
Nisa kembali kerumah dengan beberapa tetangga yang mau membantunya mengurus pemakamannya Pak Tedi. Jeni sama sekali tidak turun-turun dari kamarnya, membuat Nisa kesal saja. Tapi karena darurat, pemakaman Pak Tedi diserahkan pada tetangga yang biasa mengurus pemakaman.
Pada saat jenazah Pak Tedi akan dibawa ke pemakaman, Nisa menuju kamarnya Jeni, memanggil-manggilnya beberapa kali.
“Jeni! Jeni! Kau ikut ke pemakaman tidak?” teriaknya.
Tidak ada yang menyahut dari dalam.
“Jeni!” panggil Nisa.
“Nyonya, hari sudah gelap, kita harus segera menguburkannya!” terdengar seseorang bicara dibawah.
“Ya sebentar!” jawab Nisa, diapun segera ke kamarnya Jeni mengetuknya berkali-kali. Karena tidak ada balasan, dia membuka pintu itu.
Dilihatnya Jeni sedang berbaring.
“Kau ini, mau ikut tidak?” tanyanya. Tapi Jeni tidak menjawab.
Akhirnya Nisa kembali menutup pintunya. Biarlah Jeni tidak usah ikut saja, fikirnya, diapun kembali menuruni tangga menemui orang-orang yang membantu memakamkan Jenazahnya Pak Tedi. Nisapun pergi ke pemakaman tanpa Jeni.
Hari sudah gelap saat Nisa kembali ke rumah. Tidak ada satupaun lampu yang menyala di rumah itu, begitu gelap gulita.
Nisa teus menggerutu karena Jeni tidak menyalakan lampu.
“Anak itu benar-benar keterlaluan!” gerutunya, sambil menyalakan lampu-lampu. Semua pekerja di rumah ini sudah meninggalkan rumahnya, hanya tinggal dia berdua dengan Jeni.
“Jeni! Jeni!” panggilnya, tidak ada yang menjawab.
“Anak itu masa tidur tidak bangun bangun?” gerutunya.
Nisa pun segera ke kamarnya Jeni.
“Jeni! Bangun! Sudah malam!” panggil Nisa, sambil mendorong pintu kamarnya Jeni.
Dilihatnya Jeni masih berbaring seperti tadi. Diapun mengerutkan keningnya, masa Jeni dari tadi tidur seperti itu tidak berubah rubah? Diapun berjalan mendekat.
“Jeni! Kenapa kau tidur seperti orang mati?” keluh Nisa, lalu berjalan mendekati tempat tidur Jeni. Setelah dekat, dia terkejut melihat keki Jeni berlumuran darah membasahi spreinya.
“Jeni! Jeni!” teriaaknya dengan histeris,lalu membalikkan tubuhnya Jeni yang sudah tidak sadarkan diri.
Nisa melihat roknya Jeni sudah bersimbah darah. Dia benar-benar shock, dia sangat panic.
“Jeni! Bangun ,Jeni! Apa yang terjadi? Kenapa kau begini?” teriaknya histeris.
Dilihatnya sekeliling kamar, dilihatnya diatas meja ada botol untuk menggugurkan kandungan itu. Diapun segera mendekati meja itu. Dengan tengan yang gemetaran mengambil botol itu, dia sangat terkejut karena Jeni meminum habis isi botol itu.
“Jeniii!” teriaknya histeris. Lalu menoleh pada putrinya yang tergeletak tak berdaya.
Dengan susah payah Nisa mengangkat tubuhnya Jeni yang berat, dengan airmata yang langsung tumpah membasahi pipinya.
“Jeni sayang, bangun nak, bertahanlah!” ucap Nisa dengan suara yang serak. Dengan langkah berat dia keluar dari kamarnya Jeni, membawa Jeni kedalam mobilnya.
Setelah itu diapun segera membawa mobilnya menuju rumah sakit. Tidak dipedulikannya pintu rumah yang tidak ditutupnya lagi.
