuah pintu lemari pakaian. Diambilnya sebuah gaun dari dalam lemari itu lalu dilemparkan ke wajahnya Valerie.
“Pakai! Itu baju satu-satunya dirumah ini! Aku tidak mau baju rumah sakit itu menyita perhatian orang,” kata Daren.
Valerie melihat baju yang sedang dipegangnya itu.
“Darren, bajunya terkalu kecil, aku sedang hamil,” ucap Valerie.
“Pakai saja!” perintah Darren, tanpa bicara banyak dia keluar dari kamar itu.
Valerie melihat baju yang sedang dipegangnya itu.
“Baju siapa ini?” gumamnya dengan kebingungan.
Valeriepun akhirnya terpaksa memakai gaun itu. Meskipun membutnya terasa pengap diperutnya, tapi cukuplah untuk ukuran badannya, hanya saja perutnya semakin kentara membulat.
Dilihatnya cermin didalam kamar itu, lalu mengusap perutnya dan tersenyum. Senyum pertama selama dibawa pergi oleh Darren. Dia merasa bahagia karena ternyata bayinya adalah bayinya Earlangga, meskipun cara membuatnya hamil sangat tidak pantas.
“Sayang, ternyata dia ayahmu,” ucapnya, sambil mengusap perutnya.
“Kau sabar ya, ibu yakin sebentar lagi ayahmu pasti akan membebaskan kita,” gumamnya lagi, kembali mengusap perutnya.
Terdengar suara pintu kamar dibuka, membuat Valerie terkejut dan melangkah mundur menjauh dari pintu itu.
__ADS_1
Darren muncul dari pintu yang terbuka itu, dia terkejut saat melihat Valerie menggunakan gaun itu yang sebenarnya lumayan ketat dan memperlihatkan perutnya yang gendut. Dia baru menyadari kalau wanita hamil bisa terlihat sangat cantik dengan perut gendutnya.
************