Sesampainya di rumah sakit, dia berteriak teriak pada satmpan rumah sakit untuk membantunya membawa Jeni masuk rumah sakit untuk segera di periksa.
Nisa menunggu diruang tunggu dengan gelisah. Jeni sedang ada diruangan itu ditangani Dokter. Dia terus saja menangis, khawatir terjadi hal buruk pada Jeni.
Terdengar suara pintu ruangan itu terbuka.
“Bagaimana Dok? Bagaimana dengan putriku?” tanya Nisa.
Dokter menatapnya.
“Apa anda tahu kalau putri anda sedang hamil?” Dokter malah bertanya balik.
“Iya Dok,” jawab Nisa.
“Pasien mencoba menggugurkan kandungannya dengan minum ramuan berbahaya,” lanjut Dokter.
“Jadi bagaimana keadaan putri saya Dok?” tanya Nisa, dia memang sudah menduga melihat botol itu kosong diatas meja.
“Maaf, pasien mengalami pendarahan heabat, nyawanya tidak bisa tertolong,” jawab Dokter.
Mendengarnya sontak membuat Nisa langsung menjerit histeris, dia langsung masuk keruangan itu menghampiri tubuhnya Jeni yang terbaring tidak bernyawa.
“Jeni! Jeni! Bangun Jeni!” teriaknya, sambil memeluk tubuhnya Jeni.
“Ibu minta maaf, semua salah ibu, ibu minta maaf!” Teriaknya lagi. Terus menangisi kepergiannya Jeni untuk selama lamanya.
Dilihatnya wajah pucat itu dengan bibir yang membiru, Nisa terus menciuminya sambil berlinang airmata.
“Jeni, bangun Jeni, kau harus hidup,” ucapnya disela isaknya.
Tapi mau bagaiamanapun Nisa memohon Jeni sudah meninggal dan tidak bisa hidup kembali. Diapun terduudk lemas di kursi, gelisah merasa linglung melihat tubuh Jeni yang kaku.
__ADS_1
Obat itu ternyata sangat ganas dan berbahaya, obat yang dulu pernah dia berikan pada Lorena. Seandainya Lorena juga memakan semua rujak yang sudah di berinya ramuan itu , mungkin Lorena juga bukan hanya kehilangan bayinya saja tapi nyawanya. Tapi niat buruknya terlahang kerena ada Indri, dan kini malah putrinya meninggal karena minum obat itu.
Nisa terus menerus menangis. Jiwanya terasa begitu hampa, hidupnya begitu tidak ada artinya. Jiwa sombongnyaa seketika mati dalam skejap, dia hanya manusia biasa yang tidak bisa apa-apa.
Ditatapnya Jeni yang masih berbaring itu, diapun bangun dan meninggalkan ruangan itu. Mengendarai mobilnya dengan fikirannya yang kacau, menyusuri jalan raya dengan hati yang porak poranda.
***
Di rumahnya Sean..
Semua anggota keluarga sedang berkumpul diruang keluarga duduk bersantai sambil bercanda dengan baby Al.
Sean duduk disebelah istrinya yang duduk bersandar didadanya. Merasa senang melihat Earlangga bisa berkumpul kembali dengan Valerie dan buah hatinya.
Ny.Grace tampak duduk sambil membuka-buka tabloid meskipun televise menyala.
Terdengar suara mobil memasuki pekarangan dan berhenti di teras.
“Ada tamu siapa malam-malam begini,” gumam Sean.
Terdengar suara pintu dibuka lalu tidak berapa lama langkah kakinya Pak Sobri mendekati ruangan itu.
“Bu Lorena, ada tamu,” kata Pak Sobri.
Lorena yang sedang bersantai dipeluk suaminya merubah duduknya jadi tegak dan menatap Pak Sobri.
“Tamu siapa?” tanyanya.
“Bu Nisa,” jawab Pak Sobri membuat Lorena terkejut begitu juga dengan yang lain.
Semua menatap Pak Sobri.
“Ada apa Nisa kemari?” tanya Lorena menoleh pada Sean.
Ny.Grace segera menyimpan tabloidnya.
“Usir saja!” kata Ny.Grace.
“Tidak perlu Bu, aku ingin tahu dia mau apa?” jawab Lorena sambil bangun dari duduknya. Sean juga ikut bangun.
“Aku temani,” ucap Sean.
Lorenapun segera keruang tamu bersama Sean.
Ny.Grace juga jadi ikut bangun, dia penasaran mau apa Nisa malam-malam mencari menantunya, Earlangga dan Valeriepun jadi ikut penasaran. Valerie menggendong Al lalu keruang tamu bersama Earlangga.
“Nisa!” panggil Lorena dengan ragu, dia sangat heran melihat Nisa dengan penampilan seperti itu.
Nisa yang melihat Lorena menemuinya, langsung bangun dan menghampiri, diapun langsung menangis menatapnya.
“Aku..aku…” ucapnya sambil terisak membuat semua orang menatapnya.
“Aku..minta maaf,” ucapnya lagi.
“Minta maaf soal apa?” tanya Lorena kebingungan.
“Aku menyesal dulu pernah membuatmu masuk rumah sakit karena aku ingin menggugurkan kandunganmu,”
jawab Nisa.
Membuat Lorena terkejut.
“Tapi itu sudah lama sekali, buat apa kau minta maaf sekarang?” tanya Lorena.
“Aku..aku sangat menyesal..” ucap Nisa, sambil menghapus airmatanya.
“Ya baguslah,“ jawab Lorena.
“Aku benar-benar menyesal,” ucap Nisa lagi lalu kembali menangis sesenggukan, membuat semua orang keheranan.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kau tidak mungkin tiba –tiba datang kesini untuk mengatakan itu kan?” tanya Lorena.
“Aku..aku tidak tahu harus bicara darimana..aku sangat menyesal dulu sudah mencoba menggugurkan kandunganmu, aku mina maaf,” jawab Nisa.
“Ya sudahlah, semua juga sudah berlalu, sekarang bayi itu sudah dewasa,” kata Lorena sambil menoleh pada Earlangga.
Nisa menoleh pada Earlangga, menatapnya lalu menangis lagi.
“Aku minta maaf dulu ingin melenyapkanmu dari dunia ini, aku minta maaf,” ucap Nisa.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Sean.
Nisa menoleh pada Sean diantara kedua matanya yang berlinang.
“Sean aku minta maaf, aku minta maaf pada kalian semua,” ucapnya.
__ADS_1
“Katakan apa yang terjadi?” tanya Lorena, semakin heran dengan sikapnya Nisa.
“Aku..maksudku..Jeni..dia.dia meinggal,” jawab Nisa membuat semua orang terkejut.
“Apa? Meninggal?” semua tidak percaya mendenggar jawabannya Nisa.
Nisapun mengangguk dan kembali menangis sesenggukan.
“Jeni meninggal, dia hamil dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab, aku bermaksud menggugurkan kandungannya, aku memberinya obat yang dulu aku berikan padamu,” ucap Nisa, menatap Lorena. Sontak semua orang terkejut mendengarnya.
“Jeni meninggal karena obat untuk menggugurkan kandungan?” tanya Lorena memastikan.
“Iya, itu obat yang sama yang aku berikan padamu dulu,” ucap Nisa.
Semua orangpun semakin terkejut mendengar penjelasan Nisa.
“Ternyata kau sangat jahat, Nisa!” maki Sean.
“Bagaimana kalau istriku memakan semua makanan yang kau bawa itu? Bisa jadi istriku akan mengalami hal yang sama dengan Jeni!” maki Sean lagi.
Lorena menoleh pada suaminya, memegang tangannya mencoba meredam kemarahannya Sean.
“Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau obat itu sangat keras,” ucap Nisa.
Sean tampak memberengut kesal menatap Nisa.
Semuapun diam.
“Sekarang malah putriku yang meminum ramuan itu dan sekarang meninggal,” Nisa kembali menangis.
“Mungkin ini balasannya untukku karena aku sudah mencoba mencelakaimu dulu. Untung saja Indri menyelamatkanmu kalau tidak, aku sudah jadi pembunuh dari dulu,” ucap Nisa.
Lorena sangat terkejut mendengarnya. Dia juga mersa shock tahu itu semua, Diapun menoleh pada Earlangga, dia sangat bersyukur bayinya selamat dan sudah dewasa sekarang.
“Aku..aku kesini hanya ingin minta maaf, sekarang aku sendiri yang mendapatkan balasannya, Jeni meninggal karena minum ramuan itu…” ucap Nisa kembali menangis.
“Aku sudah jadi pembunuh anakku sendiri,” gumamnya.
Lorena menghela nafas panjang, meskipun Nisa sudah jahat padanya tapi semua sudah berlalu dan dia tidak tega juga melihat Nisa seperti itu, bersedih karena kehilangan putriya.
Nisa menatap Lorena lau pada Sean juga Ny.Grace.
“Ayahku juga sudah meninggal tadi, tolong maafkan kesalahan ayahku,” ucap Nisa.
Semuapun diam. Sean tampak masih berkeras hati, dia masih kesal dan benci pada penagcara yang sudah merusak kehidupan keluarganya.
“Pak Tedi meninggal?” tanya Valerie, menatap Nisa.
Nisa balas menatapnya.
“Iya, ayahku meninggal, tolong maafkan ayahku,” kata Nisa pada Valerie.
“Aku sudah memaafkannya,” jawab Valerie, diapun menoleh pda Earlangga, dia merasa sedih Pak Tedi meninggal walau bagaimanapun dia sudah lama merawat ayahnya Nisa itu.
Earlangga langsung memeluk bahunya.
“Aku merasa lega sudah mengatakan ini semua, aku harap kalian memaafkanku, aku ingin menjalani sisa hidupku dengan tenang,” ucap Nisa.
“Kami sudah memaafkanmu, kau jangan khawatir,” kata Lorena.
“Terimakasih,” jawab Nisa sambil menghapus airmatanya.
“Baiklah kalau begitu aku pulang, aku senang sudah mendapatkan maaf dari kalin. Aku akan mengurus pemakamannya Jeni,” kata Nisa, sambil membalikkan badannya.
“Tunggu!” kata Lorena membuat Nisa menoleh.
“Apa kau butuh orang untuk membantumu? Aku akan mengutus beberapa orang bersamamu,” lanjut Lorena.
Nisapun mengangguk, “terimakasih,” ucapnya.
Lorena menoleh pada Pak Sobri.
“Kirim beberapa orang untuk membantu pemakamannya Jeni,” kata Lorena pada Pak Sobri.
“Baik Bu,” jawab Pak Sobri diapun segera pergi ke belakang.
Tidak berapa lama Nisa pulang diikuti para pekerja dari rumahnya Sean untuk membantu pemakamannya Jeni.
Lorena menoleh pada keluarganya, menatap suaminya, menatap putranya, ibu mertuanya juga menantu dan cucunya. Terlintas kembali perjalanan panjang yang telah keluarga ini lewatkan, suka duka bersama derita dan bahagia, semua telah mereka lewati dan keluarga ini masih tetap utuh.
Sean langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
“Sayang, aku sangat mencintaimu,” ucapnya.
Lorena balas memeluknya dengan mata yang berlinang mengingat kembali masa lalu.
__ADS_1
“Semoga kita semua hidup bahagia selamanya,” ucap Lorena yang diangguki Sean, suaminya itu mencium rambutnya berkali-kali.
************